Diana, seorang gadis bisa yang di anggap seorang Wanita malam oleh seorang pria. Gadis yang bahkan belum lama ini ia kenal. Pria bernama Andra Atmaja Wiguna berfikir jika Diana adalah wanita malam yang bahkan tidak memikirkan perasaan orang tuanya.
Tetapi saat Andra tau yang sebenarnya, pria itu malah menyatakan perasaannya dan melamar Diana untuk menjadi istrinya.
Apa yang akan terjadi?
Apakah Seorang CEO dari perusahaan terkenal bisa setia dan mencintai Diana sepenuh hati. Atau ada sesuatu yang membuatnya ingin menikahi Diana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laksmi 93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia kakak Kanaya
Satu jam berkutat di kamar mandi, entah apa yang ia lakukan, akhinya Diana keluar dengan wajah segar. Diana membuka lemari pakaiannya, mencari baju yang sekiranya cocok untuk dirinya kenakan. Diana menemukan Dress berwarna Biru dongker. Seingat Diana Dress itu pemberian dari Alex saat ulang Tahun nya dulu.
Diana menatap pantulan dirinya di cermin. Sempurna, benar-benar terlihat sempurna, warna Dress itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Tidak lupa Diana memoles wajahnya dengan sedikit make up tipis. Diana memang tidak suka terlalu banyak riasan, cukup dengan krim dan lip krim berwarna senada dengan bibirnya. Jika Diana menggunakan make up terlalu tebal, ia merasa dirinya seperti badut yang akan kontes.
Tepat saat Diana ingin mengambil tas, ponsel Diana berbunyi.
"Di gue udah di depan gang rumah lo." Kirana
"Oke gue meluncur kesana, tunggu ya." Diana
Setelah membalas pesan dari Kirana, Diana langsung menuju ke depan gang rumah nya. Diana melihat Kirana melambaikan tangan di dekat mobil berwarna merah.
Diana menatap kanan kiri sebelum menyebrang, karena Diana tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu menimpanya lagi.
"Di, kaki lo kenapa lagi. Kok jalan lo pincang gitu?" tanya Kirana saat melihat Diana berjalan pincang.
"Oh ini, kaki gue lecet karna sepatu ini." jawab Diana
"Udah tau bikin lecet, kenapa masih lo pake?"
Diana nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak Gatal."ini satu-satunya yang gue punya. gak mungkin kan gue ke rumah Kanaya gak pake alas kaki." ujar Diana
Kirana menghela nafas berat. Sahabatnya ini benar-benar unik."Ya kan bisa pake sendal biasa. " ujarnya
"yah gak mecing dong. "
Kirana memutar bola matanya, malas mendengar ucapan Diana.
"Eh Ki, lo bawa mobil siapa ini?"tanya Diana
"Gue bawa mobil om gue, kebetulan om gue baru datang dari kota xxx. katanya mau liburan." jawab Kirana
"Oh."
"Yaudah yuk masuk. Nanti kemaleman." kata Kirana yang langsung di angguki oleh Diana
Mobil yang di kendarai Kirana melaju menuju kediaman Kanaya. Keduanya tidak tau tempat tinggal Kanaya. Hanya saja mereka tau jika Kanaya adalah anak orang kaya.
Setengah jam perjalanan mereka kini memasuki perumahan elit di kota itu. Kirana tidak berhenti bergumam saat melihat rumah-rumah besar di perumahan itu.
Kirana mencari Nomor rumah Kanaya yang ia minta tadi kepada Kanaya sebelum mereka berangkat.
_
Sementara itu Di rumahnya, Kanaya sudah sangat tidak sabar. ini pertama kalinya kedua sahabatnya itu mau berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama menjalin persahabatan.
Diana dan Kirana selalu menolak jika Kanaya ingin mengajak Mereka kerumahnya, alasan mereka cukup tidak masuk di akal dan selalu membuat Kanaya kesal.
"Nay, lo itu anak orang kaya, kami malu jika harus main ke rumah lo."
Sekiranya itulah alasan mereka setiap Kanaya mengajak keduanya.
Kakak Kanaya mengangkat satu alisnya saat melihat adik satu-satunya itu tersenyum sendiri saat duduk di dekatnya.
"Nay obat anti depresi kamu udah kamu makan kan?" Pertanyaan itu membuat Kanaya melotot ke arah sang kakak.
"Apaan sih bang, udah gila ya nanya gitu ke adik sendiri." ujar Kanaya sewot.
"Kakak gak gila. Kamu tuh, dari tadi senyum-senyum sendiri. Gak waras."
"Aku cuma senyum aja kali bang, bukan pertanda aku gila." ujar Kanaya
"Gitu aja marah, katanya lagi sakit. Bukannya istirahat kamu malah ganggu kakak disini."
"Ye, siapa yang ganggu kakak. kakak aja yang ngerasa terganggu sama kehadiran aku. Lagian ni bang ya, teman-teman aku mau datang menjenguk aku hari ini bang, mereka sudah di jalan." ujar Kanaya begitu senang.
"Akhirnya setelah sekian lama, mau juga mereka datang kesini." imbuh Kanaya
tak berselang lama terdengar bunyi bel rumah kanaya ,dengan girang kanaya berlari menuju pintu rumahnya.
pintu terbuka. Kanaya melihat kedua temannya berdiri dengan wajah senang.
"Kanaya, gue kira lo gak bisa bangun." ujar Diana saat melihat sahabatnya itu berdiri tegak di depannya.
"Wah, lo ngerjain kita ya Nay." Kirana menimpali.
"Eh enggak kok, gue tadi udah minum obat, jadi udah mendingan. Masuk yuk, gak enak berdiri di depan pintu." ujar Kanaya
Diana dan Kirana saling tatap, tapi akhirnya keduanya pun mengikuti Kanaya masuk ke dalam rumah.
"Nay, rumah lo sepi ya." ujar Kirana saat melihat kondisi rumah Kanaya.
"Ya gitu deh, gue kan cuma tinggal bertiga doang sama Mama dan abang gue." kata Kanaya
"Terus nyokap lo mana?" tanya Diana
"Nyokap gue lagi beli cake, sebentar lagi juga pulang. Tadi sih abang gue ada di depan tv, tapi mungkin dia pergi ke kamarnya saat gue bukain pintu kalian." jawab Kanaya.
"Oh." ucap Keduanya
"Duduk dulu ya, gue suruh bibi buatin kalian minum." ujar Kanaya yang di angguki oleh keduanya
Kanaya pergi ke dapur untuk menyuruh artnya membuatkan minuman untuk kedua sahabatnya.
"Mbk, tolong buatin minuman buat temen Kanaya ya, sekalian cemilan nya juga." ucap Kanaya
"Baik Non, segera mbk buat kan." ucap mbk jum
Setelah memberi tahu Mbk jum, Kanaya kembali ke ruang tamu.
"Nay, kita gak lama ya disini. Gak enak gue sama Mama dan abang lo." ucap Diana saat Kanaya sudah kembali, di ikuti Mbk jum dari arah belakang.
"Mikir pulangnya nanti aja Non, Nih Mbk sudah Buatkan minuman segar dan cemilan. Monggo di cicipi dulu." ujar mbk jum sambil meletakan minuman dan beberapa cemilan.
"Eh, iya mbk. Makasi." ujar Diana
"Sama- sama Non. Mbk tinggal ke belakang ya."
Diana dan Kirana mengangguk
Setelah mbk Jum pergi.
"Kalian kesini naik apa?" tanya Kanaya.
"Gue bawa mobil om gue, mumpung lagi ada." jawab Kirana
"Oh. bagus kalau gitu, kalian bisa pulangnya lebih malam." ujar Kanaya senang.
"Ya gak gitu juga kali Nay, masak lo tega nyuruh kita pulang malam."
Kanaya nyengir
"Iya, jam 10 deh , normal kan." ujar Kanaya.
Keduanya mengangguk, mereka melanjutkan obrolan santai mereka. Yang entah apa yang mereka obrolkan, yang jelas mereka terlihat begitu bahagia.
Sementara Kakak Kanaya yang baru saja keluar dari dalam ruang kerjanya kini berjalan menuruni anak tangga.
"Nay apa mama sudah pulang?"
Pertanyaan itu membuat Diana terdiam kaku.
"Suara itu." batin Diana.
Diana memutar kepalanya, saat pandangan keduanya bertemu Diana melebarkan matanya.Diana begitu terkesiap melihat sosok pria yang ia lihat.
"Astaga, jadi Rafa itu kakaknya Kanaya." Diana kembali membatin.
Sementara Andra pun sama, ia juga terkejut melihat wanita yang dia perhatikan sore tadi.
"Ya elah Bang, toak banget sih. gak tau lagi ada tamu apa. Mama belum pulang bang, coba abang telpon Mama." ujar Kanaya
Rafa tidak menghiraukan ucapan Kanaya, rasa terkejutnya membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih.
"Jadi gadis ini sahabat Kanaya." Batin Rafa
"Bang." panggil Kanaya
"Kak Rafa." panggilnya lagi
Tapi tidak ada jawaban dari Rafa, tatapannya masih setia pada satu titik.
Karena Kesal Kanaya langsung mendekati Andra.
"ABANG!!."teriak Kanaya tepat di telinga Rafa.
"Astaga dek, kamu mau bikin kaka budek." kesal Rafa sambil mengurek telinganya yang terasa sakit akibat teriakan Kanaya.
"Habis, di panggil bukannya jawab malah bengong kayak sapi ompong." ujar Kanaya
"Nih ya bang. Temen-temen Kanaya emang cantik, tapi gak segitunya juga kali liatnya." ujar Kanaya menggoda.
"Gak usah kepedean, mana ada kakak liatin temen kamu." kilah Rafa
"Ih, pake acara berkilah. Itu buktinya wajah kakak merah." ujar Kanaya menahan senyum
Rafa melotot ke arah Kanaya." Oh jadi kamu mau uang jajan kamu kakak potong."
Kanaya mendengus kesal, kakaknya itu selalu saja."Iya deh, Abang yang benar."
Rafa berlalu meninggalkan Kanaya tanpa Menghiraukan adiknya itu. Sementara Diana masih merasa berdebar, entah kenapa ia jadi takut.
.
.
Lanjut thor