Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Keributan di Tengah Malam
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Suasana Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat mulai lengang. Sebagian besar pasien telah tertidur setelah menjalani terapi dan mengonsumsi obat malam.
Di ruang jaga, Nadira sedang menyelesaikan laporan perkembangan pasien. Sesekali matanya menoleh ke layar monitor CCTV yang memperlihatkan lorong-lorong bangsal.
"Akhirnya dia mau bicara juga..." gumamnya sambil tersenyum mengingat dua kata sederhana yang diucapkan Adrian.
Tiba-tiba...
Prang!
Suara kaca pecah menggema dari arah bangsal pria. Disusul teriakan seorang petugas.
"Tolong! Ada pasien mengamuk!"
Nadira langsung berdiri. "Astaga!"
Ia bersama beberapa perawat berlari menuju sumber suara. Saat tiba di lorong, keadaan sudah kacau, beberapa pasien berteriak ketakutan. Ada yang berlari tanpa arah, ada pula yang menangis sambil menutupi telinga.
"Apa yang terjadi?" tanya Nadira panik.
"Seseorang masuk dari belakang!" jawab salah seorang petugas keamanan.
Belum sempat Nadira bertanya lagi, terdengar suara benturan keras dari arah kamar nomor tujuh.
Bugh!
"Itu kamar Adrian!"
Tanpa berpikir panjang, Nadira berlari secepat mungkin. Pintu kamar Adrian sudah terbuka lebar. Di dalam ada tiga pria bertubuh besar mengenakan masker hitam sedang mengepungnya. Meski tubuhnya masih lemah, Adrian berusaha melindungi diri. Salah seorang pria mengayunkan tongkat kayu ke arahnya.
Bugh!
Pukulan itu mengenai bahu Adrian hingga ia terjatuh.
"Arrggh..."
Belum sempat Adrian bangkit, pria lain menendang perutnya. "Berani melawan? Dasar orang gila!"
Adrian mengepalkan rahangnya, ia tahu. Mereka bukan petugas rumah sakit, mereka sengaja datang untuk mencelakainya. Saat salah satu pria kembali mengangkat tongkat...
"Berhenti!" Suara Nadira menggema dari ambang pintu.
Ketiga pria itu menoleh bersamaan.
Nadira berdiri dengan napas memburu. "Apa yang kalian lakukan?"
Salah seorang pria tertawa sinis. "Menangani pasien yang sedang mengamuk."
"Kalian pasti bohong!"
Nadira menatap Adrian yang terduduk di lantai. Pria itu bahkan tidak melakukan perlawanan berlebihan. Yang ia lakukan hanya berusaha menahan setiap pukulan.
"Kalian bukan petugas rumah sakit!" teriak Nadira.
Pria bertubuh besar itu melangkah mendekat. "Jangan ikut campur kalau tidak mau celaka."
Namun Nadira tidak bergeming. Ia justru berdiri di depan Adrian, membentangkan kedua tangannya. "Kalau kalian ingin menyakitinya... kalian harus melewatiku dulu."
Ketiga pria itu saling berpandangan. Mereka jelas tidak menyangka seorang perawat wanita berani menghalangi mereka.
"Menyingkir!"
Salah seorang pria mendorong bahu Nadira hingga tubuhnya terhuyung.
"Nadira!" Adrian akhirnya berteriak untuk pertama kalinya.
Mendengar namanya dipanggil, Nadira menoleh. Tatapan Adrian dipenuhi kepanikan.
Detik berikutnya...
Pria bertopeng mengayunkan tongkat ke arah Nadira. Melihat itu, Adrian spontan bangkit dan menarik tubuh Nadira ke dalam pelukannya.
Bugh!
Tongkat kayu itu menghantam punggung Adrian dengan keras.
"Argh..." Adrian meringis menahan sakit.
"Adrian!" teriak Nadira panik.
Belum sempat para pria itu kembali menyerang, suara peluit keamanan terdengar dari ujung lorong.
"Keamanan! Cepat!"
Beberapa satpam rumah sakit berlari menuju kamar.
Ketiga pria bertopeng langsung panik. "Kabur!"
Mereka berlari keluar melalui pintu belakang bangsal sebelum sempat ditangkap. Ruangan mendadak sunyi. Nadira masih berada dalam pelukan Adrian, ia bisa merasakan napas pria itu yang mulai tidak beraturan. Perlahan, Adrian melepaskan pelukannya.
Tubuhnya kembali limbung.
Bruk!
Ia jatuh berlutut di lantai, darah segar mulai merembes dari luka di punggungnya akibat hantaman tongkat.
"Cepat panggilkan dokter!" teriak Nadira dengan suara bergetar.
Air matanya mulai mengalir, ini pertama kalinya ia melihat Adrian terluka separah itu. Dan kini muncul pertanyaan besar di benaknya. Jika Adrian benar-benar pasien gangguan jiwa yang berbahaya. Mengapa tadi justru ia mempertaruhkan dirinya untuk melindungi Nadira?
Beberapa menit kemudian...
Dokter Bima bersama dua orang perawat berlari memasuki kamar nomor tujuh. "Tolong menyingkir!"
Dengan sigap mereka membaringkan Adrian di atas brankar. Seragam pasien yang dikenakannya telah robek di bagian belakang. Darah terus mengalir dari luka memanjang di punggungnya.
"Tekan lukanya!"
Nadira segera mengambil kain kasa steril, lalu menekan luka itu dengan kedua tangannya. Wajahnya mulai pucat. "Dok... darahnya banyak sekali."
"Tenang."
Meski berusaha terdengar tenang, Dokter Bima sendiri tampak cemas. Ia tahu, jika luka Adrian semakin parah, semua rencana yang selama ini disusun bisa berantakan.
"Segera bawa dia ke ruang tindakan."
Brankar pun didorong keluar.
Nadira terus berjalan di samping Adrian sambil menggenggam tangannya. "Adrian... bertahanlah."
Mata Adrian terbuka perlahan, pandangannya masih buram. Namun ia bisa merasakan jemari hangat Nadira menggenggam tangannya erat. Tanpa sadar, Adrian membalas genggaman itu dengan lemah.
Nadira tersenyum tipis meski matanya berkaca-kaca. "Adrian... kamu pasti kuat."
Di ruang tindakan Dokter Bima mulai membersihkan luka di punggung Adrian. "Lukanya cukup dalam, untung tidak mengenai tulang belakang."
Nadira mengembuskan napas lega. "Syukurlah, Dok."
Namun belum sempat rasa leganya bertahan lama, Direktur rumah sakit datang dengan wajah muram.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Salah seorang petugas keamanan segera menjawab. "Pak, ada tiga orang tidak dikenal yang menyusup."
Direktur itu mengernyit. "Lalu kenapa pasien itu bisa terluka?"
"Karena melindungi Suster Nadira, Pak."
Jawaban itu membuat Direktur terdiam beberapa saat. Sorot matanya berubah tajam ke arah Nadira.
"Mulai besok... kamu tidak perlu lagi menangani pasien Adrian."
Nadira langsung menoleh. "Apa?"
"Pasien akan dirawat oleh perawat lain."
"Tapi, Pak...
"Saya sudah mengenal kondisinya. Itu keputusan saya." Nada suara Direktur tidak memberi ruang untuk dibantah.
Nadira mengepalkan kedua tangannya. Kali ini ia merasa keputusan atasannya tidak masuk akal. Setelah Direktur pergi, suasana ruangan kembali hening.
Dokter Bima menutup luka Adrian dengan perban baru. "Selesai." Ia menoleh kepada Nadira. "Untuk malam ini, biarkan dia beristirahat."
Nadira mengangguk pelan, saat hendak keluar terdengar suara lirih dari arah ranjang.
"Jangan..."
Nadira berhenti melangkah, ia menoleh perlahan.
Adrian sedang memandangnya. "Jangan pergi." Suara itu sangat pelan, namun cukup jelas untuk didengar.
Mata Nadira membulat. "Adrian..."
Kini pria itu memintanya tetap tinggal. Tanpa berpikir panjang, Nadira kembali mendekati ranjang.
"Aku di sini, aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Sudut bibir Adrian bergerak tipis. Beberapa detik kemudian, matanya kembali terpejam karena rasa lelah.
Malam sudah larut, Nadira masih duduk di samping ranjang Adrian. Ia memperhatikan wajah pria itu yang terlihat jauh lebih tenang saat tertidur. Tanpa sadar, pandangannya jatuh pada telapak tangan Adrian.
Ada bekas luka lama di sana, bekas kapalan, bekas goresan. Jelas bukan tangan seseorang yang sejak lama kehilangan kendali atas dirinya.
"Siapa sebenarnya kamu...?" bisiknya.
Saat hendak merapikan selimut Adrian, sebuah benda kecil terjatuh dari bawah bantal. Nadira mengambilnya.
Ternyata sebuah kartu identitas yang terselip di balik sampul buku biru pemberiannya. Ia sempat ragu untuk melihatnya, namun rasa penasarannya mengalahkan keraguan itu.
Perlahan ia membalik kartu tersebut. Di sana terpampang foto Adrian dengan jas mahal dan senyum penuh wibawa. Di bawah foto itu tertulis jelas...
ADRIAN MAHENDRA. Direktur Utama Mahendra Grup
Napas Nadira tertahan, matanya membelalak tak percaya. "Direktur... Utama?"
Ia kembali menatap Adrian yang sedang tertidur. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, mengapa seorang direktur perusahaan besar bisa berakhir di rumah sakit jiwa?