NovelToon NovelToon
Salah Kamar

Salah Kamar

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Cinta Terlarang / Pengantin Pengganti / Cerai / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:5.9M
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Pernikahan Kenan dan Calista selalu dibayang-bayangi oleh kesalahan masa lalu Kenan pada Olivia, adik kandung Calista. Kenan yang beberapa bulan sebelum menikah dengan Calista salah memasuki kamar Olivia dan menyangka wanita yang tidur adalah Calista yang akhirnya membuat Olivia hamil. Lima tahun kemudian Kenan akhirnya bercerai dengan Calista, lalu menikah dengan Olivia. Calista yang dendam pada Olivia lalu menikah dengan Leo, tunangan Olivia yang dia rebut. Namun perjalanan rumah tangga Calista tidaklah mudah dan selalu dibayangi oleh dosa masa lalu yang telah mereka lakukan. Bahkan Calista juga dimadu dengan sekretaris Leo yang bernama Giselle meskipun akhirnya Leo dan Giselle bercerai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Vansh

"Olivia?"

Olivia lalu menoleh ke arahnya, menyunggingkan sedikit senyuman lalu kembali menenangkan Papanya sambil terus memegang tangannya. Mendapat perlakuan yang begitu dingin dari Olivia, Kenan lalu mengalihkan pandangannya pada seorang anak kecil yang tampak malu-malu bersembunyi di belakang tubuh Olivia.

DEGGGGG

Melihat wajah anak kecil itu, hati Kenan bagai ditikam belati. "Anak ini, kenapa sangat mirip denganku? Mungkinkah dia adalah anakku? Ah, tidak, tidak mungkin," batin Kenan.

Ditengah lamunannya, tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponsel miliknya. "Alena."

[Ya, Alena.]

[Kenan, bisakah kau memberitahu Olive jika aku saat ini tak bisa menemaninya di rumah sakit, tiba-tiba Mark sakit perut dan aku harus merawatnya. Tadi aku sudah mencoba menghubungi Olivia tapi sepertinya dia belum mengaktifkan ponselnya karena dia langsung ke rumah sakit setelah kami sampai di Bandara.]

[Tentu, tentu akan kuberitahu pada Olive.]

[Satu lagi Kenan.]

[Apa?]

[Tolong bawa pulang Vansh, karena Jason begitu kesepian di sini.]

[Vansh?]

[Iya, Vansh, anak kecil yang datang bersama Olivia. Apakah kau belum mengenalnya?]

[Ya belum, maaf kami masih dalam suasana yang sedih, jadi kami belum sempat saling bertanya kabar.]

[Oh ya, katakan saja pada Olivia jika aku menyuruh Vansh pulang bersamamu untuk menemani Jason.]

[Baik Alena, akan kusampaikan pada Olivia.]

Kenan lalu menghampiri Olivia. "Olive, Alena baru saja menelponku, dia tidak bisa ke rumah sakit karena tiba-tiba Mark sakit perut."

"Tak apa," jawab Olivia.

"Ada satu hal lagi Olivia, dia juga memintaku untuk membawa pulang Vansh karena Jason kesepian di rumah. Anak kecil itu yang bernama Vansh kan?" Dada Olivia tiba-tiba begitu sesak, saat menyebut nama Vansh. "Bagaimana Olivia, apakah Vansh boleh ikut pulang bersamaku?"

"Oh, ehm tentu saja boleh."

"Vansh? Siapa itu Vansh, Olive?" Seorang anak kecil lalu menghampiri laki-laki tua itu, bibirnya tersenyum dan sedikit tersipu malu.

"Hai, kau begitu tampan anak kecil, maaf Opa tidak memperhatikan kedatanganmu."

"No problem, Opa Herman."

"Hahahahah, kau pintar Vansh, bahkan kau sudah tahu namaku padahal aku belum mengenalmu, katakan pada Opa siapa orang tuamu?"

Vans lalu menunjukkan jari telunjuknya pada Olivia. "Olive, dia putramu?"

Olivia lalu mengangguk. "Nanti akan kuceritakan semua pada Papa saat Vansh sudah pergi." bisik Olivia pada Papanya.

"Baik Olive."

"Kenan, bawalah Vansh pulang bersamamu, dia juga pasti lelah."

"Baik Olive," jawab Kenan sambil menatap Olivia begitu lekat, seolah meminta jawaban tentang siapa Vansh sebenarnya. Raut wajahnya pun semakin penuh dengan tanda tanya mendengar perkataan Olivia jika Vansh adalah anaknya.

"Vansh, ayo pulang bersama Om, kita akan bertemu Jason dan Aunty Alena, Aunty Alena adalah adik sepupu Om."

"Benarkah itu, Mommy?"

Olivia lalu mengangguk. "Pulanglah bersama Om Kenan, Mommy harus menunggu Oma."

"Okay, come on let's go, Uncle" Vansh kemudian menggandeng tangan Kenan. Sebuah perasaan hangat tiba-tiba datang begitu saja dalam hati laki-laki itu. "Ada apa ini? Kenapa rasanya seperti ada sebuah desiran hangat di dalam hatiku?"

Setelah Kenan dan Vansh pergi, Olivia lalu memandang Papanya. Laki-laki tua itu lalu mengangguk. "Ceritakanlah semua Olive, Papa akan tetap menyayangimu, apapun yang telah terjadi dalam hidupmu."

"Pa..." kata Olivia, air matanya mulai mengalir.

"Pa, sebenarnya saat pergi ke Australia, Olive sudah dalam keadaan hamil, itulah sebabnya Alena mengajak Olive pergi bersamanya. Seorang laki-laki tak bertanggung jawab telah menghamili Olive."

Seketika, hati Herman terasa begitu sakit mendengar perkataan putri bungsunya. "Apa? Siapa laki-laki itu Nak? Apakah dia kekasihmu?"

"Bukan Pa, kejadiannya begitu cepat karena saat itu Olivia sedang tertidur di kamar, dia masuk ke dalam kamar. Saat itu, Olivia begitu takut karena Papa, Mama, dan Kak Calista sedang pergi," kata Olivia sambil menangis tersedu-sedu.

"Jadi, kau sudah diperkosa Nak?"

Olivia hanya diam tak menjawab sepatah katapun, lalu perlahan kepalanya mulai mengangguk. Herman kemudian memeluk putrinya. "Olivia, kenapa kau menanggung beban sebesar ini sendirian Nak?" kata Herman sambil terisak.

"Maaf Pa, Olive ga ingin Papa sama Mama malu menanggung semua aib ini, Olive ga ingin merepotkan Mama sama Papa."

"Tidak Olive, jangan berkata seperti itu, masalahmu juga masalah Papa Olive, kami sangat menyayangimu."

"Ya, kalian dari dulu memang sangat menyayangi Olivia, tapi tidak denganku," kata sebuah suara yang tiba-tiba datang mendekat pada Herman dan Olivia.

"Kak Calista?"

***

Seorang wanita paruh baya tampak duduk di samping kolam renang sambil sesekali menyeruput tehnya dan membetulkan tatanan rambutnya. "Tante Gisa...."

"Alena, bagaimana keadaan Mark?"

"Sudah jauh lebih baik Tante, dibandingkan saat kami baru sampai tadi, sekarang dia sedang tidur."

"Biarkan dia beristirahat, kamu temani tante ngobrol di sini, tante tadi sedang main dengan Jason tiba-tiba dia pergi lalu asyik bermain game. Alena, tante begitu kesepian karena sehari-hari tante selalu sendirian di rumah ini. Hanya ada pembantu, sedangkan yang lain cuma bisa pergi pagi pulang malem."

"Bukankah ada Calista?"

"Jangan pernah sebut nama itu Alena, dia akan membuat mood Tante jadi buruk."

"Loh memangnya kenapa Tante? Bukankah di awal pernikahan, Tante begitu menyayangi Calista?

"Dia tak sebaik yang Tante bayangkan Alena, dia bukan istri yang baik untuk Kenan. Dia bahkan sangat jarang pulang ke rumah, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya di luar."

"Jadi dia belum berhenti menjadi foto model?"

"Belum, bahkan dia belum tahu Jeng Vina sedang kritis di rumah sakit. Benar-benar anak dan istri durhaka. Tante menyesal memiliki menantu seperti dia."

"Tante, Tante jangan bicara seperti itu."

"Memang itulah kenyataannya, kamu lihat sendiri kan sudah lima tahun mereka menikah tapi mereka belum juga diberikan keturunan."

"Tante, ini memang sudah takdir mereka belum diberi kepercayaan oleh Tuhan, memangnya Tante mau menyalahi kehendak Tuhan?"

"Bukannya gitu Alena, tapi memang Calista saja yang belum ingin hamil, bahkan sejak awal pernikahan sampai sekarang dia masih memakai pengaman."

"Hah? Yang benar saja Tante?"

"Buat apa tante bohong sama kamu? Dia selalu beralasan jika masih memiliki ikatan kontrak dengan produk kecantikan. Coba kamu pikir, mana ada kontrak produk yang lamanya sampai lima tahun. Padahal kamu tahu sendiri saat Kenan menikah dengan Calista, Tante sudah sangat menginginkan kehadiran seorang cucu, darah daging Kenan."

"Selamat malam..."

"Eh itu Kenan."

Gisa begitu terkejut melihat Kenan datang dengan membawa seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengannya. "Ke.. Ke.. Kenan. Siapa ana ini?" tanya Gisa. Namun, Kenan hanya terdiam.

"Aunty Alena, dimana Jason?" kata Vansh.

"Alena, jadi kau juga mengenalnya? Katakan padaku siapa sebenarnya anak ini?"

"Tenang Tante, kendalikan emosi Tante."

"Vansh, perkenalkan dirimu pada Oma Gisa!" kata Alena. Vansh lalu maju ke hadapan Gisa dan menyalaminya sambil mencium punggung tangannya. "Vansh, Oma."

Seketika Gisa berlutut kemudian memeluk Vansh dengan begitu erat, air mata pun mulai mengalir di pipinya. Sambil memeluk Vansh, Gisa menoleh pada Alena yang kini mulai meneteskan air matanya melihat pemandangan yang ada di depannya.

1
pipi gemoy
👍🌹🙏
pipi gemoy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pipi gemoy
ketika penjahat seperti Leo tobat
ta vote Thor ✌️
pipi gemoy
ketika para penjahat bertaubat,
bagus Thor perubahan karakter nya dari sangat jahat tidak selamanya menjadi penjahat 👍🌹
Hartaty
astaga ulet bulu di pelihara
Hartaty
secepat itu, jaim dikit olive biar Kenan tau diri
Aulia Yumi Rosda SE
bravo calista
Aulia Yumi Rosda SE
🤣🤣🤣🤣
Aulia Yumi Rosda SE
🙂
Aulia Yumi Rosda SE
salut sama papanya revan
Aulia Yumi Rosda SE
hati-hati rima... bisa bahaya kalau ketahuan
Aulia Yumi Rosda SE
hajar aja dia calista.........
aku suka itu.....
Aulia Yumi Rosda SE
Giselle...selamatkan bayinya calista........
Aulia Yumi Rosda SE
jujur sekarang lebih baik daripada mengetahui kebenaran dikemudian hari.
Aulia Yumi Rosda SE
kenapa ada pelapor lagi sich...........
Aulia Yumi Rosda SE
tenggelamkan dewi...
Aulia Yumi Rosda SE
makin seru nih...
Aulia Yumi Rosda SE
Ramon salah orang 🤣🤣🤣
Aulia Yumi Rosda SE
kenapa sih Olivia dibuat buta??
jadi kesal
Aulia Yumi Rosda SE
ikuti saja dulu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!