Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pusaka Tulang Iblis
Distrik Bawah Kota Awan Jatuh adalah tempat yang jarang disentuh cahaya para kultivator aliran lurus. Di balik lorong sempit yang dipenuhi bau, pesing, dan kayu lapuk, para pengemis serta kultivator liar hidup seperti tikus.
Bagi Mo Xie, tempat seperti ini justru terasa lebih nyaman daripada istana para kultivator aliran putih.
Bau busuk setidaknya tidak berpura-pura menjadi suci.
Dengan beberapa keping perak yang diambil dari mayat penjaga gerbang, Mo Xie menyewa sebuah kamar di lantai dua Penginapan Tengkorak Hitam.
Kamar itu sempit dan pengap. Satu-satunya penerangan berasal dari lilin lemak yang mengeluarkan asap hitam.
Mo Xie melepas jubah abu-abunya yang telah berlumuran darah. Ia duduk di tepi ranjang kayu lalu membuka perban yang membalut bahu kanannya.
Lengan kanan dan bahunya masih menjadi bagian tubuh fana yang tersisa. Kini keduanya dalam keadaan mengenaskan.
Saat menghancurkan Segel Surgawi tingkat Tinggi, tulang selangkanya patah menjadi tiga bagian. Sendi bahunya pun bergeser dari tempatnya. Daging di sekitarnya telah membengkak dan berubah ungu kehitaman.
Bagi kultivator biasa, luka seperti ini dapat disembuhkan dengan Qi Yang atau pil spiritual.
Namun tubuh Mo Xie sudah berbeda.
Qi Yin yang memenuhi tubuhnya tidak dapat memulihkan daging fana. Jika tulang yang patah dibiarkan begitu saja, energi kematian justru akan mempercepat pembusukannya.
"Tulang fanamu benar-benar merepotkan."
Suara Xue Ling’er terdengar dari belakang.
Wanita berjubah merah itu duduk bersila di atas meja. Wajahnya sudah sedikit membaik setelah menyerap darah penjaga gerbang, meski masih tampak pucat.
"Daging hanyalah wadah."
Mo Xie mencengkeram lengan kanannya yang lumpuh dengan cakar obsidian.
"Tulang selangkaku menusuk otot. Jika aku mematahkannya kembali tanpa bantuanmu, bahuku bisa rusak sepenuhnya."
Xue Ling’er turun dari meja.
Ia berdiri di belakang Mo Xie dan menyentuh bahunya yang membengkak. Jari-jarinya yang dingin membuat kulit Mo Xie terasa sedikit menggigil.
"Aku akan menjahit otot dan uratmu dari dalam saat kau mengembalikan tulang itu."
Benang-benang darah tipis keluar dari ujung jarinya dan menyusup ke dalam tubuh Mo Xie.
"Rasanya akan seperti direbus dari dalam. Jangan berteriak. Tikus-tikus di bawah bisa mendengarnya."
"Lakukan."
Mo Xie mengambil sepotong gagang pedang patah lalu menggigitnya.
Ia menarik napas dalam.
Cakar obsidiannya mencengkeram lengan kanan. Dengan satu hentakan keras, ia menariknya ke atas sementara tangan kirinya menekan tulang selangka yang patah.
Krak!
Kretek!
Suara tulang bergeser menggema di kamar.
Mo Xie menggeram. Urat di lehernya menegang. Pecahan tulang yang menusuk daging dipaksanya kembali ke tempat semula.
Darah segera merembes dari bahunya.
Pada saat yang sama, benang darah Xue Ling’er bergerak.
Benang-benang merah menembus daging Mo Xie dan melilit tulang yang patah. Satu demi satu, pecahan tulang itu disatukan. Otot dan urat yang robek dijahit kembali oleh benang darah.
Asap tipis mengepul dari bahu Mo Xie.
Qi Yang yang masih tersisa di tubuhnya bertemu dengan darah Xue Ling’er. Keduanya bergolak dan memaksa luka itu menutup.
Tidak ada mantra penyembuhan yang indah.
Yang ada hanya rasa sakit dan darah.
Setelah puluhan tarikan napas, Xue Ling’er menarik kembali benang darahnya.
Bahu Mo Xie akhirnya kembali pada tempatnya.
Bekas jahitan merah kehitaman terlihat di bawah kulit dan berdenyut mengikuti aliran darahnya.
Mo Xie memuntahkan potongan gagang pedang dari mulutnya.
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Napasnya masih berat, tetapi ia segera menggerakkan lengan kanannya.
Kaku dan nyeri.
Namun bisa digerakkan.
Mo Xie mengepalkan tinjunya.
"Setidaknya sudah cukup untuk menggenggam pedang."
Ia tersenyum tipis.
"Atau mencekik seseorang."
"Aku sudah memakai darah penjaga tadi untuk menjahit bahumu."
Xue Ling’er menyeka keringat di dahinya.
"Perutku kosong lagi, Mo Xie. Kalau kau tidak segera mencari kultivator Inti Emas, mungkin saat kau tidur nanti aku akan menggigit lehermu."
Mo Xie menyeringai. "Kau tidak perlu menunggu lama."
Ia tiba-tiba mengangkat tangannya. "Diam."
Tatapan Xue Ling’er berubah.
Mo Xie menajamkan pendengarannya.
Dari lantai bawah terdengar percakapan para pemabuk di kedai tuak. Suara mereka menembus celah papan kayu yang lapuk.
"...kau yakin barangnya tiba malam ini?" Suara seorang pria terdengar parau.
"Tentu."
Suara lain menjawab.
"Kafilah Paviliun Teratai Hitam masuk lewat gerbang utara sore tadi. Kudengar barang utama lelang pasar gelap malam ini adalah Pusaka Tulang Iblis."
"Tulang iblis?"
Pria pertama terdengar terkejut.
"Bukankah benda seperti itu dilarang di wilayah Istana Dao Surgawi?"
"Itulah sebabnya lelangnya dilakukan di bawah tanah."
Pria itu tertawa.
"Konon tulang itu berasal dari lengan Kera Iblis Berwajah Hantu yang telah hidup selama seribu tahun. Jika seorang kultivator jalur tubuh berhasil meleburkan sumsumnya ke dalam tubuh, kekuatannya akan mampu menghancurkan tembok kota hanya dengan satu pukulan."
"Kalau begitu, pasti dijaga ketat."
"Benar. Dua tetua penjaga bayaran tingkat puncak Inti Emas."
Percakapan itu terus berlanjut. Namun Mo Xie sudah tidak mendengarkan.
Tatapannya tertuju pada lengan kanannya.
Lengan itu masih berupa daging fana.
Satu-satunya kelemahan besar yang tersisa pada tubuh bagian atasnya.
"Tulang Lengan Kera Iblis Berwajah Hantu..." Tatapan Mo Xie perlahan menjadi dingin. "Ling’er, kau mendengarnya?"
Xue Ling’er mengangguk.
Senyum Mo Xie melebar. Giginya yang tajam terlihat di bawah cahaya lilin.
"Tulang iblis berusia seribu tahun. Dua kultivator Inti Emas juga menunggu untuk dipanen."
Xue Ling’er menjilat bibirnya.
"Paviliun Teratai Hitam tidak akan mudah dimasuki. Lelang bawah tanah biasanya dipenuhi formasi pelindung dan kultivator bayaran."
"Bagus."
Mo Xie bangkit.
Ia mengambil perban baru lalu membalut kembali lengan kanannya untuk menyembunyikan bekas jahitan.
"Semakin banyak penjaga, semakin banyak darah yang bisa kau minum."
Xue Ling’er tersenyum tipis. "Kalau begitu, malam ini akan menyenangkan."
Mo Xie mengenakan kembali jubah abu-abunya.
Ia menatap pintu kamar. "Kita tidak akan masuk dari pintu depan."
Aura dingin perlahan muncul dari tubuhnya.
"Malam ini, biarkan tikus-tikus bawah tanah itu mengenal nama monster yang datang untuk memanen tulang mereka."