Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
"Ingat istirahat. Kamu di ijinkan sama rumah sakit istirahat tiga hari."
"Iya mas komandan tadi aku dengar kok." Gio langsung menatap tajam kepada Lusi. Dengan cepat Gio langsung menyentil kening Lusi pelan.
"Mulai pintar menjawab ya."
"Maaf mas."
Tadi sebelum ke apartemen, Gio mampir membeli sate dan gulai kambing buat mereka makan siang. Dia juga menemani Lusi yang melihat mini market sebelah tempat jualan sate langsung mempir membeli susu dan buah - buahan juga beberapa daging dan sayur buat stock di kulkasnya.
Gio dan Lusi sedang menikmati makan siang bersama. Meskipun hubungan mereka saat ini tanpa status atau mungkin bertepuk sebelah tangan. Namun Gio bahagia bisa dekat dengan Lusi. Terus terang kharisma dan kecantikan Lusi membuat seorang AKP Gio Abraham komandan satuan intelejen Brimob ini jatuh hati kepadanya.
"Mas mau tanya apa betul mas yang mengambil baju dan dalaman aku di apartemen ini."
"Iya. Tetapi aku dibantu sama Bella resepsionis apartemen ini."
"Puji Tuhan."
"Maksud kamu."
"Aku malu mas kalau barang - barang private aku di pegang atau diambil orang lain. Sebenarnya mba Belle juga aku masih malu. Tetapi mending lah dari pada sama....."
"Kenapa kalau aku, sebenarnya aku bisa saja. Kan kamu sakit, ngak punya sahabat. Semua serba sendiri. Hanya aku menghargai privasi kamu itu."
"Makasih ya mas. Terima kasih buat semua bantuannya. Sekarang aku sudah membaik, jadi mas bisa konsentrasi sama kerja dan keluarga mas."
Mendengar apa yang Lusi sampaikan saat ini sedikit membuat Gio kecewa. Namun inilah yang Gio rasakan bahwa Lusi membangun tembok yang tinggi, sehingga dia susah membuka hati buat laki - laki. Gio mempunyai tekat untuk mengejek apa yang menyebabkan Lusi membentengi dirinya pada laki - laki.
Selesai minum obat. Gio pamit pulang. Dan Lusi tidak henti - henti mengucapkan terima kasih. Cerita dia sakit dan di ketahui pertama kali sama Komandan Gio sudah dia dengar dari ners Ari yang saat itu bertugas bersama dia di IGD. Dari kepanikannya, langsung mengendong Lusi, menghubungi dokter Agus sampai mendonorkan darah. Semua dia ceritakan Ari tanpa ada yang terlewati. Sampai ners - ners cewek dan dokter - dokter residen tingkat dibawah Lusi pun merasa iri.
Karena pengaruh obat Lusi ketiduran sampai jam sembilan malam. Untung saklar lampu di apartemennya itu otomatis menyala saat jam enam sore dan padam otomatis jam enam pagi. Karena masih dalam masa pemulihan, Lusi menyiapkan makan malamnya selesai makan dia melihat ada empat puluh panggilan telepon masuk dari nomor yang belum dia simpan. Dan nomor itu adalah punya Gio Abraham.
"Are you oke."
"Yes komandan. Aku baru bangun tidur. Dan ini sudah selesai makan malam." Lusi kaget kenapa dia harus melaporkan kegiatannya kepada Gio lewat telepon. Sedangkan diseberang telepon ada seorang intel terbaik sedang kegirangan karena mendapat laporan aktivitas Lusi.
"Bisa saya vidio call." Akhirnya Gio bisa melihat muka Lusi begitu sebaliknya. Akhirnya mereka cerita panjang lebar via vidio call. Menemani Lusi nonton.
"Sepertinya kamu sudah bisa tidur malam deh."
"Iya. Makasih mas komandan sudah temani diriku."
"Iya. Jangan lupa jendela dan pintu - pintu."
Satu minggu ini, Lusi jadi ketagihan melaporkan kegiatannya kepada Gio. Saat ini Gio sedang berada dalam misinya menangkap gerbong narkoba yang sedang mengadakan interkasinya di daerah lokalisasi di Jakarta. Sedangkan Lusi sudah kembali beraktivitas. Semenjak sakitnya itu, Lusi lebih proteksi dirinya agar tidak sakit lagi. Dia tidak mau membuat orang lain repot.
"Kamu itu jangan terlalu mandiri dek. Kamu butuh orang lain yang bisa mengerti kamu, bisa temani mendengar curhat kamu."
"Aku ngak sendiri kok, ada mamiku."
"Mami kamu di Papua. Jauh dek."
"Maksud dokter apa sih. Aku kan punya dokter yang sudah seperti kakak bagiku."
"Aku sebentar lagi menikah."
"Mba Desy marah ya, dokter dekat dengan aku."
"Ngak... Ngak sama sekali. Dia kan sudah kenal kamu.... Sebentar jam makan siang, Desy mau ketemu kamu dek."
Ternyata Lusi di minta untuk menjadi pagar ayu dalam nikahan dokter Agus dan dokter Desy. Lusy menyetujui dan dia menerima kain dan bingkisan lainnya yang diberi oleh pengantin. Dan rencana Lusi akan membawa kain yang di beri Desy untuk seragam menjadi pagar ayu ke penjahit agar dibuat dress yang cantik.
Dan tak terasa sudah dua minggu lebih Gio tidak datang merecoki hatinya. Lusi tidak bisa pungkiri dia merindukan kehadiran sosok Gio. Lusi sedang membereskan barang bawaannya. Karena sudah jam pulang kantor. Hampir saja Lusi jatuh, kalau tidak tangan kuat Gio memegang pinggangnya, mungkin saja Lusi akan jatuh.
"Bisa ngak sih hati - hati."
"Mas juga sih ngapain mau mengagetkan saya. Mana bawa bunga segala."
"Aku kangen dengan cerewet kamu."
Akhirnya malam ini, Lusi mengikuti Gio. Mereka makan malam bersama di sebuah mall yang juga adalah properti dari keluarga Abraham dibawa pengawasan Adiguna Grup perusahaan mereka. Gio sengaja menggunakan motor besarnya agar lebih intim berdua motoran dengan perempuan yang dia cinta diam - diam.
Waktu sampai di gerbang depan mall, satpam dan pengurus mall ini memberi hormat kepada Gio. Terus terang dari banyaknya ribuan pengunjung kenapa Gio yang di sambut berbeda. Lusi memperhatikan itu. Pikirannya apa ini karena pekerjaannya sebagai seorang abdi negara. Hal yang sama juga waktu mereka masuk restoran pelayanan khusus juga diberikan.
"Siap bos, mejanya sudah disiapkan." Lusi mengikuti Gio dengan membawa bunga yang diberikan kepadanya tadi di rumah sakit. Gio mempersilahkan Lusi duduk.
"Menunya ikut yang gue pesan ya. Kamu ada alergi makanan."
"Ngak ada. Aku bebas pemakan segalanya."
"Berarti bisa makan aku juga dong."
"Ngak lah mana mungkin. Mana bisa aku makan manusia. Emang aku kanibal." Gio tertawa, judesnya Lusi seperti ini yang dia rindukan. Tetapi hari ini Gio merasa Lusi berbeda. Setelah banyak hal yang dia lakukan untuk lebih dekat dengan Lusi. Baru hari ini Lusi mau di ajak keluar berdua dengannya dan makan di tempat umum.
Senyuman dan kecerian Lusia Irene terpancar saat mereka makan bersama, Lusi menceritakan semua yang dia lakukan selama Gio tidak bertemu dengan dia selama dua minggu.
"Tadi siang dokter Desy memberikan paket kepada aku, dia meminta aku menjadi pagar ayunya."
"Oooo ya. Good dong." Tiba - tiba Gio melihat muka paniknya Lusi.
"Tapi aku lupa bawa paketnya mas. Aku harus menjahit kain itu menjadi dress buat acara nikahan dokter Agus dan dokter Desy."
"Besok aku akan bawa kamu ke kenalan aku yang punya butik dia bisa menjahit cepat dan sesuai dengan bentuk dress yang kamu mau."
"Benar."
"Kamu ngak percaya sama mas mu."
"Mas mu!!!"
Dua orang cewek berbeda usia, tiba - tiba hadir dihadapan meja yang di gunakan Gio dan Lusi makan. Trauma Lusi kembali terlihat. Dia ketakutan dua orang cewek ini memarahinya karena makan bersama Gio.
Lusi takut, perempuan yang muda itu adalah tunangan Gio, atau pacarnya Gio yang sedang bersama mamanya. Ketakutan Lusi semakin menjadi.