Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Senyum yang Tidak Bisa Dibalas
Lia berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang ia paksa tetap teratur. Satu, dua, tiga, empat. Ia menghitungnya seperti menghitung angka di laporan, karena selama ada yang bisa dihitung, ia tidak perlu memikirkan hal lain.
Ia melewati meja Dimas tanpa menoleh. Melewati deretan kubikel, suara keyboard, aroma kopi. Melewati Dinda yang berdiri setengah dari kursinya dan hendak bertanya sesuatu. Lia hanya mengangkat tangan sedikit, isyarat nanti, lalu terus berjalan sampai pintu tangga darurat di ujung koridor.
Begitu pintu besi itu tertutup di belakangnya, keheningan menyelimuti. Lia bersandar ke dinding beton yang dingin dan memejamkan mata.
Tiga puluh satu tahun, belum menikah.
Ia tidak menangis. Ia mengulanginya seperti mantra: ia tidak menangis. Air mata terlalu mahal untuk dibuang pada pria yang bahkan tidak tahu namanya sampai kemarin. Tapi tenggorokannya panas, dan jemarinya mencengkeram map sampai kuku-kukunya memucat.
Yang paling menyakitkan bukan hinaan itu sendiri. Ia sudah terbiasa dengan kalimat serupa, bahkan yang lebih halus dan lebih kejam, dari bibir Tante Ratna, dari para paman, dari tetangga-tetangga yang bertanya dengan senyum manis. Ia punya jawaban untuk semuanya. Selalu.
Yang menyakitkan adalah bahwa kali ini ia tidak punya jawaban.
Bukan karena kalimat itu benar. Lia tahu betul kalimat itu tidak benar. Tapi ia tidak bisa menjawabnya. Ia tidak bisa menyahut "Bapak sendiri, umur dua puluh delapan sudah sedingin es, siapa yang tahan?" Ia tidak bisa membalas sekejam yang ia mau. Pria itu memegang kunci kariernya, gajinya, cicilan rumah orang tuanya, seluruh keamanan yang sudah ia bangun selama tujuh tahun. Satu perintah dari pria itu, dan semuanya bisa hilang.
Dan pria itu tahu. Itu sebabnya ia berani. Kekejaman paling efisien adalah yang dilakukan orang yang yakin korbannya tak bisa melawan.
Ia teringat rumah orang tuanya yang cicilannya masih ia bantu bayar, Ayah yang sudah pensiun, obat-obatan Ibu setiap bulan. Ia bukan perempuan yang bisa membanting pintu dan pergi. Kebebasan untuk marah adalah kemewahan, dan ia belum punya cukup tabungan untuk membelinya.
Sayup-sayup dari lantai bawah terdengar dering telepon dan tawa satpam, rutinitas biasa yang tidak peduli bahwa seorang perempuan sedang berdiri di tangga darurat dan berjuang agar tidak runtuh. Dunia selalu begitu. Tidak pernah berhenti hanya karena satu hati sedang terluka.
Lia membuka mata dan menatap langit-langit tangga yang kusam. Ada noda air di sudutnya. Ia menatap noda itu lama sekali sampai matanya perih.
Pintu tangga terbuka pelan. Dinda menyelinap masuk dengan wajah cemas.
"Lia?"
"Aku baik-baik saja."
"Kamu tidak kelihatan baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, Dinda."
Dinda tidak membantah. Ia hanya berjalan mendekat dan berdiri di samping Lia, bahu bertemu bahu, tanpa berkata apa-apa. Setelah beberapa saat, ia berbisik, "Dia bilang apa?"
Lia terdiam lama. "Dia menilai statusku."
"Statusmu?"
"Aku belum menikah. Dan menurut dia, itu karena aku terlalu merasa benar."
Wajah Dinda berubah. Kaget, marah, lalu pucat. "Dia bilang begitu? Ke kamu? Di ruangan Bu Retno?"
"Sst."
"Lia, itu pelecehan verbal! Itu bisa dilaporkan ke HRD!"
"Dan siapa yang akan memihak aku? Aku staf biasa, dia pemilik perusahaan." Lia tersenyum kecil, getir. "Dia bisa bilang itu 'evaluasi' dan semua orang akan mengangguk."
Dinda menggigit bibir. "Kamu tidak boleh diam saja."
"Aku tidak diam. Aku hanya memilih waktunya." Lia menarik napas panjang, meluruskan punggung, dan merapikan blazernya. "Sekarang, aku harus kembali dan menyerahkan sepuluh salinan itu ke Bu Retno. Kita masih punya sesi sore."
"Kamu masih mau kerja?"
"Aku tidak akan membiarkan dia melihat aku kabur."
Sisa hari itu berlalu dalam kabut tipis. Lia menyerahkan salinan, menjawab pertanyaan Bu Retno, mengikuti sesi sore dengan ekspresi yang tidak bergeser sedikit pun. Ketika Navin masuk ruangan, ia menatap ke depan. Ketika Navin berbicara, ia mencatat. Ketika sekali, hanya sekali, matanya bertemu mata pria itu di ujung meja, ia menahan pandangannya tepat tiga detik, lalu mengalihkannya dengan sopan ke layar proyektor.
Ia tidak melihat bahwa pria itu menahan napas di seberang sana.
* * *
Malam itu, di kamar kecilnya, Lia duduk bersila di atas kasur dengan ponsel di tangan dan segelas teh hangat di meja. Ia mengetik pesan panjang untuk Nica. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapusnya lagi. Akhirnya ia menekan tombol panggil pada nama yang paling tidak ingin ia repotkan.
"Halo?" Suara Basti terdengar serak, seperti baru bangun. "Kamu tahu sekarang jam berapa?"
"Jam sembilan."
"Aku tidur dari jam tujuh. Aku shift pagi tadi. Ada apa?"
Lia membuka mulut untuk berkata tidak ada apa-apa. Tapi yang keluar justru kalimat yang selama ini ia simpan sendirian. "Bas. Kalau seseorang bilang kamu belum menikah karena kamu terlalu merasa benar, menurutmu itu benar?"
Sunyi sebentar. Lalu suara Basti berubah total. "Siapa yang bilang begitu?"
"Bukan siapa-siapa."
"Ophelia."
"CEO-ku."
"Dia bilang APA?"
Lia menceritakan semuanya, pelan-pelan, dengan suara yang lebih datar daripada yang ia rencanakan. Ia menceritakan tabrakan di lorong, ruangan Bu Retno, dan kalimat itu. Ia tidak menceritakan bagian tentang pergelangan tangannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Aku ke Bandung sekarang," kata Basti.
"Kamu di Cirebon."
"Tiga jam. Aku bisa sampai sebelum tengah malam dan menendang..."
"Bas." Lia tertawa, dan tawa itu mengejutkannya karena terdengar basah. "Jangan. Dia bosku."
"Dia brengsek."
"Dua-duanya bisa benar."
Basti mengembuskan napas kasar di ujung telepon. "Lia, dengar. Kamu tidak punya yang salah. Kamu dengar? Umur berapa pun, status apa pun, kamu tidak punya yang salah."
Tenggorokan Lia menegang. "Aku tahu."
"Kamu tidak tahu. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan menelepon aku pukul sembilan malam."
Lia menutup mata. Air mata yang ia tahan seharian akhirnya jatuh satu, hanya satu, meluncur di pipinya dan menetes ke atas kain selimut. "Mungkin... ada sedikit bagian dari diriku yang takut kalimat itu benar."
"Tidak ada," ujar Basti tegas. "Yang ada cuma pria yang menyakiti orang karena dia tidak tahu cara menghadapi dirinya sendiri."
Lia terdiam. Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa seperti sesuatu yang penting, tapi ia menyimpannya di sudut kepalanya, di antara tumpukan hal-hal yang belum ia mengerti.
Setelah telepon ditutup, ia menghapus sisa air mata dengan punggung tangan, mengambil tehnya, dan menatap blazer abu-abu yang tergantung di pintu lemari.
Baiklah, Tuan Navin, pikirnya. Anda menang hari ini.
Ia meneguk teh yang sudah setengah dingin, lalu berbisik pada bayangannya di kaca jendela.
"Tapi aku akan membencimu dengan sangat profesional."