Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 017: Kembali Berkarya dan Dua Wajah Cinta
Sesampainya di rumah, Aldara langsung duduk di meja kerjanya dan membuka laptop yang sudah lama tidak ia sentuh. Sudah berbulan-bulan ia menghentikan kegemarannya menulis, terganggu oleh berbagai masalah dan gejolak perasaan yang sempat melanda hatinya. Malam ini, ia merasa ada semangat baru yang mendorongnya untuk kembali menekuni hobi yang dulu menjadi pelarian terbaiknya.
“Sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis. Semoga kali ini kata-kata kembali mengalir lancar seperti sedia kala,” gumam Aldara dalam hati sambil membuka aplikasi Noveltoon dan bersiap menyusun cerita baru.
Namun jari-jarinya baru saja akan menyentuh keyboard untuk mengetik, layar ponsel di sampingnya berdering lembut. Begitu melihat nama yang tertera, senyum lebar langsung terukir di bibirnya. Itu panggilan dari Aries.
Dengan cepat ia menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan video. “Assalamualaikum, sayang,” sapa Aldara dengan wajah ceria yang langsung terlihat jelas di layar.
“Walaikumsalam. Belum tidur juga rupanya?” jawab Aries dari seberang, suaranya terdengar hangat dan menenangkan.
“Belum. Tadi aku baru saja membuka laptop, mau mencoba menulis lagi setelah sekian lama berhenti,” jawab Aldara jujur.
“Baguslah kalau begitu, asalkan jangan sampai begadang terlalu larut. Jaga kesehatan dan jangan sampai mata lelah, ya,” pesan Aries dengan nada perhatian yang tak pernah berubah.
“Iya, aku ingat. Nanti kalau sudah mengantuk pasti langsung berhenti dan tidur,” jawab Aldara sambil mengangguk patuh.
Setelah mengakhiri percakapan singkat namun menyenangkan itu, Aldara kembali berkonsentrasi. Selama hampir dua jam ia terus menulis tanpa henti, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan tiga bab sekaligus dengan perasaan puas. Setelah menyimpan hasil karyanya, ia pun segera membereskan meja dan bersiap untuk beristirahat.
Keesokan paginya, saat matahari baru saja menyingsing, ponsel Aldara kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari Aries: “Assalamualaikum, sayang. Jangan lupa sarapan dan jaga diri ya. Aku berangkat kerja dulu.” Membaca kalimat sederhana itu saja sudah cukup membuat hati Aldara terasa hangat sepanjang hari.
Berbeda dengan ketulusan yang terjalin di antara Aldara dan Aries, kisah cinta Siska dan Randy menyimpan rahasia kelam yang belum terungkap. Di mata orang lain, hubungan mereka terlihat semakin harmonis dan penuh romantisme.
Setiap kali bertemu, Randy selalu datang dengan membawa seikat bunga segar untuk Siska, disertai ucapan manis dan janji-janji indah yang membuat hati gadis itu meleleh.
“Untukmu, satu-satunya wanita yang paling aku cintai,” ucap Randy sambil menyerahkan bunga itu dengan senyum yang tampak tulus.
Siska menerimanya dengan wajah berseri-seri, merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. “Terima kasih, Sayang. Aku sangat menyukainya,” jawabnya lembut.
Namun, apa yang tidak diketahui Siska adalah bahwa sikap manis itu bukan hanya untuk dirinya saja. Di saat yang berbeda, Randy melakukan hal yang sama persis pada wanita lain. Ia juga memberikan seikat bunga dengan jenis yang sama, mengucapkan kalimat yang sama, dan berjanji setia pada wanita itu pula.
“Kamu adalah satu-satunya yang ada di hatiku, jangan pernah meragukannya,” ucapnya pada wanita lain itu, seolah-olah kata-kata itu belum pernah diucapkannya pada siapa pun sebelumnya.
Randy merasa pandai memainkan peran, mengira kebohongannya tidak akan pernah terkuak. Ia menikmati perhatian dan kasih sayang yang didapat dari dua sisi, tanpa menyadari bahwa kebenaran yang disembunyikan lama-kelamaan pasti akan terungkap juga, dan saat itu tiba, luka yang ditimbulkannya akan jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Sementara itu, Siska tetap hidup dalam kebahagiaan semu, menganggap hubungannya telah pulih sepenuhnya dan percaya bahwa Randy benar-benar telah berubah menjadi pria yang setia.