Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6_Pertengkaran
“Dika, kita perlu bicara.”
Dika yang saat itu tengah berdiri dan hendak meninggalkan ruangan langsung diam di tempat. Saat ini Hervinda tengah berada dihadapannya dengan wajah penuh amarah dan juga nafas yang ngos-ngosan, menandakan gadis dihadapannya ini datang dengan buru-buru. Belum lagi perban yang ada di kening membuat Dika menatap penuh tanya.
“Kamu kenapa?” tanya Dika dengan perasaan khawatir.
Michael hanya menatap santai gadis yang saat ini tepat berada di tengah pintu. Wajahnya kembali mengeras mengingat kebodohan yang dilakukan Vinda terhadap wanitanya. Ya, Rensi sudah menjadi wanitanya sejak dia mengetahui siapa Rensi yang sebenarnya, meski tanpa bertemu.
“Aku yang harusnya bertanya kenapa. Kenapa kamu tiba-tiba mecat aku. Apa salahnya?” Vinda benar-benar bingung apa yang ada dikepala temannya saat ini. Memecat tiba-tiba dan dia sendiri tidak tau apa salahnya. Kenapa semua terasa begitu menyebalkan baginya.
“Maaf, Vin. Aku harus melakukan itu.” Dika tidak tau apa yang harus dijelaskannya. Dia hanya terpaksa melakukan karena Michael terus mengancamnya dan dia tau jika sepupunya itu siap menghancurkan kalau keinginannya tidak diikuti. Dia belum siap melepaskan café yang selama ini dibangun dengan susah payah.
“Ya tapi apa alasannya! Kamu itu harusnya kasih alasan dong!”
Vinda benar-benar sudah tidak tahan dengan kediaman Dika. Dia butuh penjelasan dan jawaban kenapa dia dipecat. Bukan hanya kata maaf yang gak ada manfaatnya karena tanpa maaf, Vinda sudah memaafkannya. Dika bosnya dan berhak melakukan apapun kepada pekerjaannya. Dia hanya butuh alasan agar bisa memperbaiki diri di pekerjaan selanjutnya. Tentunya di tempat lain.
“Vin, kita bisa bicara di luar?” pinta Dika tidak mau kalau Michael akan mengatakan hal menyakitkan.
“Gak perlu. Aku Cuma butuh alasan kenapa kamu memecat aku.” Vinda masih kekeh dan tidak mau diajak kompromi sama sekali.
“Karena kamu sudah tidak dibutuhkan lagi,” ucap Michael menyela. Nada suaranya dingin dan matanya menatap penuh kebencian. Dia bangkit dan melangkah menatap Vinda yang masih kekeh dengan pendiriannya. Saat dia tepat berada dihadapan gadis tersebut, matanya menatap mata Vinda yang sudah berkobar penuh kekesalan.
Michael hanya diam mengamati. Dia seperti mengenal tatapan tersebut. Namun, dengan cepat langsung disingkirkan dan kembali menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di café ini. Kamu itu sudah dibuang,” kata Michael dengan nada sinis.
“Kamu siapa?” tanya Vinda karena memang dia tidak kenal dengan orang yang saat ini berdiri dihadapannya. Siapa dia? Kenapa tiba-tiba ikut campur tidak jelas?
“Kamu tanya aku siapa?” Michael tersenyum penuh makna dan memasukan tangannya ke dalam saku celana, meanatp Vinda dengan tatapan angkuh. “Michael Aditama. Putra tunggal keluarga Tama,” ucapnya dengan suara lantang.
Vinda hanya menatap acuh dan terkesan tidak peduli dengan Michael. Dia malah menatap Dika kembali dan mencoba mencari jawaban dari apa yang sebenarnya terjadi. Dia tau siapa pria lain yang ada diantara mereka berdua. Dia tidak cukup bodoh dengan tidak tau siapa keluar Aditama. Namun, dia tidak peduli dengan semua itu.
“Dika, kenapa kamu diam?" kekeh Vinda tidak mau menyerah.
Michael yang merasa di abaikan langsung menatap Vinda dengan penuh amarah. Dia bahkan tidak mengira dirinya akan diacuhkan dan dianggap tidak penting. Benar-benar wanita sok dan keras kepala.
“Aku bicara sama kamu, Dik. Kamu bisu sampai gak bisa jawab?” Vinda menatap kesal. Kenapa Dika hanya diam?
“Dia gak mau jawab. Jadi, lebih baik kamu pulang.” Bukannya Dika malah Michael yang menjawab.
Vinda yang mendengar menatap Michael dengan tatapan tidak suka. “Ck. Saya tidak bicara dengan anda. Kenapa situ terus yang jawab?”
Michael langsung membelalakan mata. Apa Vinda bilang? Apa dia tidak punya rasa takut sama sekali? Roy yang mendengar langsung menatap Vinda penuh kebencian yang semakin dalam. Sebenarnya tidak ada alasan untuknya membenci, tetapi melihat Rensi disakiti, dia merasa harus membenci siapapun yang menyakiti Rensi.
Vinda kesal dengan adanya Michael diantara mereka berdua. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi dan menarik Dika yang tanpa minat menutup mulut Michael. Vinda mengajak Dika keluar tanpa perlawanan. Sedangkan Michael, dia benar-benar kesal setengah mati dan siapa mencekik Vinda.
“Gadis kurang ajar! Segera keluarkan dia dari kampus. Sekarang juga!” bentak Michael tidak suka diabaikan.
Lihat saja Vinda, apa setelah ini kamu masih bisa menatapkan wajah angkuhmu lagi?, desis Michael dengan tatapan misterius. Bahkan tidak ada senyum ramah ketika mengatakan hal tersebut.
_____
Vinda menyusuri lorong kampus dengan wajah yang suda terlihat panik. Dia yang awalnya akan berbicara empat mata saja dengan Dika terpaksa membatalkannya setelah mendapat kabar dari salah satu petugas akademik di kampus. Ada hal penting yang katanya tidak bisa dibicarakan melalui telfon dan itu membuat hatinya semakin tidak tenang.
Sampai di lantai lima, Vinda langsung mengarah ke ruang akademi. Setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin masuk, Vinda segera melangkah dan mendatangi petugas yang menangani masalah fakultasnya. Bu Lina. Setelah mencari, wanita paruh baya yang selalu berpenampilan cantik itu tengah duduk termenung. Dengan perasaan gusar, Vinda langsung mendatangk Bu Lina.
“Siang, Bu,” sapa Vinda dengan wajah cemas.
Bu Lina langsung mendongak dan menatap Vinda dengan wajah malas. “Silahkan duduk. Ada yang bisa Ibu bantu?”
“Tadi saya menerima telfin suruh ke ruang akademik segera. Nama saya Hervinda Serana Putri,” jelas Vinda tidak bisa menghilangkan perasaan khawatirnya. Kabar apalagi yang akan diterimanya nanti?
Mendengar nama itu disebut membuat Bu Lina menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan keras. Rasanya dia belum siap kehilangan mahasiswi paling berprestasi hanya demi keegoisan anak pemilik Universitas. Apa jika Pak Tama mengetahuinya semua akan kembali? Bu Lina tidak tega jika harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ibu, ada apa, ya?” tanya Vinda karean sejak tadi Bu Lina hanya menatapnya lekat dan tidak melakukan apapun.
Bu Lina tersenyum dan mengusap tangan Vinda lembut. “Kamu tau, Vinda? Kamu adalah salah satu mahasiswi yang sangat berprestasi. Ibu sangat bangga karena kampus ini memiliki kamu. Banyak sekali kampus yang berharap mendapatkan mahasiswa-mahasiswi seperti kamu. Ibu yakin itu.”
Vinda semakin bingung dibuatnya. Ada apa ini? kenapa firasatnya semakin buruk? Matanya kembali menatap Bu Lina yang saat ini tengah membuka laci mejanya dan keluar dengan sebuah amplop pajang. Apa itu?
Bu Lina menatap amplop tersebut sekilas dan menyodorkannya kepada Vinda. Vinda yang melihat langsung mengambilnya dan membuka dengan cepat. Jantungnya sudah tidak karuan dan semakin tidak bekerja ketika melihat isi surat tersebut.
Surat pengeluaran dirinya dari Universitas. Vinda langsung menghembuskan nafas panjang dan duduk bersandar. Dunianya seakan berhenti berputar. Nafasnya terkecat menyadari kenyataan pahit yang kembali menghantamnya.
Apa salahku Tuhan, sampai harus menanggung derita di hari yang sama, gerutunya dalam hati.
Vinda memejamkan mata. Kepalanya tiba-tiba saja berputar dan terasa sakit. Seperti mendapatkan hantaman keras tepat di pucak syarafnya.
“Sebenarnya saya melakukan kesalahan apa, Bu. sampai harus menerima surat pengeluaran seperti ini?” tanya Vinda lirih.
Bu Lina yang mendengar langsung menatap Vinda dengan pandangan penuh iba. Dia sendiri tidak tega dan menolak ketika Rektor menyuruhnya untuk memberikan kertas tersebut kepada Vinda. Meski tidak kenal dan dekat, semua orang di kampus tersebut tau bagaimana perjuangan Vinda hingga benar-benar membangakan Tama University.
“Ibu tidak tau, Vinda. Rektor tidak mengatakan apapun tentang itu,” jawabnya bohong. Dia tau ketika dia menerima surat tersebut, tetapi dia tidak ingin mengatakan bahwa semua karean ulah anak pemilik kampus tersebut.
Lagi. Semua dihidupnya seperti tidak ada alasan. Kesialannya hari ini juga tidak beralasan. Vinda menghela nafas panjang. Mungkin dengan menemui rektor kampusnya semua akan terpecahkan.
“Mungkin dengan menemui Pak Tedy saya akan mendapatkan jawaban. Kalau begitu saya…”
“Percuma,” potong Bu Lina sembari menatap Vinda lekat, “percuma. Pak Tedy hanya melaksanakan tugas. Kamu tidak akan mendapatkan penjelasan tentang ini.”
Apa? Vinda mengerutkan kening tidak percaya. Jadi dia harus meminta kepada siapa?
“Kamu bisa datang ke kediaman Pak Adelardo. Mungkin saja dia akan membantumu,” ucap Bu Lina sembari berbisik. Dia tidak mau jika ketahuan membantu akan membuatnya di depak dari kampus dan menjadi pengangguran.
Vinda hanya diam membeku. Dia menatap Bu Lina yang mengeluarkan amplop coklat dan menyerahkan kepada Vinda. Untung saja ruangan tersebut kosong, jadi Bu Lina bisa memberikan amplop tersebut.
“Ini semua data dan bukti prestasi yang sudah kamu berikan. Bawa ini dan jelaskan kepada Pak Ade. Jangan sampai ada yang mengetahui tentang hal ini,” tegas Bu Lina dengan mata yang masih menatap sekitar.
Vinda tersenyum dan mengangguk. Dengan cepat dia memasukan amplop tersebut ke dalam tas gendong dan menghela nafas lega. Setidaknya, dari dua kesialan dia bisa menyelamatkan salah satunya.
“Terima kasih, Bu. Saya pamit,” ucap Vinda dan langsung keluar dari ruangan.
Vinda melangkah mengambil sepedanya. Dia sebenarnya lelah mengayuh, tetapi hanya itu yang dimilikinya.
“Setidaknya dari dua ada yang harus diselamatkan,” ucap Vinda dengan percaya diri dan langsung mengayuh sepeda. Dia tau dimana rumah keluarga Adelardo karena dia pernah datang sebelumnya.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄