NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 QI MUDA

Setelah mendapatkan batu spiritual dan pil peningkatan qi, Mei Ruyan tersenyum puas. Ia memasukkan kedua kantong itu ke dalam jubahnya, lalu bangkit meninggalkan meja.

Namun, baru beberapa langkah, seseorang sudah berdiri menghadang di depannya.

Mo Xuan.

Ruyan langsung menghela napas. *Dia lagi.* Wajahnya yang semula cerah langsung berubah datar. Ia memilih bersikap acuh dan berjalan melewatinya. Namun, saat hendak pergi, lengannya tiba-tiba ditahan.

Ruyan menoleh. "Lepaskan."

Mo Xuan tetap tenang. "Mau ke mana, Nyonya Rubah?"

"Bukan urusanmu." Jawaban Ruyan ketus.

Di belakang Mo Xuan, Yin Shuang hanya tersenyum sambil mengibaskan kipasnya. "Wah... setelah beberapa hari tidak bertemu, Nyonya Rubah langsung ingin menguliti aku rupanya."

Ruyan menyipitkan mata. "Siapa yang ingin mengulitimu?"

"Kau."

"Aku bahkan tidak sedang berbicara denganmu."

Mo Xuan masih memegang lengannya. Ruyan melirik tangan itu. "Kalau tidak ada urusan, lepaskan."

"Kenapa marah?"

"Aku tidak marah."

"Wajahmu mengatakan sebaliknya."

"Wajahku memang begini."

Yin Shuang hampir tertawa. Ia membuka kipasnya lebih lebar. "Mo Xuan, sepertinya kau membuat Nyonya Rubah kesal beberapa hari yang lalu."

Mo Xuan meliriknya. "Aku?"

"Bukankah kau pergi begitu saja?"

Ruyan langsung memalingkan wajah.

Mo Xuan terdiam sebentar. "Oh... jadi masih ingat."

Ruyan mendengus. "Aku tidak punya ingatan sependek itu."

Mo Xuan tersenyum tipis. "Padahal kupikir kau tidak peduli."

Ruyan akhirnya menatapnya. "Siapa bilang aku peduli?"

"Kalau tidak peduli, kenapa masih marah?"

Ruyan terdiam.

Yin Shuang mengibaskan kipasnya pelan. *Menarik.* Ia memandang keduanya seperti sedang menonton pertunjukan yang jauh lebih menghibur daripada pasar manusia.

Ruyan menarik lengannya. "Lepaskan aku."

Kali ini Mo Xuan melepaskannya. Ruyan langsung berjalan pergi. Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, "Dan lain kali kalau mau pergi, bilang dulu."

Mo Xuan tersenyum. "Baik."

Ruyan melanjutkan langkahnya.

Yin Shuang menatap punggung Ruyan, kemudian melirik Mo Xuan. "Katanya tidak tertarik."

Mo Xuan memasukkan tangannya ke dalam lengan jubah. "Aku hanya tidak suka melihat orang marah."

"Begitu?"

"Begitu."

Yin Shuang tersenyum semakin lebar. "Kalau begitu, aku akan mencatatnya."

Mo Xuan meliriknya. "Catat apa?"

"Bahwa Mo Xuan ternyata sangat perhatian kepada Nyonya Rubah."

"Jangan mencari masalah."

Yin Shuang tertawa kecil. "Baiklah. Aku diam." Namun senyum di wajahnya sama sekali tidak hilang.

Mo Xuan baru saja hendak berdiri ketika tiba-tiba ia menarik tangan Ruyan dan membuatnya duduk kembali.

"Duduk dulu."

Ruyan menatapnya kesal. "Apa lagi?"

"Kenapa masih kesal?"

"Aku tidak kesal."

"Bukanlah kita biasa saling berbagi?" Ucapan Mo Xuan keluar begitu saja.

Ruyan langsung terdiam. Pipinya sedikit merona. Namun hanya sesaat. Ia kembali memasang wajah cemberut. "Siapa bilang kita biasa saling berbagi?"

Mo Xuan tersenyum tipis. "Bukankah selama ini begitu?"

Yin Shuang yang duduk di seberang mereka hanya mengibaskan kipasnya sambil mendengarkan. *Dua orang ini kalau bertemu memang tidak pernah bisa bicara normal.* Ia mengambil beberapa buah dari meja dan mulai mengupasnya.

"Jadi ular tua itu mencari siluman muda lagi?" tanya Yin Shuang santai.

Ruyan meliriknya. "Kau sudah tahu."

"Tahu."

"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"

Yin Shuang mengangkat bahu. "Memastikan."

Mo Xuan yang sejak tadi memperhatikan Ruyan tiba-tiba bertanya dengan nada berbeda. "Yang ingin aku tahu... untuk apa siluman muda itu bagi Se Chang?"

Ruyan terdiam. Senyumnya menghilang. Ia menghela napas pelan. "Seperti pembaruan qi."

Mo Xuan langsung mendelik. Yin Shuang yang sedang mengupas buah bahkan berhenti bergerak. "Pembaruan qi?"

Mo Xuan menatap Ruyan serius. "Maksudmu..."

Ruyan tidak menjawab.

Yin Shuang melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Menyerap qi muda?"

Ruyan akhirnya mengangguk. "Iya."

Suasana meja yang tadi penuh candaan mendadak menjadi hening.

Mo Xuan menyandarkan tubuhnya. "Berapa banyak yang sudah dia ambil?"

"Tidak tahu."

"Dan siluman muda yang tadi?"

"Entah masih hidup atau tidak."

Alis Mo Xuan mengeras. "Ruyan."

"Aku tahu." Ruyan memainkan ujung kipasnya. "Aku tahu apa yang dilakukan Se Chang. Tapi aku bukan bawahannya."

Yin Shuang kembali meletakkan buah yang sedang dikupasnya. "Jadi pil dan batu spiritual yang kau dapatkan itu imbalan untuk menyerahkan siluman muda?"

Ruyan mengangguk. "Begitulah kesepakatannya."

Mo Xuan terdiam. Tatapannya turun ke meja. Beberapa saat lalu ia masih menggoda Ruyan. Sekarang ekspresinya berubah serius.

"Se Chang semakin berani."

Ruyan tersenyum tipis. "Dia memang sudah tua. Kalau tidak menemukan cara memperbarui qi, tubuhnya akan semakin sulit mempertahankan kekuatan."

Yin Shuang menatap Mo Xuan. "Dan sekarang dia mulai menggunakan siluman muda sebagai sumber qi."

Mo Xuan mengangguk pelan. "Berarti kita harus tahu apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan."

Ruyan menatap keduanya. "Kalian ingin ikut campur?"

Mo Xuan menjawab datar. "Bukankah tadi kau bilang kita biasa saling berbagi?"

Ruyan terdiam. Pipinya kembali sedikit merah. Namun kali ini ia tidak membantah.

Yin Shuang hanya tersenyum di balik kipasnya. *Menarik. Sepertinya urusan ini jauh lebih besar daripada sekadar pil kultivasi.*

---

Jauh di dalam gua ular, Se Chang membawa siluman rubah muda itu ke sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya batu spiritual.

Gadis itu mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar. "Tuan... tunggu..."

Se Chang menutup pintu batu di belakang mereka. Senyumnya terlihat tenang, hampir menenangkan. "Jangan takut. Prosesnya tidak akan lama."

Siluman rubah muda itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia pernah mendengar kabar tentang siluman-siluman yang dibawa ke gua ini. Tidak ada yang pernah kembali dengan keadaan yang sama.

Se Chang mendekat dan meletakkan tangannya di atas bahunya. "Tenanglah. Rasakan aliran qi-mu. Jangan melawan."

Awalnya, gadis itu hanya merasakan hawa hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa takutnya perlahan berkurang, seolah pikirannya diselimuti kabut.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Aliran qi di dalam tubuhnya tiba-tiba bergerak tidak beraturan.

Gadis itu tersentak. "Apa... yang terjadi?"

Se Chang menatapnya dengan mata berkilat. "Qi-mu sangat murni."

Cahaya tipis muncul di sekitar tubuh siluman muda itu, kemudian tersedot ke telapak tangan Se Chang. Rasa hangat berubah menjadi rasa sakit. Gadis itu berusaha menarik diri, tetapi tubuhnya terasa lemas. Energi spiritual yang selama ini ia kumpulkan perlahan meninggalkan tubuhnya.

"A... aku tidak bisa..."

Suara tangisnya menggema di dalam gua.

Se Chang tetap tenang. Ia sudah melakukan hal yang sama berkali-kali membuat korbannya merasa aman, membiarkan mereka lengah, lalu mengambil seluruh qi yang mereka miliki.

Bayangan sembilan ekor perlahan muncul di belakang siluman rubah muda itu. Satu demi satu, ekor tersebut terlihat semakin jelas, seolah wujud aslinya dipaksa keluar oleh tekanan energi yang terlalu kuat.

Gadis itu menjerit. Cahaya spiritual di tubuhnya semakin redup. Sembilan ekor rubah terlihat sepenuhnya, telinganya pun kembali ke wujud aslinya, tetapi tubuhnya sudah tidak mampu menahan rasa sakit.

Akhirnya, ia jatuh lemas ke lantai.

Se Chang melepaskan tangannya. Qi yang terkumpul mengalir ke dalam tubuhnya. Urat-urat tua di lengannya memancarkan cahaya gelap, sementara napasnya menjadi lebih teratur. Ia mengepalkan tangan kekuatan yang sempat melemah kini kembali mengalir.

"Lumayan."

Se Chang menatap siluman rubah muda yang terbaring tak berdaya. Namun, senyumnya perlahan menghilang. Qi itu memang telah memperkuat tubuhnya, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Sisa energi yang baru saja ia serap terasa asing, tidak sepenuhnya menyatu dengan qi ular miliknya.

Se Chang menunduk, lalu mengerutkan kening. "Kenapa...?"

Dari lorong luar, Tetua Xie Mo tiba-tiba berseru. "Tuan Se Chang! Ada perubahan pada batu catatan kuno!"

Se Chang menoleh ke arah pintu. Ia melirik siluman rubah muda itu untuk terakhir kalinya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan.

Di dalam gua yang sunyi, tubuh gadis itu tetap terbaring tanpa bergerak.

Sementara di ruang arsip, sebuah simbol kuno pada batu hitam mulai menyala.

Dan Se Chang belum menyadari bahwa setiap qi yang ia serap mungkin tidak hanya memperpanjang kekuatannya tetapi juga membawa sesuatu yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!