"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik Baru dan Tamu dari Milan
Kepulangan keluarga Arkananta dari Maladewa menandai dimulainya era baru kesibukan di Jakarta. Sebagai Co-Chairman Strategi Kreatif yang baru, Eleanor Vance tidak membuang waktu sedikit pun. Memanfaatkan momentum dari kesuksesan kontrak globalnya di Paris Fashion Week, Elena langsung mengeksekusi pembangunan butik flagship pertamanya di kawasan paling elite di Jakarta Selatan.
Pagi itu, butik mewah yang diberi nama “Eleanor Vance Couture” berdiri megah dengan arsitektur minimalis modern berbalut kaca tempered dan aksen marmer putih Italia. Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke pinggir jalan, menyambut ratusan karangan bunga ucapan selamat dari para konglomerat, selebriti papan atas, dan kolega bisnis internasional.
Di dalam butik, Elena tampak luar biasa menawan mengenakan gaun terusan blazer berwarna merah marun yang mempertegas lekuk tubuhnya yang anggun dan profesional. Dia sedang memeriksa detail terakhir dari jajaran manekin yang memamerkan koleksi gaun resor Bali terbarunya.
"Semua sistem pencahayaan dan pelacakan inventaris digital sudah selesai aku kalibrasi, Mama," suara anak-anak Leon memecah keheningan ruangan. Bocah lima tahun itu duduk di salah satu kursi tunggu beludru mewah sambil memangku laptopnya, sementara Lia asyik mencicipi kue makaron di meja resepsionis.
Elena menghampiri Leon dan mencium puncak kepalanya dengan gemas. "Terima kasih, Leon. Butik Mama sekarang memiliki sistem keamanan paling canggih di dunia berkat kamu."
Tepat saat itu, pintu kaca butik terbuka otomatis. Arthur Arkananta melangkah masuk dengan langkah tegapnya yang dominan. Mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit terbaik London, aura ketampanan dan kekuasaan sang CEO langsung mendominasi ruangan. Di belakangnya, Evan dan beberapa pengawal membawa beberapa kotak hadiah eksklusif.
"Selamat atas pembukaan butik pertamamu di Jakarta, Eleanor," ucap Arthur, suaranya yang bariton terdengar penuh dengan kelembutan yang teramat dalam. Dia melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Elena dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya tanpa memedulikan tatapan para staf butik yang langsung tersenyum canggung.
"Arthur, ini tempat umum," bisik Elena dengan wajah yang sedikit merona merah.
"Aku membiayai setengah dari pembangunan distrik komersial ini, Elena. Aku berhak mencium istriku di mana saja," jawab Arthur dengan nada posesifnya yang mutlak, membuat Elena hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
Acara pemotongan pita peresmian berlangsung dengan sangat meriah dan dihadiri oleh banyak media massa finansial maupun mode. Butik Elena langsung diserbu oleh para sosialita Jakarta yang berebut untuk memesan gaun rancangannya secara eksklusif.
Namun, di tengah-tengah keramaian pesta pembukaan tersebut, seorang pria bertubuh jangkung dengan rambut cokelat bergelombang dan gaya berpakaian khas Eropa melangkah masuk ke dalam butik. Pria itu memegang buket bunga lili putih yang sangat besar.
Begitu melihat sosok pria itu, mata Elena seketika membelalak karena terkejut. "Christian...?"
Pria bernama Christian itu tersenyum sangat lebar, melangkah mendekati Elena dengan langkah yang santai dan penuh karisma. "Benar-benar kamu, Eleanor. Berita tentang kesuksesanmu di Paris sampai ke telingaku di Milan, dan begitu tahu kamu membuka butik di Jakarta, aku langsung mengambil penerbangan pertama ke sini."
Christian adalah seorang fotografer mode ternama asal Italia yang juga merupakan mantan mentor sekaligus teman dekat Elena selama lima tahun masa pengasingannya di Milan. Christian-lah yang banyak membantu Elena memahami seluk-beluk industri visual di Eropa saat Elena berada di titik terendahnya.
"Terima kasih banyak sudah datang, Christian. Aku tidak menyangka kamu akan jauh-jauh dari Milan hanya untuk ini," ucap Elena ramah, menyambut buket bunga dari Christian.
Christian terkekeh, menatap Elena dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kagum yang tidak disembunyikan. "Untuk wanita sepertimu, Eleanor, ke ujung dunia pun akan aku datangi. Kamu terlihat jauh lebih indah sekarang daripada saat kita masih sering menghabiskan malam bersama di studio Milan."
Mendengar kalimat "menghabiskan malam bersama di studio Milan" yang sebenarnya merujuk pada lembur menyelesaikan proyek desain atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.
Arthur, yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan, melangkah maju dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat beberapa tamu di sekitarnya spontan mundur teratur. Pria itu berdiri tepat di samping Elena, menatap Christian dengan sepasang mata elang yang berkilat berbahaya seperti predator yang siap menerkam musuhnya.
"Elena, siapa tamu kita ini?" tanya Arthur, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, tangannya langsung berpindah mengunci pinggang Elena dengan sangat ketat, seolah ingin mendeklarasikan kepemilikan mutlak di hadapan pria asing tersebut.
Christian menaikkan sebelah alisnya, merasakan tekanan udara yang mendadak berat karena kehadiran Arthur. Namun, sebagai pria Eropa yang percaya diri, dia tidak gentar. "Ah, Anda pasti Tuan Arthur Arkananta. Saya Christian, teman dekat Eleanor saat di Milan. Saya banyak menemani dan menjaganya selama dia hidup mandiri di sana."
Kalimat "menemani dan menjaganya" bener-bener menjadi pemicu yang membakar rasa cemburu posesif Arthur hingga ke puncaknya.
Arthur menjabat tangan Christian dengan cengkeraman yang sangat kuat, menyiratkan peringatan fisik yang nyata. "Terima kasih atas bantuan masa lalumu, Tuan Christian. Namun, mulai hari ini dan seterusnya, Eleanor sudah memiliki suami dan pelindung sah yang akan menjaganya setiap detik. Kamu tidak perlu lagi mencemaskan atau menemaninya dalam bentuk apa pun."
Christian tersenyum tipis, merasakan kekuatan dari jabat tangan Arthur. "Tentu saja, Tuan Arkananta. Tapi bakat Eleanor terlalu besar untuk dikurung di dalam mansi Jakarta. Aku datang ke sini juga untuk membawa tawaran kontrak pameran foto eksklusif dari agensi pusat Milan untuknya."
Sebelum Arthur sempat meledak dan memerintahkan Evan untuk mengusir Christian dari wilayah Indonesia, sebuah suara kecil yang dingin terdengar dari bawah mereka.
Leon berdiri di samping Arthur, bersedekap dada sambil menatap Christian dengan tatapan mata yang sama persis dengan ayahnya. "Tuan Fotografer, berdasarkan data portofolio agensimu yang baru saja aku periksa lewat server internal mereka, keuntungan bersih kalian turun sebesar lima belas persen tahun ini. Anda datang ke sini bukan hanya untuk menawarkan kontrak pada Mamaku, tapi untuk menggunakan popularitas global Mama demi menyelamatkan keuangan agensimu yang di ambang kebangkrutan, bukan?"
Christian seketika membeku, wajahnya berubah menjadi sedikit pucat karena terkejut melihat seorang anak kecil bisa membongkar motif bisnis rahasianya dalam hitungan detik.
Arthur yang mendengar analisis cerdas putranya langsung tersenyum miring penuh kemenangan. Dia menepuk bahu Leon bangga. "Dengar itu, Tuan Christian. Bahkan putraku yang berusia lima tahun tahu bahwa tawaranmu tidak cukup layak untuk istriku. Evan, antarkan tamu kita ini keluar."
Christian hanya bisa menghela napas pasrah, membungkuk hormat pada Elena sebelum melangkah keluar dari butik dengan perasaan kalah telak dari duo singa besar dan kecil keluarga Arkananta.
Elena menoleh menatap Arthur dengan tangan terlipat di depan dada, menahan senyum gelinya. "Arthur, kamu benar-benar keterlaluan. Dia hanya teman lamaku."
"Teman lama atau bukan, tidak ada satu pria pun yang boleh menatapmu dengan pandangan seperti itu, Elena," balas Arthur kaku, menyembunyikan rasa gengsinya setelah ketahuan cemburu buta. Dia kemudian menarik Elena ke dalam pelukan singkat yang hangat. "Butikmu sukses besar hari ini, dan aku tidak mau berbagi perhatianmu dengan siapa pun malam ini."
Elena tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di dada bidang Arthur. Langkah awal bisnisnya di Jakarta telah dimulai dengan kemenangan mutlak, dikelilingi oleh perlindungan posesif yang posesif namun penuh kasih dari suami dan anaknya. Masa depan dinasti Arkananta kian hari kian bersinar terang, dan mereka siap menghadapi lembaran baru yang penuh dengan kejayaan.