Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bara menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin kamar mandi yang kusam.
Dia mengenakan kemeja kotak-kotak bekas yang warnanya sudah mulai pudar dan celana jins hitam yang agak longgar.
Ini adalah satu-satunya pakaian paling bagus yang dia miliki di lemarinya saat ini.
"Penampilanku masih terlihat seperti gembel, tapi setidaknya badanku sudah tidak bau kotoran lagi," ucap Bara pada dirinya sendiri.
Dia keluar dari rumah kontrakannya dan memastikan pintunya terkunci rapat agar tidak ada yang mencuri tungku sistem di bawah kasurnya.
Langkah kaki Bara kini terasa sangat ringan saat berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya.
Setiap pijakannya terasa mantap dan dia sama sekali tidak merasa mudah lelah seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit berjalan kaki baginya untuk mencapai kawasan komersial di pusat kota yang gemerlap.
Kawasan ini dipenuhi dengan deretan ruko elit yang menjual berbagai macam barang mewah mulai dari pakaian desainer sampai perhiasan mahal.
Lampu-lampu jalan dan papan nama toko yang terang benderang sangat kontras dengan lingkungan kumuh tempat Bara tinggal.
Mata Bara menyapu deretan toko di sepanjang jalan raya itu mencari target yang pas untuk membuang kepingan emasnya.
Pilihannya jatuh pada sebuah toko perhiasan yang terlihat cukup mewah dan terpercaya dengan plang besar bertuliskan Toko Emas Abadi.
Kling!
Suara lonceng kecil berbunyi nyaring saat Bara mendorong pintu kaca toko emas tersebut dan melangkah masuk.
Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulitnya, sangat berbeda drastis dengan udara malam di luar sana.
Toko itu sedang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pelanggan kaya yang sedang melihat-lihat cincin berlian di etalase kaca.
Seorang pria paruh baya berkacamata yang bertugas sebagai manajer sekaligus penjaga toko menoleh ke arah pintu.
Pria itu memindai penampilan Bara dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan tatapan penuh kecurigaan.
Kemeja pudar dan celana jins murah yang dipakai Bara jelas membuat penjaga toko itu merasa sangat terganggu.
"Maaf, toko kami tidak menerima sumbangan pengemis dalam bentuk apa pun," ucap pria berkacamata itu dengan nada mengusir secara terang-terangan.
Bara menghentikan langkahnya sejenak dan membalas tatapan merendahkan dari penjaga toko itu dengan sangat tenang.
"Aku bukan pengemis jalanan yang mau minta sumbangan, aku datang ke tempat ini untuk menjual emas murni," jawab Bara dengan nada suara lugas.
Penjaga toko itu mendengus pelan dan langsung tersenyum sinis mendengar ucapan percaya diri dari Bara.
"Menjual emas katamu?" tanya pria itu sambil bersedekap dada mengejek.
"Anak muda, kau pikir ini toko emas loakan pinggir jalan yang bisa kau masuki dengan penampilan menyedihkan seperti itu?"
"Kalau kau cuma mau menjual cincin mainan palsu atau kuningan sepuhan murah, sebaiknya kau pergi ke pasar loak saja sana."
Bara tidak langsung terpancing emosi, dia tahu persis orang-orang di kota besar ini memang selalu menilai orang lain dari ketebalan dompet dan pakaiannya.
Dia berjalan santai mendekati meja etalase kaca panjang tempat pria paruh baya itu berdiri menunggunya.
Bara lalu merogoh saku celananya dalam-dalam dan mengeluarkan kepingan logam berwarna kuning pekat yang tadi dia dapatkan dari sistem daur ulang.
Trak!
Bara meletakkan kepingan emas murni seberat lima puluh gram itu tepat di atas meja etalase kaca hingga menimbulkan suara benturan kecil.
"Silakan kau periksa sendiri dengan matamu apakah ini kuningan sepuhan murah atau emas batangan asli," ucap Bara dengan nada menantang manajer itu.
Mata penjaga toko itu seketika langsung tertuju pada kepingan emas mengkilap yang tergeletak di depannya.
Awalnya pria itu masih memasang wajah meremehkan, tapi ekspresinya perlahan berubah menjadi sangat terkejut saat melihat kilau warna emas tersebut.
Pria itu buru-buru mengambil alat kaca pembesar dari laci mejanya dan mulai memeriksa permukaan kepingan emas itu dengan sangat teliti.
"Ini... warnanya sangat pekat dan tekstur kepadatan logamnya terlihat sempurna tanpa cacat sedikit pun," gumam penjaga toko itu dengan dahi berkerut bingung.
"Tentu saja sempurna, karena itu adalah emas murni seberat lima puluh gram utuh," timpal Bara dengan gaya menyandarkan sikunya di meja.
Penjaga toko itu meletakkan kembali kaca pembesarnya dan menatap wajah Bara dengan pandangan yang kini penuh curiga tingkat tinggi.
"Dari mana seorang gembel sepertimu bisa mendapatkan emas batangan kualitas tinggi tanpa merek dan cap pabrik seperti ini?" tanya pria itu dengan nada menginterogasi layaknya polisi.
"Coba tunjukkan padaku mana surat-surat resmi kepemilikan emas ini?"
"Aku tidak punya surat kelengkapannya, itu hanyalah emas mentah warisan keluarga yang baru saja aku lebur ulang sendiri di rumah," jawab Bara berbohong dengan wajah datar.
Dia tentu saja tidak mungkin bilang kalau emas mahal itu keluar dari tungku ajaib setelah ditukar dengan gir sepeda motor rongsokan yang berkarat.
Mendengar jawaban Bara yang terdengar tidak masuk akal, senyum licik dan sinis kembali muncul di bibir penjaga toko tersebut.
"Warisan keluarga katamu? Jangan bercanda denganku, anak muda," cibir pria itu sambil tertawa meremehkan.
"Kau pikir aku ini orang bodoh yang bisa kau tipu dengan mudah menggunakan alasan pasaran seperti itu?"
"Melihat penampilan gembel dan bajumu yang murahan ini, aku sangat yakin seratus persen kalau emas batangan ini adalah barang hasil curian."
"Kau pasti baru saja membobol brankas rumah orang kaya dan mencuri emas mentah ini, kan?" tuduh pria berkacamata itu dengan suara yang sengaja dikeraskan agar seisi toko mendengarnya.
Beberapa pelanggan toko yang sedang berbelanja di sana langsung menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Aku bukan pencuri murahan, aku mendapatkan kepingan emas itu dengan tanganku sendiri," balas Bara mulai merasa kesal dengan tuduhan tidak berdasar ini.
"Alasan yang sangat klise, semua maling juga pasti akan bilang begitu kalau mereka sedang tertangkap basah menjual barang tadahan," ejek penjaga toko itu tanpa rasa bersalah.
"Dengar ya anak muda, karena barang bawaanmu ini tidak jelas asal-usulnya, harganya akan jatuh sangat murah di pasaran."
"Aku berbaik hati akan menolongmu membelinya seharga sepuluh juta rupiah saja, tidak lebih dari angka itu."
Bara mengerutkan keningnya tidak percaya, harga sepuluh juta sangat jauh dari nilai asli lima puluh gram emas murni yang seharusnya berada di angka lima puluh juta lebih.
"Sepuluh juta kau bilang? Kau mencoba merampokku secara terang-terangan di siang bolong begini ya?" desis Bara dengan kedua mata yang mulai menyipit tajam.
"Harga yang kau tawarkan itu jauh di bawah standar pasar paling murah sekalipun, kembalikan emasku sekarang juga."
Bara langsung mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil kepingan emas itu kembali dari atas meja etalase.
Namun penjaga toko itu dengan cepat menahan emas tersebut dengan telapak tangannya sendiri.
"Eits, tunggu dulu, jangan buru-buru pergi," ancam pria paruh baya itu dengan tatapan mata yang sangat licik.
"Kau mau mengambil kembali barang curian ini lalu lari kabur begitu saja? Semuanya tidak semudah itu."
"Sebaiknya kau ambil uang sepuluh juta ini dan pergi dari tokoku sekarang juga, atau aku akan langsung berteriak memanggil polisi keamanan untuk menangkapmu sebagai pencuri."
"Kau pasti tahu betul kalau pihak kepolisian akan lebih percaya pada omongan manajer toko sepertiku daripada gembel sepertimu, kan?"
Mendengar ancaman murahan yang penuh omong kosong itu, amarah Bara yang sempat reda perlahan mulai mendidih kembali di dalam dadanya.