NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 bertemu orang baru, memulai menjalani hidup tanpa keluarga

“Alkina…” jawab Alkina dengan senyuman. Ia sekarang tidak lagi mengunakan

“Nama nenek Sarimira, pangil saja saya nek Mira.”

Wanita itu mengusap pelan kepala Alkina. Gerakan sederhana itu hampir membuat gadis tersebut menangis lebih keras. Sudah lama sekali tidak ada yang menyentuhnya dengan lembut.

“Kamu tinggal di mana?”

Alkina menyebutkan alamat kosnya tanpa ragu kepada Mira.

“Kamu tinggal sendiri?”

“Iya nek.”

“Kamu mau ya tinggal bersama nenek?”

Alkina tidak langsung menjawab, ia takut, takut ia akan di perlakukan buruk lagi.

“Aku…” ia bingung harus menjawab apa, ia ragu dengan nenek-nenek yang ada bersamanya saat ini.

Ini pertemuan pertama mereka dan nenek itu langsung mengajak dirinya tinggal bersama.

“kamu jangan salah paham...”

“Nenek hanya tinggal bersama cucu laki-laki nenek, terkadang kami merasa kesepian… nenek hanya minta tolong sama kamu untuk menjaga cucu nenek, kamu tenang saja, nenek akan gaji kamu.. kamu mau ya.”

Entah kenapa Mira merasa kasihan dengan Alkina dan ingin mengajak Alkina tinggal bersama dirinya.

Ia menjadikan cucu lakilakinya sebagai alasan untuk mengajak Alkina tinggal bersama dirinya. Jika tanpa alasan yang tepat nek Mira yakin Alkina pasti akan menolak, apalagi ini pertama kalinya mereka bertemu.

Cukup lama Alkina berpikir, akhirnya ia setuju. Alkina berharap perempuan yang duduk di sampingnya tidak seperti mamanya.

“Ya nek, aku mau.” Alkina setuju tinggal bersama Mira karena ia merasa uangnya tidak akan cukup untuk kebutuhan nya satu bulan. Belum lagi membayar kosnya. Ia juga membutuhkan tambahan pekerjaan untuk bisa melanjutkan pendidikannya.

Alkina berharap nenek tua yang bersama dirinya adalah orang baik dan mungkin ini jalan dari Allah untuk ia bisa bertahan hidup tanpa bantuan dari orang tuanya.

Malam itu Mira membawa Alkina ke rumahnya, rumah sederhana di pinggir kota, Rumah sederhana yang terdiri dari dua lantai. Rumah sederhana itu terasa hangat.

“Ayo masuk.” kata Mira sambil membuka pintu. Seorang anak laki-laki kecil berlari menghampiri.

“Nenek!” Lalu anak itu berhenti saat melihat Alkina.

“Kakak siapa?”

“Dia akan menjadi kakak kamu, kamu mau kan?”

Anak kecil itu tersenyum lebar.

“Hore aku punya kakak!” anak itu terlihat begitu senang dengan hadirnya Alkina.

Alkina terdiam sesaat, Ia lupa kapan terakhir kali ada orang menyambutnya sehangat itu.

“Ini Rian,” ujar Mira. “Umurnya tujuh tahun.”

Rian langsung menggenggam tangan Alkina tanpa ragu.

“Tangan Kakak dingin.” Kalimat sederhana itu membuat hati Alkina kembali bergetar.

Anak kecil itu bahkan lebih peduli dibanding keluarganya sendiri.

Di sisi lain…

Rumah keluarga Wiratmaja semakin kacau.

Ranti baru pulang dari luar ketika melihat ruang tamu berantakan.

“Sisil!” Gadis itu keluar kamar sambil kesal.

“Apa lagi sih?” ucapnya dengan nada kesal.

“Kenapa rumah berantakan begini?” tanya Ranti.

“Ya kalau kotor mama bersihin sendiri dong!”

Ranti membelalak. “Kamu ngomong apa?”

Sisil mendengus.

“Kan biasanya Alkina yang beresin.”

Nama itu membuat suasana langsung berubah sunyi, Ranti sadar betapa banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan Alkina sendirian. Mencuci, membersihkan rumah, memasak, menyetrika dan pekerjaan lainnya Semua dikerjakan tanpa pernah dihargai dan yang mereka lakukan hanya memarahinya setiap hari.

“Kalau mama mau, cari aja dia lagi,” ucap Sisil asal lalu kembali bermain ponsel.

Namun Ranti mendadak merasa sesak, entah kenapa bayangan wajah Alkina pagi itu terus muncul di kepalanya, tatapan hancur putrinya dan kalimat terakhirnya.

“Tolong jangan cari aku lagi.”

Ranti merasa takut, bagaimana kalau Alkina benar-benar tidak kembali?

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!