NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Srek.

Ia meletakkan Kartu Hitam VIP berlambang mahkota emas milik Grup Malika itu tepat di atas meja.

Cahaya lampu aula memantul dari permukaan kartu logam eksklusif itu hingga menyilaukan mata.

Begitu melihat logo mahkota emas tersebut, kedua petugas keamanan itu seketika memucat dan langsung membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.

"M-maafkan kelancangan kami Tuan, kami tidak tahu bahwa Anda adalah tamu kehormatan tingkat VVIP dari Grup Malika." Ucap petugas itu dengan suara bergetar ketakutan.

Pak Bowo sang agen properti juga ikut berdiri dan menatap seluruh orang di aula itu dengan wibawa tinggi.

"Tuan Arka ini adalah mitra strategis utama Nona Clara Malika, limit kredit kartu itu jauh di atas harga gedung manapun di kota ini." Pak Bowo memberikan pernyataan resmi yang membungkam semua keraguan.

Kevin seolah tersambar petir di siang bolong, kakinya terasa lemas hingga ia kembali jatuh terduduk di kursinya.

"Tidak mungkin, wanita jalang itu benar-benar memberikan kartu hitam saktinya pada koki rendahan ini?" Kevin bergumam dengan wajah sepucat mayat.

Juru lelang di depan panggung segera berdehem canggung untuk mencairkan suasana yang sangat tegang itu.

"B-baiklah, penawaran Tuan Arka sebesar lima miliar rupiah dianggap sah dan valid." Juru lelang itu kembali mengambil palunya.

"Apakah Tuan Kevin ingin menaikkan tawaran lagi?" Tanya juru lelang itu menatap Kevin dengan hati-hati.

Dimas langsung menarik lengan jas Kevin dengan raut wajah panik luar biasa.

"Tuan Kevin, dana maksimal dari Tuan Besar Hendra hanya lima miliar, kalau kita menawar lebih dari itu, kita bisa dimarahi habis-habisan." Bisik Dimas memperingatkan bosnya.

Kevin mengertakkan giginya dengan sangat keras hingga rahangnya berbunyi.

Harga lima miliar untuk sebuah hak sewa bangunan kosong sebenarnya sudah sangat tidak masuk akal dan rugi bandar.

Tapi harga dirinya sebagai pewaris keluarga Kusuma hancur lebur jika ia harus kalah dari musuh bebuyutannya di depan umum.

"Enam miliar!" Kevin kembali mengangkat papannya dengan napas memburu dan mata yang merah padam karena emosi.

Suasana aula seketika pecah oleh suara dengungan keterkejutan dari puluhan pengusaha kaya di sana.

Enam miliar hanya untuk sewa lima tahun adalah sebuah kegilaan murni yang tidak masuk ke logika bisnis manapun.

Arka hanya tersenyum tipis, ia sama sekali tidak peduli dengan angka uang saat ini karena Kartu Hitam itu menjamin pembiayaannya secara penuh.

"Tujuh miliar rupiah." Arka kembali mengangkat papannya dengan suara yang sangat tenang tanpa beban sedikit pun.

Wajah Kevin seketika berubah menjadi ungu menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

Ia ingin mengangkat papannya lagi, namun Dimas dengan cepat menahan tangan bosnya itu sekuat tenaga.

"Tuan Kevin sadarlah, tujuh miliar itu gila, Tuan Besar bisa membunuh kita berdua kalau tahu uang perusahaannya dihamburkan demi gengsi!" Dimas memohon dengan wajah menangis.

Kevin akhirnya melepaskan papan nomornya hingga jatuh ke lantai dengan suara berderak keras.

Brak!

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari bahwa ia baru saja kalah telak dalam perang modal yang ia mulai sendiri.

"Tujuh miliar rupiah penawaran pertama."

"Tujuh miliar rupiah penawaran kedua."

"Tujuh miliar rupiah penawaran ketiga, sah!"

Teng teng teng!

Palu kayu diketukkan dengan sangat keras menutup sesi pelelangan utama hari itu.

"Selamat kepada Tuan Arka, Anda resmi menjadi pemegang hak sewa penuh atas gedung eks restoran Elysium." Juru lelang itu memberikan selamat dengan senyum paling ramah yang ia miliki.

Nisa langsung melompat dari kursinya dan memeluk lengan Arka dengan sangat histeris karena terlalu bahagia.

"Mas Arka kita menang! Kita benar-benar akan punya restoran sebesar istana!" Nisa bersorak tanpa mempedulikan tatapan orang lain.

"Tentu saja Nisa, Dapur Arka Absolute tidak akan pernah kalah dari siapa pun." Arka mengelus kepala asistennya itu sambil tertawa renyah.

Ding!

[Misi Darurat Berhasil Diselesaikan!]

[Menyalurkan hadiah misi... Proses selesai.]

[Host mendapatkan 200 Poin Kepuasan.]

[Peningkatan Dapur Restoran Bintang Empat telah disimpan dan siap diaktifkan saat serah terima kunci bangunan.]

Kevin berdiri dari kursinya dan menatap Arka dengan pandangan penuh dendam kesumat yang sangat pekat.

"Jangan senang dulu Arka, kau pikir kau sanggup membayar tagihan tujuh miliar itu nanti?" Kevin mencoba menjatuhkan mental Arka untuk terakhir kalinya.

"Itu bukan urusanmu pecundang, urus saja restoranmu itu karena sebentar lagi aku akan membuat tempatmu sepi seperti kuburan." Arka membalas tatapan Kevin dengan aura dominasi yang sangat kuat.

Kevin tidak sanggup berkata-kata lagi, ia langsung berbalik dan berjalan keluar dari aula hotel dengan langkah dihentak keras.

Dimas berlari mengekor di belakangnya bagaikan anjing penakut yang ekornya terjepit pintu.

Setelah mengurus semua dokumen administrasi dengan pihak bank dan menandatangani kontrak utang piutang melalui jaminan Kartu Hitam Malika, Arka akhirnya memegang kunci emas bangunan tersebut.

Ia tahu bahwa utang tujuh miliar kepada Clara Malika bukanlah jumlah yang sedikit.

Namun dengan omset bulanannya yang sudah menyentuh angka setengah miliar dari sebuah kios kecil, Arka sangat yakin bisa melunasi utang itu dalam waktu kurang dari setahun di restoran barunya nanti.

Sore harinya, Arka dan Nisa berdiri tepat di depan pintu utama bangunan megah eks restoran Elysium itu.

"Mas Bos, rasanya seperti mimpi kita bisa berdiri di sini sebagai pemilik." Nisa menyentuh ukiran kayu di pintu masuk itu dengan takjub.

"Ini bukan mimpi Nisa, ini adalah buah dari kerja keras kita yang sesungguhnya." Arka memasukkan kunci emas itu ke dalam lubang kunci.

Klek.

Pintu utama terbuka perlahan, menampilkan interior ruang makan yang sangat luas, mewah, namun tertutup lapisan debu tebal.

"Sistem, aktifkan hadiah Peningkatan Dapur Restoran Bintang Empat sekarang juga." Perintah Arka di dalam hatinya.

Wush!

Sebuah gelombang cahaya biru yang sangat menyilaukan dan hanya bisa dilihat oleh Arka menyapu seluruh sudut bangunan itu.

Dalam hitungan detik, keajaiban sistem kembali mempertontonkan kekuatan mutlaknya.

Meja-meja kayu berdebu itu berubah menjadi meja marmer hitam yang sangat mengkilat dan elegan.

Kursi-kursi yang rusak langsung diperbaiki dan dilapisi dengan kulit sintetis kualitas tertinggi berwarna merah gelap.

Namun perubahan paling ekstrem terjadi di bagian belakang, tepat di area dapur utama restoran tersebut.

Semua peralatan masak kuno yang berkarat menghilang dan digantikan oleh deretan kompor gas komersial super canggih, oven pintar, dan sistem sirkulasi udara tingkat dewa.

Kulkas penyimpanan berubah menjadi ruangan pendingin raksasa berbahan stainless steel yang bisa menjaga kesegaran bahan baku hingga berbulan-bulan lamanya.

Bahkan lantai dapurnya kini dilapisi dengan keramik khusus anti licin dan anti noda yang sangat higienis.

"Ya ampun Mas Arka, apakah Nona Clara mengirimkan tim pembersih dan perabotan baru kemarin malam? Tempat ini ajaib sekali!" Nisa berteriak histeris melihat perubahan instan di depan matanya.

"Anggap saja begitu Nisa, ini adalah hadiah kejutan dari mitra bisnis kita." Arka menjawab dengan senyum penuh rahasia.

Arka melangkah masuk ke dalam dapur bintang empat itu dan membelai permukaan kompor barunya dengan penuh kebanggaan.

Ia kini memiliki istana kulinernya sendiri, sebuah benteng kuat yang akan ia gunakan untuk menghancurkan keangkuhan keluarga Kusuma hingga ke akar-akarnya.

"Mari kita bersiap Nisa, minggu depan kita akan melakukan grand opening yang akan mengguncang seluruh kota ini." Arka menatap bayangannya di kaca oven dengan tekad yang membara.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!