“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam berikutnya, rumah mewah itu tampak lebih megah dari biasanya. Meja makan panjang sudah tertata rapi dengan piring-piring porselen dan lilin-lilin cantik.
Suasana di ruang makan formal itu terasa berat dengan aroma kayu cendana dan hidangan mewah yang mengepul. Pak Gunawan dan Rian sudah duduk lebih dulu, menyesap air putih dengan gestur gelisah.
Rian berkali-kali membenarkan kerah kemejanya, matanya sesekali melirik pintu besar ruang makan, menanti kedatangan sang penguasa rumah.
"Ingat, Rian," bisik Pak Gunawan tegas. "Jaga sikap kamu. Kalau kerja sama ini gagal, kita habis."
"Tenang, Pa. Reja itu temen Rian. Dia pasti bisa ngebujuk papanya buat tanda tangan," jawab Rian percaya diri, meski sebenarnya ia juga merasa tertekan.
Pintu ganda ruang makan terbuka lebar. Pelayan berdiri tegak saat Adrian melangkah masuk dengan wibawa yang mendominasi ruangan. Namun, seketika Rian membeku saat melihat siapa yang berjalan di belakang Adrian.
Reja berjalan dengan tangan dimasukkan ke saku celana kainnya, tampak acuh tak acuh. Dan di samping Reja, melangkah seorang gadis dengan gaun satin berwarna navy yang sederhana namun memancarkan keanggunan yang dingin.
"Celin?!" Rian berseru tanpa sadar, setengah berdiri dari kursinya. Matanya membelalak tak percaya.
Gadis yang biasanya ia lihat memakai seragam lusuh, gadis yang ia curigai punya hubungan gelap dengan Reja karena sering terlihat berangkat bersama, kini berdiri di sana di rumah paling mewah di kota ini.
"Oh, kalian sudah saling kenal?" Adrian bertanya sambil menarik kursi utama, suaranya tenang namun tajam.
"Bagus kalau begitu. Kenalkan secara resmi, ini Celin. Menantu saya, istri dari Reja."
Kalimat itu seperti hantaman godam tepat di wajah Rian. Lututnya terasa lemas hingga ia terduduk kembali dengan kasar. Istri? Jadi selama ini dugaannya salah. Celin bukan sekadar simpanan atau teman biasa, dia adalah bagian dari keluarga penguasa bisnis ini.
Rian menatap Reja dengan pandangan menuntut penjelasan, namun Reja hanya menanggapi dengan sebuah senyum sinis yang sangat tipis.
Reja menarikkan kursi untuk Celin dengan gerakan yang sengaja dibuat sopan—sebuah gestur kepemilikan yang ditujukan langsung ke arah Rian.
Reja lalu duduk di samping Celin, melirik Rian dan ayahnya seperti serigala yang sedang melihat mangsa di atas meja makan. Ia sengaja menggeser gelasnya perlahan, membiarkan keheningan menyiksa Rian yang kini berkeringat dingin.
Celin sendiri tetap tenang. Ia membuka serbet kainnya, menatap lurus ke arah Rian tanpa ekspresi ramah sedikit pun. Di bawah meja, ia bisa merasakan aura kemenangan Reja yang meluap-luap.
"Mari kita mulai makan malamnya," suara Adrian memecah kekakuan. "Celin sudah menyiapkan beberapa ulasan tentang perusahaan kalian yang ingin dia diskusikan malam ini."
Celin menarik napas dalam, membiarkan keheningan sejenak menguasai ruangan. Ia mengeluarkan tablet dari tas kecilnya dan meletakkannya di atas meja.
Jemarinya yang masih terbalut kasa tipis bergerak tenang, membuka dokumen yang diberikan Reja semalam.
"Terima kasih, Pa," ucap Celin, suaranya jernih namun sedingin es. "Sesuai permintaan Papa, Celin sudah meninjau proposal akuisisi Rian's Group. Sektor logistik mereka memang terlihat menggiurkan di permukaan, tapi ada sesuatu yang luput dari audit eksternal."
Rian menegang. Ia menatap Celin dengan sorot mata memohon, seolah mengingatkan pada persahabatan rahasia mereka dan kedekatannya dengan Kirei. Namun, Celin tetap menatap lurus ke depan.
"Celin menemukan bahwa ada arus kas keluar yang sangat besar di anak perusahaan logistik PT. Global Nusa, milik keluarga Pak Gunawan," lanjut Celin sambil menggeser tampilan grafik ke arah Adrian.
"Ada utang tersembunyi sebesar 40 miliar rupiah yang dialirkan ke vendor fiktif untuk menutupi kerugian operasional akibat gaya hidup manajemen yang berlebihan."
Wajah Pak Gunawan berubah pucat pasi, sementara Rian seolah kehilangan oksigen. Ia tidak menyangka Celin—partner olimpiadenya yang selalu lembut—akan menghunuskan pedang sedalam ini.
"Utang ini sengaja tidak dimasukkan ke dalam laporan posisi keuangan untuk menarik investor. Jika Papa mengakuisisi perusahaan ini sekarang, Papa bukan hanya membeli aset, tapi Papa sedang memikul bom waktu yang akan meledak dalam tiga bulan ke depan," pungkas Celin tajam.
Adrian terdiam, matanya yang tajam kini beralih menatap Pak Gunawan dengan penuh intimidasi. Suasana ruang makan itu seketika berubah menjadi pengadilan yang meny esakkan.
Reja, yang sejak tadi hanya menyimak, perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rian mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa sangat hina.
Ia merasa dikhianati oleh Celin, namun di saat yang sama, ia merasa pantas mendapatkannya karena selama ini ia pun pengecut dengan menyembunyikan status pertemanan mereka di sekolah demi nama baiknya di geng Reja.
"Celin... lo tahu kan kalau ini bisa hancurin keluarga gue?" bisik Rian, suaranya bergetar penuh keputusasaan. Celin mematikan tabletnya, lalu menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Suasana mewah di ruang makan itu kini berubah menjadi medan pertempuran emosional yang pekat. Saat Adrian dan Pak Gunawan beranjak ke ruang kerja untuk urusan formalitas pembatalan, tinggallah mereka bertiga dalam keheningan yang mencekik.
Rian berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena malu dan kecewa. Ia menatap Celin dengan sorot mata yang meluap-luap.
"Kenapa, Li? Kenapa lo tega?" suara Rian bergetar hebat. "Gue pikir kita temen. Selama ini di sekolah, saat semua orang ngerundung lo, siapa yang diem-diem naruh obat luka di meja lo? Siapa yang belain lo di depan guru-guru pas nilai lo mau dijatuhin? Gue, Li! Gue emang pengecut karena nggak berani terang-terangan di depan Reja, tapi gue tulus bantu lo!"
Celin hanya terdiam, jemarinya meremas serbet kain dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Gue nggak nyangka, kecerdasan yang selama ini gue kagumi ternyata lo pake buat nusuk gue dari belakang cuma buat cari muka di depan keluarga ini!" bentak Rian. "Lo pengkhianat, Celin! Jangan pernah anggap gue temen lo lagi!"
Di samping Celin, Reja tidak merasa terganggu sedikit pun oleh amukan Rian. Sebaliknya, ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu menunjukkan sebuah senyum nakal yang sangat puas—senyum kemenangan seorang manipulator yang rencananya berjalan sempurna.
Reja menyesap sisa minumannya, matanya melirik Rian dengan tatapan mengejek.
Ia merasa sangat puas. Inilah tujuan utamanya memberikan dokumen itu kepada Celin semalam.
Bersambung...