NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: AROMA VANILA YANG MENGGANGGU KONSENTRASI

Pagi itu langit kampus terlihat cerah, awan putih tipis menggantung malas di atas gedung Fakultas Ekonomi. Kirana berjalan santai menuju kelas, kali ini dengan waktu yang cukup lapang, tidak ada drama telat seperti dua hari yang sudah dia lewati minggu ini.

"Kir, tumben datang santai," sapa Tesa yang sudah menunggu di depan pintu kelas, menyandarkan punggung ke tembok sambil memainkan ponselnya.

"Ya iyalah, kapok aku telat mulu," jawab Kirana, tersenyum kecil. "Lagian air di kos udah normal lagi, jadi nggak ada drama pagi pagi kayak kemarin."

"Untung deh," Tesa terkekeh, lalu mengendus udara sekitar Kirana. "Eh, kamu pake parfum apaan sih? Wangi banget."

"Ini parfum vanila, hadiah dari mama waktu aku wisuda SMA," jawab Kirana sambil memutar botol kecil imajiner di tangannya, bercanda. "Kenapa emang? Kecium sampe situ?"

"Iya, wangi banget, manis gitu," Tesa mengangguk. "Cocok sih sama kamu."

Mereka berdua masuk kelas bersamaan, duduk di barisan tengah seperti biasa. Beberapa menit kemudian, Alden masuk membawa map seperti hari hari sebelumnya, wajahnya datar seperti biasa, tanpa ekspresi berlebihan.

"Hari ini kita lanjut materi tentang analisis lingkungan eksternal perusahaan," katanya, langsung membuka slide presentasi tanpa basa basi.

Kirana mencatat dengan tekun, sesekali mengangkat tangan untuk bertanya ketika ada bagian yang kurang jelas. Suasana kelas berjalan normal, sampai sekitar tiga puluh menit berlalu, Alden meminta seluruh mahasiswa untuk berdiskusi kelompok kecil membahas studi kasus yang baru saja dia jelaskan.

Karena posisi duduk yang berdekatan, kelompok diskusi kali ini terbentuk dari deretan bangku Kirana, termasuk beberapa mahasiswa lain di sekitarnya. Alden berkeliling kelas, mengecek progress diskusi tiap kelompok satu per satu.

Ketika giliran kelompok Kirana, Alden berhenti di sebelah mejanya, membungkuk sedikit untuk melihat catatan yang sudah mereka tulis.

"Coba jelaskan, kenapa kalian pilih faktor ini sebagai ancaman utama?" tanyanya, menunjuk salah satu poin di buku catatan Kirana.

Kirana mendongak untuk menjawab, tapi kalimatnya tertahan sejenak ketika menyadari betapa dekatnya jarak wajah Alden dengan wajahnya. Dan pada jarak sedekat itu, aroma vanila dari tubuhnya sendiri bercampur dengan aroma khas Alden, sesuatu seperti kayu cendana bercampur sabun mandi yang segar, menciptakan sensasi aneh yang membuat konsentrasinya buyar seketika.

"Anu... Pak," Kirana tergagap, kehilangan jejak kalimat yang tadi sudah dia susun di kepala.

Alden mengangkat alis, menunggu jawaban.

"Kenapa?"

"Maaf, Pak, saya... lupa mau bilang apa," jawab Kirana jujur, wajahnya mulai memanas.

Beberapa teman satu kelompok menahan senyum, ada yang saling melirik dengan ekspresi menggoda. Alden sendiri tampak sedikit heran, tapi tidak mengomentari lebih lanjut.

"Coba diulang pelan pelan," katanya, nadanya tetap datar meski ada sedikit kelembutan yang tidak biasa.

Kirana menarik napas dalam dalam, mencoba fokus meski aroma yang bercampur tadi masih terasa mengganggu di ujung hidungnya. "Faktor ini kami pilih karena berdasarkan data yang ada, kompetitor mulai masuk ke segmen pasar yang sama, jadi ada risiko market share perusahaan ini bakal turun kalau nggak ada strategi antisipasi."

"Bagus," Alden mengangguk, lalu berpindah ke kelompok lain tanpa banyak komentar tambahan.

Begitu Alden menjauh, salah satu teman satu kelompok, seorang cewek bernama Dinda, menyenggol lengan Kirana pelan.

"Kir, kamu kenapa tadi? Kok tiba tiba blank gitu," bisiknya, menahan tawa.

"Nggak tau, tiba tiba lupa aja," jawab Kirana buru buru, meski dalam hati dia tahu persis apa penyebabnya. "Mungkin kecapean kali."

"Terus kenapa mukamu merah gitu?" Dinda menggoda lagi, matanya berbinar jahil.

"Kepanasan aja, AC-nya kayaknya kurang dingin," Kirana buru buru mengipas ngipas wajahnya dengan buku catatan, berusaha mengalihkan perhatian.

Dinda hanya tertawa kecil, tidak terlalu mempermasalahkan, lalu kembali fokus pada diskusi kelompok. Tapi Kirana sendiri masih merasa jantungnya berdebar aneh, sisa sisa sensasi tadi belum juga hilang sepenuhnya.

Jam istirahat, Kirana dan Tesa duduk di kantin seperti biasa, memesan makan siang sederhana.

"Kir, tadi di kelas kamu kenapa sih? Aku liat dari bangku belakang, mukamu merah pas Pak Alden deketin meja kamu," tanya Tesa, penasaran.

"Nggak kenapa napa," jawab Kirana cepat, menghindari kontak mata.

"Bohong ah, mukamu masih agak merah sampe sekarang," Tesa menyipitkan mata, mengamati Kirana lebih dekat.

Kirana menghela napas, akhirnya menyerah untuk bercerita. "Jadi tadi pas dia deketin buat cek diskusi kelompok, aku jadi... nggak fokus gitu. Soalnya wangi parfumnya bercampur sama wangi punyaku, terus jadi aneh gitu rasanya."

"Hah? Cuma gara gara wangi doang kamu jadi blank?" Tesa menahan tawa, hampir menyemburkan minumannya.

"Ya abis wanginya enak banget, Tes," Kirana membela diri, wajahnya semakin memerah.

"Kayak kayu manis gitu, tapi seger. Terus jaraknya deket banget pas dia mau liat catatanku."

"Kirana Ayu," Tesa menatapnya lekat lekat, menahan tawa yang mulai sulit dibendung,

"kamu sadar nggak sih kalau ini tandanya kamu mulai suka sama dia?"

"Apaan sih, enggak," Kirana buru buru menyangkal, meski suaranya terdengar kurang yakin. "Itu cuma reaksi biasa aja kali, kaget aja soalnya tiba tiba deket."

"Terserah deh, tapi menurutku sih kamu udah mulai kena," Tesa menyeruput es tehnya, tersenyum penuh arti. "Coba deh inget inget, dari hari pertama masuk kelas dia, udah berapa kali kamu mikirin dia di luar jam kuliah?"

Kirana terdiam, tidak bisa langsung menjawab. Dalam hati, dia mulai menghitung, malam pertama setelah ditegur, sore di depan ruang dosen, kejadian di perpustakaan, dan sekarang aroma vanila yang bikin dia lupa kalimat sendiri.

"Banyak juga ya," gumamnya pelan, lebih kepada diri sendiri.

"Tuh kan," Tesa tersenyum lebar, menepuk bahu Kirana. "Nggak usah malu, Kir. Namanya juga jatuh cinta."

"Ish, jangan asal nyimpulin," Kirana mendorong bahu Tesa main main, meski dalam hati dia sendiri mulai ragu untuk membantah tuduhan itu.

Sore harinya, Kirana kembali ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamkan Alden beberapa hari lalu. Dia sengaja datang di jam yang sepi, berharap tidak bertemu siapa siapa yang bisa memicu gosip baru.

Sayangnya, harapan itu kembali sia sia.

Begitu dia sampai di meja peminjaman, Alden justru sedang berdiri di sana, sedang mengembalikan beberapa buku lain.

"Pak," sapa Kirana, sedikit terkejut.

"Kirana," Alden menoleh, menatapnya sekilas. "Sudah selesai baca bukunya?"

"Sudah, Pak. Makasih banyak, sangat membantu buat tugas kelompok," jawab Kirana, menyerahkan buku itu ke petugas perpustakaan.

Alden mengangguk, lalu mereka berdua berjalan keluar bersamaan menuju pintu perpustakaan, kebetulan searah menuju gerbang parkiran.

"Tadi di kelas kamu kelihatan agak bingung pas diskusi kelompok," kata Alden tiba tiba, memecah keheningan di antara mereka.

Kirana tersentak, tidak menyangka Alden memperhatikan hal sekecil itu. "Oh, itu... cuma kecapean aja, Pak. Maaf kalau keliatan aneh."

"Hm," Alden hanya bergumam, tidak mendesak lebih jauh, meski matanya sempat melirik Kirana sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Mereka berjalan beriringan dalam diam beberapa saat, sampai akhirnya Alden bertanya lagi, "Parfum yang kamu pakai apa?"

Pertanyaan itu membuat Kirana kaget, langkahnya hampir tersandung. "Eh? Parfum, Pak?"

"Iya. Wanginya... beda," jawab Alden, nadanya datar tapi ada sesuatu yang terdengar sedikit canggung di baliknya, hal yang jarang sekali dia tunjukkan.

"Oh, ini parfum vanila, Pak. Hadiah dari mama," jawab Kirana, jantungnya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.

"Pantas," gumam Alden pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kirana.

"Kenapa, Pak? Ganggu ya?" tanya Kirana, sedikit khawatir.

Alden menggeleng cepat. "Bukan. Cuma... nggak biasa aja."

Percakapan itu berhenti di situ, karena mereka sudah sampai di persimpangan jalan menuju parkiran masing masing. Alden pamit lebih dulu, berjalan menuju mobilnya, sementara Kirana masih berdiri mematung beberapa detik, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Nggak biasa aja," gumamnya menirukan kalimat Alden, "maksudnya apaan tuh?"

Dia menggeleng cepat, berusaha menepis rasa penasaran yang mulai tumbuh semakin besar. Tapi langkahnya menuju kos terasa lebih ringan dari biasanya, dan tanpa sadar, bibirnya terus menahan senyum kecil sepanjang perjalanan pulang.

Di dalam mobilnya, Alden duduk diam sejenak sebelum menyalakan mesin, menatap kaca depan tanpa benar benar melihat apa pun. Aroma vanila yang tadi sempat tercium samar masih membekas di ingatannya, sesuatu yang seharusnya sepele tapi entah kenapa terus terngiang, mengganggu ketenangan yang biasanya dia jaga rapat rapat setiap hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!