NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Namun saat dirinya terbangun Valerie sudah berpacaran dengan Kennan keponakannya.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari kebenaran

“Ini sulit dipercaya...”

Damian terus menatap gambar itu. Semakin lama ia memperhatikannya, semakin kuat perasaan aneh yang memenuhi dadanya.

Pohon besar dengan ayunan yang menggantung di dahannya, danau yang tenang dengan dermaga kayu, hamparan bunga yang bermekaran di sekelilingnya. Semuanya terasa begitu akrab, seolah tempat itu mirip dengan tempat bermainnya bersama selena dulu.

Damian menggeleng pelan, mencoba mengusir pikirannya sendiri.

“Tidak mungkin...”

“Ini pasti kebetulan, mungkin saja Valerie juga pernah datang ke tempat ini.”

Tatapannya kembali jatuh pada gambar anak laki-laki di sudut sketsa, ia tersenyum hambar.

“Wajah anak ini pasti wajah cinta pertamanya. Valerie pernah mengatakan kalau aku mirip dengan saatnya.”

“Orang bilang, kita memiliki tujuh kembaran di belahan dunia ini.”

Meski berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kegelisahan itu belum sepenuhnya menghilang. Dengan hati-hati, Damian menutup buku sketsa tersebut, lalu mengembalikannya ke dalam laci seperti semula.

Ia berdiri dan melangkah keluar dari kamar Valerie. Begitu pintu tertutup, dadanya kembali terasa sesak. Rumah itu semakin sunyi, ia menyadari bahwa keheningan itu terasa sejak Valerie pergi.

Pengaruh alkohol masih membuat langkah Damian sedikit goyah. Tanpa sadar, kedua kakinya membawanya menaiki tangga menuju lantai tiga. Ia berhenti tepat di depan kamar rahasia.

Perlahan ia memutar gagang pintu.

KLIK!

Ruangan itu masih sama seperti dulu. Foto-foto, lukisan, dan berbagai kenangan yang selama ini ia simpan masih berada di tempatnya.

Namun anehnya, dikamar itu pikirannya tidak tertuju pada Selena. Yang terus muncul justru wajah Valerie.

“Valerie, aku tidak mungkin menyukaimu.”

Damian memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut hebat. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, lalu menundukkan kepala.

Tiba-tiba.

Potongan-potongan ingatan yang selama ini terasa kabur mulai terlihat jelas. Malam itu, ia pulang dalam keadaan kehilangan kendali setelah dipengaruhi obat yang telah dicampurkan ke dalam minumannya.

Ia ingat bergegas menuju kamar rahasia itu, ia ingin melihat foto Selena. Namun, ingatan berikutnya membuat napas Damian terhenti.

Ia melihat Valerie yang berusaha lari, lalu dirinya menarik gadis itu masuk kembali ke dalam kamar. Ingatan berikutnya datang semakin jelas. Valerie berusaha melepaskan diri, menangis ketakutan dan memohon agar ia sadar, namun dirinya sama sekali tidak mendengarkan.

Damian memejamkan mata erat, napasnya memburu. Potongan demi potongan terus menghantam pikirannya.

Wajah Valerie yang kesakitan air mata yang terus mengalir di pipinya, tangannya yang membalikan badan Valerie dengan kasar, dan tubuh Valerie yang lemas akhirnya kehilangan kesadaran. Lalu, bercak darah di atas seprai.

Damian langsung berdiri.

“Astaga...”

“Aku benar-benar menuduhnya sekejam itu?”

Tubuhnya gemetar hebat, kini ia mengingat semuanya dengan jelas. Bukan sekadar cerita dari Valerie yang pernah ia dengar, melainkan ingatannya sendiri.

Kini ia sadar bahwa malam itu, Valerie bukanlah pihak yang bersalah. Justru dirinya telah menjadi penyebab trauma yang begitu dalam bagi Valerie, merengut kehormatannya sekasar itu.

Air mata kembali jatuh tanpa mampu ia bendung, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah menghantamnya bertubi-tubi, ia teringat semua penolakan Valerie setelah malam itu. Ketakutannya, tangisnya, dan permintaannya agar kontrak dipercepat.

Namun, di tengah rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, masih ada satu luka yang belum mampu ia lepaskan. Bayangan kamar hotel itu kembali muncul, Valerie yang tidur satu ranjang dengan seorang pria asing yang pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Kenapa jadi seperti ini?” bisiknya lirih.

“Kalau memang kamu kecewa denganku dengan kejadian malam itu, apa pantas membalasnya dengan selingkuh?”

“Jika memang kamu benar di jebak. Mengapa tidak memohon-mohon kepadaku, berusaha merayuku untuk memaafkanmu?”

“Katanya mencintaiku, mengapa tidak berusaha mendapatkan cintaku Valerie?”

Pertanyaan itu menggantung di dalam ruangan yang sunyi, Damian mulai meragukan semua yang selama ini ia yakini.

Keesokan paginya, Damian telah kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Berkas demi berkas ia tandatangani tanpa banyak bicara. Namun pikirannya sama sekali tidak fokus. Bayangan Valerie dan pengakuan yang ia baca di buku sketsa semalam masih terus menghantuinya.

Tok! Tok!

“Masuk.”

Pintu ruang kerja terbuka. Nyonya Margaretha melangkah masuk dengan wajah dingin, di tangannya tergenggam amplop tas berwarna hitam.

Damian segera berdiri.

“Nenek?”

“Kenapa tidak bilang dulu, kalau mau kekantor?”

Nyonya Margaretha tidak menjawab sapaan itu. Tatapannya justru dipenuhi kekecewaan.

“Kamu membuatku kecewa, Damian!”

“Kalau memang kamu tidak menyukai Olivia, kenapa kamu tidur dengannya?”

Damian mengernyit.

“Maksud Nenek?”

Tanpa banyak bicara, Nyonya Margaretha membuka amplop hitam itu lalu mengeluarkan beberapa lembar foto. Satu per satu foto itu dilemparkannya ke atas meja.

BRAK!

Damian menunduk melihat foto-foto tersebut. Wajahnya langsung berubah, di dalam foto itu terlihat dirinya sedang berbaring di atas ranjang hotel tanpa mengenakan atasan. Di sampingnya, Olivia memeluk tubuhnya sambil tersenyum ke arah kamera.

Foto lain memperlihatkan posisi yang lebih dekat, seolah-olah mereka benar-benar menghabiskan malam bersama.

Damian membeku.

“Itu...?”

Tangannya perlahan mengambil salah satu foto.

Nyonya Margaretha berbicara dengan nada penuh amarah.

“Pagi tadi kedua orang tua Olivia datang menemuiku, menunjukkan foto-foto itu.”

“Mereka bertanya bagaimana keluarga Robert akan bertanggung jawab jika foto-foto ini tersebar dan mencoreng nama baik kedua keluarga.”

“Dan Olivia sudah memberi penjelasan kepada kedua orang tuanya, ia mengatakan kamu menginginkan hubungan privasi karena masih berstatus suami Valerie. Karena dia sangat mencintaimu, dia rela kehormatannya kamu rengut dengan cara seperti itu.”

Damian langsung menggeleng.

“Nenek, tolong dengarkan aku dulu.”

“Semua di foto itu, bukan seperti yang nenek bayangkan.”

Nyonya Margaretha menatap tajam.

“Lalu bagaimana?!”

Damian menarik napas panjang.

“Malam itu Olivia meneleponku, ia mengatakan kondisinya sedang tidak enak badan. Aku datang hanya untuk memastikan keadaannya.”

Ia mencoba mengingat setiap detail.

“Saat tiba di apartemennya, Olivia menyuguhkan secangkir teh. Aku meminumnya tanpa rasa waspada, lalu beberapa menit kemudian kepalaku mulai terasa sangat pusing.”

Damian memejamkan mata.

“Aku hampir kehilangan kesadaran, dan Olivia membantuku duduk di tepi ranjangnya. Setelah itu pandanganku menggelap.”

Beberapa saat kemudian ia melanjutkan,

“Saat aku sadar aku terbaring di ranjangnya, lalu melihat Olivia sudah berada diatas tubuhku dengan pakaian tidurnya. Aku sangat kaget, dan langsung menjauh darinya,

“Aku curiga, aku sudah diberi obat olehnya. karena tidak ingin terjadi sesuatu dalam kondisi ku yang tidak sadar, aku segera meninggalkan apartemennya.”

Damian mengepalkan tangannya.

“Dan malam itu...aku pulang ke mansion dalam kondisi setengah sadar.”

Suara Damian perlahan melemah.

“Di sanalah... kejadian dengan Valerie terjadi.”

Ruangan mendadak hening.

Nyonya Margaretha memandang Damian cukup lama.

“Aku masih tidak percaya.”

Damian mengangkat wajahnya.

“Nenek...”

Nyonya Margaretha menghela napas dalam.

“Foto-foto itu sudah ada, dan Orang tua Olivia menuntut penjelasan mengenai hubungan kalian. Kalau masalah ini tidak segera diselesaikan, nama keluarga Robert akan menjadi bahan pembicaraan.”

Damian menggeleng tegas.

“Nek... malam itu aku tidak menyentuh Olivia, aku langsung pulang. Yang jadi korban di malam itu adalah aku dan Valerie.”

“Cucumu dijebak, Nek!”

Nyonya Margaretha menghela napas panjang.

“Aku tidak bisa langsung mempercayaimu, terlepas dari benar atau tidaknya pengakuanmu...”

"...orang luar hanya akan melihat foto-foto itu lalu akan menyimpulkan bahwa kalian memang memiliki hubungan.”

“Untuk reputasi keluarga, aku akan menikahkan mu dengan Olivia.”

Damian mengepalkan kedua tangannya.

“Jangan nikahkan aku dengan perempuan selicik dia, aku tidak akan menikahi Olivia hanya karena foto itu.”

“Nenek sudah tahu alasan aku selalu menjaganya karena permintaan terakhir Selena, aku sama sekali tidak pernah mencintainya.”

“Aku sudah bilang, kalau aku dijebak!”

Nyonya Margaretha menatap cucunya dengan wajah datar.

“Ucapanmu sama dengan wanita itu, dijebak?!”

“Kamu sudah belajar buruk darinya!”

Ia bangkit dari kursinya.

“Sebagai kepala keluarga Robert, aku harus melindungi nama keluarga. Karena itu, aku memutuskan pertunanganmu dengan Olivia akan segera dipersiapkan.”

Damian langsung berdiri.

“Aku menolak.”

Nyonya Margaretha tidak menggubris penolakan itu, namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti di depan pintu.

“Aku akan memberimu waktu.”

Damian menatapnya.

“Dua bulan.”

“Dalam waktu dua bulan, buktikan bahwa kamu memang dijebak. Buktikan bahwa kamu tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Olivia. Dan buktikan Olivia dalang di balik semua ini.”

“Jika kamu bisa membuktikan semuanya, aku tidak akan memaksamu lagi.”

Tatapan Nyonya Margaretha berubah semakin tajam.

“Tapi jika setelah dua bulan kamu gagal, maka pernikahan akan tetap berlangsung. Kamu akan menikahi Olivia demi menjaga nama baik keluarga Robert.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Nyonya Margaretha keluar dari ruangan. Pintu tertutup perlahan.

Damian tetap berdiri mematung, pandangannya kembali jatuh pada foto-foto di atas meja. Damian mengepalkan tangannya erat.

“Aku akan mencari tau kebusukan Olivia. Jika ia dalang dari semua kejadian akhir-akhir ini, kemungkinan Valerie benar dijebak.”

“Kalau semua ulahnya, aku punya alasan untuk berhenti melindunginya.”

1
Rahayu
Pernikahan yang ikonik, maharnya borgol cantik /Sob/🤣
Luh Belong: Berbeda dari yang lain 🤭
total 1 replies
Rahayu
Nyesel kan lu bambang 😄
Luh Belong: penyesalannya terlambat 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!