Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Sarang Selo Atmojo
Matahari hari Jumat belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur, namun kesibukan di kediaman Menteng sudah menyerupai pusat komando militer. Setelah penangkapan Pak Hariman yang diwarnai insiden tragis bin konyol bersama robot penyedot debu otomatis, Arkananta tidak membuang waktu. Berdasarkan data perbankan dan koordinat server yang berhasil disedot oleh tablet Kinanti, pusat pergerakan Faksi Selo terlacak berada di sebuah resor pribadi yang menyamar sebagai pusat pelestarian tanaman langka di kawasan lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah.
Di dalam ruang tengah, Eyang Widya sedang sibuk membungkus berbagai macam botol kecil berisi cairan herbal ke dalam tas ransel taktis.
"Ingat, Arkan, Kinanti," ujar Eyang Widya dengan nada serius sembari memasukkan sebotol minyak berbau menyengat. "Faksi Selo itu licik. Mereka menggunakan wewangian khusus dari bunga Kantil Sungsang untuk merangsang transformasi paksa. Jika kalian mencium bau seperti melati busuk, segera minum ramuan kunyit asam penawar ini."
Kinanti menerima botol plastik kecil yang disodorkan Eyang Widya, lalu menatap warnanya yang kuning pekat dengan ragu. "Eyang, ini tidak akan membuat lambung saya meledak seperti server di Cikarang, kan?"
"Tentu tidak, Nak. Paling-paling hanya membuatmu bolak-balik ke toilet jika diminum sebelum makan," jawab Eyang Widya tanpa dosa.
Arkan yang sudah siap dengan jaket outdoor hitam tebal hanya bisa menghela napas. Ia melirik jam tangan mekanisnya. "Kita berangkat sekarang. Jalur darat dengan SUV khusus akan memakan waktu sekitar enam jam jika kita memotong lewat Tol Trans-Jawa. Bara dan Tim Delta sudah bergerak duluan menggunakan truk logistik samaran."
Perjalanan menuju Jawa Tengah dimulai dengan ketegangan profesional. Arkan mengambil alih kemudi, sementara Kinanti duduk di kursi penumpang depan dengan laptop yang memangku peta topografi lereng Merbabu.
Namun, setelah tiga jam mendekam di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer tegang itu perlahan mencair akibat kebiasaan unik masing-masing. Arkananta, seorang CEO yang biasanya mendengarkan analisis pasar keuangan global atau musik klasik melalui audio mobil bersistem teater premiumnya, terpaksa pasrah ketika Kinanti mengambil alih koneksi Bluetooth.
🎵 "Kucingku telu, kabeh lemu-lemu..." 🎵
Suara lagu anak-anak berbahasa Jawa tentang kucing gemuk bergema di seluruh kabin SUV mewah senilai tiga miliar rupiah tersebut.
Arkan mengerutkan alisnya dalam, jemarinya mengetuk kemudi dengan tidak sabar. "Kinanti, apakah tidak ada pilihan musik lain yang lebih... mencerminkan urgensi misi penyelamatan takdir keluarga kita?"
Kinanti yang sedang asyik memakan bekal keripik singkongnya mendongak polos. "Ini adalah terapi psikologis preventif, Pak Arkan. Menurut artikel ilmiah yang saya baca semalam, mendengarkan lagu tentang kucing dalam frekuensi riang bisa menekan hormon kortisol pada manusia yang memiliki trauma atau keterikatan magis dengan felid. Singkatnya, ini supaya Bapak tidak mendadak mengeong saat kita kena macet di pekalongan."
Arkan memutar bola matanya pasrah. "Saya tidak akan mengeong karena macet, Kinanti. Saya akan mengeong karena selera musikmu yang melampaui batas kewarasan sekretaris holding."
Meskipun memprotes, Arkan tidak mematikan lagu tersebut. Ada kenyamanan aneh yang merayap di dadanya setiap kali melihat Kinanti bertingkah santai di sampingnya. Sumpah kuno itu mungkin mengikat mereka dalam bahaya, namun kehadiran Kinanti membuat beban ratusan tahun itu terasa seolah bisa diselesaikan dengan sebungkus keripik singkong dan lagu jenaka.
Pukul satu siang, SUV hitam mereka mulai memasuki jalanan menanjak di daerah Selo, Boyolali. Udara yang tadinya panas menyengat khas pantura berubah menjadi dingin berkabut. Jalanan semakin menyempit, diapit oleh ladang kol dan pemandangan lereng gunung yang megah namun misterius.
"Tanda di tangan saya mulai terasa hangat lagi, Pak," ujar Kinanti, nadanya berubah serius. Ia membuka manset jaketnya, memperlihatkan pergelangan tangan kanannya di mana guratan lebam kebiruan kemarin kini telah hilang, digantikan oleh kilau samar aksara emas yang berdenyut lambat. "Kita sudah dekat. Resor pelestarian tanaman itu berada sekitar dua kilometer di depan, di balik hutan pinus."
Arkan memperlambat laju kendaraan. Melalui radio komunikasi portabel, suara Bara terdengar berdesis di antara statis. "Avanza Satu, ini Delta Satu. Kami sudah mengamankan perimeter luar resor. Penjagaan di gerbang utama menggunakan seragam sekuriti hijau, namun sensor kami mendeteksi mereka membawa tongkat kejut listrik frekuensi tinggi. Mohon instruksi."
"Tetap di posisi, Bara. Jangan lakukan kontak fisik sampai saya dan Kinanti masuk lewat jalur pemotong lambung bukit," perintah Arkan tegas.
Arkan memarkirkan SUV mereka di sebuah area tanah datar yang tersembunyi di balik semak-semak lebat. Mereka berdua turun, membawa tas ransel berisi peralatan dari Eyang Widya. Udara di luar sangat lembap, kabut tebal mulai turun menyelimuti perbukitan—sebuah kondisi yang secara teori sangat berbahaya bagi Arkan.
"Pak Arkan, minum dulu ramuannya," Kinanti menyodorkan botol plastik kuning dari Eyang Widya.
Arkan menatap cairan kuning itu dengan pandangan jijik seorang pria yang terbiasa meminum espresso dari biji kopi pilihan. "Apakah ini benar-benar perlu?"
"Minum, Pak. Atau saya tidak akan mau memeluk jas kosong Bapak lagi kalau Bapak berubah jadi kucing gembul di tengah hutan kol ini," ancam Kinanti dengan mata menyipit.
Sambil mendengus, Arkan menyambar botol tersebut dan meminumnya dalam satu tegukan besar. Wajah ganteng sang CEO seketika berkerut hebat, lidahnya mendadak mati rasa akibat kombinasi rasa asam, pahit, dan getir yang luar biasa dari ramuan tradisional Eyang Widya.
"Rasanya... seperti mencuci mulut dengan detergen organik," umpat Arkan parau, membuat Kinanti tertawa cekikikan.
Mereka mulai mendaki jalur setapak di balik bukit. Kinanti berjalan di depan karena tanda di tangannya bertindak sebagai kompas gaib yang mengarah langsung ke pusat penyimpanan sisa data Serat Jayaning Mahardika.
Namun, namanya juga jalur hutan yang tidak resmi, rintangan alam tidak bisa dihindari. Jalur yang mereka lewati sangat licin akibat embun pagi.
SREEEKKK!
"Ah!" Kinanti kehilangan pijakan pada tanah merah yang basah. Tubuhnya tergelincir ke belakang.
Dengan refleks kilat seorang predator, Arkan menangkap pinggang Kinanti dari belakang. Tubuh tegap Arkan menahan beban Kinanti dengan kokoh, mencegah gadis itu merosot ke dalam semak berduri di bawah jalur setapak. Namun, karena momentum yang terlalu kuat, mereka berdua justru jatuh terduduk bersama di atas tanah dengan posisi yang sangat canggung: Kinanti terduduk tepat di atas pangkuan Arkan, sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Suasana mendadak hening. Hanya ada suara desir angin di antara pohon pinus dan detak jantung mereka yang berpacu cepat. Mata hijau zamrud Arkan mengunci pandangan Kinanti, memancarkan kehangatan intens yang seketika membuat rasa dingin gunung lenyap.
Kinanti bisa merasakan dada bidang Arkan yang naik turun di balik jaketnya. "Uh... terima kasih, Pak Arkan. Refleks Bapak... boleh juga untuk ukuran CEO yang biasanya hanya duduk di kursi empuk," bisik Kinanti, wajahnya mendadak merona merah—dan kali ini bukan karena efek keripik pedas.
Arkan tidak langsung melepaskan pelukannya pada pinggang Kinanti. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. "Saya mendanai fasilitas kebugaran pribadi di lantai paling atas Mahardika Tower bukan tanpa alasan, Nona Amalia. Dan mengamankan Penjaga Takdir saya dari kebiasaan jatuh adalah prioritas utama dalam kontrak kerja kita."
Sebelum momen romantis itu bisa berlanjut lebih jauh, sebuah suara erangan keras terdengar dari arah semak-semak tepat di samping mereka.
MREEEEOOOWWWAAARRR!!!
Arkan dan Kinanti tersentak. Mereka menoleh dan mendapati seekor kucing kampung berwarna hitam-putih (kucing lokal bermotif tuxedo) sedang berdiri di atas batu besar. Kucing itu tidak mengeong dengan lucu, melainkan sedang menatap tajam ke arah tas ransel Kinanti—lebih tepatnya, ke arah bungkus sisa keripik singkong yang baunya sangat gurih.
Kucing tuxedo itu melompat dengan berani, langsung mendarat di atas kepala Arkananta yang masih terduduk di tanah.
"Astaga! Singkirkan makhluk ini dari kepala saya!" seru Arkan, kehilangan seluruh wibawa korporatnya saat kaki-kaki kecil kucing kampung itu mengacak-ngacak rambut klimisnya yang biasanya ditata dengan pomade mahal.
Kucing itu tampaknya mengira rambut Arkan adalah sarang yang nyaman, atau mungkin dia mencium bau ramuan herbal Eyang Widya yang menempel di baju Arkan. Kucing itu mulai mendengkur keras (purring) sambil mencakar-cakar gemas telinga sang CEO.
"Hahaha! Pak Arkan, jangan bergerak! Ini adalah interaksi antar sesama spesies!" Kinanti tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar, buru-buru mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen langka di mana seorang miliarder Jakarta sedang dijajah oleh kucing kampung Boyolali.
"Kinanti! Jangan malah mengambil foto! Bantu saya!" seru Arkan dengan wajah frustrasi yang luar biasa, sementara tangannya berusaha melepaskan cengkeraman kucing itu tanpa menyakitinya. "Jika foto ini sampai ke tangan dewan komisaris, reputasi saya sebagai Singa Mahardika akan hancur total!"
"Tenang, Pak. Ini akan saya jadikan jaminan kalau Bapak menolak menaikkan tunjangan lembur saya bulan depan," goda Kinanti. Ia akhirnya meletakkan ponselnya, mengambil sepotong keripik singkong, dan memancing kucing tuxedo itu agar mau turun dari kepala Arkan. Begitu mencium bau makanan, kucing itu langsung melompat turun ke pangkuan Kinanti dengan patuh, meninggalkan rambut Arkan yang kini mencuat acak-acakan mirip sarang burung.
Arkan bangkit berdiri sambil menggerutu, mencoba merapikan rambutnya dengan jari tangan yang kotor terkena tanah merah. "Faksi Selo belum kita hadapi, tapi sekutu berbulu mereka sudah berhasil merusak penampilan saya."
Kinanti berdiri, membersihkan sisa tanah di celananya sambil masih tersenyum geli. "Setidaknya ramuan Eyang Widya terbukti ampuh, Pak. Bapak tidak ikut berubah menjadi kucing meskipun ketempelan kucing beneran. Berarti sistem imun mistis Bapak sedang berada di level tertinggi."
Arkan menatap Kinanti yang sedang memberikan sepotong kecil keripik pada kucing kampung tersebut. Rasa kesal di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang mendalam. Di tengah misi yang berbahaya dan penuh konspirasi ini, tawa lepas Kinanti adalah satu-satunya hal yang menjaga kewarasan manusianya agar tidak tenggelam dalam kegelapan kutukan.
"Ayo jalan lagi," kata Arkan, suaranya kembali tegas namun diiringi binar jenaka. "Sebelum kucing itu meminta bagian saham dari Mahardika Group."
Mereka kembali melanjutkan pendakian yang tinggal beberapa ratus meter lagi. Di ujung jalur setapak, kabut tipis perlahan menyingkap sebuah kompleks bangunan megah berarsitektur joglo modern yang dikelilingi oleh rumah kaca raksasa. Itulah resor pelestarian milik Faksi Selo Atmojo—tempat di mana sisa-sisa rahasia Serat Jayaning Mahardika disimpan, dan tempat di mana penguasa sebenarnya dari konspirasi ini sedang menunggu kedatangan mereka.