NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Senyum yang Mencurigakan

Matahari sore mulai tenggelam di balik struktur baja megaproyek Zona Empat, menyisakan warna jingga pekat yang beradu dengan asap tipis mesin konstruksi.

Kekacauan di tengah lapangan proyek perlahan surut, tetapi riak kecurigaan di antara para pekerja dan vendor material masih tersisa tebal di udara.

Setelah Rendra, Maya, dan Siti beranjak menuju pos pengamanan kawasan untuk merapikan berkas penyerahan bukti ke pihak kepolisian, Intan Saputri memilih bertahan sejenak di dekat van katering.

Ia sedang mengemas papan jalan dan berkas proposal penawaran saat melirik ke arah tangga kantor direksi semi-permanen.

Di ambang pintu kontainer lantai dua, Ardiansyah Putra berdiri kaku.

Pria itu telah menanggalkan helm keselamatan dan kemeja batiknya, kini hanya mengenakan kaos hitam polos.

Wajahnya yang tadi pucat pasi akibat desakan bukti dari Rendra mendadak berubah. Tak ada lagi raut panik, ketakutan, atau tubuh lesu di sana.

Sebaliknya, saat mata Ardiansyah berpapasan dengan pandangan Intan dari jarak puluhan meter, sebuah senyum yang mencurigakan perlahan terukir di bibirnya.

Senyuman itu tipis, sangat dingin, dan sarat akan keyakinan jahat yang tak tersentuh.

Ia tidak menatap Intan seperti seorang penipu yang kalah atau terpojok.

Cara Ardiansyah menatapnya—diikuti oleh gestur anggukan kepala yang lambat seraya mengetuk jemarinya di atas paha—lebih menyerupai seorang pemain catur yang baru saja menemukan celah untuk melakukan skakmat balasan.

Jantung Intan berdesir pelan. Insting mewaspadainya yang ditempa Maya seketika membunyikan tanda bahaya.

Kenapa dia tersenyum seperti itu?

Pria yang terancam dipenjara hari Senin tidak akan menatap lawannya dengan senyuman sebebas itu, batin Intan tajam.

Ardiansyah kemudian berbalik, masuk kembali ke dalam ruang kantor kontainer dan menutup pintu kaca es itu rapat-rapt.

Intan tidak tinggal diam. Ia menolak menjadi korban yang lengah untuk kedua kalinya.

Tanpa mengulur waktu, Intan merapikan pakaian blazernya, mencangklong tas selempang hitamnya, lalu berjalan menuju sudut ruko kopi kecil di samping pos pengamanan—tempat Maya dan Rendra sedang berdiskusi dengan Siti.

"Mbak Maya, Mas Rendra"

Panggil Intan seraya melangkah mendekati meja kayu mereka.

Rendra mendongak dari laptopnya yang sedang menampilkan berkas arus kas fiktif.

 "Ada apa, Intan?"

"Ada pergerakan baru dari Ardiansyah?"

"Ardiansyah baru saja kembali ke kantor direksi."

Jelas Intan, suaranya tenang namun sarat akan ketegasan.

"Dia tidak sedang berkemas untuk melarikan diri sore ini."

"Dan saat melihat saya, dia melempar senyuman yang sangat aneh."

"Senyuman orang yang yakin bahwa dia punya kartu As di tangannya."

Maya menghentikan jemarinya yang sedang mengetik di ponsel. Matanya memicing.

"Kartu As?"

"Orang seperti Ardiansyah tidak pernah menyerah hanya karena dikepung bukti dokumen."

Tangkas Maya seraya menyilangkan tangan di dada.

"Dia penipu kawakan yang punya banyak jalur belakang."

"Kalau dia tersenyum seperti itu di tengah situasi terdesak, berarti dia sedang menyiapkan dua kemungkinan: memindahkan seluruh isi rekening penampungannya malam ini sebelum polisi membekukannya hari Senin, atau... dia berniat mengorbankan orang lain sebagai kambing hitam."

Rendra mengutak-atik papan ketik laptopnya dengan cepat.

"Saya baru saja mengecek aktivitas rekening penampungan atas nama Ardiansyah Putra yang tertera di dokumen kontrakmu, Intan."

"Belum ada transaksi keluar besar dalam dua jam terakhir. Tapi..."

"Tapi apa, Mas Rendra?"

Sela Siti yang duduk di samping Rendra dengan wajah cemas.

"Tapi ada permintaan pencairan dana darurat sebesar lima ratus juta rupiah yang baru saja diajukan ke divisi keuangan pusat megaproyek Pandawa jam empat sore tadi."

Jawab Rendra, matanya menatap tajam ke arah layar.

 "Dia mengajukan pencairan itu atas nama Katering Barokah—menggunakan dokumen kuasa transaksi yang stempelnya baru saja dibubuhkan tadi pagi!"

Kalimat Rendra menghantam meja bagaikan ledakan kecil.

Darah Intan seketika mendidih. Teka-teki di balik senyum mencurigakan Ardiansyah akhirnya terkuak dengan gamblang!

Ardiansyah sengaja menandatangani kontrak katering dengan Intan tadi pagi bukan sekadar untuk formalitas kerja sama, melainkan untuk mencuri spesimen stempel dan kualifikasi bisnis Katering Barokah.

Pria penipu itu berniat mencairkan uang muka proyek sebesar lima ratus juta rupiah malam ini juga, mengalirkannya ke rekening anonim luar negeri, dan membiarkan Katering Barokah milik Pak Budi serta Intan yang menanggung tuduhan pencucian uang saat audit hari Senin tiba!

"Licik sekali..."

Bisik Siti, tangannya gemetaran menahan amarah.

"Dia mau menjebak Mbak Intan lagi!"

"Dia pikir dia sangat pintar."

Kata Intan, suara lembutnya mendadak berubah menjadi sedingin es.

Tidak ada rasa panik di matanya, melainkan binar api perlawanan yang makin membesar.

"Apa yang harus kita lakukan, Rendra?"

Tanya Maya.

"Kalau pencairan dana darurat itu disetujui sistem perbankan otomatis malam ini pukul sembilan, Ardiansyah bisa langsung memotong jalur dan terbang keluar kota sebelum polisi bergerak hari Senin."

Rendra menyesap kopinya yang dingin, lalu menatap Intan dan Maya secara bergantian.

"Pencairan dana sistem otomatis proyek butuh dua verifikasi digital."

Jelas Rendra.

"Verifikasi pertama adalah stempel dan Tanda Tangan Kuasa dari perwakilan katering—yang sudah dipalsukan Ardiansyah."

"Tapi verifikasi kedua adalah Konfirmasi Fisik via PIN enkripsi dari pemilik rekening tujuan."

Intan menyingkap tas selempangnya, mengambil buku catatan hitam kecilnya dan lembar salinan rekening penampungan yang ia pegang.

"Rekening penampungan yang terdaftar di sistem pusat adalah rekening yang terikat dengan nomor telepon operasional Katering Barokah yang dipegang Mbak Maya."

Ujar Intan seraya menyunggingkan balik sebuah senyuman—senyuman pemburu yang telah memprediksi langkah sang musuh.

Maya terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang penuh kepuasan.

"Artinya, Ardiansyah tidak akan pernah bisa menyelesaikan verifikasi kedua itu tanpa ponsel kita."

"Tepat."

Tegas Rendra seraya menutup laptopnya dengan ketukan keras.

"Dia tersenyum sore ini karena mengira kita tidak tahu soal pengajuan dana lima ratus juta itu."

"Dia berpikir bisa mengejutkan kita di akhir pekan."

Intan menegakkan punggungnya, menatap ke arah bangunan kontainer direksi di seberang sana.

Senyum mencurigakan yang dilempar Ardiansyah tadi tidak lagi membuatnya gentar, melainkan menjadi petunjuk terakhir yang menyempurnakan sangkar jebakan mereka.

"Malam ini jam delapan"

Kata Intan dengan keteguhan batin yang tak tergoyahkan.

"Kita tidak menunggu sampai hari Senin."

"Kita cegat transaksi digitalnya malam ini saat dia mencoba memasukkan verifikasi palsu, dan kita serahkan dia ke kepolisian malam ini juga."

Maya dan Rendra mengangguk mantap secara bersamaan.

Angin malam kawasan industri mulai berhembus dingin, membelai wajah Intan yang kini berdiri tegak di tengah aliansinya.

Senyum licik sang penipu telah menjadi pemantik untuk babak eksekusi terakhir.

Intan Saputri tidak akan memberikan Ardiansyah waktu sampai hari Senin—perburuan panjang ini akan dituntaskan malam ini di bawah pekatnya langit kota.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe☺️

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!