Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Katanya Cowok Bayaran, Kok Malah Ngajak Nikah?
Bangun telanjang di sebelah cowok bayaran seharusnya bukan masalah besar bagi perempuan dewasa sepertiku.
Masalahnya dimulai ketika laki-laki itu membuka mata, tersenyum manis, lalu berkata, "Cici, aku sikat gigi dulu, ya. Habis itu boleh cium?"
Terlalu sopan untuk seseorang yang kukira dibayar menemani klien.
Aku menarik selimut sampai dada. Rambutnya berantakan, tubuhnya hanya dibalut handuk hotel, dan mata cokelat mudanya terlihat sama jernihnya seperti semalam.
"Sikat gigi sana," kataku. "Setelah itu kita bicara soal bayaran."
Senyumnya berhenti sesaat. "Bayaran?"
"Nggak usah pura-pura. Project owner yang mengirim kamu, kan?"
Dia masuk kamar mandi tanpa menjawab.
Malam sebelumnya aku menyelesaikan due diligence proyek di Surabaya. Pihak perusahaan yang kami periksa terlalu bersemangat menyenangkan calon investor. Saat makan malam, salah satu pemilik berbisik bahwa mereka sudah menyiapkan "teman" muda untuk menghiburku di hotel.
Aku menolak. Setidaknya itulah niat awalku.
Namun setelah menerima foto undangan pernikahan Rendi dari Michelle, dua gelas minuman terasa jauh lebih mudah ditelan. Mantan yang berselingkuh setelah tujuh tahun bersamaku itu akan menikah lebih dulu dengan anak seorang sultan. Hotel bintang lima. Cincin berlian. Semua dipamerkan seolah pengkhianatan adalah tangga menuju kehidupan lebih tinggi.
Saat kembali ke lantai kamar, kulihat laki-laki muda mengetuk pintu tepat di seberang kamarku. Dia mengenakan kaus putih, membawa gitar dan koper, dengan kartu kamar yang entah tertinggal di dalam.
"Kamu yang dikirim?" tanyaku.
Dia menatapku lama. "Kalau Ci Nessa mau, iya."
Aku seharusnya menangkap keanehan cara dia memanggil namaku. Sebaliknya, aku menarik kerahnya dan membawanya masuk.
Sebelum menciumku, dia menahan pergelangan tanganku.
"Cici yakin?"
"Yakin. Kamu sendiri?"
"Aku sudah lama yakin."
Malam itu berlangsung karena kami sama-sama mengatakan ya. Kesalahanku bukan soal persetujuan. Kesalahanku adalah mengira aku tahu siapa dia.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, aku sudah menaruh segepok uang di meja dan membuka aplikasi bank.
"Berapa rekeningmu? Anggap ini uang malu."
Wajahnya benar-benar terluka. "Cici pikir aku jual jasa?"
"Bukannya kamu yang diatur project owner?"
Dia mengambil kartu kamar dan KTP dari dompet. Nomor kamar di kartu tepat di seberang kamarku. Usianya dua puluh tiga. Dia adalah tamu hotel biasa yang terkunci di luar kamar sendiri.
Aku menatap uang di meja, lalu wajahnya.
"Mati aku."
"Jangan mati dulu. Tanggung jawab dulu."
"Aku minta maaf. Aku akan bayar semua kerugianmu."
"Aku nggak butuh uang." Dia duduk di tepi ranjang dengan ekspresi anak anjing ditinggalkan hujan. "Ci, nikah sama aku saja."
Aku tertawa karena yakin dia bercanda. Kevin tidak ikut tertawa.
"Kita bahkan belum saling tahu nama lengkap."
"Bisa kenalan sambil urus dokumen."
"Orang waras nggak nikah begini."
"Cici semalam juga nggak terlalu waras."
Aku melempar bantal. Dia menangkapnya, memeluk bantal itu, lalu kembali menatapku dengan serius.
Ponselku berbunyi. Michelle mengirim foto lain dari undangan Rendi, lengkap dengan komentar bahwa mantanku sengaja memilih tanggal secepat mungkin agar bisa menyombongkan diri.
Entah karena malu, kesal, atau ditatap Kevin seperti aku adalah hadiah terbesar dalam hidupnya, aku menjawab, "Baik. Aku nikah sama kamu. Tapi jangan menyesal."
Kevin membeku. "Serius?"
"Kalau takut, batalkan sekarang."
Dia mencium punggung tanganku. "Aku yang paling nggak mungkin batal."
Michelle menjerit melalui voice note ketika mendengar rencanaku.
"Lo gila, Nessa! Bisa jadi dia tipu harta, tipu badan, atau buronan!"
"Badannya sudah telanjur ditipu duluan sama gue."
"Itu bukan pembelaan! Cek KTP, KK, status pernikahan, semuanya."
Michelle bahkan memaksa kami melakukan panggilan video sebelum aku meninggalkan hotel. Begitu wajah Kevin muncul di layar, sahabatku menyuruhnya mengangkat kedua tangan seperti tersangka.
"Nama lengkap?"
"Kevin Tanuwijaya."
"Umur?"
"Dua puluh tiga."
"Pekerjaan?"
Kevin melirikku sebelum menjawab, "Musisi. Aku menulis lagu sendiri."
"Penghasilan tetap?"
"Ada royalti."
Michelle menyipitkan mata. "Nominalnya?"
"Cukup buat makan dan bikin istri aku nggak perlu membiayai aku."
Jawaban itu membuat Michelle diam dua detik, lalu interogasi berlanjut lebih galak. Kevin tetap menjawab satu demi satu, termasuk alamat, status belum menikah, dan alasan ingin menikahiku. Untuk pertanyaan terakhir, dia hanya berkata bahwa dia sudah mengenalku lebih lama daripada yang kusadari.
"Maksudnya apa?" tanyaku.
"Nanti aku ceritakan setelah Cici resmi jadi istriku."
"Jawaban misterius itu justru tanda bahaya," potong Michelle.
"Kalau aku bohong soal dokumen, Ci Nessa boleh batal."
Aku menatapnya. Nada suaranya lembut, tetapi tidak ragu sedikit pun. Entah apa yang dia sembunyikan, dia tidak terlihat seperti laki-laki yang takut diperiksa.
Untuk menenangkan Michelle, kami benar-benar memeriksa dokumen. Kevin menyerahkan KTP, KK, surat status belum menikah, dan dokumen gereja tanpa keberatan. Ia Kristen, sama sepertiku, dan pastor di gereja kecil keluarganya mengenalnya. Setelah berkas diverifikasi serta jadwal pemberkatan dan pencatatan tersedia beberapa hari kemudian, tak ada alasan administratif tersisa untuk menyelamatkanku dari keputusan gila itu.
Sebelum pulang ke Jakarta, aku juga mendatangi pemilik proyek yang semalam menawarkan hiburan. Dia mengira aku datang untuk berterima kasih, sampai kutaruh kartu namaku di meja dan menjelaskan bahwa calon investor tidak boleh diperlakukan seperti orang yang bisa dibeli dengan tubuh orang lain.
"Teman yang kami siapkan bahkan belum sempat datang, Bu Vanessa," katanya pucat.
Itulah konfirmasi terakhir bahwa kekacauan ini sepenuhnya hasil perbuatanku sendiri.
"Bagus. Batalkan dan bayar waktunya sesuai kesepakatan. Setelah itu, jangan ulangi kepada siapa pun. Hasil due diligence kalian ditentukan angka, bukan hiburan kamar."
Dia mengangguk berkali-kali. Aku pergi tanpa mengubah satu angka pun dalam laporan. Kesalahan pribadiku tidak akan kupakai untuk memeras urusan bisnis, tetapi batas profesional tetap harus dibuat terang.
Di lift, Kevin memberiku sebotol air mineral dan bertanya, "Cici selalu segalak itu?"
"Takut?"
"Bangga."
Satu kata itu membuatku lebih gugup daripada seluruh rencana pernikahan kami.
Pada hari pernikahan, rapat darurat membuatku terlambat hampir satu jam.
Aku tiba di gereja kecil dengan napas putus-putus dan menemukan Kevin tertidur meringkuk di sisi taman bunga dekat pintu. Jasnya sedikit kusut, ransel menjadi bantal, sementara gitar dan koper berdiri di dekat kakinya.
"Kev. Bangun."
Dia membuka mata dan langsung tersenyum. "Aku kira Cici kabur."
"Kenapa tidur di sini?"
"Di dalam dingin. Di luar bisa lihat kalau Cici datang."
Michelle berdiri sebagai saksi dengan wajah seperti menghadiri sidang pidana. Ko Alex, teman Kevin, menjadi saksi lain sambil terus menahan tawa.
Sebelum masuk, petugas memeriksa kembali identitas kami.
"Vanessa Halim," kataku.
"Kevin Tanuwijaya," jawabnya.
Nama keluarga itu membuatku berhenti. Tanuwijaya terdengar sangat familier, tetapi aku tak bisa mengingat dari mana.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Nggak apa-apa. Nama kamu terlalu bagus buat cowok yang tidur di taman."
Pemberkatan berlangsung sederhana. Pastor kembali memastikan kami datang dengan kemauan sendiri, menjelaskan janji yang kami ambil, lalu memberkati pernikahan kami di depan dua saksi. Tidak ada resepsi besar atau keluarga lengkap. Hanya sepasang cincin, doa, dan tangan Kevin yang gemetar ketika memasangkan cincin ke jariku.
Setelah pemberkatan menjadikan pernikahan kami sah secara agama, kami menuju Kantor Catatan Sipil untuk pencatatan. KTP, KK, surat gereja, dan dokumen para saksi diperiksa. Tanda tangan kami jatuh di lembar yang sama.
Ketika akta perkawinan akhirnya diberikan, Kevin memegangnya seperti baru menerima sertifikat rumah mewah.
Dia membaca nama kami dua kali, kemudian meratakan ujung kertas yang sebenarnya sama sekali tidak kusut. Saat petugas menerangkan bahwa pencatatan telah selesai dan akta itu menjadi bukti resmi perkawinan kami, jari Kevin menyelinap mencari tanganku di bawah meja.
"Sekarang benar-benar nggak bisa pura-pura salah kamar lagi," bisikku.
"Aku dari awal juga nggak mau pura-pura."
Telapak tangannya hangat. Aku baru mengenal kebiasaan tidurnya, cara dia menyimpan gitar, dan fakta bahwa dia suka kopi tanpa gula. Aku belum tahu keluarganya, masa lalunya, atau berapa banyak lagu yang pernah dia tulis. Namun di ruangan administrasi yang dingin itu, dia menggenggamku seperti tidak ada keputusan yang lebih masuk akal daripada memilihku.
"Jangan dilipat," katanya kepada Ko Alex.
"Siapa juga yang mau melipat?"
"Tangannya dekat sekali."
Michelle menarikku ke sudut. "Terakhir kali gue tanya. Lo yakin?"
Aku melihat Kevin memasukkan akta ke map plastik, lalu memotret setiap halaman sebagai cadangan.
"Terlambat tanya. Sekarang dia suami gue."
Anehnya, kalimat itu tidak terasa menakutkan.
Ko Alex mengumumkan akan menutup separuh lounge miliknya malam itu dan memberi diskon minuman untuk merayakan kami. Aku tidak memberi tahu Kevin alamatnya. Penampilannya terlalu patuh, dan aku belum siap melihat dia terdampar di tempat yang penuh musik keras serta orang-orang yang mengenalku.
Malamnya aku tiba lebih dulu bersama Michelle. Lounge Ko Alex ramai, tetapi tetap nyaman, dengan panggung live music dan deretan mocktail warna-warni.
"Suami lo tahu tempatnya?" tanya Michelle.
"Nggak. Paling Ko Alex kasih alamat."
Pintu terbuka.
Kevin berdiri di sana memakai jas yang sama, ransel di bahu, dan map akta perkawinan terselip di dada. Penampilannya seperti mahasiswa salah masuk pesta orang dewasa.
Dua perempuan di sofa dekat pintu langsung memperhatikannya. Salah satu bangkit membawa mocktail dan berjalan lebih cepat dariku.
"Sendirian?" tanyanya kepada Kevin.
Aku berdiri.
Baru beberapa jam menjadi istri, tetapi dorongan untuk menandai wilayah sudah membuat darahku naik ke kepala.
Aku melangkah ke arah mereka tepat ketika perempuan itu menyentuh lengan suamiku.