NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: KUE KACANG DAN SEPUCUK UNDANGAN

Lampu-lampu gerbang sudah dinyalakan ketika kereta Shen berhenti di depan singa-singa batu.

Pengurus rumah menyambut dengan lentera di tangan dan menanyakan apakah Nona perlu air hangat. Ruyin turun membawa kotak kue kacang yang masih menyimpan sedikit hangat dari dapur Nyonya Fang. Bibi Qin mengikuti di belakangnya, diam, dengan wajah yang sudah kembali tenang seolah tidak ada tirai yang pernah bergeser di seberang jalan.

Ia tidak menyinggung kereta itu. Entah mengapa, ia merasa belum perlu.

———

Di aula samping, makan malam sudah ditata. Nyonya Lin duduk dengan kepala yang masih tampak berat, sebelah tangannya memijat pelipis. Yucheng bersandar di kursinya, sedang mengupas sebutir jeruk dengan telaten, kulitnya dibuat sepanjang mungkin.

"Nyonya Fang menitipkan ini untuk Ibu," kata Ruyin sambil membuka kotak itu.

"Ia masih ingat aku suka kue kacang?" Nyonya Lin mengambil satu dan menggigit ujungnya. "Manisnya pas. Terima kasih, Nak."

Yucheng mencomot dua sekaligus. "Rasanya sama seperti dua puluh tahun lalu. Resepnya pasti dijaga seperti rahasia negara." Ia mengunyah dengan puas. "Bagaimana dia? Masih menghardik orang yang berdiri seperti tiang?"

"Ia menyuruh Bibi Qin duduk karena berdiri seperti tiang."

Yucheng tertawa. "Berarti sehat."

Mereka berbincang ringan. Ruyin bercerita tentang kandang burung kosong di halaman, tentang teh krisan, tentang cucu laki-laki yang gemar membolos. Ia membiarkan malam itu berjalan tanpa mengujinya.

Lalu, sambil meniup tehnya, ia berkata, "Nyonya Fang mengingatku. Katanya dulu aku sering datang membacakan surat dari putranya di perbatasan, dan menuliskan balasannya."

Nyonya Lin berhenti mengunyah. Hanya sekejap, dan jeda itu tidak diisi apa pun yang bisa disebut kaget.

"Ia masih mengingat itu?"

Nada pertanyaan itu ringan, seperti orang bertanya tentang cuaca di negeri lain. Tetapi Ruyin menangkap sesuatu di baliknya: bukan keberatan, melainkan keheranan seseorang yang mengira sebuah pintu sudah lama terkunci, dan baru tahu ada orang yang masih menyimpan kuncinya.

"Katanya begitu. Sepuluh hari sekali."

"Ya, memang." Nyonya Lin meletakkan kue itu di piring kecil. "Ayahmu yang meminta. Putra Nyonya Fang bertugas di bawah atasan yang dikenal ayahmu, dan Nyonya Fang matanya sudah buruk. Kau ditugaskan membantu." Ia tersenyum. "Hanya selama satu musim dingin. Sesudahnya putranya dipindahkan, dan surat-suratnya berhenti."

"Satu musim dingin?" tanya Ruyin. "Nyonya Fang bilang putranya masih menanyakan kabarku sampai sekarang."

"Orang tua membesar-besarkan lamanya sesuatu. Sudah kubilang, anak-anak mudah lupa dan orang tua mudah mengira waktu lebih panjang." Nyonya Lin mengambil serbet. "Satu musim dingin, Ruyin. Aku ingat, karena kau pulang dengan jari-jari kaku dan menolak memakai sarung tangan."

Ruyin mengangguk. Ia tidak membantah. Tetapi Nyonya Fang berbicara tentang bertahun-tahun, tentang anak yang datang setiap sepuluh hari sampai matanya sendiri tidak kuat lagi menghitung. Dan Nyonya Fang tidak pernah menyebut sarung tangan.

———

Yucheng menyelipkan satu irisan jeruk ke piring Ruyin. "Aku ingat hari-hari itu. Kau selalu berangkat setelah makan siang dan kembali sebelum lonceng petang. Setiap kali tepat pada hari kesepuluh, kau sudah mengenakan jubah luarmu bahkan sebelum Bibi Qin memanggil."

"Aku?"

"Bahkan jika hujan." Ia tertawa kecil. "Ibu sampai bilang kau lebih disiplin daripada pegawai kantor catatan."

Ruyin mengunyah irisan jeruk itu pelan-pelan. Asam, lalu manis.

Yucheng, yang menurut ceritanya sendiri pulang hanya dua kali setahun. Yucheng yang tahu bahwa hari kesepuluh, jam keberangkatan, dan jubah yang sudah dikenakan sebelum dipanggil. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyimpan potongan kecil itu bersama yang lain, di tempat yang makin penuh.

Mungkin Ibu menceritakannya dalam surat ke akademi. Mungkin kakaknya memang pulang lebih sering daripada yang ia akui. Ada banyak jawaban yang tidak jahat. Yang membuatnya diam adalah bahwa tidak satu pun dari jawaban itu pernah ditawarkan kepadanya.

———

"Bibi," tanyanya kemudian, saat Bibi Qin membereskan baki di kamarnya, "dulu Bibi sering menemaniku ke rumah Nyonya Fang?"

"Beberapa kali, Nona." Bibi Qin melipat serbet, menumpuknya rapi. "Biasanya yang mengantar pelayan lain. Saya hanya sesekali."

"Nyonya Fang memanggilmu Qin, seperti sudah lama kenal."

"Orang tua suka menyebut nama pendek, Nona."

"Putranya masih menanyakan kabarku, kata Nyonya Fang. Setiap kali ia menulis."

Tangan Bibi Qin yang sedang menata cangkir berhenti, dan satu cangkir bergeser sedikit pada nampan, berbunyi pelan. Ia meluruskannya.

"Itu baik hati sekali, Nona," katanya. Suaranya datar. "Tuan Muda Fang memang anak yang sopan."

"Bibi pernah bertemu dengannya?"

"Saya hanya mendengar dari orang lain." Ia membungkuk. "Nona istirahatlah. Besok hari baru."

———

Malam itu Ruyin membuka kotak kue dan memakan satu lagi, sekadar karena rasanya enak. Ia duduk di meja dan menulis di atas kertas barunya beberapa baris tentang hari itu, seperti orang yang mencatat sesuatu agar tidak terbawa angin: Nyonya Fang, bangku rendah, putranya di perbatasan. Satu musim dingin, kata ibunya. Bertahun-tahun, kata Nyonya Fang. Ia menuliskan dua versi itu berdampingan tanpa tanda tanya, lalu menatapnya.

Tidak ada yang berbohong terang-terangan. Mungkin Nyonya Fang memang melebih-lebihkan. Mungkin ibunya yang melupakan sebagian. Mungkin kenyataannya ada di tengah. Ia tidak harus mencari satu orang yang menyembunyikan segalanya. Mungkin setiap orang hanya memegang sebagian, dan sebagian itu, jika dikumpulkan, tidak pernah menjadi satu gambar utuh.

Ia meniup kertasnya sampai kering, melipatnya, dan memasukkannya ke laci, di sebelah surat untuk tabib yang belum diikat.

———

Pagi berikutnya, hujan rintik turun sebelum fajar. Seorang pelayan berpakaian rapi dari keluarga yang belum pernah Ruyin dengar menunggu di serambi depan, memegang sampul merah muda yang dibungkus kain minyak agar tidak basah.

Pengurus rumah membawanya masuk ke aula samping dan menyerahkannya kepada Nyonya Lin. Yucheng membacanya sekilas dari balik bahu ibunya.

"Keluarga Cen," katanya. "Nyonya Cen mengadakan jamuan melihat krisan di taman belakang, lima hari lagi. Katanya ia senang mendengar putri kedua Shen sudah pulang, dan ingat betul pernah menggendongnya waktu bayi."

Nyonya Lin menerima undangan itu dan membacanya pelan. Ia mengangkat wajah, memandang Ruyin lama, dan tersenyum tipis.

"Kau akan pergi," katanya. "Nyonya Cen dan ibuku dulu berteman baik, sebelum ia ikut suaminya bertugas ke luar kota. Sudah lama sekali."

"Dan bagaimana ia tahu aku sudah pulang?" tanya Ruyin.

Tidak ada yang menjawab. Yucheng pura-pura sibuk melipat sampul merah muda itu menjadi bentuk yang lebih kecil, dan Nyonya Lin mengambil cangkirnya.

"Chang'an itu kota yang suka bertukar kabar, Nak," katanya akhirnya.

Hujan di luar semakin deras, dan di serambi, pelayan dari keluarga Cen membungkuk dalam-dalam sebelum pergi. Ruyin memandang punggungnya yang basah menjauh, dan menyadari bahwa dalam seminggu ini, orang-orang dari masa lalunya sudah mulai berdatangan satu per satu ke pintu rumahnya, tanpa ia perlu memanggil siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!