NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi itu, sinar matahari sudah meluncur tinggi menembus celah-celah dinding papan kamar Maya. Suara bising kendaraan di jalan raya samar-samar terdengar, menyadarkan Maya dari tidur lelapnya yang teramat lelah. Saat matanya terbuka dipaksa oleh rasa cemas yang mendadak melingkupi dada, ia melirik jam weker kecil di atas meja belajarnya.

Pukul 06.50."Ya Tuhan!" Maya terperanjat dari tempat tidur. Jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dada. Jam masuk sekolah adalah pukul 07.00 tepat, dan jarak rumahnya ke Sekolah membutuhkan waktu setidaknya tiga puluh menit menggunakan angkutan umum.Karena mengerjakan tugas matematika dan biologi milik Lexa hingga lewat tengah malam, otaknya yang terkuras habis membuat tubuh Maya tak sanggup merespons dering weker yang dipasangnya tadi malam. Dengan panik yang membakar, Maya membasuh wajah seadanya, mengancingkan seragam kusamnya secara asal-asalan, dan menyambar tas ransel berat yang di dalamnya sudah tersemat buku catatan mahal milik Lexa. Tanpa sempat sarapan atau pamit pada ibunya yang sudah berangkat kerja sejak subuh, Maya berlari kencang menyusuri gang sempit menuju jalan raya.

Angkutan umum pagi itu terasa berjalan seolah merayap. Setiap kali lampu merah menyala atau kendaraan berhenti untuk menaikkan penumpang, Maya meremas jemarinya kuat-kuat. Peluh dingin membasahi dahi dan punggungnya. Ia membayangkan dua ancaman besar yang kini mengintainya hukuman dari guru piket di gerbang, dan yang paling mengerikan, murka dari Lexa.

Saat Maya akhirnya tiba di depan gerbang Sekolah, jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.25. Gerbang besi tinggi itu sudah terkunci rapat. Maya terpaksa memohon-mohon kepada satpam sekolah dengan wajah pucat penuh penyesalan. Setelah mendengarkan rengek dan permohonan Maya yang tak henti-hentinya, sang satpam akhirnya membukakan pintu kecil di samping gerbang, mencatat nama Maya di buku pelanggaran, lalu menyuruhnya segera masuk.

Maya berjalan setengah berlari menyusuri lorong sekolah yang sepi menakutkan. Hatinya mencelos setiap kali membayangkan Pak Danu atau guru lain sudah berdiri di depan kelas, siap memberinya sanksi. Namun, begitu ia mendekati kelasnya, keheningan yang aneh menyambutnya. Tak ada suara guru yang mengajar, hanya riuh rendah suara murid-murid yang mengobrol santai dari balik pintu yang terbuka separuh.

Maya menghentikan langkahnya di ambang pintu, bernapas terengah-engah. Seorang teman sekelasnya yang duduk di dekat pintu meliriknya sekilas lalu berbisik, "Kamu beruntung, May. Semua guru lagi ada rapat mendadak di ruang aula sampai jam pelajaran kedua. Nggak ada absen guru pagi ini."

Rasa lega yang luar biasa sempat menjalar di seluruh tubuh Maya. Ia menghembuskan napas panjang, bersyukur dalam hati bahwa ia selamat dari hukuman akademis. Namun, rasa lega itu menguap secepat kilat saat pandangan matanya tak sengaja beradu dengan tatapan di sudut belakang kelas.

Di sana, Lexa berdiri dari kursinya. Wajah cantiknya tak lagi menampakkan ketenangan elegan, melainkan kemarahan murni yang membara. Di belakangnya, Hani, Aurel, dan Lana ikut berdiri dengan melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum sinis yang mengancam.

Belum sempat Maya melangkah menuju mejanya sendiri, Lexa bergerak cepat melintasi barisan bangku. Langkah kakinya yang tegas berdentang keras di atas lantai kelas. Tanpa memedulikan belasan pasang mata murid lain yang langsung berubah hening menyaksikan drama pagi itu, Lexa menyambar pergelangan tangan Maya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di kulit halus Maya.

"Ikut gue!" geram Lexa dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.

Lexa menyeret Maya keluar dari kelas menuju ruang gudang kotor di balik tangga lantai dua tempat favorit geng Lexa untuk 'menyelesaikan urusan' tanpa gangguan. Hani dan Lana mengikutinya dari belakang, lalu mengunci pintu kayu tua itu rapat-rapat begitu mereka semua berada di dalam.

"Sakit, Lexa... lepas..." rintih Maya sambil mencoba melepaskan tangannya.

Begitu pegangannya dilepas, Lexa mendorong bahu Maya hingga tubuh kurus gadis itu membentur tumpukan meja kayu bekas. Debu tebal berhamburan ke udara, membuat Maya terbatuk-batuk.

"Lu punya otak nggak sih, Maya?!" bentak Lexa, matanya menyalang penuh dendam. "Lu tahu jam berapa ini?! Lu sengaja kan?!"

"Sengaja apa, Lexa? Aku... aku ketiduran..." jawab Maya terbata-bata, suaranya bergetar hebat.

"Bohong!" sergah Hani seraya maju dan menuding muka Maya. "Lu sengaja datang terlambat biar PR-nya Lexa nggak bisa dikumpulin kan? Lu sengaja mau bikin Lexa dihukum lagi sama guru dan kelihatan jelek di sekolah ini!"

"Enggak! Demi Tuhan, enggak!" Maya memegang tali ranselnya erat-erat, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku ketiduran karena semalaman ngerjain PR kamu sampai jam dua malam, Lexa! Aku nggak ada maksud"

"Diem lu!" potong Lexa dengan teriakan melengking yang memotong ucapan Maya.

Lexa melangkah makin dekat, mencengkeram kerah seragam Maya hingga gadis itu terangkat sedikit. Napas Lexa memburu hangat di wajah Maya. "Gue nggak peduli alasan busuk lu! Berani-beraninya lu bikin gue cemas setengah mati dari tadi pagi! Gue udah nungguin lu dari jam tujuh cuma buat ngambil buku itu, dan lu baru muncul jam segini?!"

Rasa panik dan prasangka buruk yang menguasai pikiran Lexa membuatnya buta akan kenyataan. Dalam benak Lexa yang penuh gengsi dan rasa curiga, keterlambatan Maya adalah bentuk perlawanan pasif sebuah trik licik dari gadis culun itu untuk mempermalukannya kembali seperti pada ujian kemarin.

"Mana bukunya?!" bentak Lexa lagi sambil menghentakkan tubuh Maya ke dinding.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan derai air mata yang tak bisa ditahan lagi, Maya merogoh ranselnya. Ia mengeluarkan buku catatan mahal bernuansa merah milik Lexa yang sudah terisi rapi dengan tulisan tangannya.

Lexa merampas buku itu secara kasar dari tangan Maya. Ia membuka lembarannya dengan cepat, memeriksa setiap halaman dengan tatapan menilai yang dingin. Walau jawaban di dalam buku itu sangat sempurna dan rinci, amarah di dada Lexa yang sudah terlanjur membakar tidak bisa padam begitu saja.

"Ingat ya, Maya," ujar Lexa sambil menutup buku itu dengan dentuman keras yang bergema di gudang yang sunyi. Ia menunjuk dada Maya dengan ujung bukunya, menekannya kuat-kuat. "Hari ini lu aman dari Pak Danu karena ada rapat guru. Tapi kalau sekali lagi lu main-main sama gue, kalau sekali lagi lu bikin gue nunggu dan bikin darah gue naik kayak pagi ini, gue pastikan hidup lu di sekolah ini bakal berubah jadi neraka yang sesungguhnya."

Aurel dan Lana tertawa mengejek, sementara Hani sengaja meludah di lantai tepat di dekat sepatu kusam Maya sebelum mereka bertiga berbalik mengikuti Lexa yang melangkah keluar dari gudang.Pintu gudang dibiarkan terbuka sedikit. Maya ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan dan debu yang mengendap. Gadis itu perlahan merosot ke lantai dingin, memeluk kedua lututnya, dan membiarkan tangisnya pecah tanpa suara di antara tumpukan barang-barang bekas yang bisu.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!