NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

  Farhan duduk disamping Karisa , lalu ditariknya tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.

"Maafkan aku" ucapnya sambil mengecup kening Karisa

"Aku cuma takut kamu kecewa kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita."

Karisa mendorong tubuh Farhan lalu menatap wajah suaminya itu "apa pun hasilnya aku tidak akan kecewa, aku janji." ucapnya dengan penuh semangat.

Farhan semakin tidak tega melihat Karisa "Baiklah besok kita pergi ke rumah sakit."

Karisa yang merasa bahagia langsung memeluk Farhan "terimakasih sayang."

"Ayo kita makan, aku rasa masakannya sudah dingin, biar aku panaskan dulu."

Karisa langsung menarik tangan Farhan.

"Biar aku saja." Ia bergegas turun dari ranjang dan berlari ke dapur.

Farhan hanya menggeleng melihat tingkah Karisa yang terkadang terlihat sangat dewasa, terkadang terlihat sangat manja bahkan terkadang terlihat seperti anak kecil.

Keesokan harinya, sepulang dari mengajar Karisa berinisiatif untuk berkunjung ke sekolah tempat Farhan mengajar. Ia ingin menagih janji Farhan untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Setibanya di sekolah tempat Farhan mengajar Karisa tidak masuk untuk mencari Farhan, ia hanya duduk diam di depan pagar sekolah itu untuk menunggu Farhan.

"Mas Farhan " Karisa berteriak memanggil suaminya sambil melambaikan tangan begitu melihat Farhan sudah berada di area parkiran sepeda motor yang bisa terlihat dari luar pagar sekolah.

Farhan yang mendengar namanya di panggil secara spontan menoleh ke arah sumber suara "Karisa" gumamnya.

Farhan segera menuntun sepeda motornya dan menuju ke tempat Karisa menunggunya.

"Sudah lama? Kenapa tidak masuk dan menunggu di dalam, di sini panas" ucap Farhan sambil menyodorkan sebuah helm kepada Karisa.

"Aku takut karena melihat aku kamu malah memulangkan muridmu lebih awal" Karisa menerima helm dari tangan Farhan lalu memakainya.

Farhan hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya itu. Ia lalu menghidupkan motor miliknya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.

Saat mereka masih berada di atas sepeda motor, tiba-tiba ponsel milik Karisa berdering menandakan ada panggilan masuk.

"Mas berhenti sebentar, ada yang menelpon." Karisa menepuk pundak Farhan sebagai isyarat.

"Ayah " gumam Karisa begitu melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel miliknya sesaat setelah Farhan menghentikan laju sepeda motornya.

"Assalamualaikum ayah, tumben ayah nelpon ada apa?" Ucap Karisa begitu mengangkat panggilan telepon dari ayahnya itu.

"Waalaikumsalam, jadi ayah nggak boleh ni nelpon kamu?" Ustadz Jamal pura-pura merajuk.

"Bukan begitu ayah, tentu saja ayah boleh nelpon aku kapan pun ayah mau. Cuma agak aneh saja ayah mau inisiatif nelpon aku duluan biasanya juga selalu Karisa yang telpon ayah duluan."

"Ayah mau kamu ke sini sekarang ada yang ingin ayah bicarakan."

Karisa mengerutkan dahi, mendengar ucapan ayahnya, ada apa sebenarnya tak biasanya ayahnya seperti ini.

"Baiklah Karisa kesana sekarang." Karisa pun memutuskan sambungan teleponnya.

"Ada apa ?" Farhan bertanya karena melihat wajah bingung Karisa.

"Entahlah, tapi ayah meminta kita kerumahnya sekarang." Jawab Karisa masih dengan wajah bingung.

"Lalu apa kita masih perlu kerumah sakit ?"

"Lain kali saja, kita ke rumah ayah saja dulu."

Karisa kembali memasang helmnya dan duduk di boncengan motor suaminya.

"Assalamualaikum ayah." Karisa dan Farhan tiba di rumah ayahnya Karisa.

Saat ini ustadz Jamal sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi.

"Karisa kamu sudah sampai nak? Sini duduk di samping ayah." Ustadz Jamal menepuk sofa kosong di sampingnya sebagai isyarat agar Karisa duduk di sana.

"Farhan ayah ingin minta izin agar Karisa bisa menginap di sini malam ini, apa boleh? Ustadz Jamal bertanya dengan lembut.

"Tentu saja boleh ayah, tapi apa hanya Karisa yang akan menginap di sini, apa saya tidak boleh ikut menginap? Farhan menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya hanya Karisa, boleh kan? Tanya ustadz Jamal sekali lagi.

"Dan kalau kamu ada keperluan kamu boleh pergi sekarang biar Karisa bersama ayah di sini!"

Farhan terdiam sejenak, dia agak bingung dengan tingkah ayah mertuanya itu. Namun dia juga sengan untuk bertanya lebih lanjut.

"Baiklah ayah kalau begitu saya pulang dulu."

Farhan meninggalkan rumah mertuanya dengan perasaan campur aduk.

"Ada apa sebenarnya? Apa yang ingin ayah bicarakan dengan Karisa kenapa seolah tidak ingin aku tau, tapi biarlah setidaknya aku bisa tenang beberapa saat karena Karisa tidak jadi pergi ke rumah sakit." Batin Farhan.

"Ayah sebenarnya ada apa? Kenapa ayah bersikap seperti itu pada Farhan?" Karisa memanyunkan bibirnya tanda protes kepada ayahnya.

"Apa kamu sudah makan siang?" Bukannya menjawab pertanyaan Karisa ustadz Jamal malah balik bertanya.

"Belum, tapi Karisa belum ingin makan, sebaiknya ayah katakan saja jangan bikin Karisa penasaran."

"Haaahh" Ustadz Jamal menghela nafas sebelum akhirnya bicara.

"Ayah hanya takut setelah kamu mendengar apa yang ayah katakan kamu akan kehilangan nafsu makan karena sedih, jujur saja apa yang ingin ayah katakan ini bukanlah hal baik tapi apa pun itu ayah harap kamu tidak sedih berlebihan karena semua ini sudah ketentuan dari Allah SWT. Apa kamu mengerti?" ustadz Jamal menatap lekat wajah putri semata wayangnya ada perasaan sedih yang luar biasa yang ia rasakan setiap kali mengingat cobaan yang harus dialami oleh putrinya itu.

"Ayah cepat katakan jangan berbelit-belit, Karisa jadi penasaran." Karisa mengguncang lengan ayahnya mendesak agar ayahnya segera bicara karena ia sudah sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh ayahnya itu.

"Kamu ingat saat kamu menjalani operasi beberapa bulan yang lalu?" Ustadz Jamal kembali menatap wajah Karisa.

"Hmmm, aku ingat saat itu Farhan bilang aku terkena usus buntu." Jawab Karisa.

"Sebenarnya saat itu kamu bukan terkena usus buntu tapi kamu terkena tumor dinding rahim, dan untuk menyelamatkan nyawamu Farhan terpaksa menyetujui untuk melakukan operasi pengangkatan rahim."

"Deg" Jantung Karisa berdetak kencang, otaknya seolah sulit mencerna kata-kata ayahnya.

"Apa yang ayah katakan? Tidak ini pasti tidak nyata. Aku tau ayah pasti sedang berbohong, iya kan ayah? Katakan ayah jangan diam saja, ayah sedang bercanda kan?"

Karisa mulai kehilangan kendali. Ia menangis histeris.

"Karisa sayang, istighfar nak ini semua sudah takdir dari yang Kuasa, kamu harus ikhlas."

Ustadz Jamal berusaha menenangkan Karisa.

Sebenarnya dia sedikit menyesal mengungkapkan ini semua kepada Karisa namun dia juga tidak ingin anaknya terus-terusan hidup dalam kebohongan.

"Kenapa ayah, kenapa kalian sembunyikan semua ini dari Karisa? Apa ayah tau beberapa hari ini Karisa merasa sangat bahagia karena Karisa pikir saat ini Karisa sedang hamil. bahkan Karisa terus memaksa Farhan agar membawa Karisa kerumah sakit untuk periksa, tapi kenyataannya Karisa hanya jadi lelucon di depan kalian semua dan pantas saja Farhan terus saja menolak setiap kali Karisa ajak ke rumah sakit, ternyata ini alasannya. Aku sungguh bodoh, bodoh....!" Karisa terus saja meracau sambil menangis membuat Ustadz Jamal semakin kebingungan.

Karena tidak tau bagaimana harus membujuk Karisa akhirnya Ustadz Jamal pun memutuskan untuk menelpon Farhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!