NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

​Melihat Jian Chen yang justru tertawa lepas dan duduk bergabung di meja mereka, ketegangan yang sempat melanda Wu Chen dan Wu Ao perlahan-lahan mulai mencair. Wu Lin yang semula berdiri waspada pun akhirnya mengembuskan napas lega dan kembali duduk di kursinya.

​Gadis itu teringat akan salah satu rumor besar yang beredar di daratan Yunzhou mengenai pemuda di hadapan mereka ini. Meskipun Jian Chen menyandang status sebagai murid jenius nomor tiga dari Sekte Pedang Langit—faksi yang merupakan rival berat Klan Wu—ia terkenal memiliki kepribadian yang sangat eksentrik, ramah, dan membenci segala bentuk intrik politik klan. Jian Chen lebih suka berkelana mencari petarung-petarung unik untuk diajak bertukar pikiran atau sekadar minum bersama. Karena reputasinya yang bersih dan sifatnya yang lurus, keberadaannya selalu diterima dengan aman di mana pun ia berkunjung, bahkan di dalam wilayah klan musuh sekalipun.

​"Kudengar besok lawanmu adalah Wu Shan, si kepala batu itu," ucap Jian Chen sembari mengunyah paha kalkun yang baru dihidangkan, bicaranya blak-blakan tanpa beban. "Pertahanannya memang merepotkan untuk ukuran Ranah Pemurnian Qi. Tapi, melihat bagaimana caramu menghancurkan besi dengan tangan kosong tadi siang, kurasa pertarungan besok akan sangat menghibur. Aku akan menontonmu dari tribun khusus, Saudara Wu Tian."

​Wu Tian tidak banyak merespons. Ia hanya mengangguk sekali sembari terus mengunyah sisa makanannya dengan tenang. Pertemuan malam itu pun berlanjut dengan obrolan santai yang didominasi oleh tawa Jian Chen serta kehebohan Wu Chen dan Wu Ao, sementara Wu Tian tetap menjadi pihak yang paling fokus membersihkan piring makanan di atas meja.

​Di saat sudut kedai kecil itu dipenuhi oleh kehangatan, suasana yang teramat kontras dan dingin justru tersaji di dalam Paviliun Utama Klan Wu.

​Di dalam sebuah ruangan rahasia yang remang-remang diselimuti asap dupa, beberapa tetua tinggi klan yang bertanggung jawab atas faksi murid dalam tengah berkumpul mengelilingi sebuah meja giok. Wajah-wajah tua itu tampak tegang sekaligus ambisius. Kompetisi Tiga Klan bukan sekadar ajang unjuk gigi bagi generasi muda, melainkan pertaruhan gengsi dan kekuasaan atas tambang batu spiritual Yunzhou.

​"Klan Li membawa seorang jenius rahasia yang menyembunyikan basis kultivasinya, dan Sekte Pedang Langit memiliki murid-murid pedang yang menakutkan," ucap salah seorang tetua dengan nada suara yang berat. "Jalur Wu Jun dan Wu Xue menuju babak final tidak boleh diganggu oleh halangan apa pun. Kemenangan Klan Wu harus mutlak."

​Tetua faksi murid dalam yang mengurusi bagan pertandingan besok mendengus dingin. "Jangan khawatir. Besok di babak pertama, kita akan membersihkan kerikil-kerikil tidak berguna. Aku sudah memberikan perintah terselubung kepada Wu Shan."

​Mata tua itu berkilat kejam di balik kegelapan. "Wu Shan tidak hanya ditugaskan untuk menang, tetapi dia diperintahkan untuk menghancurkan dan mematahkan kedua kaki bocah murid luar bernama Wu Tian itu di atas panggung. Kita harus memberi pelajaran kepada seluruh murid kasta rendah agar mereka tahu diri dan tidak merusak fokus internal klan dengan aksi pamer kekuatan fisik murahan seperti tadi siang."

​Setelah makan malam selesai dan mereka berpisah dengan Jian Chen yang bersiul santai serta dua rekan lainnya, Wu Tian and Wu Lin berjalan berdampingan di bawah temaram sinar bulan. Mereka menyusuri jalanan batu yang sepi menuju ke arah paviliun murid luar.

​Langkah kaki Wu Lin perlahan-lahan melambat, hingga akhirnya ia berhenti sepenuhnya di bawah bayangan sebuah pohon ginkgo besar. Dengan tatapan mata yang berkaca-kaca karena didera rasa cemas yang tak kunjung padam sejak siang tadi, Wu Lin mengulurkan tangan kanannya, memegang erat ujung lengan jubah biru tua Wu Tian.

​"Wu Tian... aku memohon kepadamu, tolong selalu berhati-hati besok," ucap Wu Lin, suaranya terdengar bergetar menahan gejolak emosi di dalam dadanya. "Wu Shan digerakkan oleh Wu Yan, mereka pasti akan menggunakan cara-cara yang kejam di atas arena nanti. Aku benar-benar takut... takut jika melihatmu terluka parah atau cacat seperti murid-murid luar lainnya yang berani menantang murid dalam."

​Wu Tian menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan menghadap Wu Lin. Sepasang mata hitam legamnya menatap wajah cantik gadis itu yang tampak begitu rapuh di bawah sinar rembulan.

​Sebagai sosok yang tumbuh besar di keras dan kejamnya daratan Shenzhou—di mana hukum rimba mengalir di setiap tetes darahnya—Wu Tian sama sekali tidak memiliki kepekaan atau pemahaman tentang kerumitan perasaan romantis seorang wanita yang sedang mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Bagi ya, kecemasan Wu Lin hanyalah sebuah reaksi berlebihan.

​Namun, melihat raut wajah Wu Lin yang begitu sedih, Wu Tian merasa sedikit tidak nyaman. Karena ingin gadis di depannya ini berhenti memasang wajah mendung yang mengganggu pemandangannya, Wu Tian mengulurkan tangannya, menepuk pucuk kepala Wu Lin secara kasual dengan gerakan yang sangat enteng.

​"Baik, aku akan berhati-hati," ucap Wu Tian dengan nada suaranya yang khas—datar, lempang, namun entah kenapa terdengar sangat menenangkan. "Setelah aku menang dan menyelesaikan urusanku esok hari, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke pasar kota pusat lagi. Jadi, berhentilah memasang wajah jelek seperti itu."

​DEG.

​Kalimat janji yang keluar dengan begitu spontan dan polos dari bibir Wu Tian itu instan meledakkan seluruh pertahanan batin Wu Lin untuk kesekian kalinya. Mengajak jalan-jalan ke pasar setelah menang? Bagi Wu Lin, itu terdengar seperti sebuah janji kencan kemenangan yang teramat manis dan romantis!

​Dalam satu kedipan mata, seluruh wajah cantik Wu Lin langsung memerah padam layaknya kepiting rebus, menjalar hingga ke ujung telinganya. Jantung di dalam rongga dadanya mendadak berdegup girang dengan kecepatan yang menggila. Rasa cemas dan ketakutan yang menghantuinya sejak tadi siang mendadak sirna, digantikan oleh gelombang kebahagiaan yang meledak-ledak.

​"U-Um! Aku pegang janjimu!"

​Dengan perasaan campur aduk yang teramat sangat bahagia dan malu, Wu Lin dengan cepat melepaskan pegangannya pada jubah Wu Tian. Ia membalikkan badannya, lalu melakukan lari-lari kecil yang sangat riang dan menggemaskan menuju ke arah paviliunnya sendiri sembari menutupi kedua pipinya yang terasa panas dengan kedua tangan.

​Wu Tian tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Wu Lin yang menjauh dan menghilang di balik tikungan dengan alis yang berkerut dalam. Ia menurunkan tangannya, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan wajah bingung.

​"Manusia dunia luar benar-benar aneh," gumam Wu Tian lirih pada angin malam, tidak mengerti mengapa sebuah janji makan sederhana bisa membuat seorang wanita berlari kegirangan seperti orang kehilangan akal.

​Wu Tian kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju paviliun usangnya sendiri. Seringai tipis yang dingin kembali terukir di sudut bibirnya saat ia menatap langit malam yang luas.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe tubuh fisik yang kuat😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
LanzT0k3
keren ❤️❤️
Danzo28: Terimakasih 🥳
total 1 replies
ibarumbung
mantap... lanjut thor
Danzo28: siap KA
ditunggu yahhh🥳
total 1 replies
Was pray
ceritanya bagus sih cuma up nya yg terlalu lama dan sedikit pula... ntar para reader mundur Krn gak sabar nunggu up nya
Was pray: oke... 👍
total 2 replies
Was pray
sayang sekali wu Tian kuat tapi gaya bertarungnya gak ada seninya, kayak babi hutan yg nyruduk
Was pray
cari uang lah.. wu Tian, masak mau mengandalkan diberi makan sama orang lain terus?
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mereka tidak tau monster sesungguhnya mulai bangkit😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
monster sesungguhnya mulai beraksi👍😄😄
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehe..aroma pembantaian nih 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waduh konspirasi tersembunyi 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehehe pura2 jadi babi🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha harga diri yang hancur🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
alur ceritanya bagus dan menarik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
baca beberapa chapter di awal cukup bagus alur ceritanya 👍
ibarumbung
alur cerita yang bagus
Danzo28: Terimakasih
semoga betah yahh
Happy reading 🥳🥳🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!