Novel ini mendapat JUARA HARAPAN LOMBA YOU ARE A WRITER SEASON 6
Terima kasih atas dukungannya.
_
_
Blurb :
Akibat kesalahpahaman, Xena Fathari memilih bercerai dengan suaminya yang bernama Evan Dimitri. Gadis itu meninggalkan tanah kelahirannya dengan membawa luka hati. Bagaimana tidak? seorang wanita datang dan mengaku mengandung anak Evan. Hingga saat kembali, Xena tidak bisa menghindari pertemuannya dengan pria itu lagi.
Karena sebuah situasi, Xena terpaksa mengungkit keinginan Evan satu tahun lalu yang memintanya menjadi istri selama 40 hari.
Kini semua terbalik, Xena yang meminta Evan menjadi suaminya selama 40 hari. Akankah Evan bersedia menerima tawaran Xena?
cover by Tiadesign_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Xena tersadar dari lamunan, dia memegangi bahkan sedikit meremas bagian dadanya yang kembali terasa begitu sesak, saat mengingat kejadian yang sudah berlalu berbulan-bulan itu. Ia mendengkus kasar, sebelum akhirnya memilih berdiri dan merapikan bagian belakang roknya.
"Hidupku tidak akan berhenti hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bukankah sekarang aku sangat membencinya? jadi untuk apa sakit hati lagi," gumam Xena, dia mencoba memberi motivasi pada diri sendiri agar tak lagi terluka oleh sikap Evan.
Dari pada di rumah dan bosan, Xena berniat pergi ke galerinya. Ia sudah berganti pakaian dan mencangklong tas di pundak, gadis itu keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Hingga saat baru saja mengunci pintu, Xena terkejut melihat Evan yang berdiri di hadapannya.
"Mau ke mana?" tanya Evan memindai penampilan sang istri.
"Galeri," jawab Xena singkat, bahkan memilih memalingkan wajah ketika berbicara. "Kenapa kamu tidak pergi ke kantor, jam berapa ini?" tanya Xena sambil berpura-pura menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia sengaja agar Evan segera minggir dan tak menghalangi jalannya.
"Aku akan putus dengan Jihan," ucap Evan tiba-tiba, yang malah tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Xena barusan.
"Aku tidak peduli." Xena terlihat tak acuh dengan perkataan Evan. Ia menengadahkan tangan ke arah pria itu. "Beri aku uang untuk operasi selaput dara! Gara-gara kamu bobol, selaput dariku yang berharga hilang. Aku berniat melakukan operasi untuk mengembalikannya." Xena berbicara ceplas-ceplos seakan operasi yang sedang dia bicarakan itu semudah membalikkan telapak tangan. Ditatapnya Evan yang terkejut dengan permintaan anehnya itu.
Pembantu mereka yang kebetulan mendengar ucapan Xena pun hampir tersedak saliva. "Lah, selaput hilang kebobol, kenapa minta dibalikin?" gumam pembantu itu di dalam hati dan menggelengkan kepala pelan karena heran.
"Aku ingin di rumah, jadi kamu lebih baik di rumah juga," ucap Evan yang sedari tadi sepertinya tak ingin menanggapi perkataan Xena soal uang operasi.
Xena ingin sekali mengumpat, karena Evan selalu menanggapi ucapannya dengan hal yang berbeda.
"Kalau ingin di rumah, kenapa memakai jas?" sindir Xena sambil bersidekap dada.
Tanpa Xena duga, Evan langsung melepas jas bahkan kemejanya. Pria itu kemudian melemparnya begitu saja hingga teronggok di lantai. Xena begitu terkejut hingga melotot kepada Evan, dada bidang dan perutnya yang six pack membuat Xena hampir meneteskan air liur, tapi gadis itu cepat-cepat memalingkan muka.
"Kamu ini memang punya penyakit saraf, ya! Pikiranmu berubah secepat membalikkan telapak tangan," cibir Xena yang kesal dengan sikap Evan yang dianggapnya arogan.
Evan begitu geram karena Xena lagi-lagi membahas penyakit. Sebenarnya Evan frustasi karena dia divonis mengidap kanker oleh dokter, maka dari itu saat kata penyakit disebut membuatnya naik pitam.
"Ya, aku memang mengidap satu penyakit dan itu penyakit yang sangat parah. Mungkin saja umurku takkan lama lagi, atau mungkin sebenarnya aku tengah bersiap untuk mati," ujar Evan mengungkapkan apa yang dipendamnya dalam hati.
Xena melongo dengan mulut menganga ketika mendengar Evan bicara jika dia akan mati. Bahkan kelopak matanya sampai naik-turun dan membuat bulu mata lentiknya bergerak dengan sangat indah, dia terkejut dengan apa yang diungkapkan suami palsunya itu.
Meski sempat terkejut dengan pengakuan Evan, Xena tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai memegangi perut karena tidak bisa menahan rasa geli yang mengelitik.
Evan merasa bingung karena sang istri malah tertawa, apakah wanita itu berpikir jika dirinya berbohong? karena itu lah dia tertawa? Evan memperhatikan Xena yang masih terbahak, seakan sedang mengejek dirinya.
Xena mencoba menghentikan tawanya, lantas menatap Evan yang ternyata sejak dari tadi melihat padanya. "Bukankah bagus jika pria sepertimu mati, setidaknya satu buaya muara hilang dari muka bumi ini."
"Begitu bencikah kamu ke aku?" tanya Evan dengan mimik wajah memelas.
"Ya, aku membencimu. Sangat benci," jawab Xena dengan tatapan tajam.
_
_
_
_
Geng jangan Lupa
KOMEN
ADD FAVORITE
BAGI HADIAH
VOTE
dukung Na dengan komen disemua Bab ya , yang merasa belum komen, mohon balik dulu buat komen ya 🤣
makasih
jangan ngembek terus, jadi kayak Zoya kamu.
di nyanyiin sendiri lagi...
jagal JD kayak sapi om...