NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Kebusukan Sang Mayor

Perang itu dimulai dua hari setelah jamuan, bukan dengan bentakan, melainkan secangkir kopi di kantor Bram.

***

Aku, Bram, membiarkan kopi dari Sukandar menjadi dingin.

"Orang-orang mulai bicara soal kamu," katanya sambil bersandar. "Duda muda, jabatan baik, tapi hidup cuma kantor dan anak. Ada beberapa keluarga yang ingin mengenalkan putrinya."

"Sena belum genap setahun. Saya tidak memikirkan itu."

"Justru anak kecil butuh ibu yang pantas. Perempuan terdidik, keluarga jelas, paham lingkungan perwira."

Kata `pantas` sengaja ditekankan.

"Sena punya pengasuh yang dia percaya. Kebutuhannya cukup."

"Ibu susuan bukan istri." Sukandar tersenyum. "Jangan sampai orang salah membaca perhatianmu."

Aku menatapnya. "Kalau ada urusan dinas, sampaikan langsung."

"Santai. Saya bicara sebagai senior."

"Saya dengar sebagai Danyon."

Senyumnya membeku sesaat. Ia menghabiskan kopi, lalu pergi.

Setelah pintu tertutup, aku mencatat isi pembicaraan, waktu, dan konteksnya. Tidak ada pelanggaran untuk dilaporkan. Namun menyebut pernikahan, kelayakan seorang ibu, dan perhatian kepada Laras dalam satu percakapan bukan basa-basi.

Adi masuk membawa map. "Mayor Sukandar tadi tanya jadwal pelatihan Mbak Laras."

"Kamu jawab apa?"

"Jadwal resmi ada di logistik."

"Bagus. Jangan beri jadwal pribadi atau waktu dia sendirian."

Adi berhenti bercanda. "Ada masalah, Komandan?"

"Belum. Pastikan tetap belum ada."

Aku juga meminta Hendra menegaskan bahwa pembicaraan posisi tetap hanya boleh melalui rapat kebutuhan personel dan surat tertulis. Jika Sukandar benar-benar menawarkan pekerjaan, harus ada jejak. Jika tidak, Laras perlu tahu bahwa kata-katanya hanya umpan.

Sore harinya, undangan dari Endah, istri Sukandar, dikirim kepada beberapa ibu. Acara makan kecil di rumah mereka. Nama Laras ditulis khusus dengan pesan agar membawa Sena.

Aku meminta Adi menyampaikan peringatan, tetapi Laras tetap datang.

"Kalau saya menolak semua undangan karena takut, mereka akan bilang saya nggak bisa bermasyarakat," katanya.

"Tuti atau Sari ikut?"

"Nggak diundang. Tapi ada empat ibu lain."

"Jangan pulang sendirian."

"Iya, Bram."

Cara ia menyebut namaku membuat semua larangan berikutnya berhenti di lidah.

***

Rumah Sukandar lebih besar daripada blokku. Aku, Laras, duduk di ruang tamu bersama lima perempuan. Endah menyajikan teh dan kue dengan gerakan hati-hati. Senyumnya ramah, tetapi matanya tampak lelah.

Di dinding tergantung foto Sukandar menerima penghargaan dan foto keluarga yang tampak sempurna. Endah berdiri setengah langkah di belakang kursi suaminya bahkan ketika lelaki itu belum pulang, seolah kebiasaan menempatkan diri sudah melekat pada tubuh.

"Bu Endah membuat kuenya sendiri?" tanyaku.

"Beli," jawabnya cepat. "Saya nggak terlalu pandai masak."

"Enak. Isi kelapanya nggak terlalu manis."

Ia tersenyum sungguhan untuk pertama kali. "Nanti kuberi bungkus untuk dibawa."

Salah satu tamu hendak meminta resep jamuan, tetapi Endah melirik jam dan percakapan mendadak kaku. Semua orang tahu Sukandar akan pulang, meski undangan disebut acara antarperempuan.

Sukandar pulang sebelum makanan selesai. Ia seolah terkejut melihat kami, padahal kursi di ujung meja sudah disiapkan.

"Wah, ada pelatih dapur kita." Ia duduk di seberangku. "Jamuan kemarin luar biasa, Ras."

Aku menahan reaksi pada panggilan itu. Tak seorang pun di kompleks memanggilku `Ras`.

"Terima kasih, Mayor. Itu kerja tim."

"Terlalu merendah juga nggak baik. Orang berbakat harus tahu nilainya."

Ia mengalihkan pembicaraan pada rencana posisi tetap. Menurutnya, batalyon mungkin membutuhkan staf gizi yang mendampingi dapur, dengan gaji bulanan dan kamar lebih baik.

"Saya tidak punya ijazah ahli gizi," jawabku.

"Nama jabatan bisa diatur. Pengalaman kadang lebih penting daripada kertas."

Saat Endah menuang teh, tangannya bergetar sedikit. Beberapa tetes jatuh ke tatakan.

Sukandar mengernyit. "Hati-hati."

Endah langsung meminta maaf.

"Ganti tehnya," kata Sukandar.

"Nggak perlu, Mayor," aku menyela. "Cuma tumpah di tatakan."

Ia menatapku, lalu tersenyum lagi. "Ras memang nggak suka merepotkan orang. Sifat begitu langka."

Endah mengambil tatakan dengan kepala menunduk. Saat jari kami bersentuhan, telapaknya dingin.

Tamu lain mulai pamit satu per satu. Aku ikut berdiri, tetapi Sukandar meminta Endah membawakan bingkisan ke dapur dan menyuruhku menunggu. Kesopanan rumah tangga berubah menjadi cara memisahkan kami tanpa membuat keributan.

Aku menggeser Sena lebih tinggi dan memastikan pintu depan tetap terbuka.

Aku melihat cara bahunya mengecil dan memahami peringatan yang belum diucapkan.

Setelah tamu lain pulang, Sukandar menahanku dengan alasan ingin membahas posisi. Endah membawa Sena sebentar ketika aku merapikan tas.

"Duduk dulu, Ras. Kesempatan seperti ini nggak datang dua kali."

Aku duduk di ujung kursi. "Kalau posisi itu resmi, tentu ada pengumuman dan seleksi."

"Proses bisa dipercepat kalau ada orang yang mendorong."

Tangannya bergerak di atas meja lalu menyentuh punggung tanganku. Ringan, hanya satu detik, tetapi kulitku seperti terkena minyak kotor.

Aku tidak langsung menarik tangan. Rasa mual naik, namun aku memaksa tersenyum samar.

"Kalau Mayor yang mendorong, apa yang harus saya lakukan?"

Tatapannya berubah. Ia mengira aku tertarik.

"Cukup tahu berterima kasih. Jangan terlalu dekat pada satu pihak. Bram belum tentu bisa memberimu masa depan."

"Saya akan pertimbangkan."

Sena tiba-tiba menangis dari arah Endah. Aku langsung berdiri.

"Dia lapar. Saya menyusui dulu."

Endah membawaku ke kamar belakang. Begitu pintu tertutup, ia mengunci dari dalam dan menyerahkan Sena.

"Kamu benar-benar tertarik tawarannya?" bisiknya.

"Tidak. Saya ingin tahu seberapa jauh dia berani bicara."

Endah memejamkan mata sejenak, seperti orang yang baru mendapat udara.

"Habis menyusui langsung pulang. Jangan iyakan apa pun. Jangan pernah datang kalau aku nggak ada."

"Dia sering begini?"

Tangannya meremas ujung jilbab. Dari luar terdengar Sukandar memanggil namanya dengan nada tak sabar.

"Aku sudah dua belas tahun sama dia," katanya. "Kamu ngerti orang kayak apa dia?"

"Saya perlu tahu apakah Ibu aman malam ini."

Endah menatapku kaget.

"Kalau memar itu karena dia dan Ibu butuh bantuan, saya bisa panggil Sari atau pengurus Persit yang lebih senior."

Ia cepat menurunkan lengan baju. "Belum. Jangan sekarang. Kalau dia tahu aku bicara, semua akan lebih buruk."

Aku ingin mendesak, tetapi wajahnya memohon agar pilihannya dihormati.

"Baik. Tapi simpan nomor saya. Kalau perlu tempat keluar, kirim satu pesan kosong pun cukup."

Endah mengangguk. Ia menyelipkan kertas nomor telepon ke balik tempat bedak, bukan ke tas yang mungkin diperiksa suaminya.

Aku menatap memar kekuningan yang tersembunyi dekat pergelangan tangannya.

Sena berhenti menangis dan mulai menyusu. Di balik pintu, langkah Sukandar mendekat.

Seluruh urat di tubuhku menegang.

Endah meletakkan telunjuk di bibir, lalu berbisik, "Jangan biarkan dia tahu kamu sudah mengerti."

Kebusukan di rumah itu ternyata jauh lebih dalam daripada tatapan seorang lelaki kepada perempuan lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!