NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:734.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: Memei Melita

"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.

orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.

"alisya sayang Bunda".

kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.

masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.

seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.

suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.

kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.

karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

"selamat pagi sayang". ucap ku saat melihat alisya bangun.

"bunda". jawab alisya sambil mengusap matanya.

"udah bangun anak bunda. kamu lapar sayang".

"gak bunda". alisya menggelengkan kepalanya.

"gimana sayang, apa masih sakit perutnya". aku memegang perut alisya.

"gak bunda, alisya udah sembuh". jawab alisya.

"bunda buatkan susu dan roti ya,kamu harus sarapan". aku menyiapkan sarapan untuk alisya.

"bunda, papa mana?". tanya alisya yang tidak melihat papanya tidur di sofa.

"sstttt... papa lagi tidur sayang, itu di sofa". aku menunjukkan ke arah mas bram.

pagi ini, hati ku terasa berbeda. ada rasa bahagia yang tidak bisa aku ungkapkan. dimana saat bangun tidur yang aku lihat mas bram dan alisya berada di dekat ku.

"ayo sayang, kita cuci muka dan gosok gigi". aku menuntun alisya ke kamar mandi.

"bunda, alisya suka mata bunda, cantik". alisya memegang wajah ku dengan kedua tangannya.

"bunda juga suka mata alisya, cantik dan bersinar".aku memeluk alisya.

alisya memilih untuk menggosok giginya sendiri, aku hanya melihatnya dan menatapnya melalui kaca.

"bunda, hari ini kita pulang kan".

"iya sayang, nanti kita pulang. tapi kita harus nunggu dokter datang dulu ya".

aku membersihkan wajah alisya dengan handuk yang telah aku basahi dengan air. wajah mungilnya alisya terlihat seperti bidadari begitu cantik.

"alisya makan roti dan minum susu ya. ini sudah bunda siapkan".

selagi alisya sarapan pagi, aku pergi membangunkan mas bram yang masih terlihat tidur pulas.

"mas bram kok belum bangun. apa mas bram tidak berangkat kerja". aku berjalan menuju ke arah mas bram.

"mas... mas bram. ayo bangun,sudah pagi". aku menggoyangkan tubuh mas bram.

"iyaa...". jawab mas bram sambil menguletkan badannya.

"mas,ayo bangun. alisya sudah bangun itu,sedang sarapan".

tiba-tiba mas bram membalikkan tubuhnya,wajahnya tepat berhadapan dengan wajahku dan sedikit lagi hidung kami akan menempel.

deg,perasaan itu muncul lagi saat aku bertatapan dengan mas bram.lagi-lagi jantungku berdetak sangat cepat.

"ahh...aa..mas bram,ayo buruan bangun". dengan cepat-cepat aku bangun dan pergi ke arah alisya.

"gimana sayang,alisya suka rotinya". aku mengalihkan kecangunganku.

"sudah pagi ya, aaahhh......". mas bram merentangkan tangannya.

"papa, papa". panggil alisya.

"selamat pagi sayang papa". mas bram melambaikan tangannya ke arah alisya.

"mau sarapan mas,biar aku siapkan roti". tanyaku.

"tidak usah, sebentar lagi aku akan ke kantor jadi sarapan di sana aja". ucap mas bram sambil merapikan kemejanya.

"papa mau kemana?". tanya alisya.

mas bram berjalan perlahan menghampiri alisya.

"papa mau ke kantor sayang".

"bunda juga pergi". alisya melihat ke arahku.

"tidak sayang, bunda akan tetap temani alisya". jawabku sambil mengusap kepalanya.

"papa gak lama sayang, nanti papa datang lagi jemput alisya dan bunda". ucap mas bram.

"papa janji".

"janji sayang". mas bram memeluk alisya dan mencium keningnya.

"aku pergi dulu ya". mas bram berpamitan dengan ku.

saat mas bram akan keluar, tiba-tiba mas bram berjalan kembali lagi menghampiri ku.

"eemmuaachh... ". mas bram mencium keningku.

aku terpaku dan tubuhku seakan tidak bisa di gerakkan, ini pertama kalinya mas bram mencium ku.

"apakah ini hanya mimpi, kenapa wajahku terasa panas".

aku terus memegang wajahku, terasa seperti mimpi. ciuman mas bram masih terasa hangat di kening ku.

"bunda kenapa?". alisya menatap tingkahku yang aneh.

"ahh.. gak apa-apa sayang. alisya mau jalan-jalan".

"iyaa bunda". dengan semangatnya alisya menjawab.

ttokk.. ttookk.. ttookk...

terdengar suara ketukan pintu.

"iyaa siapa?". jawab ku.

"karin". ucap ibu yang datang menjenguk alisya.

"ibu". aku terkejut melihat ibu dan ayah datang menjenguk alisya.

"alisya cucu nenek, gimana keadaan kamu sayang". ibu memeluk alisya.

"baik nek". jawab alisya dengan polosnya.

"lihat, kakek bawakan cake dan mainan untuk alisya". ayah memberikan bungkusan yang ia bawa.

"wahhh... alisya suka. terima kasih kakek". terlihat wajah semringah alisya mendapatkan hadiah.

"ayah ibu, kenapa gak kabari karin dulu".

"kalau ibu kasih kabar pasti gak mau izinkan ibu datang lihat alisya". jawab ibu.

"tidak apa-apa karin, lagian sudah lama ayah ibu tidak melihat kalian". ayah merangkul ku.

"terima kasih ayah sudah datang menjenguk alisya".

"iya sayang". jawab ayah dengan senyumnya yang khas.

"o iya, ibu gak lihat bram, kemana dia? ". tanya ibu.

"oh mas bram baru aja berangkat bu".

"terus mama dan papa mertua kamu, apa ada datang?". tanya ibu ku lagi yang sedikit kepo.

"sudah ibu, tadi malam mama dan papa datang. karena mereka harus bekerja jadi tidak bisa menginap".

aku bahagia melihat ibu dan ayah datang, mereka Juga sangat perhatian dengan alisya sudah menganggap seperti cucu mereka sendiri.

"ayah ibu mau minum apa? biar karin belikan".

"apa saja karin". jawab ayah.

"baiklah, karin keluar dulu beli minuman".

"tunggu, ibu ikut". ucap ibu yang cepat-cepat mengejar ku.

"ayah, tolong jagain alisya sebentar ya".

"baik sayang, pergilah". jawab ayah.

aku dan ibu berjalan pergi menuju ke supermarket yang berada di samping rumah sakit.

sepanjang jalan ibu menggandeng tanganku dengan sangat erat,seperti takut anaknya akan hilang.

"ibu kenapa gandeng tanganku sangat erat?". tanya ku.

"ahh ini, ibu hanya rindu dengan kamu karin". jawab ibu sambil tersenyum.

"kita kan sering teleponan bu".

"tetap aja ibu rindu karena tidak ketemu langsung".

"ibu bisa aja". jawab ku

"karin, gimana bram?  apa dia memperlakukan kamu dengan baik".

"ibu, kenapa tanya gitu?". aku mengerutkan keningku.

"setiap kali kamu telpon kalau ibu tanya tentang kehidupan kamu, kamu selalu menghindari".

"bukan begitu ibu, semuanya baik-baik saja. mas bram sangat baik padaku". aku tersenyum ke arah ibu.

"hmm senyum kamu itu bukan bohong kan". ibu menatapku.

"iihh ibu, beneran ibu. aku bahagia dengan pernikahan ini". jawab ku agar ibu yakin.

entah kenapa ibu menaruh curiga pada ku, mungkin itu yang di namakan firasat seorang ibu tidak akan pernah bohong.

"ibu duduk sini aja, biar aku pesan minuman".

"tapi tadi kamu bilang mau belanja di supermarket. kenapa ke caffe?". tanya ibu heran.

"iya bu, setelah beli minuman kita akan ke supermarket".

"baik lah". jawab ibu ku.

aku meninggalkan ibu duduk di kursi pengunjung, dan aku pergi untuk memesan minuman.

"hmmm apa ya minuman untuk ayah dan ibu". aku melihat-lihat menu di caffe.

"mau pesan apa kak?". tanya seorang pegawai caffe.

"saya pesan, americano 1, latte coffee cream 1, hot coklat 1, vanilla sugar brown 1 ya dan green tea bread nya 1 kotak".

"baik kak,  di tunggu sebentar ya".

"oke". jawab ku.

selesai aku memesan minuman, aku berjalan menemui ibu. aku melihat ibu sedang duduk dengan tersenyum ke arah ku.

"ibu kenapa senyum-senyum gitu lihat aku". aku Juga ikut tersenyum.

"gak apa-apa karin, ibu hanya gak nyangka aja.  anak ibu sudah dewasa, sudah jadi istri orang dan sudah menjadi seorang ibu". jawab ibu dengan mata sedikit berkaca-kaca.

"ihh ibu uda deh, jangan di bahas yang ada entar ibu malah nangis".

" kenapa sih, emang gak boleh ibu ngebahas anak ibu sendiri".

"iya iya ibu, boleh".

itulah ibu ku, kebiasaan ngambeknya tidak pernah hilang. tapi itu yang membuatku juga selalu merindukan ibu setiap hari.

setelah membeli minuman di caffe, kami pergi ke supermarket untuk membelikan alisya cemilan.

"biar ibu saja yang memilihkan camilan untuk alisya". dengan cepat ibu mengambil keranjang belanjaan.

"biar aku aja bu". aku mengikuti ibu yang mengelilingi rak snack.

"udah, kamu diam aja. biar ibu yang belikan". ibu menyuruh ku diam.

dengan sigap ibu memilih snanck dan permen untuk alisya, ibu terlihat bersemangat. walaupun bukan cucu ibu sendiri, tapi ibu terlihat sangat sayang dengan alisya.

"sudah bu, jangan banyak-banyak.  di rumah camilan alisya masih banyak". aku menghentikan ibu yang seakan membeli seisi supermarket.

selesai kami membeli minuman dan snack alisya, kami kembali ke ruang rawatan alisya. sepanjang jalan kami bercerita tentang masa kecilku hingga kami tertawa.

"jadi karin, gimana dengan kerjaan kamu". tanya ibu.

"aku juga gak tau bu, aku juga masih ingin kerja tapi aku tidak ingin meninggalkan alisya".

"kamu bicarakan saja dengan bram, kalian diskusikan gimana bagusnya. kalau tanya ibu,  ya ibu dukung saja apa yang terbaik. tapi sekarang kan bukan ibu lagi tempat kamu berdiskusi sudah ada bram". jawab ibu dengan lembut.

"iyaa bu, aku juga berpikir seperti itu bu. setelah alisya sehat, aku akan bicarakan dengan mas bram". 

"karin, setelah berumah tangga. kamu akan mengerti kehidupan yang sebenarnya itu seperti apa. kita tidak bisa membagikan cerita rumah tangga kita pada sembarang orang. kadang kita tidak tau, orang yang kita ceritakan itu benar mendukung kita atau tidak. ibu berharap, karin semakin bijaksana dalam mengatasi hal apapun dalam rumah tangga". nasihat ibu.

"iya ibu, aku akan mengingat setiap nasehat yang ibu berikan, terima kasih ibu". aku memeluk ibu.

kami tiba di kamar rawatan alisya, alisya terlihat bahagia bermain dengan ayah.

"alisya sayang, nenek bawakan snack banyak untuk alisya". ibu menunjukkan kantong plastik yang ia bawa.

"wahhh.... terima kasih nenek". jawab alisya dengan bahagia.

"sama-sama sayang, cepat sembuh ya". ibu mencium kening alisya.

"yah, ini coffe ayah". aku memberikan coffe latte kesukaan ayah.

"terima kasih Putri ayah". ayah menerimanya dengan senang hati.

"bunda, alisya mau". ucap alisya

"iyaa sayang, bunda juga belikan alisya hot coklat. taraaaa..... ini dia".

"terima kasih bunda, alisya suka".

"sama-sama anak bunda". ku usap kepala alisya.

"dan ini untuk ibu,  vanilla sugar hot". aku memberikan minumannya untuk ibu.

"terima kasih". jawab ibu.

kami menikmati minuman bersama di pagi hari, aku melihat aura bahagia di wajah ibu dan ayah. aku juga bangga bahwa mereka bisa menerima alisya seperti cucu mereka sendiri.

"bunda, ayo pulang". tiba-tiba alisya mengajak untuk pulang.

"sabar sayang, kita tunggu dokter dulu ya". jawab ku.

"apa alisya bosan?  mau main lagi sama kakek? ". ucap ayah.

"iyaaa mau". alisya menjawab dengan cepat.

aku dan ibu pindah ke sofa untuk memberi ruang alisya dan ayah bermain bersama.

"lihat tu ayah kamu, dia sangat senang bermain dengan anak-anak". ucap ibu.

"iya bu, alisya bisa lihat dari ekpresi wajah ayah, kalau ayah sangat suka dengan anak kecil". jawab ku.

"ihhh kamu ini gak peka banget sih. itu tanda nya ayah dan ibu ingin cucu lagi". ibu memukul pundakku.

"a.. a.. apa?  cucu kata ibu". jawab ku kaget.

"bagaimana bisa aku memberikan mereka cucu, bahkan sampai saat ini pun kami belum tidur satu ranjang".

"hei... kenapa kamu bengong". ibu mengagetkan ku.

"eng.. gak bu .hehehe semua kan butuh proses bu. lagian aku belom ada 1 bulan nikah dengan mas bram".

"maka dari itu karin, kamu harus lebih giat lagi agar cepat prosesnya". celetuk ibu.

"iihh ibu apaan sih". jawab ku malu-malu.

took.. ttookk... ttook...

"permisi, saya ingin memeriksa adik alisya". ucap dokter.

"ohh iyaa dok, silakan masuk". jawab ku.

dokter itu masuk berjalan mendekati alisya, alisya terlihat takut saat dokter ingin memeriksanya.

"bunda". alisya memegang tanganku.

"tidak apa-apa sayang, dokter hanya memeriksa saja. jangan takut ya, ada bunda di sini". ucap ku untuk menenangkan alisya.

"tidak apa-apa sayang, dokter cuma mau periksa saja pakai alat ini, boleh kan". dokter menunjukkan alat stetoskop nya.

alisya menganggukkan kepalanya dan dokter langsung memeriksanya.

"anak pinter". ucap dokter

"bagaimana dok, keadaan anak saya". tanya ku.

"syukurlah, keadaan alisya sudah membaik, dia sudah tidak merasakan sakit perut lagi. tapi harus di ingat agar makanannya tetap di jaga". jawab dokter.

"baik dok.  apa sudah boleh pulang dok?".

"tentu ibu, alisya sudah boleh pulang kok". jawab dokter itu dengan senyum ramahnya.

"baik dok, terima kasih". jawab ku.

setelah selesai dokter memeriksa, aku merasa lega bahwa tidak ada yang serius dengan keadaan alisya.

"sayang, sekarang kita sudah bisa pulang. tapi kita tunggu papa datang ya". ucap ku pada alisya.

"ayo pulang sekarang bunda". rengek alisya.

"sudah karin, kamu telpon saja bram. kasian alisya, mungkin dia bosan di sini". ucap ibu.

"baiklah bu.  alisya sayang, bunda telpon papa dulu ya". alisya hanya menganggukkan kepalanya.

aku pergi ke sudut ruangan untuk menelpon mas bram.

"hallo mas, mas lagi dimana?".

"iya karin, aku lagi di kantor.kenapa?".

"tadi dokter sudah memeriksa alisya,kata dokter keadaan alisya baik-baik saja dan sudah boleh pulang. tapi alisya ingin pulang sekarang mas".

"baiklah,tunggu sebentar aku akan segera kesana".

aku langsung mematikan telpon dan segera memberi tau alisya.

"sayang,kita tunggu sebentar ya. papa lagi dalam perjalanan kemari". ucap ku sambil mengelus kepala alisya.

"iya bunda. nenek dan kakek ikut kan".

"tidak sayang, nenek dan kakek tidak bisa ikut alisya, karena kakek harus kerja. tapi nenek janji, besok-besok nenek dan kakek akan berkunjung". ibu memegang tangan alisya dan mengaitkan jari kelingking mereka.

"karin, ayah dan ibu pulang ya". ucap ayah.

"iya ayah, terima kasih sudah datang dan bermain dengan alisya".

"iya sayang, alisya kan cucu ayah juga.  wajib dong ayah ajak dia main". jawab ayah sambil ketawa.

"kamu baik-baik ya sayang, kalau ada apa-apa segera hubungi ayah atau ibu".

"iyaa ibu, terima kasih". aku mencium dan memeluk ibu.

"alisya, nenek pulang ya.jadi anak yang baik ya sayang".

"iya nek". jawab alisya

aku dan alisya melambaikan tangan pada ibu dan ayah. saat ibu dan ayah pulang alisya terlihay sedih karena suasana terlihat sepi hanya ada aku dan alisya saja.

1
Arkan_fadhila
masalah Rara kok gitu aja selesai
Arkan_fadhila
PLIN plan gak sadar banget dia selalu nyebut nama gracia
Sus Susyla
belanjaja hbs 1 juta...cm 3 kresek..tp pas sampe rumah ortu karin bawaan y y sangat banyak..harus nurunin bolak balik
Sus Susyla
tinggalin aj karin biar tau rasa dia
Sus Susyla
laki2 nyebelin s bram
Sus Susyla
kata y alsya tangan d gandeng sm bram...ko bsa tiba2 nubruk gitu
Sus Susyla
kesalahn fatal..seorang ibu smpe anak perempuan g bisa dan ga tau apa2 ttg dapur....karena sejati y seorang perempuan harus tau
Enies Amtan
aku mampir
Srinama Lumbanbatu
lanjut
Nurani Tunjung
tiba2 1tahun ga msk akal deh..1bln mungkin ya...authorrr ny cpk🤭
Mhila Amhilawhaty
bosan kh sedding baca novel yg rata2 wanita nya gampangan
S Wati
sebenernya bagus ceritanya,tp kenapa penyampaiannya kurang greget...terlalu lempeng
As Tumenggung Zees
kehilangan anak itu sangat menyakitkan 😭😭😭😭😭😭😭rasax separuh hidup kita ikut pergi sy kehilangan anak yg paling sabar,rajin dn tak bisa sy gambarkan anak paling is the best😞😞😞😞😞
Emmy S Umar
Alhamdulillah selesai juga bacanya sampai ending
Tutiks
lanjut lagi dong up nya
Nina Rochaeny
2 thn baru berkunjung ke ortu..terlaluuu..4 jam di jln cetek...bisa plg sebulan sekali
Nina Rochaeny
1 thn tanpa apa2....rugi km karin
choi yongah
👍👍👍👌
Ratna Dewi
teringat kembali pengalamanku saat anakku meninggal karna lahir prematurdengan berat 1,3 kg hamil 7 bulan, anakku hidup 5 hari di inkubator,setiap hari aku dan suamiku melihat anakku dirumah sakit , dihari ke 5 jam 11 malam aku menerima tellpon dari rumah rumah sakit bahwa anakku tidak sadarkan diri, tidak lama aku sampai dirumah sakit anakku meninggal, hatiku sedih,terasa nyawa ini ikut pergi bersamanya, Allah maha pengasih lagi maha penyayang sekarang aku diberkani Allah 3 anak perempuan yg cantik dan sempurna,terima kasih Allah di balik kesedihanku engkau berikan aku kebahagiaan yg tidak bisa dinilai dengan apapun
.
RN
selamat dan semangat kk
balik mampir dukungan kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!