NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : BERJALAN DI ATAS BILAH PISAU

Suara detik jarum jam dinding di kamar kos Azahra Aletta terdengar seperti dentuman bom waktu yang siap meledak. Dua gaun mewah terhampar di atas tempat tidurnya yang sempit. Di sebelah kiri, gaun malam berwarna merah marun anggun pilihan James Daniel. Di sebelah kanan, gaun sutra biru navy elegan kiriman dari tim penata busana Ethan Austin.

Dua pria. Dua dunia. Dan dua acara besar yang waktunya saling bertabrakan secara brutal malam ini.

Pukul tujuh malam, James menuntut kehadirannya di kediaman utama keluarga Daniel untuk makan malam privat bersama ibunya. Pukul setengah delapan malam, Ethan mengharuskan dirinya berdiri di sampingnya di hadapan puluhan kamera media dalam acara Charity Gala Austin Group di Hotel Grand Ballroom.

"Kau gila, Azahra. Kau benar-benar sudah gila," bisik Azahra pada bayangannya di cermin. Napasnya memburu, jemarinya yang dingin gemetar saat memegang kuas rias.

Membatalkan salah satu acara adalah bunuh diri finansial sekaligus karier. Jika ia menolak James, posisi kerjanya dan bonus lima ratus juta rupiah akan hangus, belum lagi kecurigaan sang CEO yang makin menebal. Jika ia mangkir dari Ethan, denda wanprestasi dalam pasal kontrak akan langsung menyeretnya ke meja hijau. Tidak ada jalan keluar selain nekat: ia harus menghadiri keduanya.

Rencananya tergolong kegilaan murni. Azahra akan menghadiri makan malam James di kediaman Daniel, berpura-pura menjadi calon menantu penurut selama empat puluh lima menit, lalu merekayasa alasan darurat untuk kabur. Di dalam mobil sewaan yang sudah ia pesan khusus dengan kaca gelap, ia akan berganti pakaian secara kilat dan meluncur menuju Hotel Grand Ballroom untuk menemui Ethan sebelum kakek pria itu sadar akan keterlambatannya.

Satu kesalahan kecil dalam perhitungan waktu akan menghancurkan seluruh hidupnya.

Pukul tujuh tepat, sebuah mobil sedan kemewahan tingkat tinggi milik James Daniel berhenti di depan gerbang besi raksasa kediaman keluarga Daniel di kawasan elit Menteng. Rumah bergaya kolonial modern itu memancarkan kemewahan yang dingin dan kaku.

James sudah menunggu di dalam area serambi, tampak teramat tampan dalam balutan setelan jas navy kustom yang memeluk tubuh tegapnya secara presisi. Begitu Azahra turun dari mobil dengan gaun merah marunnya, mata kelam James terkunci sepenuhnya pada gadis itu.

"Kau tepat waktu," ujar James. Pria itu melangkah mendekat, mengulurkan tangannya dan tanpa ragu merangkul pinggang Azahra dengan cengkeraman yang hangat dan posesif. "Kau terlihat sangat cantik, Azahra. Pilihan gaun saya tidak pernah salah."

"Terima kasih, James," cicit Azahra, mencoba tersenyum meski jantungnya bergedubrak liar. Setiap detik yang berputar di arloji emas James terasa seperti siksaan.

James membimbingnya masuk ke dalam ruang makan megah yang didominasi meja kayu jati raksasa dan lampu gantung kristal. Di ujung meja, Nyonya Daniel duduk dengan anggun, memegang cangkir teh porselennya. Tatapan mata wanita paruh baya itu sangat dingin, meneliti Azahra dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara.

"Jadi, ini gadis yang membuatmu berani membangkang dari keputusan keluarga, James?" tanya Nyonya Daniel tanpa basa-basi, meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang memecah keheningan.

James menarikkan kursi untuk Azahra, lalu duduk tepat di sampingnya. Tangannya di bawah meja bergerak menggenggam jemari Azahra yang dingin, memberikan tekanan yang seolah menegaskan perlindungan.

"Namanya Azahra Aletta, Ibu," sahut James tegas, menatap ibunya tanpa rasa gentar. "Dan dia bukan sekadar gadis biasa. Dia adalah wanita yang saya pilih untuk berada di samping saya."

Nyonya Daniel menyunggingkan senyum sinis. "Seorang staf administrasi tanpa silsilah keluarga yang jelas? Jangan konyol, James. Keluarga Daniel butuh aliansi bisnis yang kuat, bukan drama percintaan picisan. Clarissa Vance jauh lebih pantas berada di posisi ini daripada gadis yang baru belajar memegang sendok perak ini."

Azahra menelan ludah. Rasa tersinggung sempat menyengat hatinya, tetapi kepanikan akan waktu jauh lebih mendominasi pikirannya. Ia melirik jam dinding berukir emas di sudut ruangan. Pukul 07.25 malam. Lima menit lagi waktu yang ditentukan Ethan tiba!

"Saya mungkin tidak memiliki latar belakang bisnis yang luas, Nyonya Daniel," ujar Azahra, mencoba memberanikan diri memainkan perannya demi mengulur rasa hormat sekaligus mempercepat alur makan malam. "Namun saya menghargai James sebagai seorang pria dan pemimpin, bukan karena nama besar perusahaannya."

James melirik Azahra dengan binar kejutan yang menyenangkan di matanya. Genggaman tangannya di bawah meja makin erat dan hangat. "Kau mendengarnya sendiri, Ibu. Azahra berada di sini karena saya, bukan karena aset keluarga kita."

Makan malam dimulai dengan hidangan pembuka yang diarak oleh tiga pelayan. Azahra menyuap makanannya dengan gerakan seringan mungkin, matanya terus-menerus bergerak cemas memperhatikan pergerakan jarum jam. Pukul 07.40 malam. Ia sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal Ethan! Ponsel keduanya yang disembunyikan di dalam tas di bawah kursinya mulai bergetar tanpa henti—tanda bahaya dari Ethan atau asistennya.

"Maaf... James, Nyonya Daniel," kata Azahra mendadak, pura-pura menyentuh pelipisnya dengan raut wajah yang mendadak pucat. Ia sengaja mengatur napasnya agar terdengar tidak beraturan.

James langsung menoleh dengan raut cemas yang sangat nyata. "Ada apa, Azahra? Kau sakit?"

"Kepala saya... mendadak sangat pusing dan mual," desis Azahra, memegangi dadanya. "Mungkin asam lambung saya naik karena terlalu tegang. Boleh saya ke kamar mandi sebentar?"

James berdiri seketika, memegang bahu Azahra dengan lembut. "Saya akan mengantarmu—"

"Tidak perlu, James," potong Azahra cepat, mencoba melunakkan nada suaranya agar tidak memicu kecurigaan. "Saya hanya butuh waktu sebentar untuk membasuh wajah dan menenangkan diri di toilet."

Nyonya Daniel mendengus pelan, bergumam tentang "fisik lemah orang biasa," tetapi James tidak memedulikan ibunya. James menatap Azahra penuh perhatian. "Kamar mandi ada di ujung lorong kanan. Jika dalam lima menit kau belum membaik, saya akan membawa dokter pribadi keluarga ke sini."

"Terima kasih, James," kata Azahra, lalu secepat mungkin melangkah keluar dari ruang makan.

Begitu tubuhnya melewati belokan lorong dan terbebas dari pandangan James, raut sakit di wajah Azahra menghilang seketika. Ia tidak menuju kamar mandi. Dengan gerakan seringan kucing, ia berlari menuju pintu samping area pelayan yang menuju ke arah taman belakang.

Pukul 07.50 malam.

Di dalam mobil sewaan ber-kaca gelap yang terparkir di gang gelap lima puluh meter dari gerbang rumah James, Azahra melakukan kegilaan berikutnya. Dengan tangan gemetar dan napas memburu, ia melepas gaun merah marun milik James, menyapu ulang tatanan rambutnya, lalu bersusah payah memasukkan tubuhnya ke dalam gaun sutra biru navy milik Ethan.

Ia memoles ulang gincunya dengan warna yang lebih gelap dan berani, mengenakan kalung berlian kiriman Ethan, lalu melemparkan tas kerjanya ke kolong kursi.

"Pak, cepat ke Hotel Grand Velvet! Lampu merah diterobos saja kalau aman, saya tambah tip satu juta rupiah!" seru Azahra pada pengemudi sewaan yang tampak syok melihat aksi ganti baju kilat penumpang wanitanya.

Mobil melaju membelah kemacetan malam Jakarta dengan kecepatan membahayakan. Azahra merogoh ponsel keduanya dan melihat lima panggilan tak terjawab dari Ethan Austin dan satu pesan singkat yang mengerikan:

’Kau punya waktu sepuluh menit sebelum saya membatalkan kontrak ini dan mengirimkan tim hukum ke rumahmu.’

Keringat dingin membasahi punggung Azahra. Pria dingin itu tidak pernah main-main dengan ancamannya.

Pukul 08.10 malam.

Lampu kilat kamera memancar membutakan mata di pelataran karpet merah Hotel Grand Velvet. Para pengusaha terkemuka, pejabat pemerintah, dan selebriti papan atas berkumpul dalam acara puncak Charity Gala Austin Group.

Ethan Austin berdiri anggun di dekat pintu masuk utama ballroom, mengenakan setelan tuxedo hitam sempurna yang membuatnya tampak bagaikan seorang raja dari dinasti kuno. Namun, raut wajahnya sangat mengerikan. Rahangnya mengeras, dan mata kelabunya memancarkan kilat amarah yang sanggup membekukan siapa pun yang berani mendekat.

Pria itu melirik arloji Patek Philippe di pergelangan tangannya. Keterlambatan Azahra selama empat puluh menit telah menguji batas kesabarannya hingga ke titik kritis. Tepat saat ia merogoh ponselnya untuk menghubungi pengacaranya, sebuah taksi berhenti mendadak di ujung karpet merah.

Azahra keluar dari mobil tersebut. Meskipun napasnya masih sedikit tersengal, ia berhasil menata langkah kakinya agar terlihat begitu anggun dan berkelas. Gaun sutra biru navy itu meliuk indah mengikut gerak tubuhnya, memamerkan bahunya yang mulus di bawah sorotan lampu kristal.

Ethan mematung sejenak. Amarah di matanya terbiaskan oleh kejutan tipis melihat betapa memukaunya gadis yang baru saja berlari menembus kemacetan itu. Namun, dominasinya cepat kembali.

Saat Azahra tiba di hadapannya, Ethan tidak memberikan ruang untuk menyapa. Tangan kekarnya langsung menyambar pergelangan tangan Azahra, menarik tubuh gadis itu begitu dekat hingga dada mereka berbenturan pelan.

"Empat puluh menit, Azahra," bisik Ethan tepat di telinga Azahra dengan suara yang begitu dingin hingga menusuk tulang. "Kau tahu berapa denda untuk keterlambatan sebrutal ini dalam dokumen kita?"

Azahra menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, menatap lurus ke dalam manik mata kelabu Ethan yang pekat. "Maafkan saya, Ethan. Taksi yang saya tumpangi mengalami ban bocor di jalan tol. Saya harus berjalan kaki dan mencari kendaraan lain demi bisa sampai ke sini."

Ethan memicingkan mata, meneliti wajah Azahra yang sedikit berpeluh di dekat garis rambutnya. "Kau tampak terengah-engah. Dan jantungmu berdetak terlalu cepat."

"Tentu saja berdetak cepat! Saya takut setengah mati kau akan meninggalkanku dan membatalkan perjanjian ini!" sahut Azahra jujur—jujur atas rasa takutnya, meski alasannya bohong besar.

Ethan menatapnya selama beberapa detik yang sangat menyiksa, lalu hembusan napas hangat keluar dari hidungnya. Cengkeraman keras di pergelangan tangan Azahra melunak, berganti menjadi sebuah usapan lembut yang posesif. Ethan memindahkan tangannya ke pinggang Azahra, merengkuhnya dengan erat di hadapan puluhan wartawan yang mulai mengarahkan kamera ke arah mereka.

"Ingat posisi dan peranmu malam ini," gumam Ethan, menyunggingkan senyum tipis bernada intimidasi ke arah kamera media. "Kakek ada di dalam. Jangan buat saya malu."

Azahra menyunggingkan senyum terbaiknya di depan kilatan kamera, membiarkan Ethan membimbingnya masuk ke dalam ballroom raksasa yang dipenuhi ratusan tamu undangan kelas atas. Untuk sejenak, Azahra merasa ia telah berhasil melakukan hal yang mustahil. Ia selamat dari makan malam James, dan kini ia berhasil berdiri di samping Ethan.

Namun, permainan takdir yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Pukul 08.45 malam.

Di sudut area VIP ballroom, Azahra berdiri mendampingi Ethan yang sedang berbincang dengan beberapa menteri dan investor asing. Senyum palsu sudah terpasang kaku di wajah Azahra selama setengah jam terakhir. Tubuhnya terasa luar biasa lelah, energinya terkuras habis akibat drama kejar-kejaran waktu yang baru saja ia lalui.

"Saya permisi ke toilet sebentar, Ethan," bisik Azahra pelan di samping telinga pria itu.

Ethan meliriknya singkat, mengangguk pelan tanpa melepaskan genggaman tangannya di jemari Azahra selama beberapa detik. "Jangan lebih dari lima menit. Kita harus naik ke atas panggung untuk pembukaan lelang."

Azahra mengangguk lega, lalu melangkah keluar dari lingkaran para pengusaha tersebut. Ia berjalan menuju koridor luar yang lebih sepi, berniat mencari udara segar dan memeriksa ponsel utamanya untuk melihat kondisi di kediaman James.

Begitu ia menghidupkan ponsel utamanya, belasan panggilan tak terjawab dari James Daniel membanjiri layar! Sebuah pesan singkat dari James terpampang di sana:

’Azahra! Kau di mana?! Satpam bilang kau keluar lewat pintu belakang rumah! Apa yang terjadi padamu?! Jawab teleponku sekarang!’

Tangan Azahra gemetar hebat melihat pesan tersebut. James sudah tahu ia kabur dari rumahnya! Kepanikan yang sempat mereda kini kembali membakar seluruh persendiannya. Bagaimana ia harus menjelaskan kepergiannya pada bos otoriternya itu?

"Mencari jalan keluar, Gadis Kecil?"

Sebuah suara wanita yang sangat tajam dan sarat akan racun bergaung dari arah belakangnya.

Azahra terlonjak kaget dan membalikkan badan. Berdiri tiga langkah di hadapannya, Clarissa Vance—putri tunggal pemilik Vance Enterprise—sedang menyandarkan tubuhnya di pilar marmer. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah menyala, memegang gelas anggur kristal di tangannya.

Namun yang paling mengerikan adalah ekspresi di wajah Clarissa. Senyuman iblis yang penuh dengan kemenangan terukir lebar di bibirnya yang dipoles gincu merah darah.

"Clarissa..." bisik Azahra, darah di dalam tubuhnya mendadak terasa dingin.

Clarissa melangkah mendekat dengan tawa pelan yang sangat menyebalkan. Matanya menyapu penampilan Azahra dari ujung gaun biru navy hingga kalung berlian mahal yang melingkar di lehernya.

"Luar biasa. Benar-benar pertunjukan yang luar biasa," puji Clarissa dengan nada penuh ejekan, bertepuk tangan pelan. "Satu jam yang lalu, kau berada di kediaman keluarga Daniel, berpura-pura menjadi calon istri James yang lugu dan sakit-sakitan. Dan sekarang... kau berada di sini, di acara Austin Group, bergandengan tangan dengan Ethan Austin sebagai tunangan resminya?"

Bumi di bawah kaki Azahra rasanya runtuh seketika. Seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah disedot habis.

Clarissa... melihatnya di kedua tempat!

"K... kau... bagaimana kau—" suara Azahra tercekat di tenggorokan, matanya membelalak penuh horor murni.

"Ibu James meneleponku saat kau tiba-tiba menghilang dari rumah mereka," potong Clarissa dengan nada penuh kebanggaan, matanya memancarkan kejamnya rasa dendam yang terbalaskan. "Aku tadinya berniat datang ke rumah James untuk berpura-pura simpati, tapi tiba-tiba aku melihat postingan cerita media sosial teman sosialitaku yang menghadiri acara Gala ini. Ada fotomu bersama Ethan Austin di karpet merah."

Clarissa merogoh ponsel pintarnya dari dalam tas genggam emasnya, lalu memutarkan layarnya ke arah wajah Azahra yang sudah sepucat kertas.

Di layar tersebut, terpampang jelas foto HD Azahra Aletta sedang dirangkul mesra oleh Ethan Austin di karpet merah Hotel Grand Velvet, diunggah tepat lima belas menit yang lalu.

"Aku langsung membatalkan niatku ke rumah James dan meluncur ke sini," bisik Clarissa, memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh kepuasan yang kejam. "Dan tebak apa yang baru saja aku lakukan sebelum menghampirimu di koridor ini, Azahra?"

Jantung Azahra berdetak begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit yang menyengat di dadanya. "Jangan... tolong, Clarissa..."

Clarissa menyeringai lebar, mendekatkan wajahnya ke telinga Azahra. "Aku baru saja mengirimkan foto ini langsung ke nomor pribadi James Daniel. Dan aku menyuruhnya datang ke ballroom ini sekarang juga untuk melihat sendiri 'wanita lugu' pilihan hatinya."

"Tidak..." jerit Azahra tanpa suara, matanya berkaca-kaca akibat kepanikan yang luar biasa. "Clarissa, tolong! Ini tidak seperti yang kau bayangkan! Ini murni—"

"Murni apa? Murni bahwa kau adalah wanita pembohong yang bermain api dengan dua pria paling berkuasa di kota ini demi uang mereka?" potong Clarissa tajam, membuang sisa anggurnya ke dalam pot bunga di samping mereka. "Kau sudah merusak posisiku di hadapan keluarga Daniel, Azahra. Dan sekarang... aku akan menikmati detik-detik saat Ethan Austin dan James Daniel menghancurkanmu sampai tak tersisa."

Clarissa membalikkan badan, melangkah kembali menuju ballroom dengan derap sepatu hak tinggi yang bernada kemenangan murni.

Azahra bersandar pada dinding marmer yang dingin, tubuhnya merosot pelan saat lututnya tak sanggup lagi menopang berat badannya. Air mata ketakutan menetes membasahi pipinya.

Rahasia terbesarnya telah terbongkar dengan cara yang paling tragis dan brutal.

James Daniel sedang dalam perjalanan menuju tempat ini dengan amarah yang pasti membakar dadanya. Sementara Ethan Austin berdiri hanya beberapa puluh meter dari tempatnya, sama sekali belum tahu bahwa wanita yang ia sebut sebagai tunangan pura-puranya telah menjual peran yang sama kepada saingan bisnis utamanya.

Dua serigala paling dominan dan berbahaya di kota ini akan segera bertemu di bawah satu atap yang sama. Dan di tengah-tengah persaingan dan murka mereka... Azahra tahu, ia tidak akan pernah keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!