Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Pagi baru saja merayap naik, membawa serta sinar matahari keemasan yang menembus celah-celah genting dan menyinari lantai semen kamar nomor empat. Suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan dari kebun warga di belakang kos, di padu dengan deru motor bebek pengangkut gas elpiji yang melintas kencang di jalan gang.
Raka duduk di tepi kasur sambil mengikat tali sepatunya yang sudah agak aus. Di sebelah meja kecil, Bayu masih terlelap dalam posisi tidur meringkuk memeluk guling, sementara Dimas tampak sedang melipat handuk kecilnya dengan rapi.
Di sudut ruangan, Mira berdiri dengan kedua tangan bersidekap di dada. Ia mengenakan gaun ungu kesayangannya, namun ekspresi wajahnya kali ini tampak berbeda dari biasanya bukan ekspresi kesal karena bau pasar atau jijik pada lumpur, melainkan tatapan serius yang mengamati ketiga pemuda itu dengan saksama.
Manusia-manusia ini benar-benar tidak punya masa depan yang jelas jika terus mengandalkan pekerjaan serabutan seperti memanggul karung atau mencangkul got, batin Mira menggelengkan kepala pelan. Kemarin mereka kepayahan hanya untuk mendapatkan uang receh, dan besok lusa dompet mereka pasti akan kembali kering kerontang.
Mira melangkah mendekati Raka yang baru saja berdiri. Dengan gerakan spontan, ia menepuk bahu pemuda itu yang tentu saja langsung terasa seperti embusan angin sejuk bagi Raka.
"Raka," panggil Mira dengan nada serius.
Raka menoleh dengan kening berkerut tipis, menatap ruang kosong di depannya. "Ada apa, Mira? Tiba-tiba pasang muka serius begini. Jangan bilang kamu mau protes lagi soal kasur busa tipis ini?"
"Bukan soal tempat tidur yang menyedihkan ini," sanggah Mira cepat, menegakkan dagunya.
"Aku sedang memikirkan nasib kalian bertiga. Kalau kalian terus-terusan menunggu panggilan kerja bakti atau berharap ada karung beras yang turun dari langit, kalian bisa mati kelaparan sebelum bulan depan."
Bayu yang mendengar suara ribut-ribut kecil langsung menggeliat di atas kasurnya. Ia membuka sebelah matanya, menguap lebar-lebar sambil menggaruk perutnya.
"Hah... siapa yang mau mati kelaparan? Pagi-pagi jangan ngomongin takdir buruk, Mir. Pamali."
Mira mendengus pelan, melipat tangannya kembali.
"Aku tidak sedang meramal kematian, Bayu, tapi menyatakan kenyataan. Dompet kalian kosong. Kenapa kalian tidak menawarkan jasa sendiri di desa ini?"
Dimas yang sedari tadi diam merapikan handuk mengangkat kepalanya.
"Jasa apa maksudmu?"
Mira tersenyum penuh percaya diri, merasa pengetahuannya tentang aktivitas warga desa mulai membuahkan hasil.
"Kemarin, saat kita berjalan melewati rumah Pak RT dan beberapa warga di ujung gang, aku mendengar mereka mengeluhkan halaman belakang yang dipenuhi semak belukar, ranting pohon mangga yang hampir menimpa genting, dan tumpukan barang bekas di gudang yang tidak sempat mereka bereskan."
Raka menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik.
"Maksudmu... jasa bersih-bersih halaman atau pangkas ranting?"
"Tentu saja!" seru Mira antusias, mengangkat jari telunjuknya.
"Manusia-manusia di desa ini sangat sibuk mengurus sawah dan dagangan, tetapi mereka tidak punya waktu untuk merapikan halaman rumah mereka sendiri. Kalian bisa menawarkan diri untuk membersihkan kebun, memangkas dahan pohon, atau merapikan gudang mereka dengan bayaran yang pantas."
Bayu langsung bangkit dari posisinya, duduk bersila sambil menatap ke arah udara kosong tempat Mira berdiri dengan mata berbinar-binar.
"Wah... ide bagus juga, Mir! Otak ratu jin ternyata nggak cuma dipakai buat ngomel-ngomel ya. Kalau kita keliling menawarkan jasa bersih-bersih pekarangan, lumayan tuh bisa dapat tambahan uang saku."
Dimas mengangguk setuju dengan nada tenangnya.
"Masuk akal. Pekerjaannya jelas, dan warga sekitar juga butuh tenaga ekstra buat urusan halaman rumah."
Raka mengangguk pelan, menyetujui usulan tersebut. Ia menoleh ke arah Mira dan tersenyum tipis.
"Ide yang bagus, Mira. Terima kasih masukannya."
Mendengar pujian langsung dari Raka, pipi Mira sedikit merona. Ia buru-buru membuang muka, pura-pura merapikan lipatan gaun ungunya untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Hm! Jangan besar kepala. Aku hanya tidak ingin kalian mati kelaparan di kamar kos ini dan meninggalkan bau tidak sedap!"
Sebelum perbincangan pagi itu berlanjut, suara ketukan sandal jepit yang familier mendadak terdengar mendekat di koridor luar.
Tap... tap... tap...
Disusul suara deheman khas milik Bu Ratna yang berdiri tepat di depan pintu kamar nomor empat.
Mira melirik ke arah pintu, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman jahil yang sangat jarang terlihat. Sebuah ide spontan melintas di kepala sang putri jin.
Perempuan berdaster hijau lumut itu kemarin sudah meneriaki kami habis-habisan soal cangkul karatan, batin Mira menyeringai licik. Sekali-sekali, dia harus diberi kejutan kecil agar paginya tidak terlalu membosankan.
Tanpa sepengetahuan Raka, Bayu, dan Dimas, Mira menjentikkan jari telunjuknya dengan gerakan sangat halus ke arah jendela kayu kamar.
Kriet...
Jendela kecil di dekat meja belajar tiba-tiba bergeser terbuka sendiri secara perlahan, menghasilkan suara gesekan kayu yang berderit nyaring di tengah kesunyian pagi.
Di luar pintu, Bu Ratna yang baru saja hendak mengetuk pintu langsung mengurungkan niatnya. Ia menoleh kaget ke arah jendela kamar nomor empat yang terbuka sendiri tanpa ada orang di dekatnya.
"Eh? Jendela kamar itu kenapa kebuka sendiri? Padahal tidak ada angin," gumam Bu Ratna bingung, melangkah mendekati jendela lalu mendorongnya rapat kembali.
"Dasar anak-anak kos, kalau buka jendela suka dibiarkan ngalong."
Begitu Bu Ratna berbalik badan dan kembali melangkah ke depan pintu kamar untuk mengetuk, Mira kembali menjentikkan jarinya.
Pluk!
Keset ijuk berbentuk setengah lingkaran yang terletak tepat di depan pintu kamar mendadak bergeser sendiri sejauh setengah meter ke samping, membuat Bu Ratna yang melangkah hampir saja menginjak tempat kosong dan kehilangan keseimbangan.
"Astaga!" seru Bu Ratna kaget, setengah berteriak sambil memegang dadanya sendiri. Ia menatap keset yang berpindah tempat dengan mata membelalak heran.
"Kok keset ini bisa geser sendiri?! Apa lantai koridor ini licin?"
Di dalam kamar, Bayu yang melihat kejadian itu lewat celah pintu langsung membekap mulutnya rapat-rapat untuk menahan tawa agar tidak meledak. Ia menyenggol siku Raka dengan panik berbisik,
"Ka... itu keset di luar geser sendiri. Jangan bilang..."
Raka langsung melirik tajam ke arah Mira. Sang putri jin sedang berdiri sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan tawa kecil dengan mata yang berbinar jenaka.
Dimas yang duduk di tepi kasur melirik Mira sekilas, lalu berkata dengan nada datar tanpa ekspresi,
"Pelaku utamanya jelas kelihatan dari muka nahan ketawanya."
"Mana ada! Tuduhan keji!" elak Mira cepat, menegakkan dagunya dan memasang wajah porselen paling dingin yang ia miliki.
"Aku bahkan tidak menyentuh benda kain buruk itu!"
Di luar pintu, Bu Ratna mengibaskan tangannya ngeri sambil bergidik.
"Duh, aduh... Pagi-pagi kok rasanya horor banget ya di lantai dua ini. Jangan-jangan penunggu lorong kos lagi ngambek."
Tanpa jadi mengetuk pintu kamar nomor empat, Bu Ratna buru-buru memutar badan dan melangkah pergi terburu-buru menuruni tangga.
Brak!
Suara langkah sandal jepit Bu Ratna menjauh dengan cepat, meninggalkan keheningan sesaat sebelum akhirnya tawa Bayu pecah memenuhi ruangan sempit tersebut.
Raka menggelengkan kepalanya pelan, tidak bisa menahan senyum geli melihat tingkah iseng jin bangsawan yang baru saja mengerjai pemilik kos. Hari baru di Kertajaya benar-benar dimulai dengan cara yang sangat tidak biasa.