Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Celeng di Ladang
Kentongan berbunyi tiga kali di tengah malam.
Arya bangun sebelum pukulan terakhir selesai. Laras yang baru memasuki bulan ketujuh kehamilan ikut duduk, sementara dari luar terdengar orang berteriak bahwa celeng turun ke sawah sebelah utara.
“Tetap di rumah,” pesan Arya.
Ia berlari bersama Jarwo dan para lelaki lain. Laras berdiri di teras dengan Rukmini, melihat obor bergerak seperti kunang-kunang di antara petak gelap.
Mereka kembali satu jam kemudian tanpa hasil. Celeng telah masuk ke tepi hutan, meninggalkan batang padi rebah dan umbi singkong tercabut. Tidak ada yang terluka, tetapi wajah para petani tampak lebih hancur daripada ladang mereka.
Pagi harinya, orang-orang berkumpul di tepi sawah. Jejak kuku memenuhi lumpur. Pak Waluyo berjongkok di dekat pematang, lalu menggeleng.
“Sudah tiga malam,” kata seorang petani. “Kalau begini terus, separuh panen habis.”
“Pasang kaleng dan tali lagi,” usul yang lain.
“Sudah. Mereka tidak takut.”
Ada yang ingin mengumpulkan uang untuk mendatangkan pemburu dari kecamatan. Ada yang menyarankan memasang jerat, tetapi Pakde Karyo memperingatkan jerat tanpa pengawasan dapat melukai warga atau ternak.
“Jangan asal pakai senjata,” katanya. “Urusannya panjang kalau tidak sah.”
Pak Waluyo mengusap tengkuk. “Kita ronda lebih banyak malam ini.”
“Dengan bambu?” seseorang menyindir. “Semalam satu celeng hampir menyeruduk Paijo.”
Kerumunan langsung riuh. Bu Marni menarik suaminya menjauh dari daftar ronda. Orang yang paling keras menuntut tindakan justru paling cepat mencari alasan untuk tidak ikut.
Laras berdiri di tempat yang kering, satu tangan menyangga pinggang. Dalam cerita yang pernah dibacanya, serangan berikutnya membuat seorang pemuda terluka parah. Desa itu lalu terbelah karena saling menyalahkan.
Ia tidak dapat menyebut masa depan tersebut. Namun ia dapat mencegahnya.
Arya memeriksa arah jejak, sisa tanaman yang diinjak, dan celah di pagar kebun. Sikapnya tenang, tetapi Laras mengenali cara matanya menghitung jarak.
Setelah orang-orang bubar, mereka pulang bersama.
“Mas tahu cara menghentikannya,” kata Laras.
“Mengetahui caranya berbeda dengan memiliki hak melakukannya.”
“Pakde Karyo bilang ada jalur meminjam senapan berburu secara sah.”
Arya menatapnya. “Kamu mendengar semuanya.”
“Aku juga melihat warga ketakutan.”
Di rumah, Laras membuka peta kasar sawah yang dibuat Sekar dari keterangan para petani. Ia menandai ladang yang diserang selama tiga malam. Polanya membentuk jalur dari mata air hutan ke kebun singkong, lalu ke sawah.
Guntur keluar dari kamar dan mempelajari tanda-tanda itu. Sejak datang ke desa, beliau jarang mencampuri urusan warga agar keberadaannya tidak menarik perhatian. Kali ini jarinya berhenti pada jalan setapak menuju rumah-rumah paling utara.
“Kalau kawanan dikejutkan dari sini, mereka bisa lari ke permukiman,” katanya.
Arya mengangguk. “Karena ronda mengejar dari arah sawah tanpa menutup sisi timur.”
Sekar meletakkan daftar keluarga di dekat jalur itu. Ada dua lansia yang tinggal sendiri, satu ibu dengan balita, dan kandang kambing milik tiga rumah.
“Kita harus memindahkan mereka sebelum ada tindakan,” ujar Laras. “Bukan setelah celeng muncul.”
Rukmini menambahkan selimut, air, dan makanan yang dibutuhkan bila balai dusun dijadikan tempat tunggu. Tak seorang pun memperlakukan bahaya itu sebagai kesempatan Arya memamerkan kemampuan. Mereka membedahnya sebagai masalah yang dapat menelan korban bila satu orang saja ceroboh.
Guntur menatap putranya. “Keputusan tetap milikmu. Tetapi menahan kemampuan saat orang terancam juga sebuah keputusan, dan akibatnya tetap harus kita tanggung.”
Arya mengembuskan napas perlahan. “Saya tahu, Pak.”
Laras tidak menambah bujukan. Ia membiarkan peta, nama warga, dan jejak serangan menyampaikan apa yang tidak dapat ia ungkapkan tentang masa depan.
“Kalau hanya dikejar, mereka kembali dari arah lain,” katanya. “Harus ada orang yang mengatur, bukan semua berlari mengikuti suara.”
“Dan kamu ingin saya yang mengatur.”
“Mas pernah memimpin orang dalam keadaan jauh lebih berbahaya.”
Arya meletakkan pensil. “Itulah masalahnya. Bapak sedang diperiksa. Saya seharusnya tidak menarik perhatian.”
“Kita sudah menarik perhatian sejak tiba.”
“Perhatian desa berbeda dengan perhatian orang yang menunggu keluarga kami salah langkah.”
Laras memahami kekhawatiran itu. Satu foto Arya memegang senjata tanpa konteks dapat dipelintir menjadi apa saja. Karena itu ia tidak meminta tindakan nekat.
“Kita gunakan izin, daftar peminjam, saksi, dan aturan yang jelas,” katanya. “Kalau tidak bisa dilakukan dengan sah, kita berhenti.”
Arya diam.
“Aku tidak memintamu membuktikan diri,” lanjut Laras. “Aku meminta Mas mencegah orang terluka kalau memang mampu.”
“Kamu tidak ikut ke ladang malam hari.”
“Aku mengurus obat, makanan, daftar orang, dan kendaraan darurat dari rumah.”
“Kamu juga tidak berdiri menunggu di jalan.”
“Baik.”
Jawaban cepat itu membuat Arya curiga. “Benar-benar baik?”
“Aku sedang hamil tujuh bulan, bukan kehilangan akal.”
Sudut bibir Arya bergerak tipis, lalu kembali kaku.
Sore menjelang, Pakde Karyo datang membawa kabar bahwa kerusakan meluas ke kebun milik seorang janda tua. Ia mengenal perkumpulan menembak berburu berizin di kabupaten dan dapat menanyakan prosedur peminjaman untuk pengendalian hama, tetapi semua harus tercatat serta disetujui pemilik senjata.
“Saya tidak mau membawa barang ilegal ke desa,” tegasnya.
“Saya juga tidak mau,” jawab Arya.
Pakde Karyo memandang peta di meja. “Kalau kamu bersedia memimpin, anak-anak muda akan lebih tenang.”
Arya belum menjawab.
Malam turun. Ronda diperbanyak, kaleng digantung, dan api dinyalakan di batas ladang. Laras menyiapkan kotak P3K, air minum, nomor Puskesmas, serta daftar pemilik motor.
Menjelang pukul sebelas, kentongan kembali berbunyi.
Kali ini disusul jeritan.
Jarwo berlari ke halaman mereka. “Celengnya masuk kebun dekat rumah Mbah Parti. Paijo jatuh waktu menghindar. Untung cuma lututnya lecet.”
Arya langsung memeriksa luka Paijo dan memastikan tidak ada gigitan atau robekan dalam. Setelah lutut dibersihkan, lelaki itu disuruh pulang.
Di jalan, warga berteriak satu sama lain. Pak Waluyo tidak lagi mampu membuat mereka mendengar. Beberapa pemuda memegang parang, siap masuk hutan tanpa rencana.
Arya merampas parang itu bukan dengan kekerasan, melainkan dengan satu perintah tajam.
“Tidak ada yang masuk sekarang. Gelap, jalurnya sempit, dan kalian bisa saling melukai.”
Semua orang berhenti.
Ia menoleh kepada Pakde Karyo. “Besok pagi kita urus senapan dan izinnya.”
Lalu Arya menatap Laras di teras. Di antara kepanikan satu desa, mereka mencapai kesepakatan tanpa perlu bicara lagi.
Keluarga mereka datang ke Girimulyo untuk bersembunyi dari badai.
Namun malam itu, Arya memutuskan bahwa bersembunyi tidak berarti membiarkan rumah baru mereka dihancurkan.
Besok, setiap langkah harus tercatat. Setiap orang harus pulang hidup-hidup tanpa satu pun korban. Laras memeluk kotak P3K dan menyaksikan suaminya mengambil tanggung jawab itu sebagai miliknya sendiri.