SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Gebyar upacara dan?
BAB 5: "GEBYAR UPACARA DAN ANCAMAN GENG MOTOR"
Hari Senin tiba dengan cuaca yang cerah—terlalu cerah bagi Valerie Anindya.
Seluruh murid SMA Nusantara Mandiri telah berbaris rapi di lapangan utama. Di atas podium upacara, Kepala Sekolah baru saja menyelesaikan amanatnya. Namun, tidak ada satu pun siswa yang benar-benar mendengarkan pidato panjang itu. Semua mata fokus pada sosok Valerie yang berdiri di jajaran barisan paling depan dengan wajah sepucat kapas, dan Aira yang berdiri santai di barisan belakang sambil mengunyah permen karetnya seperti biasa.
Setelah pembacaan doa selesai, Pembina Upacara menyerahkan mikrofon kepada Pak Hendra.
"Sebelum barisan dibubarkan," suara Pak Hendra bergema melalui loudspeaker sekolah,
"sesuai dengan kesepakatan dan kejujuran akademik yang kita junjung tinggi, Saudari Valerie Anindya dipersilakan maju ke depan podium."
Bisik-bisik langsung menjalar cepat di antara barisan murid. Valerie merasa kakinya seperti dibalut timah. Dengan bibir gemetaran dan mata yang mulai berkaca-kaca, dia melangkah maju menuju depan podium.
Aira menyeringai tipis. Dia melipat kedua tangannya di dada, menikmati momen kehancuran sang ratu drama.
Valerie menerima mikrofon dengan tangan yang bergetar hebat. Dia melirik ke arah Langit yang berdiri tegap di barisan pengurus OSIS. Namun, Langit sama sekali tidak membalas tatapannya; mata cowok itu justru terkunci lurus pada Aira di barisan belakang.
"S-saya..." suara Valerie bergetar, terdengar memilukan melalui speaker. "Saya ingin meminta maaf secara terbuka kepada Aira Shena... atas tuduhan tidak berdasar yang saya lontarkan minggu lalu mengenai hasil ujian Fisika. Aira murni mendapatkan nilai sempurna karena kemampuannya sendiri... Saya minta maaf."
Valerie membungkukkan badannya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat saat suara cemoohan pelan mulai terdengar dari beberapa sudut lapangan.
"Anjir, malu banget itu!"
"Makanya, jangan sok suci nuduh orang nyontek!"
"Kena batunya kan lu, Val!"
Aira cuma menaikkan alisnya. Dia tidak berniat membuat Valerie makin dipermalukan di depan umum—bukan karena kasihan, tapi karena baginya, Valerie yang sekarang sudah tidak ada harganya lagi untuk dilayani. Permainan nyata baru saja dimulai.
Sepulang sekolah, suasana gang di samping area SMA Nusantara Mandiri tampak lengang. Aira berjalan santai memegang botol teh dingin, berniat menuju halte bus terdekat. Dia sengaja tidak membawa kendaraan karena ingin menikmati angin sore.
Namun, saat Aira baru melangkah beberapa puluh meter masuk ke dalam gang bernuansa sepi itu, suara raungan mesin motor berkapasitas mesin besar (moge) mendadak memecah hening.
BRUMMM! BRUMMM!
Empat unit sepeda motor balap berwarna hitam mengurung posisi Aira dari depan dan belakang. Delapan cowok dengan jaket kulit hitam bertuliskan lambang tengkorak merah—geng Krava, musuh bebuyutan dari geng Averus milik Langit—turun dari motor mereka sambil membawa balok kayu dan rantai besi.
Aira menghentikan langkahnya. Dia menghela napas panjang, menatap delapan cowok bertubuh kekar di sekelilingnya dengan tatapan malas.
"Wah, wah... ternyata ini cewek yang dibilang Valerie?" ujar salah satu cowok berambut gondrong yang tampaknya merupakan ketua rombongan itu, sambil memutar-mutar rantai besi di tangannya.
Aira memiringkan kepalanya. Oh, jadi Valerie mainnya gini? Nyewa geng motor buat ngehajar gue di gang sepi? Tipikal trik sampah.
"Lu Aira, kan?" bentak cowok gondrong itu. "Lu udah bikin Valerie nangis-nangis dan nyewa kita buat ngasih pelajaran ke lu. Sial banget nasib lu, Cewek. Mending lu nurut kalau gak mau muka mulus lu ini kita hancurin!"
Aira tidak panik sedikit pun. Dia justru menghisap teh dinginnya lewat sedotan sampai habis, lalu melempar botol plastiknya ke dalam tempat sampah di dekatnya dengan presisi sempurna.
TAK!
"Valerie bayar kalian berapa, Sih?" tanya Aira santai sambil meregangkan lehernya hingga berbunyi krek. "Dua ratus ribu per orang? Murah banget harga diri kalian mau aja disuruh-suruh sama cewek labil."
"KURANG AJAR LU!" bentak salah satu anggota geng yang memegang balok kayu. Dia langsung maju melayangkan pukulan keras ke arah kepala Aira.
SWOOSH!
Dengan refleks luar biasa cepat hasil dari latihan pertarungan jalanan di kehidupan aslinya, Aira merunduk cepat. Balok kayu itu hanya mengudara kosong. Sebelum cowok itu sempat memulihkan posisinya, Aira melayangkan tendangan lurus tepat ke perut lawan dengan kekuatan penuh!
DUAK!
"AGHHH!" Cowok itu tersungkur ke tanah sambil memegangi perutnya yang mual parah.
Tujuh anggota geng lainnya terperangah tak percaya. Seorang cewek SMA baru saja menumbangkan satu anggota geng Krava hanya dengan satu tendangan!
"GABUNGAN! HAJAR DIA!" teriak sang ketua murka.
Tiga orang maju bersamaan memegang rantai besi dan balok kayu. Aira melompat mundur satu langkah, menghindari tebasan rantai besi, lalu mencengkeram lengan salah satu penyerang.
Dia memutar tubuhnya dan melakukan lemparan judo—SEOINAGE—membanting tubuh cowok kekar itu ke atas aspal dengan keras!
BRAMMM!
Aira mengambil balok kayu yang terjatuh dari tangan lawan, menyeringai berbahaya, dan menatap sisa anggota geng yang mulai gemetaran.
"Baru segini kemampuan kalian?" ejek Aira.
"Katanya geng motor, kok lemah banget?"
Belum sempat pertarungan berlanjut, suara deru mesin motor yang sangat khas dan menggelegar menghentak area gang tersebut.
VROOOMMM!
Sebuah motor Sport hitam metalik meluncur deras ke dalam gang dan mendadak berhenti tepat di tengah-tengah area pertempuran dengan aksi stoppie yang memukau.
Pengendaranya melepas helm full-face-nya, memperlihatkan rahang tegas dan tatapan mata sehitam malam.
Langit Biru Adhitama.
Di belakang motor Langit, puluhan motor anggota geng Averus mengepung gang tersebut, mengunci semua akses keluar untuk geng Krava.
"Anjir... Langit?!" gertak ketua geng Krava dengan wajah pucat pasi.
Langit turun dari motornya dengan gerakan tenang. Matanya menyapu lapangan—melihat dua anggota Krava yang sudah terkapar mengerang kesakitan di tanah, lalu matanya tertuju pada Aira yang masih memegang balok kayu dengan gaya santai.
Langit berjalan mendekati Aira. Tanpa memedulikan ancaman geng Krava, Langit malah meraih pergelangan tangan Aira, memeriksa jemari cewek itu dengan cermat.
"Lu terluka?" tanya Langit, suaranya terdengar agak rendah dan penuh kecemasan yang tertahan.
Aira mengernyit bingung sambil menarik tangannya pelan. "Gue gak apa-apa. Lu ngapain ke sini, Kanebo? Ngarus-arusin lapak berantem gue aja."
Langit tidak menjawab ejekan itu. Dia berbalik menatap sisa anggota geng Krava dengan tatapan membunuh. Aura dingin yang memancar dari tubuh Langit membuat suhu di gang sepi itu mendadak merosot drastis.
"Berani-beraninya kalian nyentuh cewek gue di area Averus," desis Langit tajam.
CEWEK GUE?!
Aira langsung melotot lebar. "HEH! SIAPA YANG CEWEK LU, ANJIR?!"
see you next bab 6
jangan lupa like dan komen klo suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?