NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Kebohongan di Depan IGD

Pak Darto menurunkan kecepatan setiap kali mobil melewati lubang.

Nadia duduk di kursi belakang dengan jaket menutup tubuhnya. Laras berada di sampingnya, tidak menyentuh tanpa izin. Rayhan duduk di depan dan menelepon rumah sakit agar petugas bersiap.

"Kita hampir sampai," kata Laras.

Nadia menatap kaca jendela. "Jangan panggil polisi."

"Sekarang kita urus kondisi lo dulu."

"Janji."

Laras tidak sanggup berjanji untuk seluruh masa depan. "Gue nggak akan bicara ke siapa pun tanpa ngomong sama lo dulu."

Di IGD, perawat membawa kursi roda. Nadia menolak ketika petugas laki-laki mendekat, sehingga seorang perawat perempuan mengambil alih. Laras mengikuti sampai ruang pemeriksaan, sementara Pak Darto dan Rayhan menunggu di luar.

Dokter menjelaskan bahwa Nadia perlu penanganan luka, pemeriksaan infeksi, dan pendampingan psikologis. Beberapa pemeriksaan juga bisa membantu bila suatu hari ia memilih membuat laporan.

"Tidak harus memutuskan semuanya sekarang," kata dokter dengan tenang. "Tapi ada hal yang waktunya terbatas. Kami bisa jelaskan, lalu keputusan tetap milik Anda."

Nadia menutup wajah. "Saya nggak mau ditanya."

"Baik. Kami berhenti dulu."

Dokter meminta persetujuan untuk tindakan medis paling mendesak satu per satu. Nadia mengangguk pada sebagian, menolak sebagian lain. Tidak ada yang memaksanya mengulang cerita.

Seorang petugas sosial rumah sakit datang menawarkan pendamping perempuan. Ia menjelaskan bahwa Nadia boleh meminta waktu, boleh ditemani Laras, dan boleh menghentikan percakapan kapan saja. Nadia hanya menerima kartu nama yang diletakkan di meja, tanpa berjanji akan menghubungi.

"Kalau nanti berubah pikiran, nomor ini aktif," kata petugas itu. "Tidak perlu menjelaskan dari awal lewat telepon. Cukup bilang nama dan nomor pasien."

Nadia menatap kartu itu lama, lalu meminta Laras memasukkannya ke tas. Laras tidak tahu apakah benda tersebut akan menjadi jalan keluar atau hanya kertas yang tak pernah dibuka lagi. Ia menyimpannya tanpa bertanya.

Perawat juga mendata pakaian dan barang pribadi dengan izin Nadia. Semua dimasukkan ke kantong tertutup, bukan dibuang. Laras menandatangani penerimaan barang sebagai pendamping, lalu memotret daftar itu agar tidak ada yang hilang saat pemindahan.

Laras berdiri di sisi ranjang, menahan keinginan untuk mengambil semua keputusan atas nama sahabatnya. Melindungi bukan berarti merebut kembali kendali yang baru saja dirampas orang lain.

Setelah demamnya ditangani dan luka luar dibersihkan, Nadia tertidur karena kelelahan. Laras keluar ke koridor dengan pakaian yang masih berbau asap warung.

Rayhan langsung berdiri. "Gimana?"

"Dirawat dulu. Dokternya belum tahu berapa lama."

Pak Darto menyerahkan air. "Bima sudah dekat."

Nama itu membuat Laras memejamkan mata. Ia belum tahu harus mengatakan apa.

Menjelang siang, Nadia terbangun dan meminta bicara hanya dengan Laras.

"Gue mau pindah ke rumah sakit Surabaya," katanya. "Jauh dari sini."

"Dokter bilang lo belum bisa perjalanan jauh hari ini."

"Kalau sudah bisa, pindah. Jangan bilang Bima."

"Dia sudah di jalan ke sini."

Nadia mulai panik. Monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.

"Gue nggak mau dia lihat gue begini."

"Gue bisa tahan dia di luar."

"Bilang gue jatuh. Bilang gue mabuk. Apa aja."

"Nad, dia pacar lo."

"Bukan lagi."

Laras terdiam.

"Gue putus sama dia," lanjut Nadia. "Kalau dia tahu, dia bakal cari orangnya. Dia bakal hancur, atau malah bikin gue terus ingat. Gue nggak sanggup."

"Lo nggak harus melindungi dia sekarang."

"Gue melindungi diri gue."

Kalimat itu menghentikan semua bantahan Laras.

"Oke," katanya akhirnya. "Gue nggak akan paksa lo cerita. Tapi pemindahan harus tunggu dokter bilang aman."

Nadia mengangguk dan memalingkan wajah. "Jangan biarin siapa pun tahu. Bahkan Pak Darto."

"Dokter tetap perlu tahu apa yang berkaitan sama pengobatan."

"Dokter boleh. Polisi jangan. Tetangga jangan. Bima jangan."

"Gue mengerti."

Laras meminta bagian administrasi mencatat rencana rujukan ke rumah sakit swasta di Surabaya setelah kondisi Nadia stabil. Petugas menjelaskan bahwa surat rujukan, ringkasan medis, dan kendaraan yang aman harus disiapkan. Proses tidak bisa dilakukan hanya karena ingin segera pergi.

"Besok paling cepat," kata perawat. "Itu pun setelah dokter menilai ulang."

Nadia menutup mata. Laras memegang tepi ranjang, bukan tangannya. "Kita tunggu satu hari. Gue tetap di sini."

Pak Darto sebenarnya sudah memahami cukup banyak dari keadaan saat mereka menemukan Nadia, tetapi ia tidak pernah meminta penjelasan. Laras tetap menyampaikan permintaan itu kepadanya. Pak Darto hanya mengangguk dan mengajak Rayhan turun membeli pakaian ganti.

Bima tiba tidak lama kemudian. Bajunya kusut, rambutnya basah oleh keringat, dan napasnya belum pulih saat berlari ke lorong.

"Nadia mana?"

Laras berdiri menutup pintu kamar. "Lagi istirahat."

"Kenapa masuk rumah sakit? Rayhan bilang dia hilang."

"Dia mabuk, terus jatuh di gang. Demam."

"Gue sudah telepon semua klinik sejak jalan," kata Bima. "Nggak ada yang bilang cuma jatuh. Rayhan juga nggak bisa jawab waktu gue tanya bajunya kenapa."

"Karena Rayhan nggak ikut pemeriksaan."

"Terus lo ikut. Jadi bilang ke gue."

Laras memaksa suaranya tetap datar. "Dokter menangani luka dan demam. Itu saja."

"Luka di mana?"

"Bukan hak gue membagikan catatan medis dia."

Bima menatapnya seolah baru menyadari ada pintu lain yang sengaja ditutup di balik pintu kamar itu.

Bima menatap jaket kotor yang dimasukkan perawat ke kantong barang pribadi. "Jatuh sampai begini?"

"Gelap. Dia nggak sadar jalan."

"Gue mau lihat."

"Dia nggak mau ketemu lo."

"Kenapa?"

"Karena dia marah lo nggak datang semalam."

Bima mencoba melewati Laras. Laras menahan bahunya.

"Jangan."

"Gue pacarnya."

"Dia bilang bukan lagi."

Wajah Bima kehilangan warna. "Apa?"

"Nadia mau putus. Pulang."

"Gue perlu dengar dari dia."

"Dia lagi sakit! Berhenti memaksa semua hal harus sesuai waktu lo!"

Bima meraih gagang pintu. Laras menamparnya.

Suara tamparan memantul di koridor. Rayhan yang baru kembali membawa tas pakaian berhenti beberapa meter dari mereka.

"Semalam dia nunggu lo," kata Laras, suaranya bergetar. "Lo nggak datang. Dia minum, dia jatuh, sekarang dia nggak mau lihat lo. Cukup."

Bima tidak membalas. Bekas telapak Laras memerah di pipinya.

"Gue salah," katanya pelan. "Gue tahu gue salah karena nggak datang. Tapi Nadia nggak akan putus cuma karena itu."

"Lo nggak kenal dia sebaik yang lo pikir."

"Justru gue kenal."

Bima menatap tangan Laras yang gemetar, lalu wajah Rayhan yang terlalu diam. Setelah itu pandangannya berhenti pada pintu kamar yang dijaga seorang perawat perempuan.

"Lo boleh tampar gue lagi," katanya. "Tapi jangan kira itu bikin cerita lo jadi benar."

Laras memaksa matanya tidak berpaling.

Bima melangkah mundur satu kali.

"Lo bohong, Ras."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!