Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Pembuktian
Malam puncak Gala Dinner Pengusaha Internasional di Grand Ballroom Hotel Raffles Jakarta berlangsung dengan kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan pendar keemasan, memantul pada deretan gelas sampanye dan gaun-gaun malam mewah para tamu undangan. Ratusan taipan, diplomat, investor asing, serta awak media papan atas dari berbagai penjuru dunia berkumpul di ruangan tersebut.
Di tengah riuhnya bisik-bisik mengenai persaingan bisnis global, atmosfer di dalam ballroom mendadak berubah ketat saat pintu utama berukir emas dibuka oleh petugas keamanan.
Devan Elvano melangkah masuk. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan tuxedo hitam berbahan sutra eksklusif yang membalut sempurna tubuh tegapnya. Namun, bukan hanya aura dominan Devan yang menyita perhatian seluruh ruangan malam itu, melainkan sosok wanita anggun yang berdiri di sampingnya, menggamit erat lengan sang miliarder.
Mentari tampil memukau dalam balutan gaun malam haute couture berwarna merah marun melayang dengan aksen sulaman benang emas di sepanjang pinggang. Rambut hitamnya ditata sanggul modern yang elegan, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian simpel. Di jari manisnya, cincin berlian biru berkilau indah, menegaskan posisinya sebagai Nyonya Besar Elvano Group sekaligus pemegang saham utama.
"Lihat itu... Devan Elvano dan istrinya," bisik salah seorang investor senior dari Singapura di sudut ruangan. "Kabar burung menyebutkan bahwa ada perselisihan kepemilikan aset antara Elvano Group dan Vaneck Corporation yang akan memanas malam ini."
"Dua raksasa akan bertabrakan," timpal pengusaha lainnya seraya menyesap anggur.
Mentari merasakan ratusan pasang mata menatap ke arah mereka, namun ia tidak lagi menundukkan kepala seperti beberapa minggu lalu. Dampingan Devan di sisinya serta kebenaran yang tersimpan di balik kotak kayu tua yang kini dijaga ketat oleh tim keamanan di mobil memberikan rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.
"Kamu tenang?" bisik Devan sangat rendah, menundukkan kepalanya sedikit ke arah Mentari.
"Sangat tenang, Suamiku," sahut Mentari dengan senyuman manis yang begitu memikat. "Aku justru tidak sabar melihat bagaimana reaksi pria Swiss itu nanti."
Devan terkekeh rendah, suara tawa yang sarat akan kepuasan atas perubahan keteguhan hati istrinya. Namun, tawa itu seketika mereda ketika dari arah tengah ruangan, sosok pria berjas abu-abu dengan senyuman dingin melangkah menghampiri mereka.
Julian Vaneck. Pria keturunan Eropa-Asia itu memegang gelas kristal berisi wiski, didampingi oleh Marcus dan beberapa pengacara internasionalnya.
"Selamat malam, Pak Devan Elvano... dan Nona Mentari Ayuningtyas," sapa Julian dengan aksen Inggris yang sangat halus namun menyiratkan provokasi yang tajam. "Atau harus kusebut Nyonya Elvano sekarang?"
Devan menghentikan langkahnya, berdiri kokoh menghadap Julian tanpa menggeser posisi Mentari sedikit pun dari sampingnya. "Tuan Vaneck. Kurasa sebuah gala dinner internasional bukan tempat yang tepat bagi seorang tamu asing untuk mencari masalah."
Julian tertawa renyah, sebuah tawa yang menarik perhatian beberapa awak media di sekitar mereka. Kamera-kamera berita mulai menyorot ke arah trio tersebut.
"Mencari masalah? Oh, tentu tidak," pangkas Julian dengan nada terkejut yang dibuat-buat. "Aku di sini hanya ingin meluruskan sejarah, Devan. Publik dan para investor di ruangan ini berhak tahu bahwa kekaisaran Elvano Group yang dipuja-puja ini berdiri di atas tanah rampasan yang sertifikat induknya adalah milik keluarga Vaneck secara sah."
Suasana di sekitar mereka seketika menghening. Para pengusaha dan jurnalis mulai berkerumun mendekat, mencium aroma skandal besar yang siap meledak.
Julian menatap Mentari dengan pandangan yang sarat akan dominasi dan rasa belas kasihan yang palsu. "Mentari... kasihan sekali kamu. Ayahmu menghancurkan reputasi keluargaku sembilan tahun lalu dengan menyembunyikan dokumen tanah itu, dan sekarang kamu malah menikahi pria yang memanfaatkan aset rampasan tersebut untuk memperkaya dirinya sendiri. Berdirilah di pihakku, dan aku akan memastikan kamu mendapatkan kompensasi yang layak."
Mentari tidak melepaskan genggamannya dari lengan Devan. Ia justru maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata abu-abu Julian dengan tatapan dingin yang tak kalah tajam dari Devan.
"Tuan Julian Vaneck," suara Mentari mengalun jernih, bergema tegas di tengah kerumunan yang menyimak. "Anda bicara tentang sejarah dan kebenaran, tapi tampaknya almarhum ayah Anda, Arthur Vaneck, lupa menceritakan satu hal penting sebelum dia meninggal di Swiss."
Alis Julian berkerut tipis. Senyum meremehkannya sedikit goyah. "Apa maksudmu?"
Devan mengangkat tangannya, memberikan isyarat dagu ke arah panggung utama. Pada saat yang sama, layar proyektor raksasa di atas panggung yang tadinya menampilkan logo sponsor acara mendadak berubah terang.
Siska bersama tim hukum Elvano Group menyambungkan data digital resolusi tinggi langsung dari laptop mereka.
BZZZT...
Di atas layar raksasa itu, terpampang jelas salinan digital beresolusi tinggi dari Surat Perjanjian Kemitraan Hak Guna Usaha Tahun 1952, lengkap dengan cap segel resmi Hak Udayana, tanda tangan kakek Mentari, serta tanda tangan asli Arthur Vaneck!
Sontak, gemuruh kaget pecah di seluruh ballroom. Para jurnalis langsung memotret layar tersebut dengan kilatan lampu kilat yang membabi buta.
"Apa-apaan ini?!" bentak Julian, wajah tampannya seketika berubah pucat pasi. Ia menoleh tajam ke arah Marcus yang juga tampak syok di belakangnya.
"Sembilan puluh empat tahun yang lalu, ayah Anda—Arthur Vaneck—menyerahkan seluruh konsesi tanah seluas tiga ratus hektar itu kepada Kakek saya sebagai pelunasan ganti rugi atas investasi proyek modal yang gagal di Eropa," terang Mentari dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan. "Dokumen asli ini tersimpan di brankas deposit bank tua sejak sembilan tahun lalu. Ayah saya tidak pernah merampas tanah siapa pun. Justru keluarga Anda yang mencoba merebut kembali apa yang sudah diserahkan secara sah demi menutupi utang judi dan kebangkrutan keluarga Vaneck di Jenewa!"
"Bohong! Dokumen itu palsu!" teriak Julian, hilang sudah keanggunan gaya bangsawan Eropa yang dipamerkannya tadi.
Devan melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka. Aura keposesifan dan dominasi mutlak sang kaisar bisnis Elvano Group terpancar sepenuhnya, menekan mental Julian hingga pria Swiss itu refleks mundur setengah langkah.
"Palsu, Tuan Vaneck?" desis Devan dengan suara bariton yang amat dingin. "Uji forensik dari laboratorium kepolisian internasional dan kehakiman Indonesia sudah memverifikasi keabsahan kertas linen dan tinta segel itu tadi sore. Dan bukan hanya itu..."
Devan merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah rekaman digital dan menyodorkannya ke arah para jurnalis yang mengerubung.
"Tim hukumku juga sudah melayangkan gugatan balik ke Pengadilan Arbitrase Internasional di Singapura atas tuduhan pencemaran nama baik, manipulasi pasar saham secara ilegal, serta pencucian uang yang dilakukan Vaneck Corporation selama tiga hari terakhir," pangkas Devan dengan senyuman sinis yang mematikan. "Aset Vaneck Corporation di Asia Tenggara resmi dibekukan mulai pukul delapan malam ini."
BOOM!
Pernyataan Devan laksana bom atom yang meratakan seluruh pertahanan Julian Vaneck. Pria itu menatap Devan dan Mentari dengan mata terbelalak lebar, badannya gemetar hebat karena kombinasi antara rasa malu, amarah, dan kehancuran finansial yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu... Devan Elvano... kamu sengaja membiarkanku bergerak di Singapura untuk menjebakku di sini?" bisik Julian dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Aku sudah memperingatkanmu di Maladewa, Julian," pangkas Devan dengan pandangan jijik. "Jangan pernah mengusik istriku, dan jangan pernah menyentuh milik Elvano Group. Pengawal, kawal Tuan Vaneck keluar dari gedung ini sebelum pihak kepolisian menahannya atas permohonan ekstradisi."
Dua pengawal bertubuh kekar bersetelan hitam langsung maju, mencengkeram lengan Julian dan menyeretnya keluar dari ballroom di depan ratusan mata pengusaha dunia dan sorotan ribuan kamera media. Teriakan frustrasi Julian perlahan memudar seiring tertutupnya pintu ganda ruang acara.
Keheningan di dalam ballroom hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya riuh tepuk tangan dan decak kagum pecah memenuhi ruangan. Para investor asing dan taipan lokal berebut melangkah mendekati Devan dan Mentari, melayangkan pujian atas kemenangan mutlak mereka menghancurkan konspirasi tingkat internasional tersebut.
Namun, Devan tidak memedulikan sorotan kamera atau pujian para kolega bisnisnya. Ia merangkul pinggang Mentari erat-erat, membimbing istrinya keluar menuju lorong privat hotel yang lebih tenang.
Di balkon VIP lantai atas yang menghadap ke gemerlap malam Jakarta, angin sejuk berembus pelan, memainkan ujung gaun merah Mentari.
Devan berdiri di belakang istrinya, melepaskan jas hitamnya lalu menyampirkannya di bahu Mentari agar wanita itu tidak kedinginan. Ia memeluk tubuh Mentari dari belakang, menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Kamu luar biasa malam ini, Nyonya Elvano," bisik Devan lembut, mengecup leher wangi Mentari dengan penuh kasih sayang. "Cara kamu membungkam Julian di depan media... kamu benar-benar dilahirkan untuk menjadi permaisuri di sisiku."
Mentari memegang lengan Devan yang melingkar di perutnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Rasa lega yang luar biasa memenuhi seluruh relung jiwanya.
"Semuanya sudah benar-benar selesai, kan, Devan?" tanya Mentari lirih.
Devan tersenyum tipis, membalikkan tubuh Mentari agar menghadapnya. Ia merangkuh pipi halus Mentari, menatap mata bening wanita yang menjadi seluruh alasan hidupnya.
"Musuh-musuh dari masa lalu sudah hancur sepenuhnya, Mentari," tutur Devan dengan suara bariton yang sarat akan janji abadi. "Tidak ada lagi bayang-bayang Vaneck, Bramantyo, atau pengkhianat mana pun. Mulai malam ini, yang ada hanya masa depan kita."
Devan mendekatkan wajahnya, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang hangat, dalam, dan penuh kemenangan. Di bawah naungan langit Jakarta dan kejayaan kekaisaran Elvano Group, dua hati yang telah melewati berbagai badai kehidupan itu kini berdiri kokoh, siap menyambut lembaran baru kehidupan mereka yang dipenuhi kebahagiaan sejati.