NovelToon NovelToon
Badai Masa Lalu

Badai Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Model / Pelakor / Romansa / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:57.5k
Nilai: 5
Nama Author: StarMaker

Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.

Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.

Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.

Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab6

Siang itu di sebuah kantor seseorang berjalan memasuki ruangan. Di ruangan itu nampak seorang pria tengah sibuk bekerja padahal sudah jam istirahat.

"Siang pak boss," sapa Juna Gautama pada pria yang menjabat sebagai Bosnya sekaligus sahabatnya, Edwin. Sang CEO muda di perusahaan WinnerCorp.

"Hmm," jawab Edwin tanpa melihat sang sekretarirnya. Dia tetap fokus pada laptop di hadapannya.

"Serius amat tu muka, gak sepet tuh mata liat layar laptop mulu. Sekali-kali liat yang bohay napa" ucap Juna tanpa mendapatkan respon dari Edwin.

"CK ya gini nih kalau punya sahabat datar plus budeg," ucap Juna tanpa memfilter omongannya.

"Kamu mau saya pecat!" ucap Edwin menatap tajam ke arah Juna.

"Ehehehhe bercanda," Juna cengengesan. Lupa kalau sahabatnya tidak bisa di ajak untuk bercanda.

"Perasaan tiap hari pak bos ngadep laptop terus, nggak sepet tu mata sekali-kali refreshing kek nyari yang bohay buat cuci mata" ujar Juna.

Gimana Juna tidak bilang begitu setiap kali melihat Edwin selalu saja di hadapannya ada laptop dan setumpuk kertas. Juna saja yang melihatnya sudah jengah apa lagi tiap hari mandang laptop. Tapi kalau yang di lihatnya film biru sih Juna sanggup tiap hari mandangin layar laptop.

"Kerjaan numpuk," jawab Edwin tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop.

"Mending bapak yang terhormat ikut saya makan siang diluar. Sekali-kali makan di resto lah jangan order mulu" ucap Juna sebenarnya ia sedang mencari teman makan siang. Ingin mengajak pacar tapi dia sadar kalau dia tidak punya pacar dan tidak ada pilihan lain selain mengajak Edwin yang sudah pasti akan mendapat penolakan.

"Gak ada waktu," jawab Edwin cuek.

"Ck sialan," umpat Juna keluar dari ruangan Edwin begitu saja. Kan apa yang di bilang Juna kejadian. Edwin sudah tentu menolak untuk makan di luar padahal restorannya dekat.

Sepeninggal Juna, Edwin menghela nafas panjang dan menutup laptopnya lantas dengan cepat Edwin berjalan keluar ruangan dengan wajah datarnya. Beberapa pasang mata dari karyawan wanita yang melihat Edwin terkagum-kagum akan ketampanannya. Ada yang hanya mencuri pandang bahkan ada yang menatapnya terang-terangan.

"Gile pak Edwin cakepnya kelewatan,"

"Tipe aku poll pak Edwin mah ,"

"Kinclong bener itu muka,"

"Aku kantongin bawa pulang lama-lama,"

"Sayang banget udah jadi suami orang,"

Seperti biasa Edwin selalu menghiraukan omongan para pegawainya itu dan berjalan seolah-olah tidak mendengarkan apa-apa.

"Pak boss mau kemana?" tanya seseorang pria yang tak lain adalah Juna.

"Kamu ngajak saya makan di luar sekarang udah saya turutin malah nanya," ucap Edwin terlihat geregetan dengan makhluk di sampingnya, berbeda dengan Juna yang berdecak kagum.

"Waaahhh tumben mau makan di luar, lagi kerasukan apa pak bos" ucap Juna bertepuk ria sedangkan Edwin hanya menatap malas Juna yang kelewat gila. Dia yang mengajak malah bertanya kerasukan apa.

Sepertinya Edwin harus mencari sekertaris baru yang lebih waras daripada Juna.

°°°

Edwin dan Juna baru saja sampai di restoran. Lagi-lagi semua mata tertuju kepada Edwin dan juga Juna karena mereka berdua sangat mencolok disana.

Juna juga tidak kalah tampan dari Edwin. Meskipun Edwin lebih tampan tentunya, hanya saja yang membedakan keduanya adalah kelakuan. Kalau Edwin waras, Juna tidak. Bagaimana tidak cowok di sepanjang perjalanan dia selalu saja menggoda wanita yang berpas-pasan dengan mereka.

Sekarang mereka berdua duduk di salah satu meja restoran. Edwin sibuk membolak-balik kan buku menu begitu juga dengan Juna. Setelah menyebutkan pesanan mereka kepada waiters, Edwin sibuk dengan hpnya.

Dan juna? Tentu saja dia sudah tebar pesona sana-sini. Imagenya sebagai cowok tampan sudah hilang di gantikan cowok recehan.

"Wuuihh ada cewek cantik aku gebet ah," ucap Juna membuat Edwin malas untuk mendengarkannya.

"Eh kakak-kakak kenalan yuk," ucap Juna heboh sedangkan yang disapa hanya tersipu malu.

Sumpah demi kantong ajaibnya Dora Emon Edwin sekarang ingin menampol kepala sahabatnya itu sungguh memalukan kelakuannya tidak bisa kah dia menjaga imagenya. Punya dosa apa Edwin memiliki sahabat seperti dia.

"Kau bisa diam tidak! Mau saya pecat sebagai sekretaris" ucap Edwin mengintruksi sebagai bos kepada sekertarisnya bukan sebagai sahabat. Juna cengengesan kemudian menuruti perintah Edwin.

"Btw bagaimana dengan istrimu, sudah kamu perawanin belum?" Ucap Juna asal jeplak. Ia tahu sahabatnya belum pernah meniduri istrinya karena sebuah alasan.

"Sekali lagi kamu ngomong, nggak usah jadi sekeretaris saya!" ucap Edwin tegas.

"Pak boss galak takut huhuhuhuhu," ucap Juna dramatis. Edwin yang sudah tidak tahan langsung memutar bola matanya jengah dan memilih menyumpal kupingnya dengan airpords, bisa pecah gendang telinganya mendengarkan ocehan Juna yang unfaedah.

"Saya serius Ed gimana hubungan kamu sama Keyla?" tanya Juna dengan wajah seriusnya, kalau sudah seperti ini Juna memang benar-benar serius. Iya serius. Serius ingin meledek sahabatnya maksudnya.

"Biasa saja," jawab Edwin enteng.

"Biasa kamu bilang, gini ya saran saya sebaiknya kamu banyakin manjain istri, kamu nggak takut dia minta cerai sama kamu. Gara-gara muka kamu kelewatan datar seperti tembok" saran Juna terdengar seperti mengejek Edwin.

"Hmm," jawab Edwin singkat padat dan jelas.

"Golok mana golok," kesal Juna. Cowok itu ingin sekali menebas leher Edwin di ajak bicara jawabnya cuma hm. Kalau cewek mungkin udah klepek-klepek di jawab begitu lah Juna, cowok. Malah pengen nampol. Diomongin malah jawabannya ham Hem ham hem dikira mau nyanyi apa. Nyebelin kan para kaum Adam. Kaum hawa gak usah di tanya paling jawabnya 'wah cowok idaman.'

Dan pada akhirnya obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka berdua datang. Pelayanan restoran menata satu persatu pesanan mereka di atas meja setelah itu dia kembali pergi.

Edwin memulai memakan makanannya begitu juga dengan Juna yang langsung kicep melihat makanan yang tertata rapi di mejanya. Soal makanan Juna pawangnya dan tanpa menunggu lama Juna langsung memakannya dengan lahap.

"Yunitaaaaa I'am hereee!!!" teriak seseorang dengan suara cempreng nya, bahkan semua pengunjung restoran langsung menoleh ke sumber suara.

"Gila bisa budeg kupingku kalo kayak gini," gerutu Juna mengusap-usap kupingnya sedangkan Edwin tetap bersikap datar.

"Itu mulut kondisiin deh Key jangan buat aku malu," ucap seseorang yang masih bisa di dengar oleh Edwin dan Juna.

"Lah bukannya itu istri kamu," Juna menunjuk ke arah seseorang yang baru saja berteriak.

"Hmm," jawab Edwin. Dia memang sudah mengetahuinya ketika Keyla memasuki Restoran.

"Wah bener-bener di luar ekspektasi suara istrimu bisa ngalahin suara toa masjid. Saya kira lemah gemulai ini mah bar-bar," Juna geleng-geleng kepala. Tidak menyangka jika istri sahabatnya yang ia kira lemah lembut ternyata bar-bar seperti itu.

"Nggak di samperin?" tanya Juna karena Edwin diam saja ketika istrinya datang bukannya di sapa dan di ajak makan bersama.

"Kamu tidak melihat saya lagi makan!" kesal Edwin, Juna lagi-lagi cengengesan. Padahal kan Edwin bisa menunda makanannya dan menghampiri istrinya terlebih dahulu. Dasar cowok dingin gak ada romantis-romantisnya.

"Woy Mbak yang pake cardingan!" Teriak Juna pada cewek yang sedang mengobrol di meja kasir.

"Sinting ngapain tu anak manggil keyla," gumam Edwin sangat pelan.

Keyla yang di panggil hanya celingukan.

"Key ngapain itu orang manggil kamu," ucap Yunita salah satu teman Keyla yang bekerja sebagai kasir di restoran Hana.

"Lah emang manggil aku ya?" Tanya Keyla cengo. Ia kira cowok itu memanggil orang lain yang berpakaian sama sepertinya.

"Ya iyalah disini yang pakek cardingan cuman kamu," ucap Hana karena rata-rata yang ada di restorannya pakai baju kantoran.

Keyla hanya menjawab 'oh' Dengan malas Keyla berjalan menghampiri seseorang yang memanggilnya tanpa memperhatikan sekitarnya.

"Maaf ada perlu apa?" tanya Keyla begitu tiba di depan Juna.

"Mbak bagi wa dong," ujar Juna cengengesan seraya melirik Edwin yang sudah menatapnya tajam. Sepertinya istri sahabatnya tidak menyadari kehadiran suaminya.

"Ya elah kampret saya kira apaan cuman minta no wa, nggak penting banget," ucap Keyla memutar bola matanya malas.

"Seriusan Mbak, emang Mbak nggak kepincut sama saya, ganteng iya, tajir iya, yang paling penting seksi dan bisa bikin mbak seneng" ucap Juna mengedipkan matanya genit kepada Keyla.

Edwin yang melihat itu hanya bisa menggerutu melihat istrinya di goda, tapi tidak ada niatan untuk membuka suara.

"Idih ganteng-ganteng genit, sorry ya mas saya nggak kepincut saya sudah punya suami!!" ucap Keyla seraya menatap Juna tidak suka.

"Ehm kalau boleh tau suami Mbak kayak gimana gantengan saya atau suami Mbak?" tanya Juna sengaja ingin tahu apakah istri sahabatnya akan memuji suaminya atau tidak.

"Jelas lebih gantengan suami saya dari pada mas, dan yang paling penting suami saya seksinya beeuhh buat mata saya silau. Apalagi kalau pas keluar kamar mandi cuman pakek handuk pengen saya kurung seharian di kamar! Dan goyangannya bikin saya mabuk kepayang!" ucap Keyla tajam memperjelas semua kata-kata yang dia ucapkan.

"Ehm," 

Seseorang berdehem mau tidak mau Keyla menolehkan kepalanya dan langsung kaget.

Seketika Juna tertawa pecah melihat perubahan raut wajah istri sahabatnya. Terlebih lagi istri sahabatnya itu berbohong dengan mengatakan hal yang tidak pernah mereka lakukan.

Sedangkan Keyla menatap tidak percaya di sana ada Edwin yang menatapnya. Keyla membeku dengan pipi yang memerah. Ia sangat malu ketahuan berkata seperti itu oleh Edwin.

"Kamu Keyla kan?," tanya Juna memastikan seraya menatap wajah Keyla yang memerah tentunya karena malu.

Dengan susah payah Keyla meneguk salivanya. Ia benar-benar malu telah berkata demikian. Ingin rasanya ia menghilang dari hadapan Edwin sekarang juga.

"Mampus," gumam Keyla.

Padahal tadi dia berkata seperti itu hanya untuk memanas-manasi orang yang baru saja menggodanya. Tapi malah ketahuan dan mendapat tatapan dingin dari Edwin karena ucapannya sedikit vulgar dan prontal.

"Hahahaha sorry saya bercanda," ucap Keyla ngacir dan meninggalkan Juna yang tertawa terpingkal-pingkal berbeda dengan Edwin yang sedikit syok dengan pernyataan Keyla tadi.

"Gilaaa istrimu frontal banget hahahaah," kata Juna memukul-mukul meja di depannya, ia tidak berhenti bahkan sampai mengeluarkan air disudut matanya.

"Pak bos denger gak, katanya goyangan suaminya bikin mabuk kepayang" Ledek Juna yang tidak berhenti tertawa.

"Mulutmu itu mau saya gorok!" Ucap Edwin tajam.

"Hahahaha kagak," Juna masih saja ngakak padahal sudah mendapatkan tatapan tajam. Mungkin ia sudah tidak mau lagi bekerja di kantornya Edwin.

"Key mau kemana," panggil Hana kepada Keyla yang terus berjalan bukan kearahnya.

"Ke rawa-rawa!!" ucap Keyla langsung keluar dari restoran sambil mengutuk omongannya dan pria tadi.

"Kamu liat gak wajah istrimu merah banget!!" Ucap Juna semakin tertawa kencang.

Edwin yang sudah jengah dengan Juna yang sedari tadi seperti itu, akhirnya memilih beranjak untuk meninggalkan Juna.

"Bayarin makanan saya!" ucap Edwin membuat Juna berhenti tertawa.

"Wooy kamprett malah pergi!" teriak Juna mengumpati Edwin yang sudah keluar dari restoran.

1
Surati
bagus
wlychr
ceweknya tak tegas. 🤭
Inaina
🥰🤩🤩
Woro Wardani
😍😍😍
falea sezi
males np g Edwin aja yg mati skip g jelas
falea sezi
itu yg dlu di rasain keyla saat lu nikah ma kesya hahaha impas kan sakit g lu kapok
falea sezi
nah ngapain balik ma pembunuh dia penyebab lu stres
falea sezi
tolol mending ma raka lu tau suami mu bekas. jalang lu masih mau abis nikah g mungkin mereka gk tidur bareng oh goblok bgt lu keyy lu cm di jadiin serep doank tau gak Ban serep
falea sezi
cerai key hamil bisa cerai jangan bodoh kau
falea sezi
keyla nya np di buat bodoh
falea sezi
yg bisa Edwin g plg g di jelasin dia kemana jangan2 selingkuh ma kesya trs ketiduran
falea sezi
kn emank km goblok uda cerai urus anak sendiri bodoh
falea sezi
g mau hamil g usa buat tolol
falea sezi
cerai lah bodoh
Arayden_15
thor satuin Edwin dan keyla kembali
Arayden_15
thor ini ga ada lanjutannya kah?
Arayden_15
Edwin💔🥺
ballqiisty sirnawab .
🥺😭😭😭
Garang Anggriawan
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
Drone Ground
Thor-nim, aku kepo banget sama lanjutannya, nih. Ditunggu crazy upnya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!