NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Nikah Kilat di Catatan Sipil

"Aku serius."

Adrian menjawab pertanyaan Kayla tanpa mengalihkan mata.

"Tiga tahun terlalu lama untuk kontrak dengan orang yang baru kukenal seminggu," kata Kayla.

"Karena itu ada pengecualian untuk kekerasan, perselingkuhan, dan tindak pidana. Kalau aku melanggar batasmu, kau bisa pergi kapan saja. Kalau tidak, kita memberi pernikahan ini waktu yang cukup agar keluarga kita percaya."

"Siapa yang menulis klausul ini?"

"Pengacara."

"Dan siapa yang menyuruh pengacara menulisnya?"

Adrian menyesap kopi. "Pertanyaan berikutnya."

Kayla tahu ia sedang menghindar. Namun isi pasalnya jelas, dan notaris pilihannya sudah menyatakan hak untuk keluar dalam keadaan berbahaya tetap terlindungi.

Ia menandatangani dokumen itu keesokan paginya.

Adrian datang menjemput pukul tujuh tepat. Kayla baru keluar dari gerbang samping RS Sentosa ketika sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Nico turun dari kursi depan, membukakan pintu belakang, lalu menyerahkan map berisi salinan perjanjian yang sudah dilegalisasi.

"Selamat pagi, Nyonya..."

"Jangan mulai," potong Kayla.

Nico tersenyum. "Baik, dr. Kayla."

Adrian duduk di dalam dengan setelan abu gelap. Ia melihat jam tangan. "Kau terlambat dua menit."

"Aku baru selesai memeriksa pasien. Kalau kau ingin istri yang selalu tepat waktu, jangan menikahi dokter IGD."

"Dicatat."

Mereka sempat berhenti di halaman kantor pencatatan untuk menunggu petugas membuka loket. Seorang perempuan bergaun merah yang baru turun dari mobil lain mengenali Adrian dan segera menghampiri.

"Kapten Adrian? Lama tidak bertemu." Perempuan itu tersenyum sambil menyentuh lengannya. "Masih ingat saya? Kita pernah bertemu di acara maskapai."

Adrian mundur setengah langkah. "Maaf, tidak."

Senyum perempuan itu membeku, tetapi ia belum menyerah. "Kalau malam ini ada waktu, kita bisa minum kopi."

"Aku harus bertanya kepada istriku dulu."

Kayla yang sedang memeriksa dokumen menoleh.

Adrian menunjuknya dengan dagu. "Istriku tidak terlihat setuju."

Perempuan itu memandang map pernikahan di tangan Kayla, menggumamkan selamat, lalu cepat-cepat kembali ke mobilnya.

"Aku belum menjadi istrimu," kata Kayla.

"Kurang dari satu jam."

"Dan aku tidak pernah mengatakan tidak setuju."

"Wajahmu sudah menjawab."

"Wajahku memang begini."

"Bagus. Sangat berguna."

Mereka menjadi pasangan pertama yang dilayani pagi itu. Dokumen identitas, surat pemberkatan, dan perjanjian pranikah diperiksa satu per satu. Petugas meminta mereka mengonfirmasi nama, alamat, status perkawinan, serta kesediaan mencatatkan pernikahan tanpa paksaan.

Kayla menjawab dengan suara tenang. Adrian menjawab lebih singkat lagi.

Setelah tanda tangan terakhir dibubuhkan, petugas menyerahkan bukti pencatatan dan buku nikah sipil kepada mereka.

"Selamat," katanya. "Mulai hari ini pernikahan Anda tercatat secara sah."

Kayla memandang namanya di dokumen.

Keputusan yang tiga hari lalu terdengar seperti lelucon kini memiliki tanda tangan, stempel, dan konsekuensi hukum.

Adrian berdiri di sebelahnya. Tidak menyentuh, tidak mendesak. Hanya menunggu sampai Kayla menutup dokumen itu sendiri.

"Menyesal?" tanyanya.

"Tanyakan lagi tiga tahun dari sekarang."

Untuk foto administrasi, mereka berdiri berdampingan sambil memegang bukti pencatatan. Fotografer meminta Adrian mendekat sedikit. Bahu mereka bersentuhan.

Aroma jeruk dingin membuat Kayla menahan napas sepersekian detik.

Klik.

Foto pertama mereka sebagai suami istri pun tersimpan.

Adrian membawanya makan siang di sebuah restoran teh dan dimsum tidak jauh dari kantor. Begitu duduk, ia mengunggah foto tadi ke Instagram.

Kayla melihat layar ponselnya. "Apa yang kau lakukan?"

"Mengumumkan pernikahan."

Tulisan Adrian hanya satu kalimat.

`Menikah dengan dr. Kayla. Mohon doanya.`

Tidak ada penjelasan, tidak ada tanda pagar, dan tidak ada peringatan kepada Kayla.

"Kau punya berapa pengikut?"

"Tidak pernah menghitung."

Dalam kurang dari satu menit, ratusan notifikasi masuk.

"Kau seharusnya memberi tahu aku dulu."

"Pernikahan kita harus terlihat nyata."

"Terlihat nyata tidak berarti menjadi konsumsi seluruh internet."

"Sudah terlambat."

Kayla menatap wajah tenangnya. "Kau sengaja."

"Ya."

Adrian memesan dua keranjang hakau dan semangkuk bubur seolah baru saja tidak melempar bom ke beberapa keluarga sekaligus.

"Aku tidak mau pesta besar," kata Kayla. "Tidak ada resepsi, tidak ada sangjit sekarang, dan aku tidak menerima uang dari keluargamu."

"Setuju. Minggu depan makan malam kecil. Dua meja untuk saudara dan teman dekat."

"Itu definisimu tentang kecil?"

"Untuk keluargaku, sangat kecil."

Telepon Oma Melly masuk lebih dulu. Suara tangis bahagianya terdengar sampai ke seberang meja. Tiana mengirim dua puluh emoji cabai, lalu menuntut penjelasan lengkap. Nico mengabarkan grup keluarga Gunawan sudah seperti ruang rapat darurat.

Kayla belum mengunggah apa pun. Ia menatap foto mereka sekali lagi. Bahunya dan bahu Adrian bersentuhan, tetapi ada jarak kecil di antara tangan mereka. Foto itu terlihat seperti dua orang yang baru belajar berdiri di sisi yang sama.

"Kalau kau tidak mau, aku bisa membatasi komentarnya," kata Adrian.

"Kau menawarkan itu setelah mengunggah tanpa izin?"

"Aku sedang belajar."

"Belajarnya terlambat."

Meski begitu, Kayla membagikan unggahan Adrian ke akun miliknya. Ia menambahkan satu kalimat agar tidak ada keluarga yang mengaku dirinya dipaksa.

`Keputusan saya. Hidup saya.`

Tiana langsung menelepon lewat video.

"Jadi kau sungguh menikah kilat!" teriaknya. "Ini laki-laki dari perjodohan Oma?"

"Ya."

"Apakah dia normal?"

Kayla melirik Adrian yang sedang menuang teh. "Belum ada cukup data."

Adrian menjawab tanpa menoleh, "Aku juga sedang menilai hal yang sama."

Tiana tertawa begitu keras hingga gambar di layar berguncang. "Baik. Setidaknya kalian cocok. Adrian, kalau kau menyakiti Kayla, ingat aku tahu bagian tubuh yang paling sakit."

"Dia sudah menyampaikan ancaman itu kemarin."

"Bagus. Berarti ingatanmu berfungsi. Selamat menikah."

Panggilan berakhir. Kayla baru menyadari ia tersenyum.

Sebuah akun gosip mengunggah ulang foto Adrian dengan judul, `Kapten dingin Angkasa Timur menikah diam-diam dengan dokter IGD.`

Di rumah Wijaya, Vanessa menatap unggahan itu sampai kuku jarinya menekan telapak. Beberapa hari lalu Ema Lanny masih ingin menjodohkannya dengan Adrian. Sekarang laki-laki itu menikah dengan dokter yang tidak pernah ia dengar namanya.

Di kediaman Gunawan, Ema Lanny meletakkan ponsel di meja dengan keras.

"Dia sengaja mempermalukan keluarga."

Engkong Herman hanya menatap foto tersebut. "Cari tahu siapa perempuan itu."

Ledakan paling keras terjadi di rumah Chandra.

Wilson melempar gelas ke dinding setelah melihat foto Kayla tersenyum tipis di sebelah Adrian. Pecahannya membuat Vera mundur.

"Dia menikah?" Wilson menekan tombol panggilan berulang kali. Nomornya tetap diblokir. "Dengan laki-laki dari hotel itu?"

Tante Fen merebut ponsel Vera. "Kau bilang Kayla tidak punya pacar."

"Memang tidak punya!" Vera menatap foto itu dengan wajah kaku. "Mereka baru bertemu malam itu."

"Lalu kenapa mereka sudah menikah?"

Vera tidak punya jawaban.

Saat Kayla dan Adrian kembali ke mobil, layar ponsel Kayla penuh dengan tangkapan layar, pesan rekan kerja, dan notifikasi dari akun yang tidak dikenalnya.

Satu pesan dari nomor baru muncul paling atas.

`Kau pikir menikah membuatmu aman?`

Kayla belum sempat memblokirnya ketika pesan kedua masuk.

`Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan dengan laki-laki itu.`

Tidak ada nama pengirim. Kayla tetap tahu kalimat itu berasal dari Vera.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!