Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24-Setelah Sekian Lamanya
5 Tahun kemudian
Lima tahun telah berlalu begitu cepat dan sangat tidak terasa bagi Lula. Ia kini sudah benar-benar menikmati masa-masa nya di Eropa. Pencapaian terbesarnya sekarang sudah benar-benar terwujud didepan pandangannya.
Setelah hampir satu setengah tahun ia bekerja disebuah perusahaan cabang yang ada di Eropa, ia akhirnya dipindahkan posisi untuk berpindah tugas ke perusahaan asli nya. Penantian dan kerja kerasnya benar-benar tidak sia-sia, semuanya membuahkan hasil yang puas, em... Belum, ia belum puas karena tujuan utamanya belum benar-benar ia dapatkan.
Dan, disinilah ia berada. Lula berdiri disebuah gedung pencakar langit yang sangat besar nan megah yang berada di Eropa.
Ia berdiri, memandangi hotel bintang lima itu dengan senyuman merekah. Inilah tempat kerjanya. Menjadi bagian penting dari perusahaan hotel termewah di negara Eropa adalah impian nya. Posisinya sekarang adalah menjadi sekretaris pribadi dari pemilik hotel tersebut.
Dengan penuh rasa dag dig dug Lula melangkahkan kakinya memasuki hotel itu. Ia bertanya pada seorang pegawai hotel itu dimana letak ruang pimpinan, setelah mendapat informasi, barulah Lula langsung berjalan menuju lift, menekan tombol dimana ia akan ke ruang pimpinan untuk memperkenalkan diri.
Tok... Tok... Tok....
"Masuk." Ucap seseorang didalam dengan menggunakan bahasa asing itu.
Lula dengan penuh keberanian membuka pintu ruangan itu, menimbulkan suara pintu terbuka yang sangat pelan.
Seorang wanita dewasa yang terlihat begitu awet muda dengan stelan jas kerjanya kini sedang fokus pada berkas-berkas ditangannya.
"Ms. Fiana...." Panggil Lula dengan tertunduk. Ia tidak menyangka jika respon tubuhnya akan seperti ini. Rasanya benar-benar lemas, kakinya bahkan hampir tidak bisa berjalan lagi saat melihat wanita itu. Tangan yang sedari tadi memegang berkas itu sekuat tenaga Lula pegang agar tidak jatuh. Tubuhnya benar-benar tremor.
Fiana mendongokkan kepalanya. "Kamu.....?"
Lula tersenyum menunduk. "I-iya, saya Lula Khasna yang ditugaskan kemari untuk menjadi pengganti sekretaris pribadi anda Miss." Kelas Lula yang sedikit terbata, untung saja ia bisa mengendalikan itu semua.
Fiana tersenyum lebar. "Oh, kamu yang dari Indonesia itu kan? Sini kamu duduk didepan saya dulu."
Lula melangkahkan pelan namun pasti mendekati meja kerja yang Fiana gunakan. Dengan sangat canggung ia duduk berhadapan dengan Fiana. Tidak seperti tadi, saat sudah didepan Fiana, Lula berani menatap wajah wanita itu.
Wajahnya berubah. Tatapannya begitu dalam pada wanita dewasa itu. Menatap mata Fiana dengan penuh keinginan. Wajah cantik yang begitu terawat hingga terlihat begitu sangat awet muda sekali. Hatinya tercuil melihatnya.
Dibalik kecantikan wanita itu juga, Lula dapat melihat ada bentuk bibir yang sangat mirip dengan bibir miliknya, ada juga kelopak mata yang bentuknya juga persis seperti dirinya. Lula benar-benar tidak menyangka bahwa ia sudah berada dalam fase ini sekarang. Ya, benar, wanita didepannya ialah ibu kandungnya yang hilang, yang selama ini Lula anggap jahat. Alasannya simpel saja kenapa ia memilih untuk mencari tau orang tuanya, ya karena Lula ingin bertanya pada mereka "mengapa dulu kalian membuangku ke jalanan? Apa alasan kalian meninggalkan anak seperti ku? Apakah dirinya telah membawa petaka dalam keluarga mereka?." Ya, Lula hanya ingin bertanya seperti itu tidak berharap lebih, jika memang jawaban mereka karena tidak menginginkan keberadaannya, maka Lula tidak akan berharap apapun untuk dianggap sebagai anak.
Fiana mengerutkan alisnya menatap sekretaris barunya yang justru melamun itu. "Hei, kenapa malah melamun?." Fiana kini tidak lagi menggunakan bahasa asing, namun bahasa Indonesia. Karena setelah kemarin membaca biodata Lula, ternyata anak itu sama seperti nya, orang Indonesia asli.
Lula langsung tersadar dengan pikirannya. "I-iya.... Saya dari Indonesia. Semoga selama saya kerja disini tidak mengecewakan anda ya.... Terimakasih sudah mau mencoba menerima saya sebagai sekretaris pribadi anda Miss." Pinta Lula dengan penuh penghormatan. Ia bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya kepala sang pemimpin hotel bintang lima itu.
Fiana tersenyum. "Harusnya saya yang berbicara dengan kamu, semoga kamu betah bekerja disini ya, menjadi bagian dari keluarga Hotel Rafi business ini."
Lula mengangguk. "Sudah pasti saya akan betah Miss, menjadi bagian dari hotel yang anda pimpin adalah impian saya sejak dulu." Jawab Lula dengan sangat jujur.
Fiana menggenggam tangan Lula yang diletakkan dimeja. Ia memang seramah itu kepada semua orang. "Saya kayaknya nyaman kalo kerja sama kamu. Besok langsung ikut saya ke Australia ya, ada meeting dengan client yang punya perusahaan aplikasi."
Bukannya menjawab, Lula malah berfokus pada tangan Fiana yang begitu hangat menggenggam nya. Bersentuhan dengan orang yang memiliki hubungan darah dengannya, membuat Lula tidak lagi bisa menahan air matanya, ia menjatuhkan air mata itu tanpa permisi.
Tentu saja, melihat Lula yang menangis, membuat Fiana panik. Ia langsung berdiri dari kursi kebesarannya untuk menghampiri Lula. "Kamu kenapa, apa saya salah tadi pegang tangan kamu?." Tangan Fiana dengan panik, mengusap bahu Lula dengan lembut.
Lula segera menghapus air matanya. Ia tertawa pelan. "Maaf Miss hehe... Saya cuman tiba-tiba keinget aja sama orangtua saya yang waktu itu tega buang saya dijalanan. Saya penasaran kenapa mereka buang saya."
Mendengar penjelasan Lula tiba-tiba membuat Fiana terkejut. "Buang kamu? Ada orangtua setega itu?." Tanya Fiana kemudian.
Lula tersenyum getir, mengubah pandangannya untuk mengarah ke Fiana. "Mungkin saya ini anak pembawa sial hehe..."
Tanpa ada kata lagi, Fiana memeluk erat seorang yang baru ditemuinya itu. Entahlah ia juga bingung padahal dirinya sendiri, kenapa saat bertemu gadis ini, perasaan sayang nya tiba-tiba saja langsung muncul. Melihat gadis ini menangis entah kenapa membuat hatinya ikut tersentil juga, ia seperti mempunyai ikatan tersendiri dengan gadis ini, tapi entah itu apa. Pokoknya pulang nanti Fiana akan ceritakan semuanya pada sang suami untuk membicarakan soal gadis ini.
Lula tidak sama sekali membalas pelukan dari Fiana. Hanya ada air matanya yang terus mengalir. "Kamu buk.... Kamu yang buang saya..... Harusnya saya tanya kenapa kamu tega...." Lirihnya dalam hati yang begitu sakit dan nyeri yang menjalar.