Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Sebenarnya, Kediaman Pangeran Zhang Li tidak pernah sepi. Di paviliun timur dan selatan, ada tiga selir yang sudah lebih dulu menghuni kompleks tersebut.
Mereka adalah putri-putri dari pejabat tingkat menengah yang disodorkan ke istana demi mengikat hubungan politik. Namun, keikutsertaan mereka di rumah itu hanyalah formalitas di atas kertas.
Sejak hari pertama mereka melangkah melewati gerbang, Zhang Li tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di kamar mereka pada malam hari.
Bagi Zhang Li, wanita-wanita itu tak ubahnya perhiasan rumah yang sengaja dipajang untuk membungkam mulut para menteri. Ia memberi mereka kehidupan yang layak, gaun sutra berlimpah, dan tunjangan emas setiap bulan, tetapi tidak pernah memberi mereka kehadiran ataupun hatinya.
Mengapa ia enggan mengambil Istri Utama dan justru membiarkan kediamannya diisi oleh selir-selir yang diabaikan?
Jawabannya sederhana. Istri Utama adalah ikatan mati. Menikahi Istri Utama berarti membuka pintu bagi faksi bangsawan tinggi untuk mencampuri urusannya, menanam mata-mata di dalam rumahnya, dan menyeretnya ke dalam pusaran perebutan takhta yang kotor.
Dengan sengaja membiarkan posisi Istri Utama tetap kosong, Zhang Li menjaga dirinya tetap independen.
Dengan mengambil selir-termasuk memungut Xiao Yu yang bertingkah bodoh saat ujian-ia berhasil mengulur waktu, memenuhi tuntutan formalitas kerajaan sekaligus mengejek permainan politik istana tanpa harus mengikatkan dirinya pada siapa pun.
"Mari, Nona. Hamba dan Pengawal Feng akan mengantar Anda ke Paviliun Anggrek," ujar Kasim Sun seraya memberi isyarat jalan.
Namun, baru beberapa puluh langkah menyusuri lorong beratap kayu ukir, langkah Kasim Sun mendadak terhenti. Feng Chuan langsung meletakkan tangannya di gagang pedang secara refleks saat dua sosok wanita bergaun mewah melangkah menghadang di tengah gerbang melengkung, Selir Huo Yan dan Selir Kui.
Sementara itu, seorang gadis bergaun sederhana tampak berdiri dengan tenang. Dia selir Lin. Satu-satunya selir yang tampak pendiam di antara mereka.
"Jadi ini gadis yang dipilih Pangeran?" suara Selir Huo Yan memecah keheningan lorong, terdengar tajam dan merendahkan. Ia melangkah mendekat, menatap Xiao Yu dari atas ke bawah. "Keluarga pejabat kecil, tak berlatar belakang, bahkan berjalan pun kaku seperti papan."
Selir Kui terkekeh pelan di balik kipasnya. "Kabar burung dari istana ternyata benar. Pangeran sepertinya hanya membawa pulang mainan baru yang polos untuk menghibur diri."
Feng Chuan melangkah satu langkah ke depan. Lalu berucap tegas namun tetap sopan. "Para Selir Senior, hamba menjalankan perintah Yang Mulia untuk mengantar Nona Xiao ke kediamannya."
Selir Huo Yan melirik Feng Chuan dingin, lalu kembali menatap Xiao Yu.
Xiao Yu mengontrol penuh refleks tubuhnya. Ia menundukkan kepala sedikit, menyatukan kedua tangannya di depan dada. menampilkan citra selir baru yang kaget dan terintimidasi.
"Hamba menyapa para Kakak Selir," ucap Xiao Yu pelan dan lembut.
Melihat reaksi Xiao Yu yang hanya menunduk pasrah tanpa berani membantah sepatah kata pun, Selir Huo Yan mendengus puas. Rasa curiga yang sempat menghantuinya seketika menguap. Gadis di hadapannya ini jelas wanita lemah yang mudah diatur.
"Cukup tahu diri," cetus Selir Huo Yan dingin. "Di kediaman ini, ingat posisi milikmu. Jangan bermimpi bisa menarik perhatian Pangeran."
Tanpa membuang kata lagi, kedua selir senior itu berbalik dan berlalu dengan langkah angkuh.
Saat Selir Huo Yan dan Selir Kui berbalik berlalu dengan langkah angkuh, Selir Lin yang berdiri di dekat tiang kayu melangkah maju dengan tenang dan anggun.
Gaun sutra biru mudanya berdesir halus. Wajahnya yang jernih memancarkan keanggunan alami-tanpa sedikit pun kepanikan atau rasa takut terhadap pengaruh dua selir senior tadi.
Melihat kehadiran Selir Lin, Feng Chuan seketika mengubah posisi tubuhnya. Ia melepaskan genggaman pada gagang pedang, lalu mengepalkan tangan dan menundukkan kepala dengan gestur hormat yang sangat santun dan penuh rasa segan.
"Hamba menyapa Selir Lin," ucap Feng Chuan dengan nada suara berat yang diwarnai rasa hormat tulus.
Sebagai pengawal pribadi pangeran, Feng Chuan selalu menghormati sikap Selir Lin yang senantiasa tenang, bermartabat, dan tak pernah merendahkan diri dalam intrik kotor kediaman.
Selir Lin mengulas senyum tipis yang sangat anggun, mengangguk pelan membalas penghormatan sang pengawal pribadi.
"Pengawal Feng, Kasim Sun," sapa Selir Lin dengan suara lembut namun mantap.
Mata beningnya kemudian beralih menatap Xiao Yu. Tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya, Selir Lin memberikan anggukan kepala yang amat santun dan tulus-sebuah salam selamat datang yang bermartabat dari seorang wanita yang matang. Tidak ada nada kasihan yang merendahkan, hanya ada simpati dan ketenangan yang menyejukkan.
Xiao Yu membalas anggukan itu dengan tundukan kepala yang patuh, merekam keanggunan Selir Lin di dalam ingatannya.
"Semoga harimu menyenangkan di Paviliun Anggrek, Nona Xiao," ujar Selir Lin tenang sebelum berbalik dan melangkah anggun kembali ke bangunannya diikuti A-Cui pelayannya.
"Terima kasih," sahut Xiao Yu.
Feng Chuan memperhatikan langkah Selir Lin yang begitu tenang dan anggun hingga menghilang di belokan lorong. Setelah itu, ia beralih menatap Xiao Yu.
"Nona Xiao, mari dilanjutkan."
Kasim Sun dan Feng Chuan memimpin jalan menuju sudut paling barat kediaman, hingga mereka tiba di depan sebuah bangunan kayu yang agak terpencil-Paviliun Anggrek.
"Silakan beristirahat dan merapikan barang-barang Anda, Nona Xiao," ucap Kasim Sun seraya membungkuk.
Feng Chuan menatap pintu Paviliun Anggrek sejenak, lalu memberi hormat singkat dengan mengepalkan tangan. "Hamba akan melapor kepada Yang Mulia Pangeran bahwa Nona telah tiba dengan selamat."
"Terima kasih atas bantuannya, Pengawal Feng," jawab Xiao Yu dengan senyum tipis yang sangat sopan dan penurut.
Feng Chuan mengangguk pelan lalu berbalik pergi bersama Kasim Sun. Di dalam hatinya, Feng Chuan membandingkan keanggunan sejati Selir Lin yang berkelas dengan kepatuhan pasif Xiao Yu-menilai Xiao Yu hanyalah gadis biasa yang terlalu menunduk dan tidak punya aura kepemimpinan untuk bertahan di tengah persaingan para selir.
Begitu Kasim Sun dan para pengawal melangkah menjauh, Xiao Yu mendorong pintu kayu paviliun dan melangkah masuk bersama Bao'er.
Brak!
Pintu kayu tua itu mengatup rapat.
Suara engsel pintu yang mengunci seketika menandai perubahan atmosfer. Bahu Xiao Yu yang tadinya tampak lemah lembut dan menunduk pasif seketika tegak sempurna. Pandangan matanya kembali tajam, dingin, dan penuh perhitungan.
Bao'er langsung melempar kotak perbekalan ke atas meja kayu, lalu menepuk dadanya yang berdebar kencang.
"Ular-ular di sini benar-benar mengerikan, Yu'er!" bisik Bao'er dengan napas memburu. "Wanita bergaun merah tadi menatapmu seolah ingin memotong leher kita saat itu juga!"