Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Jejak Sang Penyebar Fitnah
"Ra..."
Suara Arvin membuat Vira tersadar dari lamunannya. Ia menoleh. "Ya?"
Arvin menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Kalau kamu butuh bantuan apa pun, bilang aja. Kalau memang ada yang bisa aku bantu, aku pasti bantu."
Vira tersenyum tipis. "Menurutmu... aku harus gimana buat bersihin nama baikku?"
Arvin terdiam beberapa saat, seolah sedang menyusun pikirannya. "Kita cari sumber gosipnya."
Vira mengembuskan napas pelan. "Tapi aku hampir gak pernah keluar rumah."
"Makanya biar aku yang cari tahu." Arvin mengangguk mantap. "Aku setiap hari kerja di luar. Aku lebih sering ketemu orang. Siapa tahu aku bisa dengar dari mana awal gosip itu muncul."
Tatapan Vira melembut. "Makasih, Vin. Aku gak bakal lupa kebaikanmu."
Arvin tersenyum kecil. "Aku belum melakukan apa-apa."
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lagian, kita ini sama-sama manusia. Sama-sama tinggal di kampung ini. Kalau bisa saling bantu dalam kebaikan, kenapa enggak?"
Vira tersenyum tulus. Dari sekian banyak orang yang pernah ditemuinya, Arvin adalah sedikit orang yang benar-benar membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Tak lama kemudian Arvin pamit.
Sepeninggal Arvin, Vira kembali berdiri di balik etalase. Tatapannya kosong menatap jalanan di depan rumah.
"Kalau dipikir-pikir... bagaimana orang bisa membuat gosip kalau aku sering membawa laki-laki masuk ke rumah?"
Bukankah ia hampir tak pernah menerima tamu?
Bahkan malam hari ia selalu berada di rumah sendirian. Dan berdua dengan Yanti hampir satu bulan ini.
Perlahan, pandangannya beralih ke arah pintu rumah.
"Orang yang tinggal serumah denganku..." Refleks matanya menyipit. "Yanti."
Tanpa membuang waktu, Vira masuk ke dalam rumah.
"Yanti."
"Iya, Ra?" sahut Yanti sambil keluar dari dapur. "Ada apa?"
Vira menatapnya beberapa detik. "Kamu tahu gosip yang lagi beredar tentang aku?"
Jantung Yanti berdegup lebih cepat. Namun ia segera memasang wajah bingung. "Gosip apa?"
"Gosip kalau aku udah gak perawan. Gosip kalau hubunganku sama Daril kelewatan. Dan gosip kalau aku sering bawa laki-laki masuk ke rumah ini."
Wajah Yanti tampak terkejut. "Hah? Ada gosip kayak gitu?"
"Iya."
Yanti buru-buru menggeleng. "Aku mana tahu, Ra. Kamu tahu sendiri. Tiap hari aku cuma beres-beres rumah sama jaga toko. Aku hampir gak pernah keluar."
Vira mengangguk pelan. "Baik."
Ia menatap Yanti lurus. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan cari tahu siapa penyebar gosipnya."
Nada suara Vira tetap tenang. "Tapi satu hal yang pasti..." Vira berhenti sejenak. "Orang itu bakal menyesal."
Deg.
Jantung Yanti serasa berhenti berdetak. Sesaat, wajahnya menegang. "Jangan-jangan... dia mulai curiga?"
Namun kepanikan itu hanya berlangsung sekejap. Ia segera menundukkan wajah agar ekspresinya tak terbaca.
Vira yang berdiri di depannya menangkap perubahan itu. Memang hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat kecurigaannya semakin besar.
Yanti berusaha terdengar santai. "Emangnya... gimana caranya kamu cari tahu siapa yang nyebarin gosip itu, Ra?"
Vira tersenyum tipis. "Tenang aja." Tatapannya tidak lepas dari wajah Yanti. "Aku punya caranya."
Yanti berusaha ikut tersenyum. "Oh... gitu."
Namun telapak tangannya mulai berkeringat. "Dia cuma menggertak..." batinnya berusaha menenangkan diri. "Iya... pasti cuma menggertak. Mana mungkin dia bisa tahu kalau aku yang mulai menyebarkan gosip itu."
Sementara itu, Vira terus memerhatikan setiap perubahan raut wajah sepupunya.
"Kalau memang kamu gak bersalah..." pikir Vira. "Harusnya kamu gak segugup ini."
***
Sambil bekerja, Arvin diam-diam memerhatikan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
Setiap kali mendengar nama Vira disebut, ia berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Ia mengamati siapa yang membela Vira, siapa yang masih ragu, dan siapa yang sudah telanjur percaya pada gosip yang beredar.
Namun, hingga sore hari, ia belum juga menemukan siapa yang pertama kali menyebarkan kabar itu.
Sepulang kerja, Arvin memutuskan mendatangi rumah salah seorang ketua RT.
"Permisi, Bu RT."
"Eh, Arvin. Ada apa?" sapa Bu RT ramah.
Arvin menggaruk tengkuknya sebentar sebelum berkata, "Bu, saya mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
"Soal gosip tentang Vira."
Raut wajah Bu RT langsung berubah serius. "Kamu juga dengar?"
Arvin mengangguk. "Saya yakin Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan. Dia juga yatim piatu. Kasihan kalau nama baiknya hancur karena fitnah."
Bu RT mengembuskan napas pelan. "Ibu juga prihatin."
"Apa Ibu tahu siapa yang pertama kali menyebarkan gosip itu?"
Bu RT menggeleng. "Ibu belum tahu pasti. Tapi... Pak Kades juga sudah meminta para ketua RT membantu mencari tahu dari mana asal gosip itu."
Mata Arvin sedikit berbinar.
"Jadi sekarang kami juga sedang mencoba menelusurinya," ujar Bu RT. "Kalau sudah tahu sumbernya, orang itu harus dimintai pertanggungjawaban."
Arvin mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya juga akan ikut mencari tahu, Bu."
Bu RT tersenyum tipis. "Semoga cepat ketemu. Kasihan Vira. Dia kehilangan kepercayaan banyak orang hanya karena omongan yang belum tentu benar."
Arvin mengepalkan tangannya pelan. "Aku juga berharap begitu," batinnya. "Karena semakin lama fitnah itu dibiarkan, semakin sulit nama baik Vira dipulihkan."
Vira yang sedang menghitung stok barang di balik etalase mendadak menghentikan gerakan tangannya saat suara motor memasuki halaman rumah.
Brum...
Ia mengangkat wajah, lalu menoleh ke arah luar. Sesaat kemudian, sepasang matanya menyipit.
"Daril?" gumamnya tanpa sadar.
Pria itu mematikan mesin motornya, lalu turun dengan langkah pelan.
Vira tetap berdiri di balik etalase. Tak ada lagi senyum yang dulu selalu menyambut kedatangan pria itu. Yang tersisa hanya tatapan datar dan penuh kewaspadaan.
"Ngapain dia datang ke sini?" gumamnya pelan.
Setelah semua yang terjadi, Vira yakin kedatangan Daril bukan sekadar untuk bernostalgia.
Bibir Vira mengatup rapat "Setelah sekian lama, ngapain dia datang. Firasatku jadi gak enak. Gak mungkin orang kayak dia datang buat nyampein kabar baik."
...✨"Kebenaran memang berjalan lebih lambat daripada gosip. Namun saat ia tiba, kebohongan tak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi."...
..."Orang yang tulus tak selalu datang membawa harta. Kadang mereka hanya membawa keberanian untuk tetap berdiri di sisimu saat semua orang memilih menjauh."...
..."Ada orang yang merusak nama baikmu demi kepuasannya. Ada pula yang diam-diam memperjuangkannya tanpa mengharap balasan."✨...
.
To be continued
Ibunya Arvin juga sesekali ikut membantu memasak.
Pekerjaan Vira terasa jauh jauh lebih ringan.
Wow Vira telat datang bulan sudah lebih dari sebulan gak kerasa kalau hamil ya.
Arvin lugu amat. Kandungan Istrinya diperiksa dokter, di kasih selamat - selamat untuk apa, Dok.
Ya selamat ulang tahun lah Vin 🤭😂.
Loadingnya lama amat nih Arvin
Jadi terharu kan Vin, setelah sadar mau jadi Ayah.
Selamat bahagia dengan diberiNya keturunan buah cinta Vira dan Arvin. Semoga lancar mengandung sampai lahiran nanti.
Arvin mengunci tubuh Daril. Tak mungkin memberi kesempatan untuk kabur.
Empat orang warga membantu Arvin
Warga baru tahu kalau orang itu Daril setelah maskernya terlepas.
Akhirnya kedua tangan Daril diikat ke belakang.
Pak RT menghubungi polisi.
Mirna syok mendengar dari seorang warga kalau Daril ketangkap di rumah Vira.
Mirna sampai di halaman rumah Vira minta jalan dari kerumunan orang banyak. Setelah sampai di depan dilihatnya Daril putranya
Daril tamat sudah riwayatnya. Bakal menghuni kamar gratis tak usah mencopet lagi.
Vira dan Arvin itu pribadi-pribadi yang baik. Rumah mau di bakar oleh Daril.
Ranting yang patah bunyinya sampai ke telinga Arvin yang tidak bisa tidur setenang dulu.
Arvin mengintip dari sela gorden, matanya langsung membelalak
Ternyata di luar ada Daril yang membawa jerigen hendak membakar rumahnya Vira.
Arvin mengenali postur tubuh Daril.
Perkelahian terjadi.
Vira keluar, mencium aroma bensin yang menyengat.
Vira berteriak sekuat tenaga - minta tolong
Beberapa warga mulai berdatangan. Daril berusaha melepaskan diri.
Arvin tidak membiarkan Daril lepas. Ia menerjang dari belakang, memeluk erat pinggang Daril yang hendak kabur. Keduanya berguling di tanah.
Mimpi saja tidak, Ril. Kamu parasit nempel hidup sama Vira. Pemalas pula.
Jelas Vira lebih beruntung menikah sama Arvin yang pekerja keras. Menghargai Vira. Cintanya juga tulus pada Vira. Bukan karena hartanya.
Daril sudah kerasukan setan, adanya iri bahkan terobsesi mau menghancurkan kehidupan Arvin dan Vira. Bukannya bertobat.
Arvin jauh lebih menghargai Vira. Mencintai dengan tulus.
Kebahagiaan mereka masih diuji dengan adanya Daril yang tidak ingin mereka hidup bahagia.
Vira melihat kondisi Arvin yang baru pulang, mengira Arvin kecelakaan.
Arvin menceritakan kejadian yang dia alami.
Mendengar cerita Arvin, wajah Vira pucat. Vira takut kalau terjadi sesuatu sama Arvin.
Vira ingat kejadian di masa lalu Daril tega menghabisi nyawanya demi menguasai hartanya.
Vira yakin penyerangan Arvin ada hubungannya dengan Daril. Tapi Vira tak mau berprasangka tanpa bukti.
Arvin masih dalam perlindunganNya. Bisa melawan dua preman bayaran suruhan Daril.
Daril masih mau berbuat apa lagi sekarang. Ngga ada kapok-kapoknya.
Ya memang harus selesai hidupmu Daril. Jadi DPO kalau ketangkap hukumannya lebih berat.
Tambah bikin surat kaleng pula. Semakin berlapis kesalahannya.
Weleh Daril masih belum kapok bikin masalah. Mau nambah pasal untuk di hukum berat nih. Uang hasil copet mau dipakai bayar orang untuk kasih pelajaran Arvin gitu maksudnya ?