NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Teori Bajaj Mawar

"Lo punya cermin nggak sih di kamar lo? Coba deh ngaca sebelum mengklaim diri lo bidadari! Udah item, dekil, jerawatan menyala begitu, ngaku-ngaku cantik pula. Sadar diri lo, Bocil!"

Rakha menunjuk-nunjuk wajah Alin tanpa ampun di balik sorotan senter ponselnya.

Hati Alin hancur berkeping-keping. Kata-kata kasar itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada perutnya yang kelaparan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mengingatkannya pada trauma perundungan selama tiga tahun di SMP. Ditambah kondisi fisiknya yang lemas karena belum makan nasi, Alin merasa dunianya runtuh seketika.

CTAK!

Listrik tiba-tiba menyala kembali. Cahaya lampu neon yang terang benderang langsung menyinari seluruh sudut lorong kos-kosan triplek tersebut.

Alin segera menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu mendongak untuk menatap tajam si "mulut mercon" yang menghinanya.

Deg!

Seakan roda dunia berhenti berputar selama beberapa detik. Alin terperanjat hebat melihat sosok tinggi tegap yang berdiri tepat di hadapannya di bawah sinar lampu neon. Jantungnya serasa merosot sampai ke dengkul.

Ternyata, cowok songong itu adalah Rakha—pelanggan warteg yang tersiram jus buah naga sekaligus orang yang paling ingin ia hindari seumur hidup.

"Anu... Anu... Eum, maaf Kak, eh Mas... Aku benar-benar minta maaf soal yang di warung makan tadi," ucap Alin dengan suara bergetar patah-patah.

Ia terus membungkuk-bungkukan badannya dengan canggung, berusaha keras menutupi wajah aslinya yang penuh jerawat dengan helaian rambut panjangnya yang berantakan.

Alin ketakutan setengah mati. Bayangan akan ditagih ganti rugi jaket seharga delapan juta rupiah seketika membuat seluruh persendiannya lemas.

"Nggak usah lo tutup-tutupin tuh muka. Gue udah tahu gimana rupa wajah lo yang jelek itu," celetuk Rakha dengan nada dingin yang menusuk.

Alin mengerutkan kening di balik rambutnya. Hah? Jadi dia nggak mengenali aku sebagai pelayan warteg bermasker yang menumpahkan jus buah naga tadi siang?! batin Alin penuh tanya.

Eum, iya juga... tadi kan aku pakai masker kain hitam rapat-rapat, dan dia cuma fokus ngamuk liatin bajunya. Tapi... mulutnya kok lemes banget sih bilang aku jelek, item, dan jerawatan?!

Rasa kesal yang menumpuk sejak siang mendadak mendidih, mengalahkan rasa takut Alin akan tagihan delapan juta.

"Iya! Aku memang nggak punya. Di kosan aku nggak ada cermin! Saking jeleknya muka aku, jadi aku nggak berani ngaca! Puas kamu, hah?!" sentak Alin berapi-api sambil membuang muka ke arah lain, mencoba menyembunyikan rasa pedih di hatinya.

"Syukur deh lo sadar diri," sahut Rakha pendek tanpa dosa. Dengan gaya angkuh bin sombong, ia membalikkan badan lalu melengos masuk ke dalam kamar kosnya yang—astaga naga—ternyata tepat berada di sebelah kamar Alin.

BRAK!

Pintu ditutup kasar.

Alin menghentakkan kaki, segera masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu rapat-rapat. Ruangan kos yang sempit dan pengap itu terasa semakin mencekik karena pikirannya yang berkecamuk.

"Hufff... kenapa aku harus ketemu lagi sama cowok drama queen itu sih? Mana sekarang dia tinggal di sebelah kamar aku lagi! Cobaan hidup apa lagi ini, Tuhan?" keluh Alin sambil menyandarkan punggungnya di pintu triplek.

"Kalau begini, aku harus pasang mode spionase tiap mau keluar kamar."

Tak ingin berlarut dalam kekesalan, Alin melangkah menuju sudut ruangan untuk mengisi daya ponsel jadulnya yang tadi mati total. Sambil menunggu, perutnya mulai berbunyi nyaring, berdemo minta diisi. Ia berjalan ke lorong kosan, menatap piring plastik kecilnya yang berisi ubi mentah utuh.

"Yang ada cuma ubi aneh ini doang. Aku masak nggak ya? Kalau nggak dimasak, aku bisa mati kelaparan malam ini," gumamnya bimbang.

Akhirnya, rasa lapar menang telak. Dengan kompor gas kecil milik bersama, ia memutuskan untuk merebus kembali ubi misterius itu.

Dua puluh menit berselang, ubi itu matang. Asap tipis mengepul, menebarkan aroma manis mawar yang aneh ke udara. Di saat yang sama, ponselnya sudah menyala karena dayanya mulai terisi. Dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Alin buru-buru membuka aplikasi kamera depan.

"Astaga!! Ternyata benar kata cowok songong itu, aku berubah ke setelan pabrik lagi!" pekik Alin tertahan, menatap bayangan dirinya di layar—wajah kusam dengan parade jerawat batu.

"Tapi tadi sore pas kerja aku masih cantik. Kenapa pas tepat jam dua belas malam aku jadi jelek lagi? Berarti... efek cantiknya cuma bertahan sampai tengah malam?! Ini mah sihir tipe Cinderella!"

Alin merenung sambil mengunyah ubi rebusnya pelan. Rasa ubi itu sangat manis, namun otaknya sibuk memikirkan konspirasi mistis ubi pemberian Nenek Tari.

Seperti kemarin, Alin hanya sanggup memakan setengah bagian karena ukurannya yang besar. Sisanya ia simpan di dalam wadah kecil untuk sarapan besok.

Namun, baru beberapa menit ubi itu turun ke lambungnya, perut Alin mendadak melilit hebat. Ada pusaran tekanan gas yang sangat kuat mendesak dari dalam sana. Saraf motoriknya lepas kendali.

Brottt... Prott... Prott... Dott!

Suara kentut Alin menggelegar dahsyat, menggema di seluruh ruangan kosan yang sunyi senyap itu. Saking kerasnya getaran tersebut, suaranya sampai menembus dinding pembatas triplek yang super tipis.

Anehnya, bersamaan dengan suara letupan itu, aroma harum bunga mawar premium seketika menyeruak pekat memenuhi kamarnya.

Sementara itu di kamar sebelah, Rakha yang baru saja akan memejamkan mata di atas ranjang King Size-nya yang empuk langsung tersentak kaget sampai kepalanya membentur headboard tempat tidur. Matanya melotot tajam menatap langit-langit.

"Ck! Berisik!! Tetangga sialan!!" geram Rakha, urat dahinya menyembul. Ia bangun dan langsung terduduk, emosinya meledak karena waktu istirahat mewahnya diganggu oleh suara ledakan yang sangat tidak sopan dari kamar sebelah.

Dengan langkah lebar dan wajah memerah menahan amarah, Rakha keluar dari kamarnya. Ia tidak bisa membiarkan tetangga kosnya bertindak semau jidat di malam pertama ia pindah.

Tok... Tok... Tok... BRAK!!

Pintu kayu kamar Alin digedor sekaligus ditendang kasar oleh Rakha.

"Cepat buka pintunya, cewek jelek!! Kalau enggak, gue dobrak pintu triplek lo sekarang juga!!" teriaknya penuh ancaman kriminal.

Cklek!

Pintu terbuka perlahan. Alin berdiri di ambang pintu, namun sosok yang muncul membuat Rakha seketika membeku layaknya patung es di Kutub Utara.

Cahaya lampu dari dalam kamar menyinari seorang gadis dengan kulit putih bersih sehalus porselen, sepasang mata cokelat yang jernih, dan paras elok mempesona yang sanggup menghentikan detak jantung.

Deg!

Rakha terpaku, matanya mengerjap berkali-kali. Ia yakin seratus persen, tadi yang masuk ke kamar ini adalah gadis kusam dipenuhi jerawat yang baru saja ia hina.

Perasaan gue nggak mungkin salah lihat, kan? Tadi yang keluar kamar pas mati lampu itu cewek jelek. Tapi kenapa sekarang yang keluar malah cewek gila yang tadi siang bertingkah mirip babi di depan kaca mobil gue?! Dan sialnya... kenapa dia cantik banget?!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!