DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Hadiah Tanpa Nama
Pagi itu di kelas 12 IPS 2, Aira terkejut saat melangkah menuju meja belajarnya. Di atas permukaannya yang biasa bersih, tergeletak sebuah kotak pita merah muda berukuran sedang. Di dalamnya terdapat seperangkat alat tulis eksklusif, binder baru berwarna pastel, serta sebuah pulpen edisi terbatas yang pernah Aira pandangi di toko buku minggu lalu namun tak sanggup ia beli.
Tidak ada kartu ucapan atau nama pengirim di dalamnya.
Aira memegang binder halus itu dengan mata berbinar. Pikiran pertamanya langsung tertuju pada Darel. Selama ini, hanya Darel yang selalu bersikap manis dan tahu hal-hal kecil yang ia sukai.
Saat jam istirahat tiba, Aira tak sengaja berpapasan dengan Darel di lorong dekat perpustakaan.
"Kak Darel..." panggil Aira dengan nada sungkan namun tersirat rasa terima kasih. "Soal hadiah binder dan perlengkapan sekolah di meja aku pagi ini... makasih banyak ya, Kak. Padahal Kak Darel gak perlu serepot itu."
Darel sempat tertegun sejenak. Namun, sebagai seorang manipulator ulung, ia dengan cepat menyunggingkan senyuman manis nan hangat, seolah-olah mengonfirmasi tebakan Aira.
"Sama-sama, Aira," bisik Darel lembut. "Saya tahu kamu butuh binder baru buat nyatet materi ujian. Saya senang kalau kamu suka."
Aira tersenyum lega. Namun, kehangatan itu mendadak menguap saat suara langkah kaki tegap terdengar dari arah belakang.
Vino melangkah menghampiri mereka dengan raut wajah seram murni. Pandangan matanya tertuju lurus pada binder pastel yang dipeluk Aira di dadanya.
"Ngapain lu pegang barang sampah itu?" desis Vino, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah yang membakar dada.
Aira tersentak, refleks mundur satu langkah. "Vi—Vino? Ini bukan sampah... ini hadiah dari Kak Darel—"
"Buang!" bentak Vino kasar tanpa ampun, suaranya menggelegar menembus kesunyian lorong.
"Vino, kamu kenapa sih selalu kasar?" potong Darel sok membela, melangkah pasang badan di depan Aira. "Saya cuma mau ngasih perhatian kecil buat Aira—"
"Gue bilang buang, Aira!" potong Vino, sama sekali menolak menatap Darel. Matanya yang memerah hanya tertuju pada Aira. "Lu mau buang sendiri ke tong sampah sekarang, atau gue yang hancurin barang itu di depan muka lu?!"
Aira menahan napasnya yang sesak, air mata keputusasaan merembes di sudut matanya. Kenapa Vino harus selalu menghancurkan hal-hal baik yang ia terima? Kenapa Vino begitu benci melihatnya mendapatkan sedikit kebahagiaan?
"Kamu emang jahat, Vin!" bisik Aira serak. Dengan jemari gemetar, Aira melemparkan binder itu ke dalam tong sampah besar di sudut lorong, lalu berlari pergi sambil menahan isak tangisnya.
Darel menyunggingkan senyuman dingin ke arah Vino. "Kamu lihat sendiri kan, Vin? Kamu cuma bisa bikin dia makin benci sama kamu." Darel lalu melangkah pergi menyusul arah Aira.
Vino berdiri mematung di lorong sepi itu. Kepalan tangannya mengerat begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, meninggalkan bekas memar membiru.
Vino berjalan pelan menuju tong sampah tersebut. Dengan tangan gemetar, ia merengkuh kembali binder pastel yang kini sedikit kotor.
Vino menatap barang itu dengan tatapan mata yang hancur dan penuh kepahitan.
Tiga hari lalu, Vino sengaja mengandalkan anak buahnya untuk mencari binder dan pulpen edisi terbatas itu ke tiga toko buku berbeda. Vino membelinya diam-diam dengan uang tabungannya sendiri, lalu sengaja meletakkannya di meja Aira sepagi mungkin sebelum cewek itu datang—terlalu gengsi untuk mengaku bahwa dirinya lah yang membelikannya.
Dan kini, perhatian tulusnya yang tersembunyi justru diklaim begitu saja oleh Darel, sementara Aira makin membencinya.
"Persetan sama gengsi gue..." bisik Vino serak pada dirinya sendiri, meremas binder itu di dadanya dengan helaan napas yang patah.