Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Rumah Baru
Pagi ini Laila mengantar Adam terlebih dahulu, Laila hanya mengantar nya sampai gerbang. Karena memang peraturan sekolah nya seperti itu, tak boleh ada yang mengantar sampai ke dalam kelas.
Setelah melihat anak nya masuk ke dalam kelas, Laila pun segera mengayuh sepeda nya menuju perumahan yang tak jauh dari sekolah Adam.
Laila bukan nya tak mampu untuk membeli motor, tapi dia merasa lebih nyaman saat memakai sepeda. Semalaman Laila pun berpikir, dia ingin mencari rumah satu lantai tapi cukup besar.
Tentu nya dia ingin rumah itu mempunyai halaman depan dan belakang yang cukup luas, agar dia bisa menanam bunga yang ia suka di depan rumah dan menanam sayuran di belakang rumah.
Sungguh sederhana pikiran nya, tak lupa dia juga sudah berencana untuk merenovasi satu ruangan khusus buat putra nya agar putra nya merasa senang dan nyaman saat bekerja.
"Itu rasanya akan lebih baik," gumam Laila sambil mengayuh sepedanya.
Sebenar nya Laila takut jika dia di katakan sebagai orang tua yang memanfaat kan kemampuan putra nya untuk bertahan hidup, tapi Adam selalu meyakinkan jika tak akan ada orang yang berani mencibir mereka.
Ini adalah hobi yang sangat ingin Adam salurkan, jika dengan menekuni hobi bisa menghasilkan uang, kenapa tidak di wujudkan? Itulah pikiran Adam, anak kecil dengan pikiran berskala panjang dan luas.
Sampai di sebuah perumahan cukup elit, Laila pun menghampiri security yang sedang berjaga di depan gerbang. Dengan sangat sopan Laila pun bertanya pada nya, tapi security tersebut malah memandang Laila dengan tatapan remeh.
"Permisi pak, saya mau bertanya. Apa kah di sini masih ada rumah yang kosong? Semalam saya sudah melihat lewat internet, cuma takut nya sudah laku terjual. "
Tanya Laila sopan, security itu pun memandang Laila dari atas sampai bawah. Laila memang hanya menggunakan kemeja panjang berwarna biru laut dengan bawahan celana jeans berwarna hitam, Security itu pun tersenyum remeh.
Apa lagi saat melihat Laila hanya datang dengan sepeda lusuh nya dan warna nya sudah memudar, membuat security tertawa remeh.
Biasanya orang-orang yang datang ke sana akan berpenampilan rapi, memakai mobil dan tentunya memiliki dompet yang tebal. Lain sekali dengan penampilan Laila saat ini.
"Di sini perumahan elite Mbak, tak ada yang harga nya murah. Semua nya di atas tujuh ratus juta, Mbak nggak salah datang ke sini? "
Laila pun menggelengkan kepalanya, dia sudah menimbang-nimbang uang yang saat ini dia pegang. Dia juga sudah melihat daftar harga rumah yang ada di perumahan tersebut.
"Tidak pak, tolong pertemukan saya dengan pengelola perumahan ini. Saya ke sini memang mau melihat rumah yang saya lihat di internet semalam, jika cocok pasti langsung saya bayar cash. "
Ucap Laila tegas, security itu makin memandang Laila remeh. Dia yakin jika Laila tak sanggup untuk membeli rumah di sana, tapi security itu tetap berniat untuk mempertemukan nya dengan pengelola perumahan tersebut.
Bukan karena kasihan, tapi security tersebut ingin mempermalukan Laila di depan Bos nya. Pikiran security itu ternyata sangat licik, dia bukannya ingin menolong tapi ingin menodong.
"Mari saya antar Mbak," ujar security itu dengan tidak ramah.
Laila yang sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu tidak mempermasalahkan hal itu, karena yang terpenting saat ini dia bisa mendapatkan rumah dengan secepatnya.
Dia ingin membuat putranya tinggal di rumah yang lebih nyaman, dia ingin memberikan sebuah ruangan yang khusus untuk putranya.
"Terimakasih pak," ujar Laila dengan begitu sopan.
Laila pun mengikuti langkah security tersebut, tak lama mereka pun berhenti di depan sebuah gedung berlantai lima.
Laila pun di ajak masuk dan di suruh menunggu di loby, tak lama seorang pria matang datang menghampiri Laila.
"Siang Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu jauh sekali perlakuannya dengan security yang tadi bertemu dengan Laila, sangat sopan dan tak terlihat meremehkan orang lain.
"Perkenalan kan Tuan, nama saya Laila." Ucap Laila seraya mengulurkan tangan nya.
"Agus," Ucap Nya seraya menerima uluran tangan Laila.
"Maaf tuan,saya malem sudah lihat beberapa model rumah di internet. Saya tertarik dengan rumah satu lantai yang berukuran 70, kira kira harga nya berapa ya pak? "
Pak Agus pun tersenyum, ramah sekali pria itu saat berbicara dengan Laila. Pria itu juga terlihat begitu sopan dalam berbicara.
"Kami menyediakan banyak ukuran di sini, dari mulai tipe 21, tipe 36, tipe 45, tipe 54 dan tipe 70. Semuanya ada dua jenis, satu lantai dan dua lantai. Harga sesuai desain ,luas dan tentu nya satu atau dua lantai nya. "
Pak Agus menjelaskan dengan begitu detail, Laila pun manggut manggut. Sedangkan security yang sedari tadi melihat perbincangan Laila dengan Bos nya hanya mencebik, dia yakin kalau Laila tak mampu membayar.
Penampilan tidak meyakinkan, kendaraan yang dibawa juga hanya sebuah sepeda yang usang. Mana mungkin bisa membeli salah satu rumah yang ada di sana, sepertinya untuk jajan saja Laila harus mengemis dulu.
"Saya tertarik dengan yang satu lantai dengan ukuran 70 tuan, di sini harga nya tertera delapan ratus lima puluh juta. Apa tidak bisa kurang?" Tanya Laila.
Pak Agus terlihat tenang karena calon pembelinya begitu teliti dan terus bertanya, itu artinya dia akan dengan senang hati menjelaskan rumah yang akan dia jual.
"Itu harga cicilan selama satu tahun Nyonya, kalau Nyonya bayar nya cash kami kasih harga lebih murah dan tentu nya bonus pengurusan sertifikat tanah nya."
Wajah Laila langsung berbinar, jika seperti itu adanya dia pasti akan mendapatkan potongan harga yang besar. Karena Laila tidak berniat untuk mencicil, tetapi dia ingin membeli rumah yang ada di sana dengan cash.
"Kalau begitu saya mau beli cash."
Security tersebut nampak syok, sedangkan Pak Agus langsung mempersilahkan Laila untuk duduk.
"Kalau begitu Ibu silahkan duduk dulu, saya akan ambil kan kertas perjanjian nya di dalam."
Laila pun mengangguk paham, tak lama pak agus pun menghampiri Laila dan menyerahkan surat perjanjian nya. Laila pun mengangguk paham, pak Agus pun tersenyum senang.
"Mari saya tunjukan rumah nya, Nyonya bisa langsung melihat rumah nya, setelah itu membaca surat perjanjian nya dan tentu nya kalau sudah deal Nyonya bisa langsung menandatangani surat lalu membayar nya." Jelas pak Agus.
Laila terlihat begitu antusias mendengar apa yang dikatakan oleh pak Agus, dia terlihat sekali tidak sabar untuk segera melihat rumah yang ingin dia beli.
"Ah, iya tuan. Saya sudah tak sabar. "
Laila pun mengekori langkah pak Agus, dia mengajak Laila melihat rumah nya. Laila pun berkeliling sambil sesekali memperlihatkan kekaguman nya terhadap desain rumah tersebut, Hati Laila langsung berkata setuju.
Dia merasa tidak salah untuk datang ke sana, karena dia langsung merasa cocok dengan desain rumah yang ada di sana. Sungguh Laila merasa takjub dengan rumah-rumah yang ada di sana.
Tak apa tidak bisa membeli rumah yang paling besar di sana, yang penting dia bisa tinggal di sana dan memiliki rumah sendiri yang nyaman untuk dirinya dan juga Adam.
"Saya setuju Tuan, saya suka rumah nya. Saya mau yang ini, anak saya pasti suka."
Pak Agus tersenyum senang, karena dengan terjualnya rumah yang ada di sana, itu artinya pemasukan juga semakin bertambah.
"Baiklah, silakan baca surat perjanjian nya. Lalu setelah itu tanda tangan, dan lakukan lah proses pembayaran nya. "
Laila pun membaca berkas di tangan nya dengan teliti, setelah itu dia menandatangani surat tersebut. Setelah itu Laila pun menatap pak Agus, Pak Agus yang ditatap pun langsung bertanya.
"Kenapa Nyonya?"
Dia merasa heran karena Laila malah menatap dirinya, dia takut kalau wanita itu akan mengurungkan niatnya untuk membeli rumah di sana.
Dia takut ada salah satu perjanjian yang tidak disetujui oleh Laila, karena itu artinya tidak akan ada penjualan hari ini.
"Saya mau transfer uang nya, minta no rekening nya Tuan."
Pak Agus langsung bernapas dengan lega, karena ternyata Laila menanyakan nomor rekening dirinya. Itu artinya wanita itu akan membeli rumah yang dia suka saat ini juga.
Pak Agus pun langsung mengambil ponsel nya, dia langsung menunjukkan nomor rekening miliknya kepada Laila.
"Ini Nyonya no rekening nya, karena Nyonya bayar cash Nyonya cukup bayar tujuh ratus juta saja. "
"Baik baik, segera saya transfer. "
Laila pun langsung mengambil ponsel nya dan masuk ke mobile banking, jempol nya mulai bergoyang dan tak lama ponsel pak Agus pun mendapatkan notif pesan.
"Sudah masuk Nyonya, hari ini juga akan saya proses surat surat nya. Sekitar satu minggu, saya pastikan sudah jadi."
"Mulai besok saya sudah boleh kan menata ruangan di rumah ini? saya ingin mulai membeli perabotan untuk mengisi rumah ini besok."
"Tentu Nyonya, boleh. Dan ini kunci rumah nya, mulai besok Nyonya sudah boleh membenahi rumah pilihan anda. "Ucap Pak Agus.
Laila pun tersenyum senang, dia tidak menyangka kalau dirinya akan punya rumah juga. Walaupun memang itu hasil uang Adam, tetapi tetap saja itu sangat membanggakan.
"Terima kasih Tuan, saya sangat suka rumahnya. Sampai jumpa besok lagi, saya permisi. "
Pak Agus pun mempersilahkan, Laila sangat senang. Setelah puas berkeliling, Laila pun segera mengunci rumah tersebut.
Laila sudah berencana jika besok dia akan menghabiskan hari nya untuk berbelanja perabotan rumah tangga, dan tentu nya dia akan mulai merenovasi sebuah ruangan untuk Adam.
"Alhamdulillah, akhirnya punya rumah baru juga. Aku yakin kalau Adam pasti akan suka, aku yakin kalau Adam pasti akan sangat senang."
Walaupun saat ini dia hidup tanpa suami, tetapi dia merasa sangat bangga memiliki Adam. Dia tidak menyesal karena sudah melahirkan anak itu, karena anak itu benar-benar membawa keberuntungan bagi dirinya.