Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Kedua
Suasana taman kota sore itu cukup ramai, namun Jia Li memilih menyendiri di salah satu bangku kayu di bawah pohon rindang.
Di tangan kanannya, sebuah es krim vanilla perlahan mulai meleleh. Setelah menyelesaikan misi pertamanya, ia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke apartemen.
Dengan mengendarai motor matic-nya, ia sempat berkeliling membelah jalanan kota yang padat. Beruntung, sebuah antarmuka transparan yang hanya bisa dilihat olehnya terus berkedip di sudut mata, menuntun setiap belokan jalan.
"Huh, sistem sudah membuatku jadi pengangguran," gumam Jia Li lirih, menyendok es krimnya dengan malas.
Meskipun visualnya terlihat santai menikmati sore, di dalam otaknya justru berputar kencang tanpa henti.
Berbagai agenda besar telah tersusun rapi di kepalanya. Ini bukan hanya tentang menjalani hidup di dunia yang asing ini , atau membalas dendam pada keluarga benalu itu, melainkan sebuah waktu untuk bersiap menyambut hari kiamat yang sudah diprediksi oleh sistem.
Sesuai peringatan yang ia terima, waktu istirahat nya sudah habis. Detik ini adalah awal dari persiapan segalanya.
Suapan es krim terakhir masuk ke dalam mulutnya. Tepat saat rasa manis itu hilang, tatapan mata Jia Li langsung berubah menjadi setajam silet.
Ia berdiri dengan gerakan pelan, namun gestur tubuhnya memancarkan ketegasan.
"Misi selanjutnya... rumah keluarga Jia," bisik Jia Li penuh semangat yang dingin. Ada kilat ambisi yang membakar matanya.
Baru saja kata terakhir lolos dari bibirnya, sebuah suara familiar bergetar di dalam kesadarannya.
Suara mekanis sistem yang dingin kembali menggema, memecah keheningan di kepalanya.
Ding!
[Misi Kedua Lanjutan aktif: Kembali ke Rumah Keluarga Jia] Suara sistem menjeda sejenak, sebelum menjabarkan detail berikutnya.
[Tujuan: Masuk ke dalam internal perusahaan Jia Group. Ambil dan alihkan seluruh dana perusahaan, baik yang legal maupun yang ilegal. Dana tersebut akan dikonversi sepenuhnya untuk keperluan pembangunan infrastruktur bertahan hidup.]
[Hadiah Misi: Satu peta digital menuju lokasi pembuatan bunker pertama]
Mendengar kata 'bunker pertama', sepasang matanya langsung berbinar cerah, memancarkan kepuasan sekaligus ambisi yang tak terbendung. Langkah awalnya menuju pertahanan kiamat kini terbuka lebar.
Tanpa membuang waktu, ia menaiki motornya dan memacu kembali motor matic-nya membelah kemacetan.
Hanya butuh waktu 15 menit bagi Jia Li untuk sampai di area gedung apartemennya. Setelah memarkirkan motor dengan tergesa, ia melangkah lebar memasuki lift, menekan tombol lantai tujuan, dan tak lama kemudian kunci pintar apartemennya berbunyi klik.
Jia Li melangkah masuk dan langsung menyisir setiap sudut ruangan. Matanya menatap nanar sekeliling tempat tinggal peninggalan ibunya itu. Apartemen ini kecil, walau tidak bisa dibilang terlalu sempit. Tata letaknya sederhana: hanya ada satu kamar tidur, sebuah ruang tamu mini, dan dapur kecil di sudutnya.
Sebuah senyuman miris dan getir terukir di bibir Jia Li saat menyadari kontrasnya takdir. Benar-benar miris, batinnya.
Di zaman kuno, ibunya adalah seorang Permaisuri agung yang dipuja. Sang ibu dicintai mati-matian oleh seorang Kaisar tiran yang terkenal kejam tanpa ampun kepada musuh, namun bertransformasi menjadi sosok pria paling lembut dan penyayang di depan keluarganya.
Sementara di dunia modern ini? Keadaannya berbalik 180 derajat. Dan di sinilah Jia Li sekarang, masuk ke dalam raga sang ibu, dipaksa memutar roda nasib dan menggantikan seluruh perannya untuk bertahan hidup.
"Oke... tidak ada waktu untuk meratap. Kita bersiap-siap sekarang. Sebelum kiamat menghancurkan dunia ini dan mengubur ku disini." gumam Jia Li menyemangati dirinya sendiri.
Ia melangkah tegas menuju kamar tidur. Alih-alih mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, ia langsung membongkar lemari dan sudut-sudut ruangan, mencari sesuatu yang bisa digunakan.
Setelah menemukan sebuah koper tua yang berdebu di kolong ranjang, ia mulai memilah pakaian. Jia Li hanya mengambil beberapa potong baju yang menurutnya masih sangat layak.
Tidak banyak barang yang ia bawa ke dalam koper; hanya beberapa pakaian, sedikit alat make-up dan laptop.
Setelah resleting koper tertutup rapat, ketegangan di pundaknya sedikit mengendur. Jia Li akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang lumayan nyaman.
Ia telentang, menatap langit-langit kamar yang putih polos dengan pandangan yang perlahan mengabur oleh kerinduan.
"Kira-kira... bagaimana kondisi istana ya, jika aku terjebak dan berada di dunia asing ini?" gumam Jia Li dengan nada suara yang bergetar sendu.
"Baru beberapa hari aku berada di tempat asing ini, tapi aku sudah sangat merindukan Ayah dan Ibu... Lalu, bagaimana dengan Kak Shadom dan Kak Sharam? Mereka pasti sedang menangis histeris karena kehilangan adik perempuan yang sangat mereka sayangi."
Jia Li menghela napas berat, membiarkan dadanya sesak oleh rasa bersalah dan kerinduan.
Namun, ada satu hal besar yang sama sekali tidak diketahui oleh Jia Li—atau yang di dunia asalnya dikenal sebagai Putri Mahkota Yun Sheren.
Saat ia mengira kedua kakaknya sedang menangisi hilangnya dirinya di dalam istana megah mereka, takdir justru sedang mempermainkan mereka semua.
Kedua kakak laki-lakinya itu ikut terlempar bersamanya ke dunia modern yang membingungkan ini!
Perbedaannya hanya satu: jika Yun Sheren terlempar dan memasuki raga sang ibu bernama Jia Li, kedua kakaknya justru terlempar utuh bersama tubuh asli mereka.
Beberapa jam kemudian...
"JIA LI!"
DUBRAK!
DUBRAK!
Kali ini, bukan suara mekanis dari sistem yang membangunkannya, melainkan suara teriakan lantang yang dibarengi gedoran brutal di depan pintu apartemen Jia Li.
Jia Li menggeliat, spontan menarik bantal untuk menutup kedua telinganya. Namun, usaha itu sia-sia karena suara di luar justru semakin menggelegar.
"JIA LI!!" teriak suara itu dari balik pintu.
"Haish..." Mau tidak mau, Jia Li terpaksa membuka matanya dengan kesal.
Ia meraih ponsel di samping tempat tidur dan melirik jam digital di layarnya. " Sudah malam!"gumam nya.
"JIA LI! BUKA PINTUNYA SEKARANG ATAU AKU AKAN MENDOBRAKNYA SAMPAI HANCUR!" teriak suara itu lagi, terdengar tidak main-main
Mendengar namanya diteriakkan sekali lagi dengan nada mengancam, Jia Li langsung tersentak kaget. Seluruh tubuhnya menegang hebat, memicu insting bertarungnya yang tiba-tiba aktif kembali. Matanya menyipit tajam penuh kewaspadaan.
"Kenapa ada alarm hidup yang berteriak-teriak tidak tahu sopan santun seperti itu?" gumam Jia Li dengan nada dingin.
Dengan langkah mengendap-endap dan tubuh yang siap menyerang, ia keluar dari kamar. Sebelum melangkah lebih jauh ke area pintu keluar, tangannya dengan cepat menyambar sebuah sapu yang berdiri di dekat dapur.
Ia menggenggam erat gagang sapu itu, memasang kuda-kuda kokoh, dan bersiap menggunakannya sebagai senjata pelindung dari ancaman asing di balik pintunya.
Jia Li—atau lebih tepatnya Jiwa Yun Sheren yang kini mendiami tubuh itu—bahkan sampai lupa jika dia memiliki kekuatan elemen yang luar biasa di dalam aliran darahnya. Di dunia modern ini, akal sehatnya mendadak tumpul oleh kepanikan.
CEKLEK!
Dengan satu gerakan cepat, Jia Li membuka kunci dan menarik pintu apartemennya. Ia sudah mengangkat sapunya tinggi-tinggi, bersiap untuk mengayunkannya demi menyerang siapa pun penyusup di luar sana.
Namun, pemandangan di hadapannya justru di luar dugaan. Sebelum sapu itu sempat turun, dua orang wanita muda langsung menerobos masuk seperti angin puyuh, menubruk tubuhnya hingga terhuyung ke belakang, dan memeluknya dengan sangat erat.
"HUWAAAAAAAA... JIA LI! Kupikir kau sudah mati!" jerit wanita berambut panjang yang mengenakan rok plisket modis.
Tangisannya pecah begitu saja di pundak Jia Li, mengabaikan fakta bahwa sapu di tangan Jia Li hampir mengenai kepalanya.
Wanita yang satunya lagi ikut mencengkeram lengan Jia Li, mengangguk-angguk dramatis dengan air mata yang mulai menghapus riasan wajahnya.
"Hiks... hiks... benar! Kau tidak boleh mati dulu! Hutangmu padaku bulan lalu belum dibayar sama sekali!" timpalnya dengan suara sengau yang dipaksakan.
Mendengar alasan konyol itu, jiwa Yun Sheren yang ada di dalam raga Jia Li hanya bisa melongo dengan mulut menganga lebar. Sapu di tangannya perlahan turun, digantikan oleh rasa syok yang luar biasa.
‘Sepertinya... aku tahu siapa makhluk-makhluk berisik ini,’ gumam Jia Li dalam hati. Bulu kuduknya mendadak merinding seketika saat sebuah ingatan asing berputar di kepalanya. ‘Ibu dulu pernah menceritakan tentang dua sahabatnya di dunia ini yang selalu sukses bikin sakit telinga. Tapi, aku benar-benar tidak pernah berharap akan bertemu langsung dengan mereka!’
Sambil menahan napas, Jia Li memutar bola matanya pasrah. ‘Ibu... tolong selamatkan telingaku dari siksaan ini!’ jeritnya frustrasi dalam hati.