NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanduk Satu

​Pagi hari di benteng perbatasan Kerajaan Asterion menyingsing dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di halaman utama, Jenderal Varkas Vane tengah mempersiapkan keberangkatannya kembali menuju Hutan Kematian. Berbeda dengan ekspedisi militer pada umumnya yang mengerahkan ribuan prajurit dan mesin perang, Vane hanya memilih empat orang pendamping tepercaya: seorang ajudan setia yang cerdas, seorang penyihir pendukung berspesialisasi dalam penghalang dan deteksi sihir, serta dua orang kesatria pengawal elit yang memiliki ketenangan mental tingkat tinggi.

​Sang ajudan, yang memegang kendali tali kekang kuda tunggangan, sempat melirik ke arah gerbang benteng dengan keraguan yang jelas di matanya. "Yang Mulia," tanyanya dengan nada berhati-hati, "kita hanya akan berangkat berlima saja ke dalam sarang monster?"

​Vane mengenakan sarung tangan kulitnya dengan tenang, lalu menoleh menatap ajudannya. "Kalau mereka mampu membangun sebuah desa yang damai di dalam Hutan Kematian... membawa lima puluh orang pun belum tentu cukup untuk menaklukkan mereka," jawab Vane dengan suara rendah dan berwibawa. "Tapi, kalau ternyata mereka datang bukan untuk bermusuhan dan hanya ingin hidup tenang... lima orang sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan niat baik kita."

​Kalimat itu menegaskan satu hal mutlak: mereka tidak datang untuk berperang, melainkan untuk mencari kebenaran.

​Perjalanan menembus Hutan Kematian memakan waktu hampir dua hari penuh. Semakin jauh mereka merangsek ke dalam, atmosfer hutan semakin pekat dan kehadiran monster liar semakin mendominasi. Namun, tidak ada pertempuran besar atau kekacauan yang terjadi. Setiap kali ada monster tingkat tinggi yang mendekat, Vane atau kedua pengawalnya mampu mengusir atau melumpuhkannya dengan efisiensi tinggi tanpa mengeluarkan suara bising yang tidak perlu. Pengalaman tempur bertahun-tahun membuat mereka bergerak seperti bayangan, memperlihatkan alasan mengapa Vane menduduki posisi sebagai salah satu jenderal tertinggi di perbatasan.

​Sementara itu, di desa kecil Haruto, pagi berjalan seperti biasa sebelum sebuah ketenangan pecah. Mira, yang sedang berjaga di atas menara pengawas sederhana di dekat gerbang, tiba-tiba menyipitkan matanya. Dari kejauhan, di antara sela-sela batang pohon raksasa, ia melihat siluet beberapa sosok sedang mendekat.

​Empat... tidak. Lima orang.

​Saat sosok-sosok itu melangkah keluar dari bayangan pepohonan, Mira melihat dengan jelas ciri khas yang tidak mungkin salah: sepasang tanduk melengkung di atas kepala mereka.

​Mira segera meluncur turun dari menara dengan gerakan akrobatik yang gesit, napasnya sedikit terengah-engah. "Tetua! Ada orang asing mendekat ke gerbang!" teriaknya panik.

​Suasana desa yang tadinya tenang seketika berubah tegang. Elara segera keluar dari rumah utama, sementara Brom melangkah keluar dari bengkel sambil membawa palu kecil di tangannya. Begitu Brom melihat sosok-sosok bertanduk yang mendekat, mata sang Dwarf membelalak lebar dan warna wajahnya berubah pucat.

​"Tanduk..." gumam Brom, tubuhnya menegang kaku.

​Haruto, yang baru saja selesai merapikan alat-alat pertanian di dekat lumbung, berjalan mendekat dan menoleh pada Brom. "Kenapa? Ada apa dengan tanduk mereka?" tanya Haruto dengan tenang.

​Brom menjawab dengan suara tertahan dan penuh kewaspadaan, "Mereka... mereka adalah Ras Iblis."

​Seketika itu juga, kepanikan kecil menyebar di antara para Ras Kelinci. Luna langsung mundur beberapa langkah karena takut, Fina dengan sigap menggenggam tombak kayunya erat-erat, dan Fira sudah bersiap melompat ke atas pagar kayu untuk mengambil posisi bertahan.

​Haruto sendiri hanya diam berdiri di tempatnya. Ia belum pernah melihat seorang iblis seumur hidupnya—baik di dunia asalnya maupun selama ia berada di dunia ini. Karena tidak memiliki memori buruk atau pengalaman langsung, ia tidak langsung memasang prasangka atau kebencian.

​Elara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan suasana yang mulai memanas di antara para warganya. "Ras Iblis memang sedang terlibat dalam perang saudara dan konflik berkepanjangan dengan kerajaan-kerajaan manusia," jelas Elara dengan suara bijak. "Tapi... bukan berarti semua iblis itu jahat."

​Haruto menatap tetua Ras Kelinci itu dengan kening berkerut. "Kalau begitu, kenapa mereka harus berperang?"

​Elara menggelengkan kepalanya pelan. "Dunia ini tidak sesederhana itu, Haruto."

​Brom mendengus pelan, menatap tanah dengan tatapan pahit. "Di kerajaan manusia, sejak kami masih anak-anak, kami selalu diajari bahwa iblis adalah monster kejam yang haus darah."

​Elara menoleh pada Brom, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan kepedihan mendalam. "Dan kemungkinan besar... anak-anak di wilayah iblis juga diajari hal yang sama tentang manusia."

​Kalimat itu menggantung di udara dalam keheningan yang sunyi. Dalam satu dialog singkat, semua orang langsung menyadari satu kebenaran pahit: bahwa kebencian dan peperangan tidak pernah dibangun atas dasar kebenaran mutlak, melainkan dari apa yang ditanamkan sejak kecil oleh masing-masing pihak.

​Kelima iblis itu akhirnya berhenti tepat beberapa meter di depan gerbang kayu desa. Mereka tidak melangkah maju melewati batas luar, dan yang paling penting, tidak ada satupun dari mereka yang mencabut senjata atau menunjukkan gestur mengancam.

​Jenderal Varkas Vane, pemimpin rombongan tersebut, melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia melepaskan sarung pedang dari pinggangnya, lalu menyerahkannya secara perlahan kepada sang ajudan sebagai tanda universal bahwa ia sama sekali tidak berniat menyerang. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya terbuka di depan dada.

​"Aku Jenderal Varkas Vane dari Kerajaan Asterion," ucap Vane dengan suara bariton yang tenang, menggema dengan jelas di antara pepohonan hutan. "Kami datang ke sini bukan untuk bertarung. Kami hanya ingin berbicara."

​Haruto melangkah maju, membuka pintu gerbang kayu itu sedikit, namun ia tetap berdiri kokoh di balik perlindungan pagar desanya.

​"Kalau kalian memang ingin berbicara..." kata Haruto dengan nada datar namun tegas, "...bicaralah dari situ saja."

​Vane mengangguk pelan, sama sekali tidak tersinggung atau menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat sedikit. "Keputusan yang sangat bijaksana bagi seseorang yang tinggal di tempat seberbahaya ini."

​Pandangan mata Vane kemudian beralih menyapu seluruh pemandangan di dalam desa: petak sawah yang menghijau rapi, deretan rumah kayu yang kokoh, cerobong asap dapur yang mengepulkan aroma masakan, lumbung makanan yang tertata, hingga bengkel tempat bara api masih menyala. Semua pemandangan itu persis seperti apa yang tertulis dalam laporan pengintai, namun menyaksikannya secara langsung memberikan kesan yang jauh lebih luar biasa.

​Vane kembali menatap pemuda di balik gerbang. "Boleh aku tahu... siapa otak di balik pembangunan tempat luar biasa ini?"

​Haruto mengangkat tangan kanannya santai, menunjuk dirinya sendiri. "Aku."

​Jenderal Vane terdiam cukup lama. Selama perjalanan ke sini, ia sempat berspekulasi bahwa ia akan menjumpai seorang penyihir tua yang kuat, petapa legendaris yang mengasingkan diri, atau mungkin kelompok pelarian jenius dari kerajaan besar. Namun, pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat begitu muda—bahkan usianya mungkin belum genap dua puluh tahun.

​Sebelum percakapan itu berlanjut lebih jauh atau menimbulkan kecurigaan yang lebih besar dari para pengawal, Haruto menghela napas pendek dan membuat sebuah keputusan yang membuat semua orang di belakangnya tersentak kaget.

​"Kalau kalian memang datang tanpa niat buruk..." kata Haruto sambil mendorong gerbang kayu itu hingga terbuka lebar sepenuhnya. "...masuklah."

​Semua anggota Ras Kelinci spontan menoleh ke arah Haruto dengan mata membelalak tak percaya. Bahkan Brom, sang pandai besi tua, langsung memegang erat palunya karena terkejut atas tindakan nekat tersebut.

​Haruto melanjutkan kalimatnya dengan ekspresi yang tetap tenang tanpa beban. "Kalau mereka memang berniat ingin menghancurkan kita... pagar kayu ini juga tidak akan bisa menghentikan mereka."

​Jenderal Vane tertegun sejenak mendengarkan logika yang sangat jujur itu, lalu ia tersenyum tipis. Senyuman itu bukan senyuman meremehkan, melainkan senyuman penuh penghargaan dari seorang veteran perang yang menyadari satu hal penting:

​Pemuda di hadapannya ini... jauh lebih tenang, rasional, dan berbahaya daripada yang ia bayangkan.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!