Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai
Derap langkah kaki yang berat menggema di tangga. Arthur dan Tirta bergegas naik ke koridor lantai dua. Wajah kedua pria paruh baya itu tampak tegang. Di belakang mereka, Arsen mengekor dengan langkah santai, cengiran tengilnya tercetak jelas di wajah tampannya.
"Ada apa, Diana? Kenapa berteriak begitu keras?" tanya Arthur tegas, matanya menyipit tajam.
Diana menunjuk ke arah kamar utama sebelah kanan, lalu beralih ke koridor kiri. Tubuhnya gemetar menahan amarah. "Lihat ini, Pa! Lihat apa yang dilakukan anak sulungmu!"
Rossa melangkah maju, merangkul bahu Freya yang berdiri kaku di dekat pagar pembatas. "Tiga bulan, Jeng Diana! Anak-anak kita sudah tiga bulan menikah, dan mereka ternyata tidur terpisah!"
Tirta tersentak, wajahnya langsung merah padam. Ia menatap putri tunggalnya dengan pandangan menuntut. "Freya! Jelaskan pada Papi. Apa maksud semua ini?"
Freya hanya terdiam, jemarinya meremas ujung gaun sutranya. Poninya bergerak halus saat ia menunduk, mencoba menata kalimat di kepalanya.
"Kak Freya, lo beneran diasingkan sama Mas Kulkas?" bisik Arsen tengil, menyenggol lengan Freya dengan sikutnya.
"Arsen, diam!" bentak Arthur tanpa menoleh.
Arthur memandang pintu kamar Adrian yang terbuka lebar, memperlihatkan seprei champagne yang kaku. "Diana, apa kamu yakin?"
"Lihat sendiri ke dalam lemarinya, Pa! Lemari kamar Freya hanya berisi gaun-gaunnya! Tidak ada satu pun jas atau kemeja Adrian di sana!" seru Diana, suaranya naik satu oktav akibat emosi yang membakar dada.
Tirta bertolak pinggang, menatap Freya dengan raut kecewa yang mendalam. "Freya Winata, jawab Papi. Kenapa kamu menyembunyikan hal fatal seperti ini dari kami?"
Freya mendongak, menarik napas dalam-dalam memasang senyuman manja yang dipaksakan. "Papi... ini bukan masalah besar kok. Mas Adrian cuma butuh waktu untuk adaptasi."
"Bukan masalah besar?!" potong Rossa tidak terima, matanya membelalak lebar.
"Kamu itu anak tunggal keluarga Winata, Freya! Kamu dibesarkan dengan kemewahan untuk dihargai, bukan untuk ditelantarkan di kamar sebelah seperti orang asing!"
"Mas Adrian membuat peraturan tertulis, Mi," aku Freya pelan, suaranya renyah namun sarat akan kejujuran yang menekan.
"Dia bilang, secara privat kita asing. Pernikahan ini hanya transaksi bisnis keluarga."
'Gila, si Mas Kulkas berani banget,' batin Arsen tertawa geli di dalam hati.
Remaja itu mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di tengah situasi kritis ini. Baginya, kekakuan Adrian yang berujung petaka ini adalah hiburan paling lucu minggu ini.
"Kurang ajar!" bentak Arthur menggelegar, membuat Pak Hadi yang mengintip di ujung tangga langsung menarik kepalanya ketakutan.
"Adrian benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Dia menganggap pernikahan suci ini sebagai sistem yang bisa dia atur sendiri!"
"Saya tidak terima, Arthur! tegas Tirta dengan wibawa pebisnis baja yang mengintimidasi.
"Jika anakmu tidak bisa menghargai putri saya, lebih baik kita akhiri saja kemitraan kita sekarang juga!"
"Tenang, Tirta. Saya sendiri yang akan memberi pelajaran pada anak keras kepala itu," sahut Arthur, napasnya memburu kasar.
Sementara itu, di pelataran depan mansion, deru mesin Rolls-Royce Phantom milik Adrian berhenti dengan suara rendah. Jaka buru-buru turun dan membukakan pintu belakang. Adrian melangkah keluar dengan postur tubuhnya yang tegap. Jas hitam sudah tersampir kaku di lengan kirinya.
Langkah kaki Adrian mendadak terkunci di atas marmer teras. Matanya yang tajam menangkap kehadiran Mercedes-Maybach milik ayahnya, Bentley Bentayga milik mertuanya, dan motor sport Ducati milik Arsen.
Adrian mengernyitkan dahi, rahangnya mengeras seketika. "Ada apa mereka datang bersamaan tanpa memberi tahu? Ini di luar jadwal sistem," gumam Adrian dingin pada dirinya sendiri.
Detik berikutnya, sebuah kilasan memori melintas di otaknya. Kamar mereka. Pembagian koridor kiri dan kanan. Pintu kamar yang tidak pernah dikunci.
"Sial," bisik Adrian serak, jakunnya naik turun dengan cepat.
Ketakutan logis mendadak menyerang sistem pertahanannya. Tanpa membuang waktu lagi, sang Tuan Kaku berjalan cepat, setengah berlari mendorong pintu ganda mansion untuk menghadapi badai yang sudah menunggunya di dalam.