Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mia menyajikan dua piring nasi goreng di atas karpet yang tergelar di ruang depan. Tak lupa secangkir kopi untuk sang suami.
Edo menyeruput kopi itu dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel. Sesekali senyum kecil mengembang di bibirnya.
Mia melirik dengan ujung mata sambil mengunyah nasi goreng buatannya. Bibir Mia sudah gatal ingin menanyakan tentang apa yang tadi malam ia temukan. "Kalau aku tanyakan sekarang... kira-kira Edo bakal marah nggak ya?" batinnya bimbang.
Namun akhirnya, kebimbangan itu kalah oleh rasa penasaran dan butuh penjelasan. "Do..." Panggilan itu diabaikan. Edo tetap fokus ke layar ponsel. "Do!" Suara Mia agak meninggi.
"Apa?" Akhirnya Edo menyahuti, tapi tanpa sedikit pun melirik Mia.
"Aku... mau tanya sesuatu," ucap Mia meski ragu.
"Nanya apa?" Mata Edo masih fokus pada layar gawai.
Mia mengumpulkan keberaniannya sebelum akhirnya bertanya, "Semalam kamu habis dari mana?"
Edo akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar HP ke wajah Mia yang ada di depannya. "Dari rumah temen," jawab Edo cepat.
"Teman? Siapa?" Pertanyaan kedua keluar dari bibir Mia.
Edo berdecak kesal. "Ck! Kamu tuh kepo banget sih!" Suara Edo meninggi. "Nggak usah tanya-tanya lagi lah! Males aku jawabnya!"
"Ya wajar dong aku kepo. Aku kan istri kamu, Do. Aku juga ingin tahu, kamu tuh semalam pergi ke mana dan sama siapa?!" Mia melepaskan keraguannya, hingga tanpa sadar suaranya ikut meninggi. "Semalam aku nelepon kamu berkali-kali, tapi nomor kamu malah nggak aktif. Aku tuh khawatir sama kamu!"
Mata Edo berkilat tajam, "Aku bisa jaga diriku sendiri, Mia. Jadi kamu nggak perlu khawatir!" Edo berdiri dari duduknya, memasukan ponsel ke saku celana. "Males aku kalau udah denger ocehanmu itu! Bikin suasana hatiku ancur aja!" sungutnya sambil masuk ke dalam kamar.
Mia tak tinggal diam, ia mengikuti suaminya. "Aku belum selesai bicara, Do. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan!"
"Apa?!" Bentakan Edo menggelegar, sampai membuat tubuh Mia mundur selangkah.
Meskipun sedikit takut, tapi Mia sudah telanjur penasaran. "Tadi malam, saat aku mau memasukan kemejamu ke ember cucian... aku menemukan bekas lipstik di kerah kemeja kamu, helaian rambut panjang dan wangi parfum perempuan. Apakah kamu-" Belum sempat kalimat itu terlengkapi, suara Edo lebih dulu menyerobot.
"Kamu nuduh aku selingkuh?!"
Mia terkesiap. Ia mundur selangkah lagi. "Aku nggak nuduh," sanggahnya. "Aku hanya bertanya."
"Alah!" Dengan kasar, Edo mendorong tubuh Mia hingga jatuh terjerembab ke lantai.
"Akh...!" Mia meringis, mengusap bokongnya yang ngilu akibat berciuman dengan lantai.
"Aing paling geuleuh dituduh-dituduh kawas kieu! Sia mah beuki dieu teh beuki pikasedileun, Mia! (Aku paling benci dituduh-tuduh seperti ini! Kamu itu semakin lama semakin menyebalkan, Mia! Umur udah tua! Tapi kelakuan masih seperti bocah! Cemburu buta terus!" cerocos Edo menghardik Mia sembari mendorong kepala Mia dengan telunjuknya berkali-kali. "Capek aku berumah tangga sama kamu!" Bentakan itu diiringi dengan jambakan kencang di rambut Mia yang sudah dikuncir rapi. "Dasar istri nggak tahu diri! Seharusnya kamu tuh bersyukur... bisa punya suami jauh lebih muda seperti aku. Kalau buka aku, siapa coba yang mau menikahi wanita tua, kurus kering dan cerewet kayak kamu?! Nggak akan ada yang mau, Mia! Nggak akan ada!" Edo melepaskan jambakannya hingga kepala Mia terlempar ke belakang. Setelah itu, ia menyambar jaket dan kunci motor, lalu pergi meninggalkan Mia yang merintih terisak di lantai.
"Ya Allah..." Mia menyeka air matanya. "Aku tidak boleh meratap. Aku harus segera berangkat kerja." Bangkit Mia dari lantai, merapikan pakaian, rambut dan gegas memakai kerudung. Ia bercermin sebentar. "Baru sebentar saja menangis, mataku sudah nampak bengkak," kesahnya. "Pasti Teh Neneng bakal bertanya. Ck..." Ia terdiam sejenak. "Ah, nanti deh aku cari tahu alasannya." Mia melangkah keluar dari kontrakan dengan tas yang tersampir di bahunya. Ia berusaha berjalan seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam rumah tadi.
Namun, baru beberapa langkah melewati pintu, terdengar suara seseorang memanggilnya. "Teh Mia!" Mia menoleh. Rifki berdiri di teras kontrakannya. Seperti kemarin, pemuda itu sudah bersiap hendak berangkat kerja. Helm masih berada di tangannya, sementara motor terparkir di sampingnya. "Baru mau berangkat, Teh?" sapanya.
Mia mengangguk kecil. "Iya, A Iki."
Rifki tersenyum tipis. "Teh, berangkat bareng aku saja yuk?"
Mia menggeleng cepat. "Nggak usah, A. Aku naik angkot saja."
"Angkotnya belum tentu langsung ada, Teh. Kemarin juga Teteh nunggu lumayan lama, kan?"
"Iya, A. Tapi nggak apa-apa." Mia memaksakan senyum. "Terima kasih atas tawarannya ya."
Rifki hendak kembali membujuk, tetapi urung ketika matanya tanpa sengaja tertuju pada wajah Mia. Lebih tepatnya, pada kedua mata perempuan itu. Mata Mia tampak sembap. Kelopaknya sedikit bengkak, sementara sudut matanya masih menyisakan warna kemerahan. Senyum Rifki perlahan menghilang. Ia tahu Mia habis menangis. Sebab beberapa menit sebelumnya, dari tempatnya berdiri, Rifki sempat melihat Edo keluar dari kontrakan dengan wajah merah padam. Lelaki itu bahkan membanting pintu sebelum menyalakan motor dan pergi. Rifki tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat mata Mia sekarang, ia bisa menebak kalau pertengkaran itu pasti bukan pertengkaran biasa. "Teh..." panggil Rifki pelan.
Mia menoleh. "Iya?"
Rifki ingin bertanya. "Teh Mia kenapa? Edo habis marah-marah, ya? Teteh dipukulin?" Banyak pertanyaan berdesakan di kepalanya. Namun, tidak satu pun keluar dari mulutnya. Ia sadar, Mia adalah istri orang. Terlalu jauh ikut campur justru bisa membuat perempuan itu tidak nyaman. Akhirnya, Rifki hanya berkata, "Hati-hati, Teh." Kalimat itulah yang keluar dari bibirnya.
Mia terdiam sesaat. Tersenyum lagi. "Iya, A. Terima kasih. Kalau begitu, aku duluan ya."
Rifki mengangguk. "Iya, Teh."
Mia pun kembali melangkah menuju gerbang.
Rifki hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Mia yang semakin menjauh. Langkah perempuan itu terlihat tergesa, seolah ingin segera meninggalkan tempat tersebut sebelum air matanya kembali jatuh.
Rifki mengembuskan napas panjang. "Teh Mia pasti habis bertengkar sama si Edo," batinnya. Pandangan Rifki masih mengikuti Mia yang kini sudah keluar dari gerbang kontrakan. "Dia juga pasti habis nangis." Rasa iba perlahan muncul di dadanya. "Kasihan..." Namun Rifki segera menggeleng pelan. "Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Mia terus berjalan menyusuri pinggir jalan. Tangannya sesekali menyentuh sudut matanya, memastikan tidak ada air mata yang kembali menetes. Ia menarik napas dalam-dalam. "Jangan nangis lagi, Mia. Kamu harus kerja." Ia menundukkan wajah. "Jangan sampai mengundang perhatian orang-orang. Malu." Namun semakin ia berusaha menahan, semakin kuat rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Ucapan Edo terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Siapa coba yang mau menikahi wanita tua, kurus kering dan cerewet kayak kamu?"
Mia menggigit bibir bawahnya. Dadanya bergolak nyeri. Perkataan Edo membuatnya mempertanyakan harga dirinya sendiri. "Benarkah aku sudah tidak layak dicintai? Benarkah tidak akan ada seorang pun yang mau menerimanya selain Edo?" Mia segera menggeleng. "Astagfirullah..." Ia mempercepat langkah. "Jangan pikirkan itu." Mia menatap ujung jalan, berusaha memusatkan pikirannya pada satu hal, yaitu pekerjaan. "Jika pun yang dikatakan Edo benar, aku tidak boleh putus asa."
______
Sesampainya di tempat kerja, Edo memarkirkan Kawasaki Ninja miliknya di area parkir karyawan. Wajahnya masih terlihat masam. Rahangnya mengeras, seolah pertengkarannya dengan Mia tadi belum benar-benar hilang dari pikirannya.
Bukannya langsung masuk ke dalam pabrik topi, Edo justru berbelok menuju warung kopi sederhana yang berada di pinggir area pabrik.
Di sana, Ohang sudah duduk sambil menikmati kopi dan sebatang rokok.
Begitu melihat Edo datang, Ohang langsung mengangkat alis. "Wajah lo kusut banget, Do. Kenapa?"
Edo tidak langsung menjawab. Ia menghampiri pemilik warung dan berkata, "Kopi hitam satu, Bu."
"Manis?"
"Sedikit." Edo kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaket. Ia mengambil sebatang, menyalakannya, lalu duduk di samping Ohang. Barulah ia menjawab, "Biasalah, Hang. Si Mia bikin gue naik darah."
Ohang langsung terkekeh. "Kenapa sama bini lo? Dia nggak mau ngasih lo duit?"
"Bukan!" sahut Edo kesal.
"Terus?"
Edo mengembuskan asap rokok perlahan. "Dia nuduh gue selingkuh."
Ohang sontak tertawa. "HAHAHA! Kenapa lo harus marah, Do?" Edo melirik tajam. "Kan itu fakta," lanjut Ohang sambil menahan tawa. "Lo emang selingkuh sama-"
"Sttt!" Edo buru-buru memotong ucapan Ohang. Ia melirik ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar.
Ohang langsung menurunkan suaranya. "Iya, iya. Maaf, gue keceplosan."
Tak lama kemudian, kopi pesanan Edo datang. Edo mengambil gelas itu dan menyeruputnya. "Gue emang selingkuh," katanya pelan. "Tapi gue nggak suka kalau Mia mulai ngatur-ngatur hidup gue."
Ohang mengangguk-angguk. "Terus awalnya gimana, kok Mia bisa nuduh lo selingkuh?"
Edo mengembuskan napas kasar. "Kan tadi malam gue menyewa penginapan nih sama Bela. Gue pulang jam setengah dua belasan lah. Saking capeknya habis tempur, gue langsung tidur tanpa memeriksa pakaian gue. Nah, Mia nemuin bekas lipstik di kerah kemeja gue, sama helaian rambut panjang, dan... bau parfum Bela yang tertinggal."
"Euh!" Ohang menonjok lengan Edo. "Makanya... lain kali jangan ceroboh dong, Do. Main rapi lah," sarannya.
"Iya, besok-besok gue bakal main rapi deh." Edo menyeruput kopinya lagi. "Tapi gue bener-bener kesel sama si Mia. Tadi tuh pengen gue tonjok aja muka kusamnya. Nggak suka gue diinterogasi kayak tadi!" gerutu Edo menggertakan gigi.
Ohang menahan tawa. "Ya wajar lah, Do. Dia kan istri, lo."
"Justru itu yang bikin gue muak. Dia tuh bawelnya nggak ketulungan. Beda sama Bela, pengertian, omongannya juga sangat menyejukkan."
Ohang menatap Edo beberapa saat. "Kalau lo memang udah muak sama Mia dan lebih sayang sama Bela, kenapa lo nggak cerai aja sama Mia?"
Edo terdiam. Pertanyaan itu membuat wajahnya sedikit berubah. Ia menatap gelas kopi di tangannya. "Belum waktunya."
"Belum waktunya atau lo masih butuh Mia?" todong Ohang.
Edo menoleh cepat. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Namun akhirnya, sebuah jawaban keluar tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Gue emang masih butuh Mia."
Ohang mengangkat alis.
Edo menyeruput kopinya sebelum melanjutkan, "Dia punya pekerjaan dan gajinya juga lumayan besar. Kalau gue ceraikan dia sekarang..." Edo menggantung kalimatnya sejenak. "Siapa yang bakal bayarin cicilan motor gue dan memenuhi semua kebutuhan hidup gue?"
Ohang terdiam.
Edo kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengembuskan asap rokok dengan santai. Baginya, pernikahan itu bukan lagi tentang perasaan. Bukan pula tentang mempertahankan rumah tangga. Mia hanya sebuah sumber penghasilan yang belum ingin ia lepaskan. Dan selama perempuan itu masih bisa menghasilkan uang untuknya, Edo belum berniat membiarkannya pergi.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪