NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuka warung makan kecil

Tak terasa tiga tahun berlalu.

Kini keadaan Azarin dan sang putri jauh lebih baik.

Berkat tabungan yang Azarin bawa semasa bercerai, ia bisa membuka tempat makan kecil di samping rumah. Sementara Naya, sahabatnya. Membuka toko buku.

"Mia....bawakan bawang iris di meja ke dapur!"

"Iyaa ..! Mama...mata Mia pedes kenapa yaa??"

Azarin menoleh ke arah pintu dapur saat mendengar langkah kaki kecil sang putri.

Terlihat Mia, membawa sebaskom bawang iris ke dalam. Sembari meringis mengedipkan matanya yang terasa pedas.

Azarin merapatkan bibir, menghela nafas panjang.

"Kamu ini, main bawang iris lagi?" ia raih baskom di tangan sang putri, "Bukannya mama udah bilang, jangan main bawang sayang....nanti matamu pedes."

"Hehehe...." Mia meringis kecil, memperlihatkan deretan giginya yang ompong tengah itu.

Azarin tak sanggup menahan senyumnya, ia raih pucuk kepala sang putri, mengelusnya lembut.

"Besok ulang tahunmu, Mia. Kamu gamau ngajak kakakmu ke rumah?"

Mendengar itu wajah Mia langsung bulat. "Ahh....Talzan!"

"Siapa yang ngajarin kamu bilang Azril Tarzan?!" pekik Azarin melotot kecil, memanyun seraya berkacak pinggang di depan sang putri.

Mia lagi-lagi meringis, berbalik cepat pergi dari sana.

"Abis lambutnya kliting kaya Talzan, Ma!"

"Hehh..anak itu!"

Telat.

Mia sudah berlari keluar dari dapur, bahkan keluar dari rumah mereka.

Wanita itu hanya bisa menggeleng lemah seraya menghela nafas kecil. Menggeleng tak percaya.

"Sekalian ajak tante Naya!"

"Tiapp!!" seru Mia dari arah luar.

Azarin tertawa kecil, ia lantas berbalik untuk memakai sarung tangan, membawa panci panas ke meja makan.

"Anak ini, tidak terasa sudah 3 tahun saja." lirih Azarin, tersenyum tipis.

Semenjak bercerai dengan Fajar, Azarin tak lagi bergantung dengan pria. Ia bahkan bisa melakukan hal yang dulunya tidak pernah ia lakukan.

Ternyata benar.

Wanita bisa jauh lebih kuat jika dia tak lagi butuh seorang pria di sampingnya.

"Azarin...kamu masak apa?!" seru Naya dari luar, seraya membawa Azril, putranya, dan Mia ngintil di belakang.

Azarin menoleh cepat, tersenyum seraya meletakkan piring ke atas meja.

"Sop iga asam manis, Capcai, sama sayur belacan. Ahh...ini, sate kambing juga, tadi dikasi Pak Sapno samping rumah, katanya mau ngadain Akikahan." jelas Azarin.

Naya melongo, menatap aneka hidangan lezat tertata di atas meja.

"Wazeehhh...sop iga asam manis? Resep baru apa? Kamu mau nambahin di menu warung makan kamu?" tanya Naya heboh, menarik kursi tergesa.

"Iya dong Tante, mulai tekalang, sop iga asam manis itu makanan papolit aku!" cerocos Mia dengan mulut cadelnya.

"Adek....adek....layangannya tadi putus, adek temenin Azlil beli balu yaa...."

Naya tatap malas sang putra, "Kamu ini, Azril. Masih kecil, beli layangan di gang sebelah memangnya kamu bisa lindungin Mia? Kalo ada orang jahat gimana?"

Azril tatap serius sang mama, menepuk dadanya penuh bangga.

"Tentu dong, Ma! Azlil sama Mia kan cuma celicih 2 bulan! Azlil bakal lindungin Mia!" seru Azril penuh percaya diri.

Azarin dan Naya tertawa kompak bersamaan. Mereka saling menggeleng pelan. Menatap putra putri mereka yang begitu aktif makan bersama.

"Haih...ngga kerasa yah, sudah tiga tahun aja." celetuk Naya, seraya memasukkan daging sop ke dalam mulut penuh.

Azarin mengangguk kecil, "Iya, rasanya waktu berjalan begitu cepat."

"Mama...mama...Mia mau papa balu!"

"UHUKKK!!"

Naya melotot, wanita itu segera mengambilkan minum untuk Azarin.

"Pelan...pelan..." lirih Naya meringis kecil, menatap Azarin yang menyelesaikan minum hingga tandas.

Azarin tatap wajah sang putri seraya mengatur nafas, "Siapa yang ngajarin kamu, Mia?"

Mia melongo polos, ia lirik Azril yang makan dengan comot di samping, "Azlil. Kata Azlil mama cape kerja telus, kalo ada papa balu, mama gabakal cape lagi"

"UHUKKK!!"

Gantian Naya yang terbatuk. Mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

"Astaga....Naya, apa kamu terlalu keras dengan dirimu sendiri?" lirih Azarin menggoda.

"Yaa....kamu juga kan? Sampai-sampai putra dan putri kita mau nyarikan kita suami baru." kekeh Azarin.

Mereka berdua tertawa bersamaan.

Dua single mom yang mengadu nasib bersama di tengah peliknya kehidupan.

Bukan hal mudah untuk mereka sampai di titik ini.

Banyak rintangan, rasa sakit, dan kekecewaan yang mereka coba kubur dalam-dalam demi melanjutkan hidup.

"Setidaknya, putra putri kita makan dengan teratur, betul tidak?" pertanyaan Naya mengejutkan Azarin.

Wanita itu tersenyum mengangguk, "Apapun, demi putri kita."

Yang langsung dibalas anggukan antusias sang sahabat.

Sedikit cerita tentang Naya.

Jadi Naya adalah single mom, satu bulan lebih dulu dari Azarin.

Mereka berdua sama-sama mengadu nasib. Sebelumnya, Naya menitipkan putranya pada nenek. Tapi tidak ada beberapa bulan, nenek meninggal.

Alhasil ia memilih pindah kontrakan di samping Azarin. Hitung-hitung saling menjaga satu sama lain hingga sekarang.

Tak disangka, keputusan mereka berdua sangat tepat.

Azarin mulai membuka warung makan, dan itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Begitu juga dengan Naya, wanita itu dulunya pandai dalam bidang akademik.

Apapun akan dia luangkan waktu untuk membaca buku.

Cita-cita masa kecil Naya adalah menjadi seorang ilmuan. Namun sayang, kendala ekonomi menggugurkan mimpinya.

Sekarang, mereka hanya memilih untuk terus berjalan, tak perduli dengan kehidupan yang terus berputar.

Samar-samar Azarin mulai bisa melupakan Fajar. Ia bahkan tidak pernah lagi mendengar kabar mantan suaminya itu setelah mendengarnya menikah lagi.

Bagi Azarin.

Merawat sang putri adalah yang utama. Dan akan selalu menjadi yang utama.

"Apapun, demi putri ku."

***

Sementara rumah tangga Fajar dengan Fania, nyaris di ambang kehancuran.

Fania tidak bisa memberi keturunan. Bu Fanya mulai merindukan Mia sang cucu, dan kerap merancau pada Fajar untuk menemukan Azarin.

"Ma, Fajar tidak bisa menemukan Azarin." adu sang putra di rumah besar orang tuanya.

"Bagaimana bisa kamu tidak menemukannya?! Ini sudah 3 tahun, Fajar! Lagian istrimu itu tidak bisa memberi keturunan, mama ingin cucu mama kembali!"

Fajar menarik nafas dalam, menggigit bibir bawahnya geram. Ia tatap kembali sang mama.

"Ma, tolong mengerti sedikit kondisi Fania. Dia baru saja di diagnosis kena kista ovarium."

"Itu karena pola makannya yang tidak benar! Makan sembarangan, semuanya di makan, apalagi dia sukanya apa—seblak? Sehari gabisa absen dari seblak, dia fikir hidup berputar cuma dengan makan seblak?"

Fajar merunduk dalam, tangannya mengepal di atas pangkuan.

"Tolong mengerti kondisi Fania, Mah."

"Terserah! Mama cape! Mama pengen cucu!" air mata berlinang di pelupuk mata Bu Fanya.

"Andai saja kamu mempertahankan rumah tanggamu dengan Azarin, mama tidak akan kehilangan cucu!"

"MAH!" Sentak Fajar.

"Bisa tidak jangan menyalahkan semuanya pada Fajar? Tiga tahun ini Fajar juga cape! Semua Fajar urus sendiri, mama, Fania, dan adek yang kritis lagi di rumah sakit!"

Fajar jambak rambutnya frustasi, "Fajar juga cape, mah...." lirih pria itu melemah, nyaris saja menitikkan air mata.

Bayang-bayang Azarin kembali terngiang di kepalanya, ia ambil handphone dari saku, membuka chat terakhir dirinya dengan Azarin, 3 tahun lalu.

"Sampai kapan kau akan memblokirku, Azarin?"

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!