NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI BERSAMA

Lima belas tahun telah berlalu. Waktu berjalan terus tanpa berhenti, membawa banyak perubahan di mana-mana — kota yang dulu sepi kini semakin ramai, gedung-gedung baru berdiri tinggi, dan mereka yang dulu tak berdaya kini telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan siap melangkah ke dunia yang lebih luas.

Pagi itu, udara di lingkungan kampus terasa segar dan menyenangkan. Matahari bersinar terang, menyinari jalan setapak yang bersih, gedung-gedung bertingkat yang rapi, serta halaman luas yang dipenuhi mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang sibuk berjalan ke sana kemari. Suara tawa dan percakapan terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang hidup dan penuh harapan.

Di area parkir yang luas dan tertata rapi, terlihat dua orang pemuda berjalan berdampingan menuju gedung kantin kampus. Keduanya tampak rapi mengenakan pakaian seragam kampus yang baru, namun wajah mereka santai dan penuh keakraban layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sejak masa kecil.

Alex — pemuda yang wajahnya tampak tegas namun selalu menyimpan senyum hangat — menoleh ke arah temannya di samping.

"Bil, makasih banyak ya loe udah rela jauh-jauh jemput gue pagi-pagi begini," ucap Alex sambil tersenyum lebar. "Tapi sayang kalau cuma jemput doang, sekalian loe bayarin makan gue di kantin juga ya. Soalnya gue benar-benar gak bawa uang tunai sama sekali. Gue juga belum tahu di kantin kampus ini bisa bayar pakai transfer bank atau mesti pakai uang tunai semua. Jadi loe yang duluan ya, nanti gue ganti begitu sudah kembali ke apartemen."

Billy menggelengkan kepalanya sambil mendengus pelan, meski senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

"Iya, iya, gue tahu pasti akan begini nasib gue," jawab Billy dengan nada bercanda yang terdengar seperti mengeluh. "Rasanya kayak jadi pelayan pribadi loe saja. Jemput dari apartemen pagi-pagi, terus harus bayarin makan juga. Sungguh beruntung — atau sial sekali — hari pertama masuk kuliah langsung bertemu lagi dengan loe di kampus yang sama. Padahal dalam hati kecil gue berharap kita terpisah jauh di tempat yang berbeda."

"Dasar tidak tahu berterima kasih!" balas Alex dengan cepat, tidak mau kalah. "Ingat ya, siapa yang dulu sering merusak barang di apartemen gue? Dan siapa pula yang tiap kali datang ke klub milik orang tua gue selalu minta diskon besar-besaran sampai hampir tidak membayar? Sekarang baru dimintai tolong sedikit saja sudah banyak alasan dan keluhan."

Mereka berdua tertawa bersama dengan akrab. Persahabatan yang sudah terjalin begitu lama membuat tegur sapa mereka santai dan penuh canda. Belum jauh berjalan, terdengar suara seseorang berteriak dari belakang sambil berlari cepat menyusul mereka.

"Woi! Tungguin gue dulu! Kalian berdua jalan saja begitu tanpa memberi kabar mau berangkat bareng!" seru Rey sambil mengayunkan tangannya, berlari dengan napas sedikit terengah hingga akhirnya berdiri di samping Alex dan Billy.

Billy menatapnya sambil tersenyum sinis. "Elo Rey, sungguh takdir yang aneh ya. Bagaimana mungkin kita bertiga kembali berada di kampus yang sama lagi? Padahal jujur saja, gue sudah berdoa sungguh-sungguh agar kita tidak bertemu di satu tempat yang sama."

"Dasar doa konyol!" seru Rey sambil menepuk bahu Billy pelan. "Masa doa loe begitu? Harusnya loe bersyukur sekali bahwa kita bertiga bisa berkumpul kembali seperti dulu. Ingat kan? Orang tua kita bertiga adalah rekan bisnis yang saling mempercayai selama bertahun-tahun. Maka kita pun seharusnya menjaga persahabatan ini erat seperti mereka menjaga kerja sama mereka. Benar bukan, Lex?"

Alex tersenyum lebar mendengar ucapan itu. "Benar sekali kata Rey. Sudahlah, jangan banyak berdebat di sini. Ayo kita segera ke kantin, perut gue sudah terasa lapar sekali sejak tadi pagi. Setelah selesai makan, kita langsung masuk ruang kelas untuk mengikuti pengarahan pertama. Ayo cepat berjalan, Bil, Rey — jangan sampai terlambat di hari pertama."

Mendengar ajakan itu, ketiga pemuda itu pun melangkah bersama menuju gedung kantin kampus yang luas dan ramai dipenuhi mahasiswa.

Sesampainya di kantin, mereka bertiga segera mengantre dan memesan makanan serta minuman untuk sarapan. Setelah selesai membayar dan mengambil pesanan, mereka membawa nampan masing-masing menuju meja yang terletak di sudut paling ujung ruangan — tempat yang agak sepi, nyaman, dan cocok untuk duduk bercerita dengan tenang tanpa banyak diganggu orang lain.

Saat mulai makan dengan lahapnya, Alex meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Rey di seberang meja.

"Rey, gue dengar kabar kalau ayah loe mengadakan pesta besar malam minggu ini, benar tidak?" tanya Alex sambil kembali menyuap nasi ke mulutnya.

Rey mengangguk pelan dengan wajah yang tampak kurang antusias. "Loe tahu dari mana saja, Lex? Memang benar begitu. Tapi sejujurnya gue malas sekali harus ikut acara seperti itu. Sudah bisa ditebak — tamu-tamunya pasti orang-orang kaya, pejabat, rekan bisnis orang tua, dan semua orang yang hanya berbicara soal keuntungan dan kesepakatan sepanjang malam. Membosankan sekali rasanya harus berdiri di antara mereka tanpa tahu harus berkata apa."

Billy ikut menyahut sambil menyesap minumannya perlahan. "Jangan begitu, Rey. Pahamilah — suatu hari nanti, gue dan Alex pasti akan meneruskan perusahaan milik orang tua masing-masing. Kehidupan kita akan terikat pada urusan bisnis, pertemuan, dan acara resmi seperti itu. Loe justru lebih beruntung — loe bebas memilih jalan hidup tanpa terbayang-bayang beban perusahaan besar yang harus diurus. Sedangkan kami? Mau tidak mau, harus hadir, harus belajar berkenalan, dan menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan orang tua kita. Begitulah kenyataannya, bukan, Lex?"

Alex mengangguk setuju dengan mantap. "Benar sekali kata Billy. Jadi Rey, malam minggu ini loe siapkan minuman yang cukup banyak di rumahmu ya. Gue berniat minum sampai puas, mungkin sampai sedikit mabuk. Kepala gue sedang terasa berat dan pening sekali akhir-akhir ini karena banyak hal yang harus diurus sebelum masuk kuliah."

Rey dan Billy saling berpandangan sejenak, lalu Billy menyeringai lebar. "Nah, itu tandanya Alex baru saja putus dengan pacarnya. Hanya orang yang sedang patah hati yang ingin minum sampai mabuk untuk melupakan semuanya. Benar kan, Lex? Kalau sedang sedih ceritakan saja, kami siap mendengarkan."

Alex mendengus kesal namun tetap tersenyum. "Diam saja loe, Bil! Gue tidak mungkin bersedih atau galau karena hal begitu. Pikirkan saja — apa yang tidak bisa gue dapatkan? Gue yang memutuskan hubungan dengannya, bukan sebaliknya. Karena ternyata dia bukan orang yang jujur, terlalu pandai berpura-pura di depan orang lain. Jadi gue akhiri saja sebelum semuanya semakin jauh dan menyakitkan."

Rey tersenyum melihat perdebatan kedua sahabatnya, lalu memotong pembicaraan dengan lembut.

"Sudah, sudah — jangan berdebat terus seperti anak kecil. Kita baru saja berkumpul kembali setelah sekian lama. Menurut gue, setelah selesai makan ini, sebaiknya kita segera mencari papan pengumuman untuk melihat daftar pembagian kelas. Siapa tahu kita terpisah ke ruangan yang berbeda-beda."

Billy langsung tersenyum lebar mendengar usul itu. "Soal itu jangan khawatir — gue sudah mendapat kabar sebelumnya. Kita bertiga ternyata ditempatkan di kelas yang sama, karena jurusan yang kita ambil pun sama. Sebenarnya seharusnya kita dipisah ke kelas yang berbeda, tapi ayah gue adalah salah satu donatur terbesar kampus ini, jadi beliau mengatur agar kita bertiga tetap bersama di satu ruangan."

Alex tersenyum puas mendengarnya. "Bagus sekali kalau begitu. Kalau begitu mari kita langsung menuju ruang kelas bersama. Kita lihat saja nanti seperti apa teman-teman sekelas kita — siapa saja mereka, dan bagaimana suasana perkuliahan yang akan kita jalani bersama. Ayo kita pergi."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ketiga sahabat itu segera menghabiskan makanan mereka, berdiri serentak, dan berjalan beriringan meninggalkan kantin menuju gedung perkuliahan. Langkah mereka tegap, penuh semangat, dan siap menghadapi hari pertama di dunia yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!