Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelacakan di Balik Kegelapan
Rian segera melangkah tegas menuju pintu ruang kerja, memutar kunci hingga terdengar suara klik yang tegap, lalu mematikan lampu utama hingga ruangan hanya diterangi pendar hangat lampu sudut. Pria itu berbalik, menatap Kirana yang masih berdiri gemetar di tengah ruangan dengan pandangan yang dipenuhi kehangatan dan hasrat perlindungan yang mendalam.
Tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, Rian melepas jas mewahnya dan melonggarkan dasinya, lalu melemparnya sembarangan ke sofa. Jemari kekarnya dengan cekatan membuka satu per satu kancing kemejanya, memperlihatkan dada bidang yang kokoh.
Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dengan penuh kelembutan, Rian merengkuh pinggang Kirana dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan penegasan cinta. Ciuman itu seolah menghapus seluruh ketakutan, rasa hina, dan trauma yang sempat menyelimuti benak Kirana.
"Aku akan menghilangkan seluruh bekas tangan-tangan sampah itu dari tubuh istriku..." bisik Rian di sela napas mereka yang menderu pelan, suara baritonnya mengalun begitu intim dan penuh penguasaan.
Kirana memejamkan mata, melingkarkan kedua lengannya di leher Rian, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada pria yang selalu menjadi pelindungnya itu. Rian kemudian merengkuh tubuh Kirana dan menggendongnya secara bridal style menuju sofa panjang di dalam ruang kerja privat tersebut.
Di dalam keheningan sore menjelang malam yang sunyi, di bawah naungan rasa saling percaya dan kehangatan yang tulus, mereka menyatu dalam ikatan hubungan suami istri yang suci—menghapuskan setiap rasa sakit dan mengukuhkan kepemilikan yang tak tergoyahkan.
Beberapa saat kemudian, suasana ruangan menjadi tenang dan damai. Kirana bersandar nyaman di dada bidang Rian yang tak terlapisi kain, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Selimut tebal menyelimuti tubuh mereka berdua. Kirana merasa benar-benar aman dan utuh kembali.
Rian mengusap lembut rambut panjang Kirana yang terurai, lalu mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Tidurlah, Sayang," bisik Rian lembut dengan sorot mata yang mendadak berubah sangat dingin ketika menatap kegelapan di luar jendela.
Setelah memastikan napas Kirana teratur dan tertidur pulas dalam kelelahan di atas sofa ruang kerja, Rian perlahan melepaskan pelukannya. Ia menarik selimut tebal wol kasmir dengan sangat hati-hati, membalut tubuh istrinya yang rapuh, lalu mengecup kening Kirana sekilas penuh kelembutan.
Namun, begitu ia berdiri dari sofa, kehangatan di wajah Rian seketika menguap total. Ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat dingin, gelap, dan mematikan.
Dengan langkah tegap dan tanpa suara, Rian menyambar ponsel milik Kirana yang tergeletak di atas meja. Jemarinya yang kokoh segera menyalakan layar, lalu mengakses riwayat panggilan, pesan singkat, serta fitur pelacakan lokasi (GPS history) untuk melacak titik koordinat terakhir tempat Kirana melarikan diri sore tadi.
Rian melangkah mendekati jendela besar ruang kerja yang menghadap ke halaman belakang. Dengan wajah sekeras batu karang, ia mendial nomor saluran khusus untuk menyambungkan komunikasi langsung kepada Doni, orang kepercayaannya.
"Doni," panggil Rian dengan suara bariton yang berat, dalam, dan menusuk.
"Saya, Tuan Muda," jawab Doni cepat di ujung telepon, langsung bersiap mendengar perintah darurat dari sang atasan.
"Lacak koordinat GPS dari ponsel Kirana detik ini juga. Temukan lokasi tempat kos di sekitar kawasan kampus yang ia kunjungi sore tadi," perintah Rian tanpa basa-basi. "Kirim tim terbaikmu ke sana sekarang. Periksa seluruh kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi, cari tahu siapa saja orang-orang yang berada di dalam kamar kos itu, dan cari siapa pun yang bertanggung jawab atas kejadian ini!"
Rian belum mengetahui siapa saja nama empat teman kelompok Kirana yang berada di lokasi, apalagi mengenai keterlibatan Arsyila dan Shinta sebagai dalang utama di balik skenario keji ini. Yang ia tahu pasti, seseorang telah berani menyentuh batas sucinya.
"Baik, Tuan Muda! Saya akan langsung bergerak membawa tim ke lokasi dan mengamankan semua petunjuk serta CCTV di sana," tegas Doni.
"Pastikan tidak ada satu detail pun yang lolos," desis Rian dengan sorot mata berkilat tajam di tengah remang ruangan. "Bawa siapa pun yang terlibat ke hadapanku malam ini juga. Aku sendiri yang akan menguliti mereka."
"Laksanakan, Tuan!"
Sambungan telepon terputus. Rian meletakkan ponsel Kirana kembali di atas meja, lalu membalikkan badan menatap sosok istrinya yang terlelap di sofa. Seringai dingin dan penuh amarah terukir di bibirnya—siapa pun yang merancang jebakan ini untuk Kirana, mereka telah memicu kemarahan sang penguasa Wijaya Group yang sesungguhnya.