Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Menjenguk Ibu
Setelah memastikan daftar bahan makanan yang harus dibeli di pasar, Kania berjalan kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kain.
Namun, baru beberapa langkah menyusuri lorong rumah, langkahnya tiba-tiba tertatih.
Sebuah rasa ngilu yang teramat tajam menusuk dari pangkal paha hingga ke betis kirinya.
"Akh..." Kania spontan mengerang tertahan. Tangannya langsung mencengkeram kusen pintu dengan kuat. Rasa nyeri itu datang begitu tiba-tiba dan luar biasa hebat hingga membuat wajahnya meringis pucat pasi.
Perlahan, ia merosot sedikit dan mengusap-usap lutut kirinya yang terasa berdenyut.
"Kenapa harus kambuh lagi sekarang?" rintihnya lirih.
Setahun terakhir pasca kecelakaan masa lalunya, kakinya hampir tak pernah bermasalah. Ia bahkan sudah mulai terbiasa berjalan normal tanpa terlalu banyak merasakan ngilu.
Tapi entah karena beban pikiran atau kelelahan, beberapa minggu belakangan nyeri itu kembali menyerang. Semakin sering. Semakin menyiksa hingga ke tulang.
Kania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan tangis perih. Sebenarnya, ia sangat ingin memeriksakan kakinya ke dokter ortopedi.
Hanya saja biaya berobat dan terapi tidaklah murah. Dan dalam kondisi rumah yang seperti neraka ini, meminta uang kepada Firman hanya akan memberikan amunisi baru bagi Tuti untuk semakin mencacinya sebagai si miskin yang menyusahkan.
Dengan menarik napas panjang dan memejamkan mata, Kania memaksa dirinya untuk kembali berdiri tegak.
"Sedikit lagi, aku harus kuat," bisiknya pada dirinya sendiri.
*
*
Kania berjalan pelan menyusuri pasar yang becek sambil menenteng keranjang. Hari ini ia harus membeli bahan makanan kualitas terbaik. Ia tidak ingin Tuti kembali menemukan celah untuk memaki dan mempermalukannya di depan banyak orang.
Saat sedang memilih tomat merah di salah satu lapak, sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya.
"Kak Kania?"
Kania menoleh dan mendapati adiknya berdiri di sana. "Nisa?"
Gadis muda itu tersenyum kecil, tangannya memegang erat sebuah kantong kain lusuh berisi sayur-mayur murah.
"Kakak belanja juga?"
"Iya, Nis. Buat masak makan siang di rumah," jawab Kania lembut.
Nisa mengangguk mengerti. "Aku juga baru selesai beli lauk. Ibu tiba-tiba pengin makan sayur bening bayam buatan rumah."
"Gimana keadaan Ibu sekarang, Nis? Maaf Kakak belum sempat mengabari kamu lagi."
"Alhamdulillah, belakangan ini sudah jauh lebih baik, Kak."
Seketika, sebongkah batu besar yang menindih dada Kania terasa terangkat. "Syukurlah kalau begitu."
"Kakak mau mampir sebentar? Ibu sering banget nanyain Kakak," tawar Nisa penuh harap.
Kania melirik jam tangan di pergelangannya. Rumah ibunya memang hanya berjarak beberapa ratus meter dari pasar ini. Ia berhitung di dalam kepala, masih ada jeda waktu sekitar satu jam sebelum tamu arisan mertuanya berdatangan.
"Boleh. Kakak juga kangen banget sama Ibu."
Rumah berdinding separuh batako dan papan kayu itu masih sama seperti terakhir kali Kania berkunjung. Catnya semakin mengelupas, atapnya mungkin masih bocor jika hujan, tetapi entah mengapa udara di dalamnya selalu terasa menenangkan.
Begitu Kania melangkah melewati ambang pintu, seorang wanita paruh baya yang sedang melipat baju di ruang tamu langsung mendongak.
"Kania...."
"Ibu," lirih Kania.
Kania setengah berlari, menjatuhkan tubuhnya dan memeluk wanita tua itu erat-erat. Matanya langsung memanas. Pelukan ibunya adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak dihakimi.
"Alhamdulillah, ibu kelihatannya sudah sehat," bisik Kania dengan suara bergetar.
Sang ibu mengusap punggung putri sulungnya dengan penuh kasih sayang. "Sudah mendingan, Nak."
"Syukur, Bu."
Saat pelukan terlepas, sang ibu menahan kedua bahu Kania. Matanya menatap lekat-lekat wajah putrinya.
"Kania, kamu kok kurusan begini, Nak?" tegur ibunya cemas.
Kania buru-buru tersenyum kecil, memalingkan wajahnya. "Nggak kok, Bu. Perasaan Ibu saja."
"Wajahmu juga pucat sekali. Kantung matamu hitam. Kamu sakit?"
Kania segera menggeleng. "Cuma lagi kecapekan saja banyak urusan di rumah."
Tatapan sang ibu berubah semakin sendu, seolah bisa membaca luka di balik kebohongan putrinya.
"Kamu jangan bohong sama Ibu, Kania."
"Aku benar-benar baik-baik saja, Bu."
Meski bibirnya melengkungkan senyum, sepasang mata Kania tak mampu menutupi gurat kelelahan batin yang selama ini ia pikul.
Sang ibu menghela napas berat.
"Ibu tahu kamu pasti menyimpan banyak beban di sana."
Kania menggenggam kedua tangan ibunya. "Selama aku lihat Ibu sehat dan Nisa baik-baik saja, aku sudah sangat senang, Bu. Sungguh."
Kalimat tulus itu justru membuat air mata ibunya menetes. "Maafkan Ibu, Nak."
"Lho? Ibu minta maaf buat apa?"
"Harusnya setelah kamu menikah, kamu hidup tenang dan bahagia. Bukan malah terlihat setertekan ini."
Kania menggeleng cepat. "Jangan bilang begitu, Bu. Aku bahagia."
"Tapi mata dan tubuhmu berkata lain, Kania."
Kania memilih tersenyum dalam diam. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Ia tak akan pernah menceritakan masalah rumah tangganya.
Tak lama, Nisa datang dari dapur membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.
"Diminum dulu, Kak." Nisa meletakkan gelas itu, lalu duduk merapat di samping kakaknya. "Kak."
"Hm?" sahut Kania.
"Maaf ya, Kak."
"Kok tiba-tiba minta maaf?"
Nisa menunduk. "Soal uang pengobatan Ibu waktu itu, aku belum bisa mengembalikannya."
Kania menatap adiknya dengan teduh. "Nis, kan Kakak sudah bilang, nggak usah dipikirkan lagi."
"Tapi itu uang tabungan Kakak. Uang dari kak Firman juga."
"Nggak apa-apa."
"Kalau nanti aku sudah dapat kerja tetap, aku janji akan cicil dan mengembalikan semuanya," tekan Nisa sungguh-sungguh.
Kania tersenyum mengusap puncak kepala adiknya. "Kakak nggak pernah menganggap itu utang."
Nisa menggigit bibirnya. "Sebenarnya aku pengin banget lanjut kuliah, Kak."
Kania mengangguk pelan. Ia tahu adiknya bermimpi menjadi guru.
"Tapi untuk sekarang, aku nggak mau membebani kak Firman lagi."
Selama setahun ini Nisa memilih diam merawat ibunya. Setelah ibunya sembuh total, baru Nisa akan mencari kerja.
Kania langsung memeluk Nisa. "Nisa nggak pernah jadi beban siapa-siapa."
"Tapi aku nggak mau orang-orang di rumah Kakak menganggap keluarga kita cuma bisa menadahkan tangan meminta-minta, Kak."
Deg, hati Kania seolah diremas. Ia tahu persis ucapan adiknya itu lahir dari hinaan-hinaan yang pernah dilontarkan Tuti saat Nisa datang meminjam uang.
"Jangan dengarkan omongan orang. Kamu pasti akan dapat pekerjaan yang baik," hibur Kania. "Kakak akan selalu mendoakanmu."
Nisa mengangguk menghapus air mata. "Makasih, Kak."
Drrt! Drrt!
Ponsel Kania tiba-tiba bergetar.
"Assalamualaikum, Ma—"
Belum selesai Kania mengucapkan salam, suara lengkingan Tuti meledak.
"Dimana kamu, perempuan malas?!"
Kania refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aku masih di dekat pasar, Ma."
"Ke pasar kok lama sekali, hah?!"
"Aku tadi sekalian cari daging."
"Gimana kalau teman-teman arisan Mama keburu datang?! Kamu mau disuguhi air putih saja?! Mau bikin malu keluarga suamimu?! Cepat pulang sekarang juga!"
"I-iya, Ma."
"Jangan banyak alasan!"
Sambungan diputus kasar. Kania memandangi layar ponselnya dengan dada sesak.
"Kamu dimarahin mertuamu lagi?" tanya sang ibu pelan.
Kania memaksakan senyum. "Nggak kok, Bu. Ini disuruh cepat pulang karena tamu mau datang. Aku harus pamit sekarang."
Ibunya ikut berdiri. "Hati-hati, Nak."
"Iya, Bu."
Nisa mengantar kakaknya sampai ke halaman. Saat melihat Kania berjalan tertatih menenteng belanjaan yang berat, hati Nisa perih.
"Kak..." panggil Nisa.
Kania menoleh.
"Semoga suatu hari nanti, Kakak juga bisa benar-benar merasakan bahagia."
Kania hanya tersenyum mengangguk, lalu berbalik.
Namun, saat kakinya kembali melangkah, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia menangis dalam diam dan terus berjalan tanpa berani menoleh lagi.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...