Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17.Kebenaran yang terlambat.
Malam semakin larut, menyelimuti kediaman Keluarga Zhang dengan keheningan yang mendalam. Di kamar utama yang luas dan diterangi cahaya lampu minyak yang lembut, Tuan Zhang duduk di kursi kayu jati yang kokoh, sementara Nyonya Besar Zhang duduk di tepi tempat tidur, pandangannya tertuju ke arah jendela yang tertutup tirai tebal. Suasana di antara mereka terasa berat, seakan ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan keduanya, tak kunjung terucap.
Tuan Zhang menghela napas panjang, memecah keheningan yang menyesakkan.
"Kau masih terjaga?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lelah. "Aku terus memikirkan perintah Kaisar... mengapa harus Shi Yin? Selama ini kita yakin dialah yang membawa keberuntungan. Jika dikirim ke Negeri Tang Liang, bukankah itu sama saja memberikan kebahagiaan kepada musuh kita sendiri?"
Nyonya Besar tidak menjawab. Ia hanya menunduk, meremas ujung kain selendangnya dengan jari yang gemetar pelan.
"Kau diam saja?" Tuan Zhang berbalik menatap istrinya, mengerutkan kening. "Biasanya kau yang paling bersikeras membelanya. Mengapa sekarang saat nasibnya dipertaruhkan, kau justru tak bersuara?"
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini terasa lebih menekan. Nyonya Besar menelan ludah, matanya berkaca-kaca, lalu perlahan menoleh menatap suaminya.
"Suamiku..." panggilnya pelan, suaranya bergetar halus namun jelas. "Ada sesuatu yang mungkin bisa menjawab pertanyaan mu...kebenaran itu sendiri aku juga baru tahu saat berada di kuil. Tapi aku takut... takut kehilanganmu, takut memecah belah keluarga ini."
Tuan Zhang bangkit berdiri perlahan, menatap istrinya dengan tatapan bingung sekaligus waspada. "Apa maksudmu? Apa yang kau sembunyikan?"
Nyonya Besar menarik napas dalam-dalam, seakan mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Saat kami berkunjung ke kuil beberapa hari yang lalu... aku bertemu dengan Pendeta Agung," mulainya perlahan, matanya tak lepas dari wajah suaminya. "Beliau yang dulu meramal nasib kedua putri kita,saat masih didalam perutku. Dan kali ini... beliau mengatakannya dengan jelas, tanpa keraguan sedikit pun."
"Mengatakan apa?" Tuan Zhang melangkah mendekat, jantungnya mulai berdebar tidak tenang.
"Bahwa kita salah..." air mata mulai menetes di pipi Nyonya Besar. "Kita telah salah menentukan sejak awal. Pendeta Agung berkata — Li Hua... Li Hua-lah putri yang membawa keberuntungan, pelindung bagi keluarga ini. Sedangkan Shi Yin... dialah yang membawa kehancuran."
Wajah Tuan Zhang memutih seketika. Ia mundur selangkah, seakan kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya.
"Tidak mungkin..." gumamnya pelan, menggeleng tak percaya. "Bagaimana bisa? Dulu beliau berkata sebaliknya..."
"Dulu kita yang memahaminya keliru," potong Nyonya Besar pilu. "Kita begitu ingin percaya pada Shi Yin, pada wajah yang manis dan kata-kata yang manis... sehingga kita tidak melihat kebenaran yang ada di depan mata. Pendeta Agung berkata, kesalahan terbesar kita justru membuang yang baik dan memeluk yang berbahaya. Dan sekarang... semua pertanda itu mulai menjadi kenyataan, bukan? Sejak Li Hua pergi, urusan rumah tangga kacau, kedudukanmu terancam, dan Shi Yin... lihatlah apa yang dilakukannya."
Tuan Zhang terdiam, terpaku di tempatnya. Pikirannya melayang ke berbagai peristiwa belakangan ini — barang hilang, tuduhan tak terbukti, ketegangan di antara mereka, dan kini perintah Kaisar yang mengubah semuanya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Jadi..." suaranya parau. "Jadi itulah sebabnya Kaisar tiba-tiba mengubah keputusannya? Beliau sudah mengetahui kebenaran ini?"
"Sepertinya begitu..." Nyonya Besar menunduk lemas. "Itulah sebabnya Shi Yin yang dikirim ke Negeri Tang Liang. Bukan Li Hua."
Tuan Zhang menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang oleh perasaan bersalah yang mendalam. Kami telah menyia-nyiakan anak kami sendiri, batinnya perih. Kami menyiksanya, membuangnya, menuduhnya... padahal dialah yang seharusnya kami lindungi.
Sementara itu, jauh di istana megah Negeri Ye Lu, di ruang kerja Kaisar yang diterangi cahaya redup, suasana terasa jauh lebih dingin dan tegang. Kaisar yang sudah berusia lanjut duduk di singgasana kerjanya, rambut putihnya berantakan, wajahnya pucat, dan sesekali ia terbatuk hebat hingga bahunya ikut bergetar. Di hadapannya berdiri Jun Yi, napasnya memburu karena bergegas datang, namun tatapannya tetap teguh.
"Ayahanda..." Jun Yi membuka pembicaraan, berusaha menenangkan suaranya. "Hamba datang memohon... harap Ayahanda membatalkan keputusan ini. Shi Yin tidak bersalah, dan menikah dengan Pangeran Mahkota Tang Liang yang sedang sekarat... itu bukan nasib yang pantas untuknya."
Kaisar menatap putranya tajam, lalu tertawa pendek yang terdengar sinis. "Pria bodoh... apa yang diajarkan kepadamu selama ini? Kau tidak mampu berpikir jernih?"
"Ayahanda, hamba hanya berpikir adil..."
"Adil?" Kaisar berdiri dengan susah payah, menopang tubuhnya di meja besar di depannya. "Jika Negeri Tang Liang mengetahui bahwa yang kami kirim bukanlah gadis yang mereka inginkan, apa yang akan terjadi? Perang akan berkobar kembali! Pangeran Li Yun akan diambil paksa dari sini! Dan jika mereka mengetahui bagaimana kami memperlakukannya selama berada di sini — bagaimana dia disiksa, dihina, diperlakukan tidak layak — pertikaian yang jauh lebih besar akan terjadi! Apakah kau yakin negeri kita akan menang dalam keadaan seperti itu?"
Jun Yi terdiam, namun matanya masih menampakkan keberatan. "Tapi mengapa harus Shi Yin? Mengapa tidak mencari jalan lain?"
"Karena ini satu-satunya cara untuk menunda kehancuran!" Kaisar menekan setiap kata, suaranya gemetar bukan karena sakit, melainkan karena emosi yang meluap. "Jika saja aku tidak melihat apa yang akan terjadi... jika aku tidak mengetahui masa depan negeri ini... aku tidak akan mengambil keputusan seberat ini! Aku pernah melihatnya, Jun Yi — api yang membakar istana ini, darah yang mengalir di jalanan, rakyat yang menangis kelaparan... semua itu karena Raja Iblis Li Yun! Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi!"
Hening menyelimuti ruangan itu. Jun Yi menatap ayahnya, terkejut mendengar kata-kata yang begitu penuh ketakutan sekaligus kepastian.
"Li Yun... Raja Iblis..." gumam Jun Yi pelan. "Jadi itulah sebabnya Ayahanda begitu takut padanya?"
"Bukan takut, melainkan waspada!" Kaisar duduk kembali, napasnya memburu. "Itulah mengapa semua keputusan ini diambil. Demi keselamatan negeri ini."
Jun Yi menggeleng perlahan, rasa kecewa mulai merayap di hatinya. "Hamba tidak mengerti... kenapa Ayahanda begitu menakuti Negeri Tang Liang? Mereka pernah dikalahkan sebelumnya. Mengapa kali ini kita harus tunduk begitu saja?"
Kaisar menatap putranya dengan tatapan sedih sekaligus marah. "Kau tidak mengerti apa-apa..."
"Benar, hamba tidak mengerti!" Jun Yi menegakkan tubuh, suaranya meninggi. "Hamba melihat kelemahan di balik ketakutan Ayahanda! Kita tunduk, kita menyerahkan putri orang lain... dan kita menyebutnya kebijaksanaan!"
"Keluar!" Kaisar menggebrak meja, wajahnya merah padam menahan amarah. "Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kendali!"
Jun Yi menunduk hormat, namun matanya masih menyala. Ia berbalik melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk — marah, bingung, sekaligus sedih.
Di belakangnya, sesaat setelah pintu tertutup, Kaisar meraih tumpukan laporan di meja dan melemparkannya ke arah pintu yang baru saja tertutup. Kertas-kertas beterbangan di udara, jatuh berserakan di lantai.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" teriaknya parau, lalu terbatuk hebat hingga tubuhnya membungkuk. "Kau tidak tahu... kau belum melihat apa yang akan datang..."
Kaisar menatap ke arah jendela yang gelap, seakan melihat bayangan masa depan yang mengerikan. Ia tidak menyesali keputusannya, meski berat — karena ia tahu, pengorbanan satu nyawa jauh lebih baik daripada kehancuran seluruh negeri. Namun entah mengapa, di lubuk hatinya yang paling dalam, ada keraguan yang mulai merayap. Apakah jalan yang ia pilih ini benar-benar akan menyelamatkan mereka? Atau justru membuka pintu bagi malapetaka yang lain?