Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Setelah percakapan yang menyayat hati itu mereda, Jenderal Wen menarik napas panjang, berusaha menenangkan emosinya. Ia berdiri tegak kembali menjadi seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa. Namun di balik tatapan tajam itu, kini terselindung kasih sayang yang begitu dalam untuk cucunya yang baru saja ia temukan.
"Kau tidak akan sendirian lagi, Wu'er," ucap Jenderal Wen mantap. "Mulai hari ini, kau tinggal di sini, di benteng ini. Dan Kakek tidak akan membiarkan siapa pun mendekatimu dengan niat buruk."
Ia berbalik ke arah seorang prajurit yang berdiri menunggu di dekat pintu. "Panggil Jendral Lin ke sini. Dan sampaikan perintahku, carikan pengawal wanita yang paling tangguh, paling setia, dan pandai dalam bela diri. Yang akan selalu berada di sisi Nona Feng Wu, ke mana pun ia pergi. Tanpa pengecualian."
"Siap, Jenderal!" Prajurit itu memberi hormat lalu bergegas melaksanakan perintah.
Feng Wu hendak menolak, namun Jenderal Wen menggeleng pelan. "Bukan karena Kakek meremehkan kemampuanmu, Wu'er. Tapi dunia luar berbahaya. Dan di masa depan, saat namamu mulai dikenal, kau akan butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk menjagamu. Seseorang yang Kakek percayai sepenuhnya."
Feng Wu tersenyum tipis dan mengangguk tanda menerima. "Terima kasih, Kakek."
Tak lama kemudian, pakaian yang layak dikirimkan ke ruangan itu, kain halus berwarna biru langit yang lembut namun tebal, serta pakaian dalam yang bersih dan nyaman. Feng Wu dibawa ke ruangan lain untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Saat ia kembali melangkah masuk ke ruangan Jenderal Wen, langkah kakinya perlahan terdengar mendekat.
Jenderal Wen yang sedang membaca laporan di meja perlahan mendongak. Dan detik itu juga, tangannya berhenti bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya terbelalak tak percaya, seakan melihat hantu yang paling ia rindukan di dunia ini.
Di hadapannya yang berdiri bukan lagi gadis kurus, kotor, dan pucat yang lusuh pakaiannya. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda yang begitu mempesona dengan rambut hitam legam yang kini bersih dan berkilau, terurai panjang hingga pinggang dengan lembut. Wajahnya yang dulu tertutup debu kini berseri, kulitnya putih bersih dan halus, seolah bercahaya dari dalam. Hanfu biru langit itu terlihat sederhana namun jatuh dengan sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang anggun dan elegan.
Namun yang membuat Jenderal Wen tak mampu berkata-kata bukanlah pakaian itu melainkan wajahnya. Wajah itu... persis sama dengan mendiang putrinya.
"Wen Ning..." bisiknya lirih, tanpa sadar menyebut nama putrinya.
Feng Wu berhenti melangkah, sedikit bingung. "Kakek? Ada yang salah?"
Jenderal Wen menggeleng perlahan, matanya berkaca-kaca namun kali ini karena kekaguman yang mendalam. Ia berjalan mendekati cucunya, menatap wajah itu lekat-lekat , setiap garis, setiap senyum, setiap sorot mata semuanya persis seperti Wen Ning, wanita yang dulu dijuluki kecantikan nomor satu di ibukota Qincheng.
"Kau... kau begitu mirip Ibumu, Wu'er," ucap Jenderal Wen dengan suara bergetar. "Sangat mirip... seakan waktu berputar kembali dan Ning'er berdiri di hadapanku lagi."
Jenderal Wen duduk di kursinya, tatapannya melayang ke masa lalu yang masih terasa jelas di ingatannya.
"Dulu... ibumu, Wen Ning, adalah wanita tercantik di seluruh ibukota," ceritanya pelan, penuh kerinduan. "Kecantikannya bukan sekadar rupa, ia memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Para Pangeran dari kerajaan tetangga pun datang hanya untuk melihatnya sekali. Para bangsawan tertinggi saling bersaing, memberikan hadiah yang tak ternilai, berharap ia melirik mereka."
Ia menghela napas panjang, sedikit senyum pahit muncul di bibirnya. "Bahkan salah satu Pangeran kekaisaran saat itu pun pernah meminta tangannya. Namun Ning'er menolak semuanya. Ia memilih... ia memilih Feng Yuan. Pria yang saat itu belum terlalu menonjol, namun ia bilang ia mencintainya karena ketulusannya."
Feng Wu mendengarkan dengan saksama, hatinya terasa hangat sekaligus sedih. Ia tidak pernah menyangka ibunya adalah wanita yang begitu luar biasa, begitu dicari dan dihormati, namun memilih cinta yang sederhana.
"Dan sekarang..." Jenderal Wen menatapnya kembali, matanya bersinar bangga sekaligus khawatir. "Kau mewarisi semua itu, Wu'er. Kecantikan Ibumu, kecerdasannya, dan keteguhan hatinya. Tapi Kakek harus memperingatkanmu. Kecantikan ini bisa menjadi berkah, namun juga bisa menjadi bencana. Seperti yang dialami Ibumu, orang-orang akan datang bukan untuk menghargaimu, melainkan untuk memilikimu, untuk kepentingan mereka sendiri."
Feng Wu tersenyum tipis, namun matanya menyala dengan keyakinan yang kuat.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padaku, Kakek," ucapnya tegas. "Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Biarkan mereka datang. Aku akan membuat mereka tahu bahwa kecantikanku bukanlah undangan untuk dimiliki, melainkan peringatan untuk dihormati."
Jenderal Wen tertawa kecil, tawa yang tulus dan bahagia, tawa yang sudah lama tak terdengar dari mulutnya. Ia mengangguk puas.
"Benar-benar putri Ning. Dan benar-benar cucuku," ucapnya bangga. "Kau melebihi Ibumu, Wu'er. Dan Kakek yakin suatu hari nanti, seluruh Qincheng akan tahu nama Feng Wu. Dan mereka akan berlutut bukan karena kecantikanmu, melainkan karena kekuatanmu yang luar biasa."
Di saat itu, pintu terbuka perlahan. Seorang wanita muda dengan pakaian prajurit berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapannya tajam, tubuhnya tegap, dan aura kesetiaan yang kuat terpancar darinya.
"Salam Jenderal Besar," ucap wanita itu tegas. "Jendral Lin memerintahkan saya agar menjadi pengawal Nona Feng, Nama saya Qing Su".
Feng Wu menatap wanita itu, lalu tersenyum ramah namun tegas. Sebuah babak baru dimulai. Di sisinya kini berdiri pelindung, dan di dalam dirinya, ia membawa warisan kecantikan sekaligus kekuatan yang akan mengguncang dunia.